Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Seinara
BRUUMMM...
BRUUMMM..
SHIIITT...
Suara motor Seinara memasuki halaman rumah Nathan, dan menuju ke garasi. Setelah memarkirkan motornya, Seinara pun berjalan memasuki rumah dan segera menuju ke kamarnya.
"Akhirnya sampai di rumah juga..." lirih Seinara yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Keluar seharian membuat tubuh Seinara sedikit kelelahan. Apa lagi dia baru saja mendatangi makam sang kekasih, hal itu membuat suasana hati Seinara sedikit sendu. Seinara memejamkan matanya sebentar, namun dia merasa ada yang hilang dari kamarnya. Kemudian Seinara segera mengecek seluruh kamarnya. Wajah Seinara seketika berubah menjadi merah, saat menyadari barang yang hilang adalah barang yang paling berharga bagi dirinya.
"Kurang ajar...! Siapa yang sudah berani memasuki kamar gue tanpa izin!" geram Seinara sambil mengepalkan tangannya.
Lalu Seinara segera mengecek kamera handycam yang sengaja dia Padang di kamar tersebut. Dia semakin emosi setelah melihat siapa pelaku yang telah mengambil barang miliknya.
"Benar-benar cewek kurang ajar! berani sekali dia memasuki kamar gue dan mengambil barang gue!" Geram Seinara lagi.
Seinara langsung keluar dari kamarnya dengan wajah penuh dengan emosi. Dia berteriak memanggil nama Nita dan berjalan menuju ke dapur.
"NITA....!"
"NITA...!"
"NITA...!"
Teriakan Seinara membuat semua orang yang mendengarnya merinding. Saat hendak ke dapur, dia melewati ruang makan yang ternyata ada Nathan di sana. Nathan segera menghentikan langkah Seinara.
"Berhenti...!" seru Nathan menghentikan langkah Seinara.
"Dimana pembantu kesayangan kamu?!" tanya Seinara segera setelah menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah suaminya.
"Siapa maksud kamu?!" tanya Nathan balik yang bingung dengan pertanyaan Seinara.
"Nggak usah pura-pura begitu, cepat katakan dimana Nita, pembantu kesayangan kamu itu?!" tanya Seinara semakin tegas pada sang suami.
Seinara berusaha keras untuk menahan emosinya, agar tidak meluap di depan sang suami.
"Oke biar saya yang memanggil dia kesini!" jawab Nathan mengalah.
"NITA...! NITA...!" teriak Nathan memanggil Nita.
Tak menunggu lama Nita pun datang sambil tergopoh-gopoh. Hal Itu membuat Seinara semakin jijik melihat sosok pembantu itu.
"Iya tuan... Ada apa ya?" jawab Dan tanya Nita segera setelah berada di samping Nathan.
"Dasar jalang! Dari tadi gue teriak-teriak nggak jawab. Giliran pawangnya teriak dua kali langsung muncul! Jijik banget gue lihat dia!" lirih Seinara dalam hati sambil menatap wajah Nita dengan tatapan jijik.
PLAAKKK...
Belum sempat Nathan menjawab, Seinara sudah menampar pipi Nita hingga membekas. Hal itu membuat Nita kesal dan langsung mengadu pada Nathan.
"Aww... Apa-apaan sih kamu?! Kenapa kamu menampar pipi saya seperti ini?! Tuan... lihat dia menampar saya" seru Nita.
"Nggak usah berpura-pura! Cepat kembalikan barang yang sudah kamu curi dari kamar saya!!" tegas Seinara dengan tatapan mata tajam kearah Nita.
Tatapan Seinara membuat nyali Nita menciut, dan sekarang Nita mulai ketakutan. Karena selama ini memang Seinara tidak menunjukkan sifat aslinya itu.
"Ap-apa maksud kamu?! Saya nggak mencuri apapun dari kamar kamu!" jawab Nita mengelak.
"Oh ya?! Kamu yakin nggak mencuri apapun dari kamar saya?!" tanya Seinara tegas.
"Yakin... Saya yakin nggak pernah mencuri apapun dari kamar kamu!" jawab Nita dengan tegas mengelak tuduhan Seinara.
"Siapa juga yang bisa membuktikan kalau aku yang mengambil barangnya, kan nggak ada yang melihat aku tadi siang" lirih Nita dalam hati.
"Oke kalau kamu memang nggak mau ngaku! Sepertinya kalian harus melihat rekaman video yang ada di handycam ini! Supaya kalian bisa melihat sendiri siapa pelakunya!" tegas Seinara sambil terus menahan emosinya.
Seinara memutar rekaman video yang ada di handycam miliknya. Wajah Nathan seketika terkejut dan kesal melihat rekaman tersebut.
"Ternyata memang perempuan ini yang mencuri di kamar Nara. Benar-benar nggak punya malu" lirih Nathan dalam hati dengan penuh kekecewaan.
