NovelToon NovelToon
SUARA SENJA

SUARA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Karir / Cinta Murni / Romansa
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zubi

Bagaimana bila seseorang yang selama ini kamu cinta, pergi begitu saja?
Meninggalkanmu sendiri, tanpa kau mengerti dimana letak kesalahan?
Saat semua telah tersusun indah dalam sebuah harapan, dengan mudahnya dia menghancurkan susunan harapan dan anganmu bersama dirinya?

Setiap manusia pasti pernah berada di posisi tersebut, namun mereka semua memiliki cara yang berbeda untuk melewatinya.

Namun, jika semua itu terjadi pada hidupku... Aku belum tau harus memilih jalan yang seperti apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zubi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 "Dipermainkan Dunia"

Di pagi yang cerah, pak Yadi mulai membuka mata. Terakhir yang dia ingat adalah mayang membukakan pintu untuknya semalam, kemudian tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan tidak sadarkan diri. Pak Yadi melihat ke sekelilingnya, setelah beberapa saat akhirnya dia sadar bahwa ini adalah kamar miliknya.

Ia melihat bila pintu kamarnya terbuka, terlihat mayang yang tertidur di sofa. Pak Yadi mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya. Namun tiba-tiba dia merasakan sakit yang amat sangat pada bagian ulu hatinya.

"Aaahhh..." rintih pak Yadi menahan sakit.

"Ya ampun bapa, pa... Jangan bangun dulu pa, udah bapa tiduran dulu aja." ucap Mayang yang terbangun mendengar rintihan ayahnya.

"Dada bapa sakit banget nak." keluh ayah mayang.

"Ia, pak nanti coba aku cariin mobil buat antar kita kerumah sakit." ucap Mayang.

"Awan dimana nak? Biar dia aja yang cari mobil." ucap ayah mayang.

"Bapa ngapain masih nyariin pembawa masalah itu pak? Dia itu yang bikin bapa jdi kaya gini. Yang punya masalah sama preman terminal kan dia, tapi bapa yang jadi korban. Dia udah aku usir pa, udah aku suruh buat pergi jauh dari keluarga kita." Jawab Mayang dengan kesal.

Pak Yadi tidak berkata apapun, namun pak Yadi meneteskan air mata mendengar apa yang telah mayang lakukan terhadap Awan.

"Aku cari mobil dulu pa." ucap mayang dan kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang terbaring di ranjang.

Mayang pergi ke arah terminal untuk mencari TAXI. Di tengah perjalanan ia meliah ada keramaian di sebuah pos kamling yang sudah tidak terpakai. Mayang mencoba mendekat, ternyata telihat 4 orang preman terminal yang tengah terkait dan dengan wajah penuh lebam dan darah yang mengering.

'Apa mereka yang kemarin mukulin bapa? Siapa yang bikin mereka sampe kaya gini.' gumam Mayang.

Mayang pun melanjutkan mencari taxi. Akhirnya dia mendapatkan taxi dan segera membawa ayahnya kerumah sakit untuk ditindak lanjuti.

...----------------...

Awan kini telah sampai di sekolahnya, kali ini dia berjalan melewati Nala yang tengah berbincang dengan sahabatnya tanpa menoleh sedikitpun. Anehnya Nala pun tidak menyapa Awan, walaupun ia melihat Awan melintasinya. Nala lebih memilih untuk berbincang dengan sahabatnya serta mengoprasikan smartphone miliknya.

Awan sudah menyadari sepenuhnya, bila kini Nala telah berubah. Dia sudah seminggu ini dia tidak berbicara dengan Nala, hanya saling sapa ketika bertemu. Sikap Nala pun telah berubah, dia lebih banyak tersenyum dengan gawainya.

...****************...

Aku semakin bosan dengan hidup ku, satu persatu mereka pergi. Yang paling membuatku pilu adalah Nala.

Seminggu lalu dia masih meminta izin padaku ketika akan pergi kemanapun dia inginkan. Tapi kini, dia seperti tidak mengenaliku.

Aku tau, ini hal yang tak mungkin terelakkan dan pasti terjadi. Yaitu kau menemukan bahagiamu sendiri, dan meninggalkan aku sendiri. Di saat bahagiaku adalah kamu.

Ingin ku akhiri hidupku sendiri, namun aku terlalu pengecut untuk mati.

Ingin ku kuat dan terus berdiri, namun bumi yang ku pijak penuh dengan duri.

Yang bisa kulakukan hayalan berdamai dengan yang namanya luka dan air mata, sampai nanti aku mati rasa.

...****************...

Awan pun melangkah keluar pagar sekolah, dia berencana untuu langsung menuju cafe untuk bekerja, namun ia melihat pedagang cendol yang sering di beli Nala untuk ibunya.

Awan berinisiatif untuk membeli cendol untuk ibu Ratih, ibu dari Nala. Seperti biasa, ia membeli cendol tanpa es batu untuk bu Ratih. Ia menyusuri gang kecil yang mengarah kerumah Nala. Sesampainya di sana ia melihat Nala dan Nico yang telah bersiap untuk pergi bersama. Melihat hal itu Awan menghentikan langkahnya.

Awan memakai masker dan topinya agar tidak terlihat oleh Nala dan Nico. Nico pun memakai kacamata hitam, masker, dan topi untuk menghindari para fans.

Nico dan Nala pun pergi dari rumahnya dengan saling bergandengan tangan. Nala terlihat sangat bahagia dengan senyum yang merekah. Ketika melwati Awan, Nala sedikit mengerutkan keningnya, lalu ia melihat kearah kantong pelastik yang Awan bawa.

