Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larangan Berinteraksi Dengan Pria!
Setelah pelayan menata makanan di atas meja. Dia tetap tidak boleh turun dari atas pangkuannya. Malah meminta Deandra untuk menyuapi Afkha. Meski kesal, namun Deandra tetap tidak mempunyai keberanian melawan ucapan suaminya.
Melebihi anak kecil saja, padahal dia bisa makan sendiri. Deandra rasanya ingin mengumpat laki-laki yang sedang memangkunya ini. Namun dia tetap tidak seberani itu juga. Melihat kemarahannya saja sudah membuatnya takut. Jadi wajahnya tetap terlihat senang dan sesekali tersenyum dengan begitu indah.
"Enak Sayang?" tanya Deandra dengan senyum seindah bunga bermekaran itu.
Afkha menatapnya, tidak menjawab apapun tapi hanya menatap lekat pada Deandra yang sedang duduk di pangkuannya dan menyuapinya. "Kau juga makan, kenapa hanya diam saja"
Bisa tidak cara bicaranya yang manis dikit kenapa? Bilangnya memberikan hadiah pernikahan layaknya pasangan yang romantis dan harmonis. Eh, sekarang malah kembali lagi menyebalkan seperti ini.
"Iya Sayang, aku juga makan kok" ucap Deandra dengan senyumnya, meski hatinya sedang mengumpat sangat kesal.
Deandra terus menyuapinya dengan sesekali menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri. Selesai dengan makanan, Deandra langsung berdiri ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Sungguh Deandra tidak mau kalau sampai terlihat lagi oleh orang lain posisi yang memalukan itu. Dia berdiri di samping sofa yang di duduki oleh Afkha. Menatap kepala pelayan yang tadi datang kembali dengan membawa makanan penutup untuk mereka dan membereskan bekas makan mereka.
Deandra mengangguk dengan tersenyum tipis. Melirik suaminya yang terlihat tidak senang dengan apa yang dia lakukan. Namun Deandra tidak memperdulikan itu. Sampai kepala pelayan itu pergi, barulah Deandra kembali duduk disamping suaminya. Tentu saja tidak mungkin dia kembali duduk di pangkuan suaminya.
"Sayang, ayo makan. Kita harus segera pulang, aku harus ganti infusan Nyonya Sandra sore ini" ucap Deandra, mencoba untuk mencairkan suasana ketika dia merasa udara d sekitarnya berubah menjadi dingin.
"Ra.." panggilan dengan suara rendah, namun penuh penekanan itu membuat Deandra langsung mengusap belakang lehernya dengan pelan. Merinding.
Dia mau bilang apa? Ya Tuhan kenapa mendengar dia memanggilku dengan seperti itu sudah membuat aku takut. Deandra menoleh, dia tersenyum pada suaminya. Mencoba untuk tidak menunjukan ketakutan yang dia rasakan saat ini. Deandra benar-benar tidak mau di anggap jika dirinya adalah wanita penakut. Meski sebenarnya memang benar si.
"Apa Sayang?"
Afkha menatap Deandra dengan lekat. Tidak, sebenarnya tatapannya itu terlihat sangat tajam bagi Deandra. "Aku akan peringatkan sekali lagi, jika aku tidak mengizinkan kamu berinteraksi berlebihan dengan pria lain. Siapa pun itu!"
Kalimat terakhir yang diucapkan dengan begitu penuh penekanan. Membuat Deandra sadar dan mengerti, jika dirinya juga harus menjaga jarak pada Angga. Initinya, Deandra tidak boleh dekat dan berinteraksi berlebihan dengan pria mana pun termasuk Angga.
Memangnya dia siapa mau mengatur hidupku. Hati mana bisa di bohongi, aku itu sukanya sama Kak Angga yang baik, ramah dan tidak dingin seperti dia. Tapi dia adalah suamimu! Deandra menghela nafas pelan saat hatinya dan akal sehat sedang berperang sekarang.
"Tapi Sayang aku..."
"Denadra!" Suara penuh penekanan itu cukup membuat Deandra diam dan tak lagi bicara. Mengartikan jika dirinya memang harus menuruti apa yang diucapkan oleh Afkha barusan. Tidak boleh membantahnya.
