Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML014~ Sendok Spesial
Axan dan Ziya segera kembali ke meja, terlihat Alena dan Pak Alex sama-sama diam membatu.
"Apa mereka liat ke kasir?" bisik Ziya.
"Tidak, kita ditutupi pengunjung lainnya."
Ziya mengangguk paham.
"Mama, kenapa diem?" tanya Ziya.
"Nggak apa-apa, Ziya. Emangnya kenapa?"
"Mama bilang katanya Om ganteng itu temen Mama, kalau sama temen kan harusnya ngobrol?" jawab Ziya dengan tangan yang ikut bergerak ke kanan dan ke kiri sambil memperagakan bagaimana perilaku yang biasa dilakukan orang saat bertemu teman.
"Iya kan, Xan?"
Xan hanya mengangguk.
"Ziya tauuu! Mama malu ya?"
Wajah Alena memerah, Pak Alex langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Kalau ketemu tapi nggak ngobrol kan nggak ada gunanya," ujar Ziya sembari memangku wajahnya.
"Xan, bantu ngomong dong." bisik Ziya.
Axan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga bingung harus bagaimana. Pak Alex saja irit bicara padanya, bagaimana ia bisa mengarahkan Ayahnya itu?
"Permisi, pesanan meja nomor 10." waiters datang membawa nampan berisi 4 gelas minuman.
"Untuk menu lainnya segera menyusul ya," ucapnya ramah.
"Makasih,"
"Makasih kak."
"Oh iya, Om sama Mama temenan udah lama ya? Kok Ziya nggak pernah liat Om." tanya Ziya.
"Mama sama Om Alex temenan dari masa kuliah, pas Mama nikah sama Papa Ziya, Om Alex kerja di luar kota." jawab Alena.
"Oh, rasanya Xan tidak asing saat pertama kali melihat Tante."
"Oh ya?" tanya Alena yang penasaran.
"Iya, tapi Xan lupa."
"Ehemmm!" Pak Alex berdehem agar Axan tidak lagi melanjutkan pembahasannya ini.
"Kalian coba minumannya, enak nggak?"
Ziya meminum sedikit minuman di gelasnya, rasa asam dan manis yang menyegarkan.
"Enak, Ma."
"Om ganteng kerja apa? Apa sama kayak Mama?" tanya Ziya.
"Om hanya membuka toko saja,"
"Wah, toko apa?"
"toko serba ada. Mulai perabotan rumah dan alat-alat bangunan juga ada."
"Wah, besar berarti tokonya ya."
"Sedikit besar."
"Toko lainnya apa, Om?"
"Rahasia... Ziya tau dari mana Om punya toko lebih dari satu?"
Spontan Ziya menunjuk Axan, yang ditunjuk pun hanya tersenyum canggung.
"Om ikut kan nanti pas kita liburan?"
"Kalau Mama Ziya mengizinkan Om ikut, maka Om akan ikut."
"Boleh kan, Ma?" tanya Ziya.
"Boleh,"
"Yesss!"
Waiters kembali datang, kali ini dua waiters dengan masing-masing nampan ditengan mereka. Alena terkejut saat melihat nasi kuning dua tingkat dengan hiasan bertuliskan "Love Mama".
"Ini..." Alena bingung.
"Mbak, yang ini sepertinya bukan pesanan kami." ucap Alena.
"Ini menu yang dipesan nona kecil, Kak."
Ziya tersenyum lebar ke arah Alena.
"Ziya nggak tau harus apa biar Mama maafin Ziya, jadi Ziya cuma punya ide ini. Semoga Mama suka."
Axan mengangguk sebagai bentuk dukungan untuk Ziya.
"Ziya pintar sekali," puji Pak Alex.
"Makasih Om." balas Ziya dengan manja.
"Sebenernya ini patungan sama Xan, hehe." ungkap Ziya sambil menggaruk tengkuknya.
"Wah, makasih banyak ya, Xan." ucap Alena sambil mengelus pipi Axan, wajah Axan memerah kemudian kedua sudut bibirnya ditarik membentuk lengkungan senyum manis.
"Ini bukan apa-apa, Tante."
"Xan sama Ziya, makasih ya. Mama suka kejutannya."
"Ayo, Ma. Foto bersama dulu sebelum makan." ajak Ziya.
"Eh, oke deh."
"Pakai HP Om saja," kata Pak Alex sambil membuka aplikasi kamera.