"Tuan... Sumpah itu bukan saya, saya nggak berani masuk ke kamarnya!" tegas Nita masih saja mengelak.
"Udah seperti ini kamu masih mengelak? Benar-benar kurang ajar!" seru Seinara yang langsung menyerang Nita tanpa ampun.
PLAAAKKK....
"Ini untuk kamu yang sudah berani memasuki kamar saya tanpa izin!" seru Seinara sambil menampar pipi Nita dengan kencang.
PLAAAKKK...
"Ini untuk kamu yang sudah berani mencuri barang saya!" seru Seinara lagi.
PLAAAKKK...
"Ini untuk kamu yang nggak pernah menganggap saya di rumah ini!" bentak Seinara dengan penuh emosi.
PLAAAKKK...
"Awww! Tuan tolong...! Tolong saya tuan! " seru Nita meminta tolong pada Nathan.
"Nggak perlu kamu teriak-teriak seperti itu! Karena batas kesabaran gue sudah habis!" bentak Seinara.
"Cukup! Hentikan Nara! Kamu bisa membunuhnya, kalau seperti ini!" bentak Nathan menghentikan apa yang di lakukan oleh Seinara.
Namun bukannya berhenti, Seinara justru balik melawan Nathan. Dia menampar dan memukul Nathan hingga terluka.
PLAAAKKK...
PLAAAKKK...
BUGH...
BUGH....
"Lepasin...?! Ini juga salah kamu! Kamu terlalu memanjakan dia! Sehingga dia tidak pernah menganggap dirinya pekerja di rumah ini! Kamu terlalu membebaskan mereka!" bentak Seinara sambil menyerang Nathan sang suami.
"Aww...!! Awww...! Stop...! stop...! Cukup...! Jangan pukul lagi!" seru Nathan sambil berusaha menghalau pukulan sang istri.
Kemudian Nathan pun akhirnya bisa memegangi Seinara dan memeluknya erat. Hingga Seinara hanya bisa terus memberontak.
"Lepasin gue...! Gue harus kasih pelajaran pada jalang itu! Lepasin...! woi lepasin gue nggak...!" bentak Seinara pada Nathan.
"Nggak...! Saya nggak akan melepaskan kamu! Sebelum kamu tenang!" tegas Nathan.
"Gue nggak akan berhenti sebelum jalang itu kembalikan barang yang dia curi!" jawab Seinara dengan penuh emosi dan terus memberontak dari pelukan sang suami.
"Gila, tenaga perempuan ini kuat banget, sampai-sampai aku hampir kuwalahan. Kalau begini terus aku bisa bonyok di tangan dia" lirih Nathan dalam hati.
"Kamu! Cepat kembalikan apa yang sudah kami ambil!" bentak Nathan pada Nita.
"Ba-baik tuan, saya akan mengembalikannya" lirih Nita sambil terkejut mendapatkan bentakkan dari Nathan.
Nita segera berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil barang yang sudah dicurinya. Tak lama Nita pun kembali dan segera memberikan barang tersebut. Seinara segera melepaskan pelukan sang suami, lalu merebut barang miliknya yang ada di tangan Nita.
"I-ini tuan" lirih Nita sambil menyerahkan kotak kecil pada Nathan.
"Sini! Ini milik gue! Nyawa loe nggak sepadan dengan jam tangan ini! Ngerti nggak...! Sekali lagi loe berani masuk ke kamar gue tanpa izin, gue nggak akan segan untuk membunuh loe!' tegas Seinara dengan penuh amarah.
Kemudian Seinara pun segera berlari menuju ke kamarnya, dan mengambil semua barang-barang penting miliknya.
"Semua kenangan ini nggak aman di rumah ini, gue harus menyimpan barang ini di tempat yang aman" lirih Seinara dengan berlinang air mata.
Seinara sudah tidak bisa menahan air matanya, dia hampir saja kehilangan barang kenangan miliknya. Sehingga dia memutuskan untuk membawa keluar semua barang kenangannya. Dia ingin menyimpan semua itu di tempat yang paling aman.
Seinara keluar dari kamar sambil membawa ransel miliknya, melihat itu Nathan segera mengejarnya dan mencoba untuk menghentikannya.
"Hei tunggu...!" seru Nathan menghentikan langkah sang istri.
Namun Seinara tak menghiraukan seruan suaminya, justru dia semakin mempercepat langkahnya. Sampai akhirnya Nathan berhasil meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Tunggu...! Kamu mau pergi kemana?!" tanya Nathan setelah berhasil mencekal tangan istrinya.
"Bukan urusan loe! Mending loe urus saja pembantu kesayangan loe itu!" bentak Seinara sambil berusaha lepas dari cekalan tangan suaminya.
Setelah bentakkan itu, Seinara pun berhasil melepaskan tangannya. Lalu dia segera berlari keluar dari rumah dan pergi meninggalkan rumah Nathan dengan suasana hati kacau. Bahkan air matanya juga terus mengalir sepanjang perjalanan.