Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 DESI
Kiran segera masuk ke dalam kamarnya dan langsung menguncinya.
"Dasar pria brengsek, bisa-bisanya dia berbohong seperti itu? awas saja, aku akan membuat kamu menyesal," geram Kiran.
Sementara itu, Viki bukanya pulang dia justru duduk santai di sofa menunggu Kiran turun dari kamarnya. Entah kenapa semenjak pertemuannya tadi pagi, Viki merasa jatuh cinta kepada Kiran bahkan Viki lupa kalau beberapa hari ini dia merencanakan akan melamar Ishika di acara ulang tahunnya.
Kiran sudah rapi dan perutnya terasa sangat lapar, dia pun memutuskan untuk turun ke bawah tapi betapa terkejutnya Kiran, saat melihat Viki masih berada di rumahnya.
"Akhirnya kamu turun juga," seru Viki menghampiri Kiran.
"Kenapa kamu masih ada di sini? ini bukan rumahmu, jadi kamu tidak berhak berlama-lama berada di sini," sinis Kiran.
"Loh, bukanya ini juga bukan rumahmu, seharusnya kamu jangan tinggal di sini," sahut Viki dengan senyumannya.
"Kamu lupa kalau aku itu sepupunya Kiran, jadi aku jauh lebih berhak tinggal di sini dibandingkan kamu yang hanya sebatas mantan suami Kiran dan kamu adalah orang lain."
"Astaga, kamu marah seperti ini justru malah semakin cantik," goda Viki.
Kiran semakin kesal dengan kelakuan Viki yang sudah berani menggodanya. Kiran pun memutuskan untuk pergi ke meja makan dan tidak memperdulikan Viki tapi ternyata Viki keras kepala, dia dengan tidak tahu malunya mengikuti Kiran dan duduk di meja makan juga.
"Bisa tidak kamu pergi dari rumah ini, karena aku mau makan," seru Kiran.
"Aku juga lapar, jadi aku mau menemani kamu makan di sini kasihan kalau kamu makan sendirian," sahut Viki.
"Aku tidak butuh ditemani, karena aku sudah terbiasa makan sendiri. Lagipula di sini banyak pekerja jadi aku tidak sendirian," kesal Kiran.
Viki tidak memperdulikan ucapan Kiran, dengan tidak tahu malunya dia mengambil nasi dan juga lauk pauk lalu dia makan dengan santainya membuat Kiran semakin kesal kepada Viki.
Perut Kiran sudah sangat lapar, dia memilih makan dan tidak menghiraukan Viki. Selama makan, Viki tampak curi-curi pandang kepada Kiran membuat Kiran merasa tidak nyaman.
"Jangan lihatin aku seperti itu, aku tidak suka," ketus Kiran.
"Kamu cantik banget Tina, membuat siapa pun yang melihatmu tidak bisa berkedip dan tidak bosan juga," goda Viki.
"Jangan menggombal di depanku, karena aku tidak akan mempan dengan gombalanmu itu."
Viki lagi-lagi menyunggingkan senyumannya, saat ini Viki memang sudah merasa terhipnotis dengan kecantikan Kiran.
Lain halnya dengan Raj, yang merasa sangat panas melihat Viki berada di rumah kekasihnya itu. Cctv rumah Kiran memang terhubung ke ponsel miliknya, saat ini Raj sedang meeting penting dengan petinggi perusahaan jadi Raj hanya bisa menahan rasa kesalnya dan berharap meeting akan segera berakhir.
"Sialan, si pria brengsek itu sudah berani mengganggu Kiran lagi," batin Raj.
Satu jam pun berlalu, meeting selesai dan Raj dengan cepat keluar dari kantornya dan langsung meluncur ke rumah Kiran.
"Maaf, ini sudah menjelang malam jadi lebih baik kamu pergi dari sini," seru Kiran.
"Kenapa aku harus pergi? kalau aku mau menginap di sini bagaimana?" sahut Viki dengan senyumannya.
"Kamu benar-benar sudah bikin aku emosi, sekarang juga kamu pergi dari rumah ini atau aku telepon polisi," geram Kiran.
"Silakan aku tidak takut."
Kiran hendak meninggalkan Viki tapi dengan sigap Viki menahan lengan Kiran.
"Lepaskan, aku sudah bilang kalau aku tidak suka di sentuh oleh orang asing!" sentak Kiran.
