Raka Pradipta 22th, seorang mahasiswa yang baru bekerja sebagai resepsionis malam di Sky Haven Residence, tak pernah menyangka pekerjaannya akan membawanya ke dalam teror yang tak bisa dijelaskan.
Semuanya dimulai ketika ia melihat seorang gadis kecil hanya melalui CCTV, padahal lorong lantai tersebut kosong. Gadis itu, Alya, adalah korban perundungan yang meninggal tragis, dan kini ia kembali untuk menuntut keadilan.
Belum selesai dengan misteri itu, Raka bertemu dengan Andika, penghuni lantai empat yang bisa melihat cara seseorang akan mati.
Ketika penglihatannya mulai menjadi kenyataan, Raka sadar… apartemen ini bukan sekadar tempat tinggal biasa.
Setiap lantai menyimpan horornya sendiri.
Bisakah Raka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir yang Tertinggal
Keheningan menyelimuti unit 507. Udara dingin yang semula menusuk perlahan menghangat, seolah energi gelap yang menguasai ruangan tadi telah sirna. Namun, tidak ada yang berani bergerak.
Nadine menelan ludah, menatap serpihan kaca yang berserakan di lantai. Di antara pantulan yang terpecah-pecah, ada sesuatu yang bergerak.
Sebuah bayangan samar melintas cepat di antara serpihan kaca, seolah masih mencari jalan keluar.
Maya menggigit bibirnya, suaranya bergetar. “Apa… itu masih ada di sini?”
Anton menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian. “Nggak mungkin. Kita udah hancurin cerminnya. Harusnya semuanya udah selesai.”
Tapi Raka tahu.
Belum.
Dia berjongkok, mengamati pecahan kaca dengan seksama. Di beberapa potongan kecil, ia masih bisa melihat pantulan Larisa. Wajahnya terlihat lebih damai, tapi masih ada ketakutan di matanya.
"Kalian sudah menghancurkannya… tapi aku masih terperangkap."
Kata-kata itu terdengar seperti bisikan, datang langsung dari pecahan kaca yang paling besar.
Maya menggeleng kuat. “Nggak! Kita udah nyelamatin lo! Lo harusnya bisa pergi!”
Larisa menundukkan kepalanya. "Tidak semudah itu… Aku bagian dari tempat ini… dan aku masih terikat."
Nadine menggigit bibirnya. “Jadi… kalau kita mau membebaskan Larisa, kita harus menghancurkan setiap pecahan cermin?”
Anton menoleh ke Raka. “Lo percaya ini?”
Raka menatap pecahan kaca di tangannya, lalu mengangguk. “Gue rasa, cermin ini bukan cuma sekadar benda biasa. Ini penjara. Dan kalau kita cuma menghancurkannya sebagian, dia masih akan tetap terperangkap.”
Maya menarik napas panjang. “Jadi kita harus… menghancurkan semuanya sampai nggak bersisa?”
Anton berdiri, menatap pecahan kaca dengan waspada. “Oke. Kita habisin semuanya.”
Tanpa ragu, dia mengangkat kakinya dan menginjak serpihan kaca terbesar dengan seluruh tenaganya.
Begitu pecahan kaca itu benar-benar hancur menjadi butiran kecil, sesuatu terjadi.
Angin kencang berputar di dalam ruangan, seperti
pusaran udara yang keluar dari dalam tanah.
Semua serpihan kaca yang tersisa mulai bergetar, lalu satu per satu berubah menjadi debu dan menghilang.
Suara jeritan terdengar—bukan suara menyakitkan, tapi lebih seperti kelegaan.
Bayangan Larisa muncul untuk terakhir kalinya, tersenyum tipis ke arah mereka.
"Terima kasih… Aku akhirnya bebas…"
Dan kemudian, dia lenyap.
Udara kembali tenang. Tidak ada lagi hawa dingin menusuk, tidak ada lagi suara berbisik, tidak ada lagi bayangan aneh di cermin.
Maya langsung jatuh terduduk, menghembuskan napas berat. “Kita… kita berhasil?”
Nadine memeluk dirinya sendiri, matanya masih berkaca-kaca. “Kurasa begitu.”
Anton menepuk bahu Raka. “Kita gila. Kita beneran ngelawan sesuatu yang bukan dari dunia ini.”
Raka hanya mengangguk, terlalu lelah untuk menjawab.
Mereka akhirnya keluar dari unit 507, menutup pintu di belakang mereka. Kali ini, tidak ada lagi rasa takut. Hanya kelegaan yang mendalam.
Keesokan paginya, apartemen terasa lebih hangat. Suasana yang tadinya suram kini terasa lebih hidup.
Maya, yang biasanya selalu merasa gelisah, akhirnya bisa tidur nyenyak. Anton, yang selama ini tidur dengan lampu menyala, akhirnya bisa mematikan lampunya lagi. Nadine tidak lagi merasa cemas setiap kali melihat cermin di apartemennya.
Raka berdiri di balkon, menatap matahari pagi yang perlahan naik. Ada banyak pertanyaan yang masih menggantung di benaknya, tetapi satu hal yang ia tahu pasti:
Mereka telah melakukan hal yang benar.
Saat ia kembali ke dalam, ia melewati cermin kecil di dekat pintu. Kali ini, pantulannya hanya menunjukkan dirinya sendiri. Tidak ada bayangan lain. Tidak ada bisikan aneh.
Semuanya telah berakhir.
Atau setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan.
Di salah satu sudut gelap lorong apartemen, sebuah cermin kecil yang retak masih tersisa.
Dan di dalamnya, sepasang mata merah menatap keluar.
ke unit lantai 7