laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tidak Disadari
Sementara itu, di rumah Ratna...
Pagi masih terasa malas ketika Alim menyeruput kopi di ruang makan.
“Aku pengin lihat Rania langsung daripada cuma lewat handphone,” katanya santai. “Kita ke lokasi pemotretannya yuk, Ma?”
Ratna yang duduk di sampingnya mengangguk sambil mengunyah cemilan. “Boleh, Mas. Aku juga pengin lihat dia kerja.”
Alim berdiri dan meraih kunci mobil. “Mas panaskan mobil dulu. Kamu siap-siap, ya. Jangan lama-lama dandannya.”
Ia melirik Ratna, lalu dengan sengaja menoel pipi istrinya. “Untung cantik.”
Ratna tersipu. “Apa sih, Mas. Ngeledek terus. Cantik juga buat kamu.”
Alim tertawa kecil. “Yang cantik, sayang.”
Ratna masuk ke kamar dengan senyum yang belum juga pudar.
Di lokasi pemotretan, Rania duduk di depan meja rias. Lampu putih memantul di cermin besar, menyoroti wajahnya yang kini terlihat berbeda—lebih dewasa, lebih siap dilihat banyak mata.
Ia memiringkan wajah ke kanan dan kiri, menilai hasil riasan dengan senyum puas.
“Sudah siap belum?”
Suara itu datang dari belakang.
Rama berdiri di ambang pintu, kedua lengannya terlipat santai di dada. Kehadirannya membuat ruangan terasa lebih sempit.
Rania refleks menegakkan tubuh. Rambutnya belum sepenuhnya rapi, bajunya masih kaus dalaman.
“Eh, Mas Rama. Kok ke sini? Aku masih berantakan,” ucapnya pelan. Pandangan mereka bertemu lewat pantulan cermin.
Rama tersenyum tipis. Ia bersandar di pintu, satu kakinya sedikit maju. Dari cermin, Rania menangkap sorot mata itu—tenang, menilai, dan entah kenapa membuat dadanya berdebar.
“Baru begini saja sudah cantik,” katanya sambil melangkah masuk. “Apalagi kalau sudah selesai.”
“Mas Rama gombal,” Rania membalas, suaranya terdengar ringan meski pipinya menghangat.
“Bukan gombal.” Nada Rama berubah lebih serius. “Kamu memang tepat jadi wajah brand ini. Sekarang orang-orang mulai mengenal kamu.”
Pujian itu tidak asing, tapi hari ini terasa berbeda. Rania merasakannya—seperti ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya.
Rama memberi isyarat pada tim make up. Salah satu dari mereka mengangguk.
“Kak, aku ambil opsi baju yang di luar dulu, ya.”
“Iya, Kak” jawab Rania.
Pintu menutup. Sunyi mengisi ruangan.
Rama tidak pergi. Ia justru menarik kursi dan duduk lebih dekat.
“Kening kamu berkeringat,” katanya. “Padahal AC dingin.”
Rania tersenyum kikuk. Dalam hati ia tahu—ini bukan soal suhu.
Saat tangannya hendak mengusap sendiri, Rama menahan pergelangannya.
“Jangan. Nanti make up kamu rusak.”
Ia mengambil tisu dan mengusap kening Rania perlahan. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu perhatian. Jarak mereka menyempit, napas terasa beririsan.
Rania membeku. Ada gugup, ada nyaman—dan ia tidak tahu mana yang seharusnya ia pilih.
“Oh...maaf.” Rama tersadar dan menarik tangan. “Saya tidak bermaksud.”
“Ti-tidak apa-apa,” Rania menjawab lirih.
Ketukan kecil terdengar dari luar. “Kak, bajunya sudah ada.”
Rama berdiri. “Saya keluar dulu. Setengah jam lagi kamu siap, ya. Hm?”
Sebelum benar-benar pergi, tangannya sempat menyentuh pucuk rambut Rania.
Rania memejamkan mata sejenak. Ia tidak mengerti maksud Rama—yang ia tahu, perasaannya tidak lagi netral.
Setengah jam kemudian, Rania mendapati Ayah dan Mamanya sudah berada di lokasi. Mereka mengobrol dengan Rama di dekat set.
Ia berhenti beberapa langkah, memandangi mereka dari jauh. Ada senyum kecil di wajahnya—seperti ada restu diam-diam yang belum tentu benar.
Rama menoleh dan melihat Rania berdiri dengan gaun sesuai tema pemotretan. Tatapannya tertahan.
“Cantik sekali,” ucapnya spontan.
Alim menoleh. “Kamu tadi melamun apa, Nak Rama?”
