Memilih hidup berpetualang karena ingin melupakan cinta masa lalunya yang kelam, justru membuat Grey Stone Robert menemukan cinta baru di sebuah penginapan yang bernama 'OZ INN' ketika dirinya ingin mendaki bersama teman temannya.
Bagaimana kisah cinta Grey Stone Robert dan seorang gadis bernama Ozira Olsen -- yang tak lain adalah pemilik penginapan OZ itu?
Yuuk simak ceritanya ...
FOLLOW INSTAGRAM @zarin.violetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ozinn 14
Dua hari kemudian ...
"Kau ingin mendaki lagi?" tanya Ozira ketika melihat Grey mengeluarkan beberapa barangnya dari mobil setelah berbelanja ke kota.
"Ya, kau mau ikut?" tanya Grey sembari berjalan ke arah beranda.
"Tidak," jawab Ozira.
Lalu dari belakang Ozira, Tom merangkul leher Ozira.
"Ya, ayo ikutlah, Gadis tengil," ucap Tom.
Ozira berdecak dan wanita itu langsung membantingnya ke atas tanah hingga Tom merintih kesakitan.
"Jangan sembarangan merangkulku, Brengsek," ucap Ozira.
Grey tertawa melihat hal itu dan tetap berjalan ke arah beranda.
"Hei, Grey sering melakukan itu padamu," sahut Tom.
"Dia berbeda. Dia sahabatku," jawab Ozira dan ikut berjalan bersama Grey.
"Ck, kau hanya bersahabat dengan konglomerat saja sepertinya," sahut Tom.
"Hei, apa yang kau katakan? Tapi ucapanmu memang benar," jawab Ozira tersernyum lebar dan Toby yang ada di belakang Tom ikut tertawa.
"Aku juga punya perusahaan, Zi!" ucap Tom lagi dan menyusul keduanya di belakang.
"Tapi Grey lebih tampan," sahut Ozira sambil mengedikkan bahunya.
"Iiishh ... Dasar Gadis tengil," ucap Tom.
Dan semuanya tampak tertawa dengan candaan absurd penghuni Oz inn itu.
*
*
Waktu makan malam pun tiba dan semua tampak berkumpul di ruang makan kecuali Ozira. Grey tak melihat gadis cantik itu di sana. Grey mendatangi Bianca yang ada di dapur.
"Bibi, di mana Zizi?" tanya Grey.
Bianca menoleh ke arah Grey.
"Di sedang ke makam kakeknya sekita lima puluh meter sebelah kanan penginapan ini. Ini tanggal peringatan kematian kakeknya," jawab Bianca dengan suara pelan.
"Mengapa pergi malam - malam seperti ini?" tanya Grey.
"Dia sejak sore di sana. Itu sudah menjadi kebiasaannya setiap peringatan kematian kakeknya," jawab Bianca.
"Dia tak membawa makan?" tanya Grey.
"Tidak. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang," sahut Bianca.
"Baiklah, terima kasih, Bibi," ucap Grey dan pergi berbalik dari sana.
Grey kemudian bergabung dengan yang lainnya dan ikut makan malam bersama.
Setelah makan malam, Grey masih belum melihat Ozira dan ia memutuskan untuk menyusul Ozira ke makan kakeknya. Baru saja keluar dari beranda depan, Grey melihat Ozira berjalan ke arahnya.
Wajahnya tampak lesu dan seperti baru menangis. Sebelumnya Grey tak pernah melihat Ozira se-sendu itu.
"Kau belum makan malam," ucap Grey dan membuat Ozira mendongak ke arahnya.
"Kau menungguku? Oh ... So sweet ...," sahut Ozira yang senyumnya langsung terbit di sudut bibirnya.
Begitu cepat mood nya berubah, tapi itu membuat Grey lega karena setidaknya Ozira sudah tersenyum lagi.
"Ayo, kau hampir saja kehabisan makanan karena para pria rakus itu mengambil jatahmu," ucap Grey dan mengulurkan tangannya pada Ozira yang ada di bawah tangga.
Ozira tersenyum dan kemudian menyambut uluran tangan Grey. Mereka berdua masuk ke dalam dan beberapa pendaki tampak bersiul melihat kedekatan mereka dan kedua orang itu tampak tak peduli dengan hal itu.
"Zi, kami akan menyalakan api unggun malam ini. Berdansalah denganku," ucap salah satu pendaki yang sudah dikenal Ozira.
"Tidak, aku hanya akan berdansa dengan Grey," sahut Ozira.
Grey mengedikkan bahunya sambil tersenyum penuh kemenangan pada pria itu dan semuanya tampak tertawa.
Lalu Grey dan Ozira menuju ke ruang makan dan wanita itu mengambil banyak makanan karena sangat lapar.
"Mereka menghabiskan makanan kesukaanku," ucap Oriza berdecak sembari mengambil makanan lain.
"Bibi, mengapa tak menyisakan makanan enak untukku?" tanya Oriza pada Bianca yang sedang membereskan piring kosong.
"Bibi lupa, Sayang. Sudahlah, makan saja yang ada. Yang penting perutmu terisi," sahut Bianca.
"Lain kali akan kusisakan untukmu jika kau keluar," kata Grey yang duduk di sebelah Ozira.
Ozira hanya mengangguk dan mengunyah makanannya dengan cepat. Grey kembali mengacak rambut ikal Ozira yang seperti ada magnetnya hingga membuat Grey ingin selalu mengacaknya.