Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Dokter di Balik Tembok
Tujuh hari setelah ancaman Arvino, aku resmi menjadi Dokter Umum Paruh Waktu di Rumah Sakit Merdeka, sesuai dengan rencana rahasiaku.
Hari pertamaku di sana terasa seperti udara segar setelah menceburkan diri dari lumpur. Saat aku mengenakan jas dokterku, perasaan itu kembali: harga diri, kompetensi, dan tujuan hidup. Di sini, aku bukan "Istri Kontrak" yang dibenci atau "pembunuh" yang dicurigai. Aku adalah dr. Aluna Hardinata, seorang profesional yang dipandang dan dihormati.
Aku memastikan jam kerjaku tidak bentrok dengan jadwal penting Lili—aku bekerja dari pukul sepuluh pagi hingga pukul tiga sore, waktu di mana Lili biasanya tidur siang atau bermain di bawah pengawasan Sus Rini.
Aku tidak memberi tahu siapa pun di rumah, terutama Arvino.
Tiga hari berjalan mulus. Aku merasa lebih sehat, tidurku lebih nyenyak (meski masih di sofa di kamar utama), dan enerjiku kembali.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Sore itu, sekitar pukul empat, aku baru saja pulang dari Rumah Sakit Merdeka. Aku segera melepas jas dokterku di dalam mobil dan menyimpannya di bagasi. Aku masuk ke rumah dengan penampilan casual seperti biasa, seolah aku baru saja menghabiskan waktu di perpustakaan atau pusat perbelanjaan.
Aku sampai di ruang tengah dan mendapati Arvino sudah duduk di sana, menatapku. Lili sedang tidur di boksnya di dekat sofa.
Arvino tidak sedang memegang ponsel atau membaca koran. Dia hanya duduk, menungguku. Tatapannya begitu dingin, seperti sebilah pisau es.
"Dari mana?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya pelan tapi menusuk.
"Dari luar. Mencari udara segar," jawabku santai, berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Aku harus tetap tenang.
"Mencari udara segar selama lima jam?" Arvino bangkit, langkahnya mengikutiku. "Bau apa ini, Aluna? Kau pikir aku bodoh?"
Aku berhenti, menoleh ke arahnya. Bau itu. Meskipun aku sudah berganti pakaian, aroma antiseptik, savlon, dan betadine khas rumah sakit pasti masih menempel samar di rambut atau kulitku.
"Bau antiseptik," kataku, memutuskan untuk tidak berbohong lagi. "Aku mengunjungi salah satu rekan lamaku di Rumah Sakit Citra Bunda. Dia memintaku melihat hasil risetnya."
Arvino tertawa hambar. "Sejak kapan kau mau repot-repot mengunjungi rumah sakit orang lain hanya untuk riset? Kau tidak punya waktu lima jam. Kau benci keluar rumah. Kau takut gelap. Kau pasti bekerja."
Aku mengangkat bahu. "Aku bosan, Kak. Aku butuh stimulasi intelektual agar mental kerjaku tetap tajam. Aku adalah seorang dokter."
"Dengar," Arvino melangkah maju, tangannya mencengkeram lenganku. "Aku sudah melarangmu bekerja! Kau sudah tahu konsekuensinya!"
"Kakak melarangku bekerja di Rumah Sakit Hardinata," balasku, berusaha menarik tanganku. "Tapi di mana pun aku bekerja, itu bukan urusan Kakak. Ini hakku. Aku butuh martabatku kembali."
"Martabatmu ada di sampingku, mengurus anakku!" desisnya. "Kau pikir kau bisa mengambil kendali dan hidup independen? Kau pikir kau bisa menyentuh dunia medis di Jakarta tanpa sepengetahuanku?"
Arvino melepaskan cengkeramannya, mengeluarkan ponselnya, dan menelpon seseorang.
"Dr. Yusuf? Ya, ini Arvino. Tolong, aku minta data lengkap semua dokter baru yang masuk di RS seluruh jakarta dalam seminggu terakhir. Cari nama Aluna Hardinata. Ya, Aluna Hardinata. Saya tunggu datanya sekarang."
Aku memejamkan mata. Sudah kuduga. Kekuasaan Arvino terlalu luas.
Dia menutup telepon, menatapku dengan mata penuh kemenangan sekaligus amarah.
"Dalam lima menit, aku akan tahu di mana kau bekerja dan berapa gajimu. Dunia medis Jakarta ini kecil, Aluna. Sangat kecil. Dan aku adalah Direktur dari pemegang saham terbesar di kota ini. Kau tidak bisa lari dariku."
