NovelToon NovelToon
Dendam Kesumat : Kasyaf

Dendam Kesumat : Kasyaf

Status: tamat
Genre:Poligami / Spiritual / Matabatin / Showbiz / Horor / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Dharris S

Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.

Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.

Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?

stay tune!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hantu mbah Ijah?

   “Udah, nduk! Iklasin, ya! Jangan terlalu ditangisin! Biar mbah Ijah nggak kebebanan”

Suara bu Maryati menggema di kamar mayat rumah sakit. Proses otopsi telah selesai dilakukan, dan merekapun telah selesai menjalani pemeriksaan sebagai saksi dugaan perampokan di rumah mbah Ijah.

Saat ini, Icha sedang menatap wajah almarhum mbah Ijah. Ada luka bekas benturan di sana. Juga ada bekas sayatan akibat otopsi. Perawat yang berjaga tidak mengijinkan Icha untuk membuka selimut penutup jenazah mbah Ijah. Alasannya untuk menjaga suasana hati Icha dan keluarga. Karena ada bekas sayatan juga akibat otopsi.

   “Kita ke depan, yuk! Biar jenazah mbah Ijah disiapkan sama petugas” ajak bu Maryati.

   “Iya, bu” jawab Icha lirih.

Mereka berdua keluar dari kamar mayat. Di depan pintu, Tika sudah menunggu bersama pak Sigit. Dia tidak ikut masuk karena takut. Merekapun beranjak menuju tempat penjemputan jenazah.

   “Mbak. Kok simbahnya ditinggal?”

Suara seorang anak kecil sontak mengejutkan mereka berempat. Icha yang paling pertama menoleh. dia sempat menoleh juga ke arah yang ditunjuk anak itu.

   “Kamu nunjuk siapa sih, dek?” tanya seorang ibu muda di sebelahnya.

   “Itu. Simbah putri di depan pintu” jawab bocah laki-laki itu.

   “Dia sedih. Nangis tuh ditinggal” lanjut bocah itu.

Icha bingung dengan ucapan bocah kecil itu. Kenyataannya tidak ada siapa-siapa di depan pintu kamar mayat itu.

  “Bu. jangan-jangan, “ kata Tika lirih.

   “Maafin anak saya ya bu. Dia emang suka iseng. Kebiasaan sama tantenya, suka ceng-cengan” kata ibu itu meminta maaf.

   “Oh, iya. Nggak papa kok, bu” jawab bu Maryati sambil tersenyum getir.

   “Duluan, bu” pamit ibu itu.

   “Silakan” jawab bu Maryati.

Anak kecil itupun langsung ditarik ibunya menjauh dari bu Maryati dan keluarga. Sedangkan Icha masih termenung menatap pintu kamar mayat. Sambil berurai air mata, dia memanjatkan doa untuk almarhum mbah Ijah.

      Krieeet

Pintu kamar mayat tiba-tiba terbuka. Dan seorang perawat keluar sambil tengok kiri-tengok kanan. Dan sebuah ranjang dia tarik keluar. Ternyata itu adalah ranjang jenazah mbah Ijah. Bersama-sama mereka mengiringi ranjang itu sampai ke tempat penjemputan.

   “Icha ikut ambulance ya, bu?” ijin Icha.

   “Ibu temenin, ya?” jawab bu Maryati.

   “Bu”

Tika keberatan dengan keputusan ibunya. Dia masih merasa takut setelah tadi dari kamar jenazah. Dia ingin ditemani ibunya.

   “Ya udah, Icha sama bapak aja, bu” kata pak Sigit menengahi.

Merekapun sepakat. Icha ikut mobil jenazah bersama bapaknya, sedangkan bu Maryati menemani Tika di mobil bak.

Sore ini juga, para warga sibuk menyiapkan pemakaman mbah Ijah. Wanita tua yang tinggal sebatang kara itu, sama sekali tak punya anak maupun cucu yang bisa mengurusnya. Karena kebaikannya selama hidup, para warga dengan suka rela menyiapkan segala sesuatunya.

Tanpa diminta, para warga langsung bedah bumi, menyiapkan liang lahat untuk jenazah. Begitu juga dengan perlengkapan lain. Para warga yang lain juga sudah berkumpul di mushola kampung, menunggu jenazah untuk disholatkan.

Icha sampai menangis lagi, antara sedih dan terharu, melihat hampir semua warga kampung berdiri sejajar menyolatkan almarhum mbah Ijah. Yang menyiratkan kalau mbah Ijah tidak punya musuh selama hidupnya.

Begitu juga saat jenazah hendak dimakamkan, berebutan warga ingin menggotong jenazah almarhumah. Hingga tiba di makamnya, entah sudah berapa belas orang bergantian memikulnya. Tak hentinya Icha menangis, utamanya saat pembacaan doa. Dia tetap duduk di tempatnya, saat yang lain sudah beranjak pulang.

   “Udah, nduk. Mbah Ijah sudah tenang. Biarkan beliau beristirahat!” tegur bu Maryati.

