NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Sore itu rumah besar keluarga Wira yang biasanya tenang mendadak dipenuhi suara bentakan. Melisa membanting vas bunga mahal hingga pecah berantakan. Pecahan kaca berkilat di lantai seperti serpihan kemarahannya yang tak lagi bisa ia kendalikan.

“Bagaimana bisa gagal?!” teriaknya, rambutnya berantakan, matanya merah penuh kemarahan. “Gio bilang semuanya sudah siap! Harusnya hari ini anak itu—anak sialan itu—tidak pulang lagi!”

Aurelia berdiri di sudut ruangan, memeluk tubuhnya sendiri. Ia sudah terbiasa melihat ibunya marah, tetapi kali ini benar-benar berbeda. Ada kegilaan dalam sorot mata Melisa yang membuatnya merinding.

“Mama, tenang dulu,” ucap Aurelia hati-hati. “Berteriak tidak akan menyelesaikan apa pun.”

“Tidak akan menyelesaikan apa pun?” Melisa membalikkan badan, menatap putrinya dengan tajam. “Semua ini sudah terlalu lama! Sejak si Nirmala itu muncul, hidup kita berubah! Kalau dia terus berada di sini, apa pun yang Mama rencanakan akan hancur!”

Aurelia hanya menunduk. Sebenarnya ia pun tidak suka pada Nirmala, tetapi ia tak pernah setuju dengan rencana Melisa. Keinginannya hanya satu: hidup nyaman dan mendapatkan warisan yang layak. Namun Melisa… Melisa sudah melangkah terlalu jauh.

Sementara itu, di lantai atas, Pak Wira berdiri termenung di balkon ruang kerjanya. Ia mendengar suara pecahan vas dan teriakan istrinya yang menggema ke seluruh rumah.

Dadanya terasa sesak. Ia sudah tahu sejak awal bahwa Melisa menyimpan ambisi besar, tapi ternyata ia bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari dugaan.

“Seharusnya aku tidak membiarkan semua ini terjadi…” gumamnya pelan.

Beberapa tahun terakhir ia sudah tahu Melisa melakukan hal-hal curang di belakangnya. Tapi setiap kali ia mencoba menegur, Melisa selalu berbalik memainkan kartu “istri yang setia” atau “ibu yang berjuang demi anak.” Wira lemah. Ia tahu itu. Dan kelemahannya membuat putrinya sendiri kini menjadi target.

Pukul delapan malam, suara mobil berhenti di depan rumah. Reyhan dan empat bodyguard yang tiba lebih dulu langsung bergerak mengamati situasi. Dari dalam mobil hitam itu, seseorang turun cepat, langkahnya panjang, mata tajamnya menyapu halaman.

Daren.

Ia baru tiba dari ibu kota setelah menerima pesan singkat dari salah satu bodyguard bahwa ada percobaan bahaya pada Mala—meski syukurnya gagal total. Daren tak menunggu satu detik pun. Begitu mendengar itu, ia langsung mengemudi sendiri, menempuh tiga jam perjalanan dalam ketegangan.

Begitu pintu depan dibuka, para pekerja rumah menunduk hormat. Mereka sudah tahu siapa Daren—suami sah Nirmala dan orang yang saat ini paling bisa diandalkan.

“Di mana Mala?” suara Daren rendah namun tajam, penuh emosi yang ditekan.

“Di kamar, Tuan. Bersama Pak Wira,” jawab salah satu asisten rumah.

Tanpa menunggu, Daren melangkah masuk. Namun sebelum naik, suara bentakan dari ruang tamu menarik perhatiannya.

“Gagal?! Kalian semua tidak berguna! Kenapa harus ada bodyguard?! Sejak kapan anak itu punya perlindungan?!”

Melisa masih mengamuk.

Daren berhenti di anak tangga pertama. Dadanya panas, matanya menyipit.

Jadi benar… rencana itu bukan kecelakaan. Ada yang mencoba melukai Mala. Dan wanita itu—wanita yang berdiri sambil berteriak—adalah dalangnya.

Reyhan yang mengikuti di belakang langsung menahan lengan atas Daren.

“Bos, sabar. Jangan gegabah. Ini rumah ayah ibu Nirmala. Bukan tempat untuk menyerang seseorang langsung.”

