Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Hari ini khaulah dan Alie berada di Jakarta sedangkan Fatemah tidak ikut bersama. Khaulah ikut dengan Alie karena ia harus menyaksikan proses kontrak kerjasama. Kini khaulah dan Alie telah sampai di kantor Fatih. Mereka di sambut hangat oleh para karyawan di sana.
"Selamat datang Bapak/Ibu..." amar menyambut ramah. "Mari pak/Bu ikut saya ke ruang pak Al."
Alie mengangguk lalu mengikuti amar dibelakangnya. Tangannya menggandeng tangan yang lebih kecil darinya.
"Assalamu'alaikum pak Al." salam amar saat masuk ke ruangan Fatih.
"Wa'alaikumussalam, selamat siang Pak Alie dan Bu Salma." salamnya.
"Siang pak Al." Alie menjawab.
"Silahkan duduk dulu pak/Bu." Fatih mempersilahkan mereka untuk duduk lebih dulu. "Terimakasih sebelumnya pak Alie dan Bu Salma, sudah datang kemari dan terimakasih telah mau membantu perusahaan ini."
"Sama-sama Pak Al, kami senang datang ke sini. Apalagi sekarang saya ditemani putri saya, pemilik sebenarnya."
"Abi..." panggil khaulah malu.
"Pak Al, ruangan sudah siap klien sudah datang." ucap amar memberi informasi.
"Baiklah, mari pak Alie Bu Salma. Kita ke ruang meeting."
"Al..." panggil Alie
"Eh, Salma kamu bisa beristirahat di sini. Nanti di kunci saja pintunya jika itu membuat kamu nyaman." ujarnya. "Mari pak Alie."
"Syukron, pak Al." ucap khaulah. Fatih mengangguk lalu berjalan keluar ruangan diikuti oleh amar. Jantungnya berdetak lebih cepat dan hatinya menghangat kala mendengar suara indah itu.
"Abi tinggal yah, kamu disini istirahat." khaulah mengangguk, kecupan singkat diberikan oleh Alie untuknya.
Beberapa saat pintu terbuka membuat orang didalamnya terkejut. Fatih berjalan cepat mengambil handphonenya. Melihat khaulah yang tengah menatap ke arahnya membuat dirinya kikuk.
"Maaf sal, saya membuat kamu terkejut yah?"
"Tidak masalah, ada yang tertinggal?"
"Iyah." ucapnya sambil menunjukkan handphone nya.
Lalu Fatih kembali keluar dari ruangannya meninggalkan khaulah sendiri di ruangan besar itu. Tiga jam lamanya kini rapat mereka telah selesai.
Seusai dari kantor Fatih kini Alie membawa khaulah pergi ke boutique Haulah cabang pertama di jakarta. Namun saat dalam perjalanan khaulah merasa lapar. Suara perutnya terdengar oleh Alie.
"Kamu lapar, hm?" tanya Alie. Membuat khaulah mengangguk malu. "Mau makan apa hm?"
"Terserah Abi saja."
"Mau makan berat? Atau camilan?" tawarnya
"Makan berat boleh bi?"
Alie terkekeh. "Boleh dong sayang, masa Abi ngelarang kamu makan berat, gak mungkin dong, nanti anak Abi yang cantik ini kurusan gimana?"
"Ihh Abi, jadi selama ini aku gendut yah?"
"Enggak, ideal kok."
"Masa?"
"Iyah. Kamu tuh sama aja kayak umi."
"Kan aku anaknya, Abi gimana sih hm?"
"Iyah sih. Kita beli makan di situ aja yah?" tunjuk Alie pada salah satu restoran di sana.
"Tapi, dibungkus saja yah bi." pinta khaulah.
"Iyah boleh."
"Ra, ngapain sih kamu lakuin itu?!"
"Bukan urusan Lo, jadi, gausah ikut campur ray!"
"Apa sih yang kamu mau dari dia? Dia gak suka sama kamu Ra, dia udah di jodohin kan? Jadi, buat apa kamu ngelakuin itu?! Nyuruh papah kamu buat mutusin kontrak kerjasama dengan perusahaan dia. Buat apa Ra?" Rayan meraup wajahnya kasar. Aurora mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terluka gejolak amarah memenuhi dadanya.
"Lo bisa diem gak! Kalau ada yang denger gimana hah?!"
Khaulah mendengar keributan tersebut setelah ia keluar dari mobilnya. Beberapa saat lalu khaulah kembali keluar restoran karena handphone nya tertinggal di mobil. Saat keluar mobil ia tak sengaja mendengar suara orang bertengkar.
Hal itu membuatnya tergerak untuk memisahkannya. Namun baru beberapa langkah ia mendengar pernyataan yang membuat langkahnya terhenti. Rayan yang tidak habis pikir dengan pola pikir mantan pacarnya itu.
"Jadi, kamu minta papah kamu mutusin kontrak kerjasama dengan Alara Diamon hanya untuk kepentingan pribadi? Karena kamu mencintai pemilik perusahaan nya? Iya!" Bentak Rayan.
Dada nya mendidih setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Mata itu telah berembun, sakit rasanya saat orang yang masih sangat ia cintai sudah berpindah ke lain hati. Ia sudah berusaha menebus kesalahannya dengan memperbaiki diri, memberikan perhatian lebih, mencoba terus hadir di saat mantan kekasihnya itu terpuruk. Namun, apa sekarang? Ia mendapatkan kenyataan yang pahit. Rayan tidak masalah jika memang dirinya tidak bisa kembali bersama dengan Aurora, ia juga tidak masalah jika Aurora memilih orang baru dan orang baru itupun memilih Aurora. Bukan seperti ini, Aurora cinta sendirian, sedangkan orang baru itu tidak mencintainya bahkan mungkin sekedar dekat pun tidak.
"Iya! karena gue cinta sama Al barra'! Jadi, Lo gausah ganggu hidup gue lagi, dengan Lo kasih bunga setiap pagi, kasih cokelat setiap siang, kasih perhatian lebih ke gue. Yang seharusnya gue dapetin waktu Lo masih jadi pacar gue ray!" Luka itu masih nyata dan membekas. Membuat dadanya kembali sakit mengingat kejadian tiga tahun lalu membuat Aurora benci terhadap dirinya sendiri.
"Semua perhatian yang Lo kasih belum cukup buat sembuhin hati gue, yang udah Lo gores berkali-kali." Napasnya tercekat menahan isakan. Rayan mendekat hendak menghapus air mata di pipi gadis itu namun, kaki kecil itu memilih mundur menghindar dari laki-laki di hadapannya. "Sekarang gue udah mencintai laki-laki lain, yang jauh lebih baik daripada Lo."
"Maaf Ra, mungkin semua itu tidak ada artinya buat kamu, tidak bisa menghilangkan luka yang membekas di hati kamu. Aku gak masalah kalau Al Al itu juga cinta sama kamu..." Rayan menjeda ucapannya.