...----------------...
Keesokan harinya, konflik itu mulai terjadi secara profesional.
Aku sedang berada di ruang pemeriksaan, menangani seorang balita dengan kasus demam yang cukup kompleks. Ponselku bergetar. Itu pesan dari Direktur Medis RS Merdeka.
Subject: Urgent Meeting.
dr. Aluna, mohon segera ke ruang rapat pukul 11.00. Kami perlu konfirmasi beberapa hal terkait kredensial Anda, terutama dari pihak RS Hardinata.
Wajahku memucat. Kredensial? Ini pasti ulah Arvino. Dia mencoba memblokir izin kerjaku atau meragukan riwayat pendidikanku.
Aku bergegas ke ruang rapat. Di sana, sudah duduk Direktur Medis, Kepala SDM, dan seorang dokter senior yang bertindak sebagai moderator. Wajah mereka terlihat tegang.
"Maaf dr. Aluna, kami harus mengklarifikasi sesuatu," ujar Direktur Medis. "Kami mendapat telepon dari kolega kami di Hardinata pagi ini, mempertanyakan mengapa Anda mengambil posisi paruh waktu di sini padahal spesialisasi Anda adalah Bedah. Mereka mengkhawatirkan kapasitas dan fokus Anda."
Ini adalah permainan kotor Arvino. Dia tidak menyerangku secara pribadi, melainkan menyerang profesionalitasku.
Aku menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dadaku. Ini adalah medan perangku. Aku tidak akan mundur.
"Saya mengerti kekhawatiran rekan-rekan," kataku, menjaga nada bicaraku tetap tenang dan faktual. "Benar, saya adalah Spesialis Bedah. Namun, saya mengambil posisi Dokter Umum Paruh Waktu di sini karena dua alasan. Pertama, saya harus merawat anak saya yang masih bayi (Lili), dan posisi paruh waktu ini memberi saya fleksibilitas waktu. Kedua, saya adalah dokter yang berpegangan teguh pada sumpah profesi."
Aku menegakkan punggung. "Kapasitas saya tidak perlu diragukan. Riwayat pendidikan saya di Harvard dan kelulusan summa cum laude saya sudah ada di tangan Anda. Adapun mengenai fokus, saya memastikan bahwa saat saya berada di rumah sakit ini, 100% fokus saya adalah pada pasien. Jika Anda meragukan itu, silakan uji saya. Beri saya kasus tersulit. Saya tidak akan lari."
Ruangan menjadi sunyi. Keyakinan di mataku tampaknya berhasil meredakan ketegangan.
"Baiklah, dr. Aluna," kata Kepala SDM lega. "Terima kasih atas klarifikasinya. Kami menghargai kejujuran Anda. Kami akan melanjutkan proses onboarding Anda. Mengenai telepon tadi, kami akan menganggapnya sebagai kesalahpahaman antara kolega."
Aku berhasil lolos. Untuk saat ini.
Aku kembali ke ruang pemeriksaan, hatiku membara karena amarah. Arvino menggunakan kekuasaannya untuk menjebakku, tapi dia lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan wanita yang sama sekali tidak takut ruang operasi dan pisau bedah.
Aku meneleponnya saat makan siang.
"Sudah selesai dengan intrik politiknya, Kak?" tanyaku begitu dia mengangkat telepon.
Suara Arvino di ujung sana terdengar kesal. "Kau tahu itu aku."
"Tentu saja. Tapi sayang, trikmu gagal. Aku masih bekerja di sini, dan aku akan tetap bekerja di sini. Kau tidak akan bisa memecatku. Perjuanganmu untuk membuatku tidak berdaya, tidak akan berhasil."
"Kau salah," balas Arvino dingin. "Aku tidak mencoba memecatmu. Aku hanya mengingatkanmu: sekali kau melangkah keluar dari rumah itu, kau mengambil risiko. Dan risikonya, Aluna, adalah kau akan merindukan Lili saat kau tidak ada di sampingnya. Itu hukuman terbesarmu."
Dia menutup telepon tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.
Aku berdiri di ruang isolasi pasien. Aku mendapatkan kembali martabatku sebagai dokter, tetapi di saat yang sama, aku merasakan tusukan di hati—Arvino benar. Setiap detik yang kuhabiskan jauh dari Lili adalah penyiksaan. Dan itu adalah senjata Arvino yang paling mematikan.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa like komen dan share❣️