Mereka berempat berpose saat Pak Alex bersiap mengambil gambar.
"Senyyummmm!!"
'Cekrek' gambar berhasil diambil, tampak seperti sebuah keluarga cemara.
"Bagus fotonya," puji Ziya.
"Om, fotoin Mama juga dong."
"Ziyaaaa."
"Alena, lihat ke kamera."
Mau tidak mau Alena harus mau, ia berpose cantik. Pak Alex tersenyum saat gambar berhasil di ambil.
"Makasih, Mama seneng banget dikasih kejutan." ucap Alena lagi yang masih merasa terharu.
"Sama-sama, Tante."
Alena menyendok nasi kuning tersebut dengan pelan, ia menyodorkan suapan pertama untuk Ziya, kemudian untuk Axan dan untuk dirinya sendiri.
"Om kok nggak disuapin juga, Ma?" tanya Ziya, Axan yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak.
"Uhukk!"
"Ya ampun, minum dulu." Alena menyodorkan minuman pada Axan.
"Mangkanya makan tuh pelan-pelan, biar nggak keselek." kata Ziya.
"Bicaramu gamblang sekali, Ziya." balas Axan.
"Kenapa? Nggak apa-apa kan kalau Mama suapin Om ganteng? Biar adil, masa kita aja yang disuapin."
Alena menepuk jidat dengan pelan.
"Maafin Ziya, Kak. Ngomongnya nggak tau tempat."
" Tidak apa-apa, aku setuju dengan Ziya."
Alena menganga, sedangkan Ziya tersenyum bangga.
"Kak Alex ketularan Ziya, ya?"
"Apapun untuk melihat anak-anak agar merasa senang akan ku lakukan itu." Pak Alex mengelak.
"O-Oh."
Alena menyodorkan piring beserta sendoknya.
"Kak Alex ambil sendiri aja,"
"Hmmm Mama ini.." Ziya bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Pak Alex, ia menyendokkan makanan dan menyuapi Pak Alex.
"Terima kasih, Ziya." ucap Pak Alex.
"Sama-sama, Om."
Alena tersadar sesuatu.
"Alamak, itu sendok satu untuk semua, pasti Kak Alex jijik karena sendok itu juga bekasku." batin Alena.
Pak Alex mengelus kepala Ziya dan meminta disuapi lagi.
"Makanan yang ini rasanya sangat lezat, Om makan sampai habis saja yang ini." kata Pak Alex.
Sebenarnya yang istimewa dari makanan ini adalah sendoknya.
"Ganti sendoknya dulu," ujar Alena sambil mengambil sendok miliknya yang masih bersih.
"Tidak perlu," cegah Pak Alex sambil mengambil alih sendok di tangan Ziya.
"Aku pakai ini saja," lanjutnya.
"Tapi itu sendok bekasku," bisik Alena.
"Ini yang aku mau." Pak Alex tersenyum tipis.
"Hah? Apa?"
"Mungkin Om males ngotorin semua sendok, Ma." bela Ziya.
"Nah iya, itu maksud Om. Ziya memang pintar." puji Pak Alex.
"Hehe, iya dong."
"Xan mau juga nasi yang itu." pinta Axan.
"Tidak boleh, perut kalian berdua masih kecil, tidak bisa menampung makanan sebanyak Papa. Xan dan Ziya makan makanan yang sudah kalian pesan saja." tolak Pak Alex dengan alasan yang membuat Axan mengernyitkan dahi.
"Tapi kan itu pesanan Ziya sama Xan." kata Xan.
"Kalian pesan lagi yang baru."
"Oke!" Ziya setuju, ia langsung kembali ke tempat duduknya.
"Kak Alex nggak seharusnya rebutan sama anak-anak."
"Tidak apa-apa, Alena. Aku lebih suka yang ini."
Axan mulai merasa curiga pada Ayahnya itu, ia penasaran apa yang begitu istimewa pada makanannya, sampai-sampai Pak Alex tidak rela berbagi bahkan kepada dirinya.
"Oh iya, Kak. Istri Kak Alex kok nggak di ajak?" keluar juga pertanyaan yang sedari tadi Alena tahan.
Pak Alex menghela napas pelan.
"Aku tidak punya Istri, Alena."
"O-oh, maaf. Aku kira Ibunya Xan juga bakal ikut malam ini, jadi aku khawatir banget kita duduk sebelahan gini."
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin