Istri kedua itu memang penilaiannya akan selalu buruk tapi tidak banyak orang tau kalau derita menjadi yang kedua itu tak kalah menyakitkannya dengan istri pertama yang selalu memasang wajah melas memohon simpati dari banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranimukerje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Sampai dirumah sudah jam 9 malam. Nara masih asik dengan tontonan didepan televisi yang ada diruang keluarga. Nara dengar suara mobil dan ia tau itu suara mobil wisnu tapi film didepannya sedang seru jadi nara membiarkan saja bibi yang kedepan untuk membukakan pintu untuk suaminya.
"Pulang mas?"
Pertanyaan yang membuat wisnu merasa semakin diabaikan oleh istrinya sendiri. Seharusnya sekarang nara memasang wajah sedih atau setidaknya merajuk lah sedikit pada wisnu karena sekarang ini statusnya nara bukan satu satunya lagi dalam hidup wisnu.
"Mas" panggil nara lagi karena wisnu hanya berdiri mematung disisi sofa tempat nara duduk.
Tak menyahut, wisnu naik kelantai atas. Mandi dan langsung merebahkan tubuh lelahnya diranjang. Sejak ribut waktu lalu itu, ini kali pertama wisnu kembali tidur dikamar mereka. Kamar yang tadinya begitu hangat penuh tawa juga cinta. Dinginnya malam tak membuat wisnu terbangun dan dalam tidurnya yang tidak benar benar lelap wisnu masih saja mengernyitkan kening.
"Semoga kamu cepat bisa bikin febri hamil mas, karena aku mau semua ini cepat selesai dan hidup kita yang damai kembali lagi."
Nara memiliki tekat yang kuat akan keutuhan rumah tangganya bersama sang suami walau dengan kesadaran penuh ia menghadirkan badai untuk dirinya sendiri. Nara tak pernah benar-benar mempertimbangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Dua manusia dewasa dipaksa untuk saling bersatu dan itu pasti akan bisa menumbuhkan benih cinta diantara keduanya. Cara ini memang salah tapi cinta yang tumbuh dan bersemi itu tidak akan pernah salah.
.
.
.
Sinar matahari menyapa wisnu yang baru membuka mata. Disampingnya, nara masih terpejam damai. Tak ada gurat kesedihan sedikitpun dari sang istri. Wisnu makin kecewa dan kekecewaannya itu malah menimbulkan keinginan lain terhadap febri istri barunya.
Mengabaikan penatnya isi kepala, wisnu memilih mandi dan bersiap. Lebih baik keluar rumah dan sibuk dikantor daripada harus berhadapan dengan nara yanh sepertinya hatinya sudah membatu.
"Mas, lebih baik ga usah pulang kesini sampai febri hamil."
Duar
Kalimat nara barusan sukses menampar wisnu yang sudah kecewa dan sekarang jadi makin kecewa.
"Kamu ini kenapa sih ra?"
"Aku kenapa?"
Pertanyaan yang tak dijawab dan malah balik bertanya. Wisnu benar-benar muak dan ingin sekali mengamuk.
"Aku suami mu, aku milikmu tapi kamu malah menyodorkan aku pada gadis lain."
"Gadis? Mas belum buat febri jadi wanita, kalian belum melakukannya?"
Nara balik marah dan wisnu gelagapan.
"Mas" sentak nara keras keras.
Adu mulut itu tak terelakkan. Nara dengan ego nya yang terus mau menang sendiri dan wisnu dengan lelahnya. Mereka pasangan yang tadinya penuh cinta dan kasih sekarang seperti dua kubu yang selalu bentrok jika dipertemukan. Tidak ada lagi tatapan cinta tidak ada suara manja saling memuja. Dipuncak emosinya, wisnu keluar kamar dengan bantingan pintu yang keras. Sepinya malam tak membuat dua hati yang sedang saling marah itu melunak.
Deru mobil wisnu terdengar jelas ditelinga nara tapi tak sedikitpun ada rasa takut dihati nara kalau suaminya pergi tidak untuk kembali lagi. Dari balkon, nara melihati mobil hitam suaminya keluar gerbang dengan ditemani keheningan malam nara tersenyum samar. Entah apa yang sekarang sedang ia rasakan tapi yanh jelas nara hanya ingin suaminya tetap menuruti setiap apa yang jadi keinginannya. Tak boleh membantah tak boleh menolak dan harus patuh.
