Aku awalnya tidak tau jika dia adalah mantan kakak IPARKU, aku pikir dia hanya mirip dengan mantan suamiku, dan ternyata prediksi ku benar, dia kakak kandungnya lebih tepatnya kakak kembarnya. Alea Rosa
Setelah sekian lama aku menunggu dan mencari-carinya, ternyata ia adalah mantan adik ipar ku sendiri, kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi. Sudah cukup aku menahan gejolak perasaan ini,akan aku ikat dia dengan pesonaku sendiri dan akan ku nikahi dia setelah dia move on dari mantannya yang tak lain adik kembarku sendiri. Alka Putra Aqlan Gundono.
nb. Di baca dari awal dulu sebelum memutuskan berhenti membaca, sebab ini cerita awal mula Alea kenal dengan Alga sebelum kenal dengan Alka kakaknya.
Bab 1-20an part Alea Alga lalu selanjutnya pertemuan kembali Alea dan Alka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira nur habibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hanya saja kini Alea tidak berharap apa-apa, justru ia berharap segera berakhir drama rumah tangganya bersama Alga, hubungan yang di bangun secara tidak sehat dari awal memang harus segera di akhiri. Apalagi selama menikah kedua orang tua Alga sekali saja tidak pernah berkunjung, tidak hanya itu Alea juga di kenalkan keluarganya hanya sekali saja. Jadi, untuk apa bertahan dalam hubungan palsu sejak awal.
"Lebih baik aku fokus ke masa depan saja, untung saja selama bersama pak bos tidak pernah terlibat adu fisik, jadi aku masih aman. Lagian untuk apa adu fisik jika ujung-ujungnya aku yang rugi disini. Sedangkan ia tidak." Alea bernafas lega, setidaknya kesuciannya masih aman meski ia sadar beberapa waktu ini Alga sering bertingkah aneh dan ajaib.
Memikirkannya saja membuat kepalanya berdenyut ngilu, ia segera bergegas bersih-bersih meski rumah yang baru ia beli sudah terlihat bersih dan tinggal membeli beberapa perabotan yang perlu di beli termasuk tempat tidur yang empuk dan nyaman.
Untuk masalah peralatan dapur hampir semua di bawa oleh anak-anak pak Candra, sebab barang-barang yang berada di sini adalah kenang-kenangan dari ibu mereka.
Alea membuka ponselnya dan mengetik beberapa produk dan keperluan untuk mengisi rumah barunya, karena sudah berada di rumahnya sendiri ia bebas melakukan apapun untuk dirinya sendiri termasuk bebas untuk bersantai-santai cantik. Ada kalanya jika sedih begini keluar dari rumah dan bermain-main dengan hujan deras di luaran sana, ia beranjak dari kamar dan mulai membuka pintu depan.
Suara hujan deras begitu nikmat, Alea kini berada di tengah-tengah hujan.
Alga kini berada di perjalanan, ia ingin sekali melihat Alea yang ada di rumah barunya, sedang apa ia di sana.
"Lah ... kenapa hujan sih, di rumah barunya apakah dia ketakutan saat ada pemadaman listrik?" Hawatir, ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Alea.
Sesampainya di depan rumah Alea ia menatap lurus ke arah Alea, wanita itu terlihat mempesona dan cantik saat baju dan rambutnya basah sebab derasnya hujan malam ini, ia bergegas turun dan mendekati Alea.
Pelukan hangat membuat Alea tersadar, ia menatap tangan tersebut.
Ia berusaha meronta namun hasilnya nihil, sampai akhirnya ia pasrah dengan keadaannya.
Alga membalikkan tubuh Alea sehingga mereka berdua saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
"Kamu cantik." Wajahnya kian mendekat dan kecupan singkat itu terjadi.
Plak.
Alea mengusap kasar bibirnya usai menampar pipi kiri Alga, Alga lepas kontrol barusan.
"Maaf ... maaf Alea, aku--."
Alea sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat-rapat pintu rumah tersebut, tubuhnya luruh ke lantai. Tangisnya pecah tiba-tiba, merasakan dada ini sesak dan tidak adil hidupnya.
Kenapa laki-laki itu lancang, kenapa ia melakukan hal ini, bagaimana jika ada yang melihat dan melaporkan kejadian ini pada seseorang yang tak menyukai diri ini. Kenapa... kenapa.. Alga tidak mengontrol diri, seharusnya kecupan tadi ia berikan pada orang yang berada di hatinya, bukan orang lain seperti dirinya ini.
