Mahen selalu membenci Tante Feronica, bibinya yang menghilang 10 tahun silam. Ayahnya selalu mengatakan bahwa Tante Feronica adalah orang jahat yang telah membuatnya mendekam dipenjara selama 12 tahun.
Namun, ketika Mahen mencoba mencari petunjuk atas apa yang terjadi 10 tahun lalu, dia tidak menyangka bahwa dia akan menemukan sebuah ruang rahasia di kamar Tante Feronica. Di dalam ruang itu, Mahen menemukan petunjuk-petunjuk yang membuatnya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dia percayai.
Mahen mulai menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu dan mengapa ayahnya dipenjara. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Mahen harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak seperti yang dia pikirkan.
Tante Feronica, yang selama ini dia anggap sebagai orang jahat, ternyata memiliki alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dilakukannya. apakah Mahen akan bisa menemukan kebenaran dan memperbaiki kesalahan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan duwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MONICA VALENCIA HARDJO
Aidan dan Herdi menatap Ethan yang berlari ke arah mereka. "kenapa tan?" tanya Aidan. ia takut terjadi sesuatu pada temannya yang lain karena ruangan ini sangatlah asing, apa saja bisa terjadi tanpa mereka duga.
"Naomi udah buka ruangan sebelah, katanya nanti geledah ruangan itu dulu, isinya foto-foto keluarga banyak banget" jelas Ethan.
Aidan menatap Herdi lalu mengangguk, "oke, nunggu Mahen tenang dulu" jawabnya.
..
setelah kurang lebih tiga puluh menit beristirahat dan menenangkan diri masing-masing, akhirnya mereka berkumpul kembali.
kali ini mereka berkumpul di ruangan yang berisi foto-foto keluarga sesuai arahan Naomi.
Herdi, Aidan, dan Ethan membongkar tumpukan-tumpukan foto yang ada di dalam lemari dan pojokan ruang. Mahen dan Naomi mengamati setiap foto dengan di dampingi oleh Adis dan juga Oca agar bisa menjadi penengah jika terjadi cekcok atau berbeda pendapat seperti sebelumnya.
"lengkap nih" celetuk Naomi seraya menyodorkan sebuah foto dengan ukuran yang lumayan besar. Mahen menatap foto itu, benar kata Naomi, foto itu terlihat lengkap.
foto yang di sodorkan oleh Naomi adalah foto keluarga yang terdiri dari kakek Hardjo, nenek Astrid, tante Feronica, mamah felicia yang sedang menggendong bayi, papah Julian, dan satu anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun.
"ini siapa?" tanya Adis, tangannya menunjuk anak perempuan kecil yang ada di dalam foto itu.
"gue juga nggak tau dis, apa lo ada inget sesuatu tentang keluarga gue?" tanya Mahen pada Adis.
Adis adalah sahabat Mahen sejak kecil karena mereka adalah tetangga. Adis menggeleng, "gue nggak inget apa-apa hen" jawaban Adis membuat Mahen merasa buntu.
"Lo punya saudara?" tanya Naomi mencoba berbicara dengan Mahen. Mahen hanya menggeleng, sepertinya ia masih enggan berbicara dengan Naomi.
"nih, foto yang nggak di masukin ke bingkai" ucap Ethan yang tiba-tiba datang membawa tumpukan kertas foto tanpa bingkai.
Naomi menerima tumpukan kertas foto itu dan menaruhnya diatas meja. ia mengambil satu persatu foto itu untuk di amati.
saat sedang mengamati satu persatu foto, Naomi tidak sengaja menemukan foto bayi yang sepertinya baru lahir. bayi itu berada di dalam boks dengan beberapa peralatan medis di sampingnya, sepertinya foto itu di ambil di rumah sakit.
Naomi membaca sebuah nama yang tertulis di pojok bagian bawah kertas foto itu.
"Monica Valencia Hardjo" gumam Naomi. Mahen, Adis, dan Oca seketika menatap Naomi.
"kenapa nao?" tanya Adis mewakili Mahen. "perempuan tadi kayanya kakaknya Mahen deh" ucap Naomi membuat mata Adis dan Mahen melebar seketika.
"Lo jangan asal ngomong, gue nggak punya kakak" sewot Mahen. Naomi menyodorkan foto bayi yang ia pegang.
Mahen menatap foto itu seketika ia terkejut. wajah bayi itu terlihat mirip dengan wajahnya sendiri saat masih bayi. Mahen sering melihat fotonya saat masih bayi yang tertempel di dinding rumahnya.
tatapan Mahen tertuju pada nama yang ada di foto itu, "Monica Valencia Hardjo? Valencia, ini mirip nama mamah, dia juga pake nama kakek di belakangnya" ucap Mahen, kali ini ia menatap Naomi seolah meminta pendapat.