.
.
.
Febri, baru saja selesai dengan persiapannya untuk pergi kerja besok. Tak banyak barang hanya dua stel pakaian ganti perlengkapan mandi juga skincare dan semuanya dimasukkan dalam satu tas ransel mini yang memang selalu febri bawa jika pekerjaannya tak mengharuskannya untuk menginap.
Ceklek
Pintu terbuka karena febri memang belum menguncinya. Sosok gagah muncul dari luar dan itu wisnu, suaminya.
Tak banyak kata, febri berjalan menuju lemari mengambil selembar handuk dan menyerahkannya ke tangan wisnu. Wisnu pun tak banyak kata menerima handuk dan berlalu kekamar mandi. Sempat menarik napas panjang, febri keluar kamar untuk membuatkan teh saat wisnu sedang sibuk dengan urusannya dikamar mandi.
Mengaduk teh dengan gerakan pelan namun pasti, febri sempat termenung sebentar. Dalam benaknya, apa apa yang sudah ia lakukan mulai dari mengambilkan handuk dan sekarang membuatkan secangkir teh. Semuanya hanya sekedar refleks semata tidak ada perasaan apapun dalam benak febri saat melakukannya. Bukan karena cinta tanggung jawab atau sebuah kewajiban. Semuanya hanya refleks.
Wisnu sudah duduk bersandar dikepala ranjang saat febri datang dengan cangkir teh ditangan.
"Tehnya" ucap febri singkat sambil mengangsurkan cangkir didepan wisnu.
"Hangat, bisa langsung diminum."
Wisnu mengangguk pelan. Menerima cangkir itu dan langsung menyesap isinya. Harum menenangkan dan manisnya pas. Bukan manis gula tapi ini manis madu batin wisnu sambil kembali menyesap teh buat febri. Teh biasa tapi rasanya menenangkan sekali. Bukan rasa tehnya tapi perasaan wisnu tenang saat menyesap teh dan kehangatan memenuhi tenggorokan bahkan sampai kedalam hatinya.
"Kalian ribut?
Pertanyaan febri mengalihkan wisnu dari teh ditangannya.
Dengan malas wisnu mengangguk kepala mengakui tebakan istri keduanya.
"Ga usah pulang kesana, disini saja. Kita buat keluarga bahagia yang tidak menuntut mas ini dan itu."
Ingin rasanya febri mengucapkan kalimat itu tapi sayang hanya didalam hati saja karena febri belum cukup berani berbicara lantang didepan wisnu sekarang ini.
"Habiskan tehnya mas, langsung istirahat."
"Hmm, terimakasih."
Febri merebahkan tubuhnya. Harus segera istirahat karena beberapa jam lagi intan dan joni akan datang menjemput. Tak butuh waktu lama, febri sudah lelap dalam tidurnya sementara wisnu masih bertahan dalam hening. Matanya sulit terpejam isi kepalanya semrawut bahkan amarah masih berusaha ia pendam sebaik mungkin.
Entah jam berapa wisnu baru bisa memejamkan mata tapi yang pasti saat dering ponsel milik febri berbunyi tak sekalipun wisnu terusik. Cepat dimagikan dan febri duduk sebentar. Mandi dan bersiap dengan cepat karena hari ini akan jadi hari yang lumayan melelahkan.
"Aku pamit mas." Ucap febri setelah menaruh teh hangat didalam gelas tahan panas dan meletakkan selembar kertas kecil berisi kata pamit.
"Berangkat non." Sapa satpam didepan gerbang.
"Iya pak, mari."
Satpam dirumah besar orangtua wisnu mengulas senyum. Rasanya febri jauh lebih pantas jadi menantu juga istri untuk keluarga ini. Ramah sopan juga santun begitulah penilaian para pekerja yang sudah lama ikut orangtua wisnu.
"Cocok yang ini kan ya pak?" Tanya satpam satunya.
"Iya, lebih ramah kelihatannya juga baik."
"Emang baik, kata orang dalam non febri ini mau berbaur ga sok orangnya."
Obrolan menjelang subuh itu terus berlanjut sambil mengusir kantuk yang mulai datang. Membahas febri yang sekarang menjadi anggita baru dikeluarga wijaya dengan penilaian plus dari semuanya.
#Happyreading