Butuh beberapa kali bujukan agar Icha mau beranjak pulang. Dia masih terpukul, dia masih merasa sangat kehilangan sosok yang mengayominya setelah ibunya. Beberapa teman sebayaannya, tidak begitu dia perhatikan saat menyapanya. Yang menanyakan kabarnya juga hanya dia jawab seadanya. Hatinya masih enggan untuk reunian.

Di mushola, bu Maryati mengajak Icha untuk berhenti sejenak. Karena ternyata para warga ada yang mampir di mushola terlebih dahulu. Ada yang sekedar cuci tangan dan kaki, ada yang mencuci cangkul, ada juga yang membahas soal tahlilan.

Para bapak-bapak sepakat untuk mengadakan tahlilan di mushola selama tujuh hari ke depan, untuk mendoakan almarhumah mbah Ijah.

Beberapa ibu-ibu sepakat untuk membuat takjil untuk tahlilan. Begitu juga dengan bu Sari, istri baru bapaknya Icha. Sebagai pedagang kain bahan pakaian yang menjadi rujukan banyak penjahit, membuatnya ingin ikut berkontribusi. Dengan kemampuan keuangannya, dia menyatakan akan menanggung menu utamanya.

Karena Icha tampak tidak fokus dengan topik pembicaraan dan lebih banyak termenung, bu Maryati berinisiatif untuk pamit lebih dulu. Dia mengatakan kalau Icha butuh istirahat.

Tanpa ba bi bu lagi, para warga langsung mengijinkan mereka pulang terlebih dahulu. Mereka maklum, karena keluarga bu Maryati memang yang paling dekat dengan almarhumah.

   “Dek. Nggak usah masak, ya!”

Pak Sigit yang baru pulang dari mushola, memberikan informasi.

   “Loh. Kenapa, mas?” tanya bu Maryati.

   “Tadi, Sari dapat sokongan ayam dari yu Tinah. Tiga puluh ekor, udah bersih” jawab pak Sigit.

   “Banyak banget, mas?” tanya bu Maryati.

   “Iya. Nggak cuman yang dateng ke mushola aja yang dapet. Yang di rumah juga kebagian”

   “Ya masukin kulkas aja dong, mas! Kan bisa buat dua hari lagi”

   “Yang idup masih lima puluh ekor. Noh, di kandang”

   “Welah. Baik banget yu Tinah. Ngasih ayamnya nggak kira-kira”

   “Iya. Kata dia, dia bisa seperti sekarang ini karena didoain sama mbah Ijah almarhum. Dia ngerasa bersalah, begitu sukses, malah nggak nengokin mbah Ijah. Tahu-tahu udah meninggal”

   “Ya Alloh. Semoga diterima sama Gusti Alloh ya, mas”

   “Iya, dek. Amin. Makanya nggak usah masak dulu! Udah terlanjur dimasakin” perintah pak Sigit.

   “Iya, mas” jawab bu Maryati.

Mendengar sapaan bapak dan ibunya yang lain dari biasanya, membuat Icha yang sedang bersedih bisa tergelak. Tika yang sedang bermain ponsel menyenggol lengan kakaknya. Dia juga merasa aneh. Tapi bagi Icha, itu pertanda kembalinya keromantisan mereka. Dan itu awal yang baik.

Disaat surup tiba, Icha terlihat sudah bersiap-siap dengan mukena dan sajadahnya.

   “Mbak. Kita duluan aja, yuk!” ajak Tika.

   “Masih surup, dek” jawab Icha.

   “Justru itu. Kita maghriban sekalian di mushola. Dan barusan Tika liat, makanan untuk tahlilan udah mulai dibawa. Kayaknya mau diracik di terasnya bu Supin, deh” kata Tika menjelaskan.

   “Emang masaknya dimana?”

   “Di neraka” jawab Tika asal.

   “Ha? Neraka?”

Tak hanya Icha, bu maryati dan pak Sigit juga sempat bingung dengan jawaban Tika.

   “Iya. Sumber dari segala panas”

Di dalam hati Icha mau tertawa, tapi masih kalah dengan rasa sedihnya. Jadinya dia hanya tersenyum geli. Dia paham tempat yang dinamai neraka oleh adiknya itu.

   “Aturan dari tadi, kalo punya ide begitu. Ini beneran udah mau magrib, dek”

   “Ya mending. Dari pada entar abis sholat, malah keduluan yang lain”

   “Serius?”

   “Ya iya, lah. Embak gimana, sih?”

Tika bersikukuh tetap akan ke mushola. Icha hanya mengangguk-angguk sambil mencebirkan bibirnya.

Bukan tentang anggapan tetangga yang dia khawatirkan, tetapi menuju mushola sana, harus melewati satu tempat yang tidak kalah menyeramkan dari jati kobeng. Mungkin Tika lupa, kalau waktu surup itu malah lebih berbahaya daripada malam hari.

   “Bu. Tika ke mushola dulu, ya?” pamitnya pada ibunya.

   “Ati-ati, ya!” jawab bu Maryati.

Tika langsung menuju pintu belakang, tanpa salim pada bapaknya. Di belakangnya, Icha geleng-geleng kepala.

   “Icha ikut Tika ya, bu?” pamit Icha.