Alea memegang dadanya yang sakit tak berdarah sebab ulah Alga. Sedangkan Alga masih mematung di teras rumah Alea, berharap Alea mau membukakan pintu untuknya. Walau bagaimanapun ia masih sah sebagai suaminya dan berhak atas dirinya.
Tok tok tok.
"Alea ... Alea ... ku mohon, maafkan aku. Maaf aku telah lancang barusan, aku tidak ada maksud apa-apa Alea." Terus mengetuk pintu tersebut, berharap Alea mau mendengarnya dan membukakan pintu itu.
Namun sudah bermenit-menit hasilnya tetap nihil Alea enggan untuk membukanya. Alhasil Alga hanya mendesah pelan sambil menunggu hujan sedikit reda dan masuk ke dalam mobil, namun rasa kantuk dan dingin kian menyelimuti tubuhnya.
Alea yang tadinya menangis dalam diam kini ia mulai bangkit dan perlahan-lahan membuka gorden yang ada di jendela, guna melihat apakah Alga sudah pulang ke rumah atau belum. Ternyata Alga tetap ada di luar rumah dengan tangan di silangkan ke dadanya, sambil sesekali ia menggosok-gosok tangannya. Terlihat Alga sangat kedinginan malam ini, tapi di rumah ini tidak ada selimut dan lainnya.
Ceklek.
"Alea." Alga langsung menghambur dan langsung memeluk tubuh Alea yang sama-sama basah karena hujan.
"Kenapa tidak pulang?" Ketus dan dingin.
Alga menatap lekat lekat netra Alea untuk mencari-cari penjelasan, namun tidak menemukan jawaban apa-apa dari pertanyaan yang bersarang di pikirannya. Pandangannya kosong tanpa cahaya sedikitpun di sana, Alga merasa sangat berdosa telah lancang pada Alea.
"Mungkin ribuan maaf yang terlontar, tidak akan bisa menghapus jejak yang aku torehkan ke kamu tadi, tapi aku harap setelah hari ini kamu mau perlahan-lahan memaafkan aku Alea, ayo pulang. Di sini kita tidak ada baju ganti, mumpung hujan sudah reda." Menggenggam tangan Alea.
Alea segera menariknya, ia tidak mampu jika Alga terus menerus begini. Bisa jadi rasa cinta tiba-tiba itu bertambah besar dan dirinya semakin terluka, ibarat kata Alea menggenggam tangkai bunga mawar berduri, meski indah dan cantik namun durinya menyakitkan.
"Baiklah, kali ini aku pulang dulu." Kesal sebab tidak dapat menghindar.
Jika di biarkan begini Alea akan demam sebab daya tahan tubuhnya tidak sama seperti waktu sekolah SD dan SMP saat itu yang tahan banting saat hujan dan panas, sedangkan sekarang diri jadi mudah jatuh sakit. Apalagi saat dirinya kecapekan seharian kerja di kantor dan tidak ada beres-beres nya.
Alga terlebih dahulu menyiapkan tempat untuk Alea duduk di samping kemudinya, dengan menyelimuti jok tersebut dengan mantel tak lupa ia mengambil handuk kering untuk Alea.
"Ini, kamu pakai untuk mengelap rambut kamu yang basah." Memberikannya, Alea langsung mengeringkan rambutnya yang sudah lumayan kering tidak seperti tadi yang masih bercucuran air.
Sedangkan Alga juga melakukan hal yang sama seperti yang Alea lakukan, yaitu mengeringkan rambutnya. Perjalanan kali ini teras sangat-sangat sunyi bahkan hanya deru mobil yang menghiasi suasana ketegangan mereka.
"Al," panggilnya yang ternyata tidak ada sahutan dari si empunya.
Ia menatap sekilas wajah Alea, ternyata Alea tidur dalam keadaan baju yang masih basah. Sepertinya sangat lelah hari ini sampai-sampai dalam keadaan baju basah saja ia biasa tertidur dengan pulas nya tanpa merasa terganggu sama sekali.
Alga menepikan mobilnya dan meraih jaket kulit miliknya dan menyelimutinya dengan jaket tersebut.
"Maafkan aku Alea, aku tidak ada maksud untuk menyakiti kamu. Aku harap kamu tidak ada perasaan apa-apa terhadapku selama ini Alea, aku sengaja bersikap dingin dan cuek agar kamu tidak menyukaiku." Lirihnya sambil mengusap rambut Alea.
BERSAMBUNG.
cerita nya ,ok bangat