Akhirnya setelah banyak drama siang ini yang cukup mneguras tenaga. Deandra bisa pulang juga ke rumah. Deandra tetap harus memeluk suami tercintanya yang menyebalkan ini ketika berada di dalam mobil. Meski kesal tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya dia ini memang sedang kesepian dan merindukan pelukan kali ya. Aaa.. Nyonya cepatlah sadar, sebelum suamimu ini menerkam ku.
"Aku harus kembali ke Kantor, kamu istirahatlah" ucap Afkha sambil mengelus kepala Deandra dan mengecup keningnya.
Deg..
Deandra langsung diam mematung merasakan hangatnya bibir Afkha di keningnya. Ini memang bukan yang pertama kali. Namun ketika Afkha bersikap manis seperti ini, selalu saja membuatnya merasa sangat tersentuh. Entahlah, jantung Deandra sedang lemah akhir-akhir ini sampai dirinya tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri saat bersama dengan Afkha seperti ini.
"Ba-baik Sayang, hati-hati ya dan semangat kerjanya" ucap Deandra.
Afkha hanya tersenyum tipis, dia melihat istrinya yang turun dari mobil. Menatapnya sampai masuk ke dalam rumah, barulah dia kembali menyuruh Asistennya itu untuk kembali melajukan mobilnya.
"Byan, menurutmu bagaimana dia?"
Abyan, adalah seorang Asisten pribadi Afkha yang merangkup dalam segala hal kerja dan juga segala kebutuhan dalam hidupnya. Hari ini adalah pertama kalinya Abyan melihat istri kedua yang dibicarakan Afkha waktu itu.
Sebenarnya dia agak terkejut dengan apa yang di dengar dari Afkha waktu itu, jika dirinya telah menikah lagi untuk menggantikan sosok Ibu untuk anaknya. Namun setelah melihat langsung bagaimana Deandra, sekarang Abyan tidak aneh lagi.
"Dia baik dan sepertinya sangat penurut. Bahkan dia tidak berani membantah ucapan Tuan. Saya kira memang dia yang cocok untuk menjadi pengganti Nyonya" ucap Abyan apa adanya.
Afkha mengangguk, dia menatap keluar jendela mobil dengan tersenyum sendiri. Merasa lucu dengan sikap Deandra yang selalu menahan diri untuk tidak meluapkan rasa kesal padanya.
"Kau lihat tadi? Bagaimana dia yang begitu kesal padaku, tapi tetap tersenyum. Ekspresi wajahnya itu benar-benar menggemaskan. Hahaha" ucap Afkha dengan tertawa lebar.
Abyan terdiam, dia menatap Tuannya dari pantulan kaca spion yang berada di atasnya. Jarang sekali dia melihat Afkha sesenang ini. Apa jangan-jangan Tuan..
######
Malam ini Deandra sudah selesai mengganti infusan dan menggantikan pakaian Sandra. Dia menatap Sandra yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur itu. "Nyonya cepat sadar ya, saya benar-benar tidak bisa melayani suami anda dengan sepenuh hati. Dia selalu saja membuat saya kesal"
Bahkan tenagaku hampir habis hanya untuk melayani sikapnya itu. Deandra yang benar-benar melakukan segala hal yang diminta oleh suaminya. Hingga dia merasa kesal sendiri. Tapi sialnya aku tidak bisa membantah juga, karena dia kalau marah begitu menakutkan.
Deandra keluar dari dalam kamar setelah dia selesai dengan tugasnya. Menghampiri Ibu yang sedang bermain dengan Resa di ruang tengah. Deandra ikut duduk di atas karpet dan mengajak Resa untuk bermain. Melihat perkembangan anak itu yang cukup aktif dan baik membuat Deandra senang. Kasihan juga dia, tidak merasakan kasih sayang Ibunya karena Ibunya yang sedang koma.
"Bu, sebenarnya kenapa Nyonya Sandra bisa koma seperti sekarang?" Tanya Deandra yang mulai penasaran dengan kehidupan Sandra dan juga Afkha selama ini.
Ibu tersenyum mendengar itu, dia menatap Deandra dengan lembut. "Mereka bertengkar hebat malam itu, karena memang Sandra orangnya sangat sulit di atur...."
Cerita dari Ibu yang baru di mulai.
Bersambung