"gue rasa itu kakak lo, liat di foto yang tadi deh, anak itu di gandeng bokap lo kan?" tanya Naomi yakin.
Mahen meraih foto keluarga yang tadi sudah ia taruh. benar, Julian, papah Mahen terlihat menggandeng tangan anak perempuan yang ada di sampingnya.
jantung Mahen berdetak lebih cepat, "terus dimana kakak gue sekarang? apa dia pergi sama tante Fero?" tanya Mahen pada Naomi seolah Naomi bisa memberinya jawaban yang pasti.
"mungkin aja" hanya itu jawaban Naomi. Naomi sendiri tidak tahu dimana keberadaan kakak Mahen yang sebenarnya. Naomi adalah detektif bukan tukang terawang.
"kita liat foto lain, siapa tau ada petunjuk baru yang lebih jelas" ajak Naomi.
..
entah sudah berapa jam mereka berkutat dengan foto-foto keluarga yang ada di dalam ruangan itu. namun mereka tidak menemukan apapun lagi kecuali kedua foto tadi.
foto-foto yang lain hanya foto tante Fero yang terlihat seperti model. banyak tema Photoshop yang keren dan sebagian besar foto itu bertema dark.
banyak foto tante Fero yang memegang pistol atau panah bahkan sniper rifle yang tadi mereka temui. sepertinya foto-foto itu di ambil saat tante Fero sedang berlatih menggunakan senjata-senjata itu.
Tante Fero terlihat sangat cantik. tidak terlihat sorot kejahatan di wajahnya. bahkan banyak juga foto-foto Tante Fero bersama Mahen kecil yang terlihat sangat bahagia.
melihat foto-foto itu membuat Mahen merasakan sesak di dadanya.
"hen, Lo masih yakin tante Fero pelakunya?" tanya Ethan yang sedang duduk kelelahan setelah mengangkati tumpukan-tumpukan foto.
Mahen dan Naomi sudah bercerita tentang foto yang mereka temukan tadi pada yang lain.
Mahen hanya diam tak menjawab pertanyaan Ethan. ia sendiri sedang bingung, tapi ia yakin papahnya tidak mungkin membohonginya.
"gue percaya sama bokap gue" jawab Mahen tegas.
mendengar jawaban itu Naomi seketika menatap Mahen.
saat Naomi hendak melayangkan protes atas jawaban Mahen, lengannya di senggol oleh Adis yang berdiri di sampingnya. Naomi paham Adis tidak ingin terjadi keributan seperti tadi sehingga Naomi mengurungkan niatnya untuk protes dan memilih diam.
"masih ada satu ruangan lagi kan?" tanya Herdi. "iya, di sebelah" jawab Naomi.
"siapa tau nanti kita nemuin petunjuk di sana" ucap Aidan dan di angguki oleh yang lain.
"kesana sekarang?" tanya Adis. "eh eh eh.. bentar dong, gue masih cengep-cengep nih" cegah Ethan yang masih kelelahan.
"eh.. si ketan ngerepotin doang lu" sarkas Adis. "heh.. ngerepotin doang pala lu, gue bantuin dari tadiii" jawab Ethan tak terima di Katain ngerepotin.
"udah-udah.. istirahat dulu bentar di sini" ucap Herdi menengahi.
Naomi mengeluarkan roti dan air mineral dari dalam ranselnya lalu membagikan pada teman-temannya.
"sedikit-sedikit ya, gue nggak bawa banyak soalnya. nggak tau kalau mau kejebak di ruangan beginian" ucap Naomi.
"ini juga udah lumayan buat ganjel perut nao" jawab Ethan dengan mulut yang penuh sepotong roti.
Mahen menatap teman-temannya, ia merasa bersalah karena membawa mereka hingga terjebak di tempat seperti ini.
"kalau kita udah keluar dari sini gue traktir kalian makan sepuasnya" ucapan Mahen membuat teman-temannya bersorak kegirangan terutama Ethan dan Adis.
"Lo kasian kan sama kita yang kelaperan begini?" ucapan Ethan membuat yang lain terkekeh. mereka merasa lucu karena terjebak di tempat yang membuat mereka harus berbagi makanan yang sedikit itu untuk mengganjal perut yang terasa lapar.
"kalian semua udah bantuin gue, maaf kalau tadi sikap gue keterlaluan, terutama lo nao." ucap Mahen tulus. Naomi hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
lanjut....