“Oh—nggak, Om. Itu, Rania sudah siap.”
Rania menghampiri. “Ayah sama Mama nggak bilang mau ke sini.”
“Sengaja,” kata Alim sambil mengusap pipinya. “Biar surprise.”
Ratna tersenyum bangga. “Cantik banget anak Mama.” Ia melirik Rama. “Iya, kan, Nak Rama?”
“Sangat, Tante.”
Rania menunduk. Pipinya memerah.
“Salting ya,” goda Ratna.
“Ih, Mama,” Rania mengelak, tapi senyumnya bocor. “Mama sama Ayah mau nunggu pemotretan?”
“Nggak. Toko kan harus buka,” jawab Alim. “Ayah juga nggak bisa jemput kamu.”
Rania cemberut. “Jadi, harus pesan Grab?”
“Cuma hari ini, Nak.” kata Ratna.
“Biar saya antar,” sela Rama.
Ratna tampak senang. “Serius, Nak Rama?”
“Tentu, Tante.”
“Nak Rama baik sekali, andai bisa jadi mantu Tante,” celetuk Ratna.
Rania membeku. Malu, kaget, tapi hatinya berisik. Jantungnya berdegup lebih cepat, pipinya hangat, dan tangannya sedikit gemetar.
“Mama!”
Alim merasa tidak enak dengan Rama. "Maafkan, celetukan istri saya, Nak Rama."
Rama tersenyum santai. “Tidak apa-apa, Om. Siapa yang tidak mau dengan putri Om dan Tante.”
Alim dan Ratna akhirnya pamit, tersenyum puas melihat Rania yang tampak bersemangat. Rania melambaikan tangan mereka, napasnya masih sedikit tersengal karena campuran rasa malu dan senang, lalu menoleh ke Rama yang tetap berdiri di dekat set, menatapnya dengan ekspresi hangat dan tenang.
Pemotretan pun berjalan lancar.
Satu jam kemudian...
Malam turun pelan ketika Rania duduk di kursi penumpang mobil Rama. Lampu jalan memantul di kaca jendela, bayangan wajah mereka sesekali bertemu, lalu terpisah lagi. Mesin mobil belum dinyalakan.
Keheningan terasa lebih bising daripada suara apa pun. Rania menggenggam ponselnya, bukan untuk membuka apa-apa—hanya agar tangannya tidak gemetar. Dadanya masih penuh sejak kejadian di ruang rias tadi; terlalu banyak yang belum ia pahami, tapi semuanya menumpuk di satu titik.
Rama menoleh. Tatapannya berhenti sebentar, menimbang sesuatu sebelum akhirnya berbicara.
“Rania,” ucapnya pelan. “Yang tadi di ruang make up...kamu nyaman?”
Rania menahan napas. Ia tahu pertanyaan ini akan datang, tapi tetap tidak siap sepenuhnya.
Ia menatap Rama, melihat ragu di matanya—bukan takut, melainkan bingung pada perasaan sendiri.
“Aku nggak tahu,” jawab Rania lirih. “Aku cuma...kaget.”
Rama mengangguk, tetap memberi jarak yang membuat Rania merasa aman—namun juga sedikit gelisah.
“Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang.”katanya.
Dada Rania menghangat. Pilihan ada di tangannya sendiri. Ia terdiam, menimbang perasaannya, lalu mengangguk cepat.
“Nyaman kok, Mas” ucapnya lirih. “Cuma...sedikit gugup.”
Rama tersenyum tipis, senyum jujur yang agak ragu. Ia mengulurkan tangan, berhenti di tengah—menunggu.
Rania menatap tangan itu beberapa detik, sebelum akhirnya meletakkan tangannya sendiri di sana. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Rama mencondongkan tubuh perlahan. Tidak tergesa, tidak memaksa. Bibir mereka bertemu singkat—seperti pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.
Rania memejamkan mata, merasakan hangat, ragu, dan rasa baru yang belum pernah ia biarkan tumbuh sejauh ini.
Rama menarik diri sebentar, hanya menatapnya dengan lembut. Sebuah senyum tipis menenangkan tersungging di wajahnya—bukan karena penyesalan, tapi perhatian.
Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menata perasaan yang kini tidak lagi netral. Hangatnya masih tersisa di dadanya, bercampur rasa bersalah yang perlahan menyusup. Ia sadar, momen ini bukan sekadar pertemuan—melainkan awal dari sesuatu yang tidak akan lagi biasa.
Rama menyalakan mesin mobil. Di balik kaca jendela, Rania menatap jalanan malam yang lengang. Satu hal jelas: apa pun yang baru saja dimulai ini, tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.