Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehidupan Farah
Tiga tahun kemudian...
Tak terasa tiga tahun telah berlalu. Hari-hari Farah di desa perlahan terasa lebih ringan. Aroma kue memenuhi toko kecil milik Farah.
Ya, tiga tahun belakangan ini, Farah berhasil mendirikan toko roti milik nya sendiri. Alhamdulillah satu persatu mimpi nya mulai terwujud.
Walupun kecil tetapi Farah bersyukur bisa berada di titik ini. Mencukupi kebutuhan twins dengan hasil keringatnya sendiri.
Suara cempreng anak kembarnya mengalihkan perhatian nya.
"Mama... Lihat, kami beldua bawa apa?" Teriak kedua bocah itu sambil berlari membawa tubuh gembul nya.
Farah mengalihkan pandangannya dari adonan menatap kedua anaknya.
Senyum lebar langsung muncul di wajahnya saat melihat anak kembarnya berlari masuk dengan langkah Riang.
"Jangan lari-lari begitu, nanti bisa jatuh." ujar Farah, ngerih melihat dua anak kembarnya berlari dengan tubuh bulat nya itu.
Pipi mereka memerah, Karna kulit anak-anak nya putih membuat mereka rentan akan matahari.
Nafas keduanya memburu karna terlalu bersemangat berlari.
Anaya dan angkasa menyembunyikan Kedua tangannya kebelakang. "Mama, Coba tebak kita bawa apa?" ucap Angkasa.
Anaya mengangguk sambil menggoyangkan badannya.
"Apa itu?" tanya Farah sambil pura-pura memasang wajah penasaran.
"Apa? coba tebak?" ujar angkasa dengan nada bangga karna berhasil membuat mama penasaran.
Anaya menyenggol bahunya, "Jangan di kacih tau duyu!" sela Anaya sambil menahan tawa.
Farah tersenyum, lalu menyeka tangannya yang berlapis tepung sebelum akhirnya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan mereka.
"Hmm... Kalian bawa kucing? Atau.... Bawa kue yang mama lupa bawa?"
Kedua anak itu menggeleng dengan keras sambil cekikikan.
"Bukan... Nih! Lihat..." Seru mereka bersamaan mengulurkan kedua tangannya memperlihatkan bunga yang mereka petik di taman.
"Ceyamat uyang tahun, mama." Ucap Anaya tersenyum manis.
Hati Farah mendadak Hangat. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. "Terimakasih, sayang." Ucap Farah menerima setangkai bunga berwarna ungu itu.
"Dan ini untuk mama kalena cudah belkelja kelas telus." tambah angkasa menyerahkan bunga berwarna-warni itu kepada Farah.
Lagi-lagi Farah di bikin terharu dengan sikap Kedua anak kembarnya. Ia mengambil bunga itu dengan senang hati. Seolah itu adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima.
"Mama suka sama hadiah kita?" tanya Anaya.
Ia pun membawa kedua anaknya kedalam pelukannya. "Terimakasih, sayang. Mama suka banget."
Farah mencium kedua pipi anaknya. air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga.
Angkasa yang melihat air mata itu pun langsung menyeka nya. "Kenapa mama nangis? Apa kita nakal?"
Farah menggeleng kan kepalanya dan tersenyum. "Mama nangis karna bahagia. Karna sekarang anak-anak mama udah tumbuh besar dan pintar." Sela Farah.
"Oh... Lupanya kalau olang nangis itu bukan kalna cedih aja. Bahagia juga nangis ya?" tanya Anaya.
Farah mencubit gemas pipi putrinya itu. "Benar, tidak semua menangis itu bersedih."
Farah menatap kedua anak kembarnya, "Hm... Dari mana kalian berdua tau kalau hari ini ulang tahun mama?" tanya Farah penasaran.
Keduanya saling pandang, lalu Anaya menjawab. "Dali paman. Kata paman Dimas hali ini mama uyang tahun."
Angkasa mengangguk, "Kata paman, kalau ada yang uyang tahun halus kacih hadiah. Kita Ndak punya uang beyi hadiah buwat mama. Jadi, kita petik bunga caja di taman." tambahnya.
lagi-lagi hati Farah terasa hangat.
Angkasa melirik adonan kue di atas meja. "Boyeh kita bantu bikin kue lagi?"
Anaya langsung melompat riang, "Boyeh ya ma," Sahutnya antusias.
Farah tertawa kecil, "Boleh, tapi kalian harus janji dulu, ngak makan adonan mentah seperti kemarin lagi." Ujar Farah.
Anaya menutup mulutnya sambil cekikikan sementara angkasa mengangguk serius— meski matanya yang berbinar itu jelas menunjukkan proyek baru.
Dan begitulah hari-hari Farah menemani Tumbuh kembang bayi-bayi kembarnya itu.
Walaupun banyak proyek-proyek yang di ciptakan toodler nya. farah tak pernah marah. Malah ia senang melihat anak-anak nya aktif.
Setiap detik kebersamaan mereka begitu berharga bagi Farah.