   “Jangan ngelamun!” jawab bu Maryati. Icha mengangguk.

   “Pak”

Icha juga salim pada bapaknya. Pak Sigit sempat mengelus kepala Icha. Saat Icha menengadahkan kepalanya, mata bapaknya terlihat sembab. Tapi bibirnya tersenyum. Ichapun pergi menyusul adiknya.

   “Ayo” ajak Icha.

Merekapun memulai perjalanan mereka. Sempat mereka berdiskusi akan lewat jalan yang mana. Mereka memutuskan lewat bawah, karena lebih cepat, tidak memutar. Tapi bagaimanapun juga, di depan nanti, jalan itu akan bertemu di depan rumpun bambu yang dikenal wingit itu.

   “Duluan, mbak”

Terdengar suara bocah laki-laki. Saat mereka menoleh, ada tiga orang bocah yang membungkuk mendahului mereka, lalu berlari kecil sambil bersenda gurau.

   “Eh. Udah gede aja, mereka” komentar Icha.

   “Iya, lah. Udah tiga tahun berlalu, mbak. Tapi emang dasarnya mereka bertiga itu trio jerapah, bongsor” sahut Tika.

   “Jerapah?” Icha tergelak mendengar jawaban adiknya.

Ketiga bocah itu cukup cepat juga larinya. Hanya beberapa saat saja, mereka sudah tidak terlihat oleh Icha. Tertutup kelokan yang entah sudah berada di kelokan yang ke berapa.

   “TOLOOOONG”

Terdengar teriakan minta tolong dari arah depan. Perhatian mereka berdua langsung tersita ke depan. tak berapa lama kemudian, terlihat ketiga bocah tadi berlarian ke arah mereka.

   “Eh eh, ada apa?” tanya Tika, saat mereka sudah dekat.

   “ADA MBAH IJAAAAAH”

1
Mulyati Wahyuni
ga smua org bs BHS Jawa EN inggris jdi biasa kan gunakan terjemahan di bwh nya agar pembaca novel LBH paham lgi
Dharris Tio: siap kakak. makasih masukannya
total 1 replies
Haidar Nurfadhillah
/Drool/
Dharris Tio: makasih kak. tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Zayn at Thoriq
dah baca Ampe selesai... ZERUUU SEKALI.


ada kelanjutan nya gak????
Dharris Tio: makasih kak, udah baca karyaku. maaf nih, baru r5espon. aku lagi bikin lanjutannya kak. ditunggu ya!
total 1 replies
Kustri
widiiiih... tirtonadi, kota kelahiranqu
💪💪💪
Dharris Tio: deket dong. stay solo apa merantau kak
total 3 replies
Dony Ahmad Dony
ceritan sangat seru
Neni Afriani
bagus bgt
Ira_87
Menegangkan 😱😱😱😱
Dharris Tio: lanjutkan kak
total 1 replies
Chichie Spn
keren thor... bener2 menguras esmoni😂
Dharris Tio: makasih kak, udah ngikutin sampe akhir. mampir juga dong di karyaku yang lain
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahhhh kan tamat... katanya jgn kwatir masih bnyk lagi.. lha ini tiba2 dah tamat aja kk thor.. 😭😭😭😭😭😭
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : woalah gono tah its ok lah klo begitu
total 2 replies
Ayu KaWa
cerita yg sgt bagus.. 👌
Dharris Tio: terimakasih kak.

mampir juga dong, di judul yang lain.
total 1 replies
Afri
syukur lah berakhir bahagia .. walau ada amanah yg akan Icha jalani .. semoga ada kelanjutannya ya Thor
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
Dharris Tio: terimakasih kakak udah setia sampai akhir. aku lagi ngerjain terusannya kak. doain ya kak, semoga cepet kelar dan bisa post lagi
total 1 replies
Afri
itu s bulek Rini .. udah mati tetap ngeselin yaa , GK bisa legowo ..
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat
Dharris Tio: iya. emang gitu dia. ngeselin
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
gasken coy.. hayuk cha.. para raider g nyiapin amplop soanya mendadak gtu sih.. wkwkwkwkkk
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : klo g di terobos kapan sampainya
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduhhhhhhh gitu jg kali
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : lha iyakah
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
hayok.. kira2 bakal gmb knjuanya yah....
Erlina Arlena
tamat thor??
Dharris Tio: belum kak
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waghh ending nya ok nieh... kira2 ada flashback g buat rini knp bs gosong dan hasan bisa gila... hayok kk thor bisa g ada partnya gtu...
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wuoke2.. sip wis
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tak kiraiin segitu saktinya itu sekutu rini ehhh ternyata lebih hebat nyai.. hanya saja nyai biasa2 aja g di sombongkan kehebatanya.. sekarang gimana si rini.. apakah masih akan berlanjut utk membinasakan maryati atau hasan sndri... ahhh gmn yah
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wis jan nek gono iku wis payah... jan2
total 2 replies
Dharris Tio
aduh. malem tahun baru malah ditodong
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wah makin seru ini bacanya tegang ampe giman peraasan gtu.. ngeriw sedap deh yakin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!