"Jangan sombong Tina."
Bughh...
Satu pukulan mendarat di wajah Viki membuat Viki tersungkur ke lantai.
"Brengsek, berani sekali kamu menyentuh kekasihku!" bentak Raj.
"Berani sekali kamu memukulku, kamu tidak tahu siapa aku? aku adalah menantu Tuan Rahul dan sekarang Tuan Rahul beserta Kiran sudah meninggal jadi seluruh harta kekayaannya jatuh ke tanganku karena sebelum Kiran meninggal, dia sudah menandatangani surat wasiat atas pengalihan semua hartanya atas namaku," seru Viki dengan senyumannya.
Kiran yang mendengar ucapan Viki tampak mengepalkan tangannya, jadi selama ini dia berpikir kalau dirinya sudah meninggal.
Raj mencengkram kerah baju Viki. "Bagaimana kalau Om Rahul masih hidup? dan tahu kalau kamu sudah memalsukan tanda tangan Kiran?" geram Raj.
Viki membelalakkan matanya, dia bingung kenapa Raj sampai tahu akan kelakuannya yang memalsukan tanda tangan Kiran.
"Siapa kamu? berani sekali kamu menuduhku yang bukan-bukan."
Raj menghempaskan tubuh Viki. "Pergi kamu dan jangan pernah datang lagi ke sini kalau kamu tidak mau menyesal!" bentak Raj.
Viki seakan kalah telak, dia pun tidak mau membuat masalah lagi dan memutuskan untuk pergi.
Kiran langsung memeluk Raj, sungguh saat ini Kiran merasa sangat takut karena masih trauma akan perlakuan Viki dulu.
"Aku takut, Raj."
"Tidak apa-apa, ada aku di sini jadi kamu jangan takut."
Setelah tenang, Raj pun melepaskan pelukannya.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur soalnya besok pagi-pagi kamu ada shooting untuk iklan."
"Tapi kamu jangan pulang dulu sebelum aku tidur."
"Iya, aku akan di sini sampai kamu tidur."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidur dulu."
Kiran pun naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya, sementara itu Raj memanggil semua karyawan di rumah Kiran.
"Dengarkan aku, jangan biarkan Viki masuk lagi ke rumah ini. Pokoknya apa pun yang terjadi jangan biarkan dia masuk, kalau dia ngeyel kalian seret saja dan usir dia!" tegas Raj.
"Baik Tuan."
Satu jam pun berlalu, Raj berpikir pasti Kiran sudah tidur dan dia pun memutuskan untuk pulang.
***
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Raj sudah datang ke rumah Kiran untuk menjemput Kiran. Pagi ini Kiran ada jadwal shooting sebuah iklan dan Raj rela antar jemput Kiran dan menyerahkan urusan kantornya kepada asistennya untuk sementara.
Saat ini Kiran sedang melakukan shooting dan Raj menunggu di balik layar.
Ishika memperhatikan Raj dan mencari tahu tentang Raj. "Aku baru tahu kalau pria itu pengusaha sukses dan kaya, bahkan kekayaannya sebelas duabelas dengan kekayaan Tuan Rahul," batin Ishika.
Ishika sangat kesal kepada Kiran yang saat ini merebut posisinya, bahkan fans pun lebih memilih mewawancarai Kiran dibandingkan dengan dirinya.
"Awas kamu Tina, aku tidak akan membiarkan karir aku hancur hanya gara-gara artis pendatang baru seperti kamu," batin Ishika dengan geramnya.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya proses shooting pun selesai dan berjalan dengan sangat lancar. Banyak yang memuji Kiran karena selain cantik, Kiran juga sangat berbakat.
"Ayo sayang kita pulang," ajak Kiran.
"Oke."
Raj menggandeng tangan Kiran, dan dengan sengajanya Kiran menabrakkan tubuhnya ke tubuh Ishika membuat tubuh Ishika oleng.
"Kurang ajar, kamu sengaja ya menabrak aku? mau kamu apa?" bentak Ishika.
"Astaga, aku tidak melihat kalau ada orang di sini, sorry ya," seru Kiran dengan senyuman sinisnya.
Kiran pun kembali menarik tangan Raj untuk pergi dari sana.
"Awas kamu Tina, aku akan balas kamu," geram Ishika.