Daren menoleh sedikit, rahangnya mengeras. “Aku tidak akan menyentuhnya. Tapi aku harus tahu apa rencananya.”

Mereka mendekat ke ruang tamu. Dari balik dinding, suara Melisa jelas terdengar.

“Aku tidak peduli apa pun caranya! Kalau perlu, kita buat kecelakaan berikutnya lebih… meyakinkan.”

Nada suaranya dingin, kejam.

Aurelia mundur beberapa langkah, wajahnya pucat. “Mama… kalau sampai Papa dengar—”

“Dia tidak akan berani bicara apa-apa!” bentak Melisa. “Selama ini dia selalu takut kehilangan aku! Laki-laki lemah!”

Daren mengepalkan tangan begitu keras sampai buku jarinya memutih.

Reyhan berbisik, “Bos, ini bukti kalau—”

“Ssh,” Daren mengangkat tangan. Ia butuh mendengar semuanya.

Melisa kembali menghela napas kasar, rambutnya ia dorong ke belakang. “Lusa, saat Mala pergi ke kota lagi, rencana berikutnya harus berjalan sempurna. Dan si Gio harus memastikan tidak ada yang selamat!”

Aurelia terbelalak. “Mama! Jangan berlebihan! Kalau polisi—”

“Cukup!” Melisa menunjuk putrinya. “Kau mau hidup nyaman atau tidak?! Semua ini demi masa depanmu!”

Aurelia menutup mulutnya, tak sanggup menjawab.

Di balik dinding, Daren sudah tak bisa tetap diam. Ia melangkah masuk.

Suara langkahnya membuat Melisa dan Aurelia terkejut.

Melisa refleks membenarkan rambut dan pakaiannya, berubah seolah-olah ia adalah nyonya rumah yang anggun.

“Oh… Tuan Daren,” ucap Melisa dengan senyum palsu. “Kapan datang? Saya tidak mendengar—”

“Saya baru sampai,” jawab Daren datar, matanya menusuk. “Suara Ibu terdengar sampai luar.”

Wajah Melisa menegang sepersekian detik, namun ia cepat tersenyum kembali. “Ah, itu… hanya masalah internal keluarga. Tidak penting.”

Daren menatapnya lebih lama, lalu berucap dingin, “Kalau itu menyangkut keselamatan istri saya, itu penting.”

Melisa berkedip. Aurelia menahan napas.

Daren tidak menunggu respon. Ia membungkuk sedikit sopan, lalu berbalik naik menuju kamar Nirmala.

Melisa menggertakkan gigi. “Dasar pria sok hebat. Kita lihat berapa lama kau bisa melindungi anak itu…”

---

Di lantai atas, Nirmala berdiri terpaku ketika pintu kamarnya terbuka.

“Daren…?” suaranya bergetar.

Daren langsung menariknya ke dalam pelukan. Untuk beberapa detik, ia hanya memeluk erat seakan takut Mala akan hilang.

“Apa kamu baik-baik saja?” suaranya serak, penuh kekhawatiran.

Nirmala mengangguk kecil. “Aku aman… berkat para penjaga itu.”

Pak Wira yang berdiri di dekat jendela menghela napas. “Terima kasih sudah datang secepat ini, Nak Daren.”

Kenalkan pak ini asisten saya rayhan

selamat malam pak,nona saya reyhan

pak wira mengangguk,nirmala "salam kenal".

Daren menatap ayah mertuanya. “Saya minta Bapak tidak menyembunyikan apa pun lagi. Bahaya ini… bukan sekadar ancaman kecil. Saya dengar langsung.”

Pak Wira menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya sedikit gemetar. “Saya tahu… Saya terlalu lama membiarkan semua ini…”

Daren mendekat. “Mulai malam ini, saya yang akan mengambil alih keamanan Mala. Dan jika ada yang berani menyentuhnya lagi… saya tidak akan diam.”

Di bawah, Melisa melangkah mondar-mandir, semakin gelisah.

Kedatangan Daren hanya membuatnya merasa waktunya semakin sempit.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan pada siapa pun sebelumnya…

Takut...

Assalamualaikum selamat pagi tinggalkan jejak kalian ya ..

Selamat membaca 🥰🥰🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!