Nala pun menyadari, bila laki-laki yang memakai topi dan masker itu adalah Awan. Nala pun segera melepaskan rangkulan tangannya di lengan Nico.

"Kenapa sayang?" tanya Nico.

"Emm... Ga papa kok kak, kirain ada yang ketinggalan tadi." ucap Nala sedikit gugup.

Kemudian Nala pun menoleh kearah belakang, kearah dimana Awan berjalan. Timbullah rasa bersalah yang amat besar di hati Nala. Dia kembali mengingat tentang janji-janji yang pernah ia buat bersama Awan, terlintas semua kenangan bersama Awan yang menimbulkan sesak di dalam dadanya.

'WA, itu elo kan Wa? Maafin gue Wa... Maafin gue...' ucap Nala di dalam hatinya, yang membuat air matanya menetes tanpa ia sadari.

"Sayang, kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?" tanya Nico khawatir dengan kekasih barunya itu.

Nico pun membasuh air mata Nala yang membasahi kekasih kecilnya itu. Nala pun menatap mata Nico yang penuh perhatian padanya.

"Aku ga papa kak, ga tau tiba-tiba aku ngerasa siduh aja." ucap Nala

Nico yang merasa bila Nala tidak ingin membicarakan tentang masalahnya, tidak bertanya kembali, melainkan memeluknya dengan erat.

...----------------...

"Permisi bu..." sapa Nico kepada bu Ratih.

"Eh kamu nak Awan. Nala barusan aja keluar. Telat kamu." ucap bu Ratih.

"Oh, pasti sibuk banget Nala sekarang ya. Ibu gimana kabarnya?"

"Ia, sibuk banget sekarang, pulangnya malem terus lagi. Sejujurnya ibu kurang seneng, soalnya dia kan masih sekolah. Kalo kabar ibu baik. Kamu gimana sehat? Tumben pake masker sama topi begitu."

"Aku baik kok bu, lagi sdikit flu aja, jadi pake masker. Oh ia bu, ini ada cendol tanpa es kesukaan ibu, sekalian buat si ade bu. Makasih ya bu, berkat doa ibu juga aku bisa diterima kerja di cafe."

"Wah, makasih banyak ya. Gaji pertama nih ceritanya? Makasih banyak udah inget sama ibu ya. Masuk dulu Wan."

"Oh, aku mau langsung ke cafe bu. Saya pamit ya bu."

"Ya sudah kalo ga mau, hati-hati ya nak. Semoga sukses nak."

Setelah menyalami ibu Ratih, Awan pun bergegas pergi menuju cafe tempat ia bekerja.

...****************...

Menunggu mu kini hanya menjadi bayangan semu. Menjadi sosok yang paling menetapi janji pun kini tak berarti.

Mendengarnya mamanggilmu sayang membuatku yakin, bila dunia ini sedang bersenang-senang dengan keadaanku. Matahari yang bersinar lebih panas dari biasanya seakan tersenyum bahagia kepadaku.

Aku hanya ingin tau, kejutan apa lagi yang akan bumi ini berikan padaku. Aku siap untuk itu.

...****************...

"loh, Wan? Kamu ga kerumah sakit?" tanya pak Bimo.

"Kenapa emang om?" tanya Awan bingung.

"Bapa mu masuk ICU Wan. Masa kamu ga tau"

"ICU mana om? Di rumah sakit mana?"

"RS. Mitra Wan. Lumayan deket dari sini."

"Ya udah aku kesana sekarang om. Sampein sama pak manager, kalo hari ini aku ijin mau nemenin bapa."

"Kamu mau ke sana naik apa?"

"Naik ojeg kayanya om."

"Ya udah ati-ati ya Wan."

Setelah mendapat info dari pak bimo, Awan Bergegas pergi menuju RS. MITRA tempat dimana pa Yadi di rawat. Dengan tergesa-gesa Awan keluar dari cafe.

"Bro!!! Wan!!!" panggil Arka.

"Oh, ia bang. Maap gue lagi buru-buru bang." jawab Awan.

"Mau kemana si?"

"Mau ke RS. MITRA bang, pa Yadi masuk rumah sakit."

"Ya udah gue anter, deket kampus gue tuh."

"Beneran bang?"

"Ia bener, ayo naek motor gue." ajak Arka.

"OK, bang makasi bang."

Mereka pun segera melesat menuju rumah sakit tempat dimana pak Yadi dirawat.

Bersambung...

1
Nina
Cian awan
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
wkwkwk kesurupan katanya
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
tinggalin nala aja wan mending sama mayang. atau sama akuh aja wan gak papa😅
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
baca jd nyesek kasihan awan

tebakanku kalau pak yadi meninggal awan suruh jagain mayang deh
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
boni matih?
Nina
Lagi up nya
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
tor kira2 awan jadi penyanyi terkenal gak ya nantinya.
Zubi: Tergantung si Awan mau jadi terkenal atau engga.🤣
total 1 replies
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
jadi pengen bilang I love you juga😊 seperti mereka
𝐂𝐈𝐌𝐔𝐓🌠 ✾ ⍣⃝కꫝ 🎸
yahhhh kirain yg kasih saputangan awan ternyata niko🤦‍♀️

perasaan nico ngintil mulu deh
Nina
Kesurupan
Nina
Awan mw ngapain cari bobbie
Minakim
Justru itu yang buat adrenalin terpacu, semakin berliku jalannya semakin gigih kita melaju semakin dewasa kita setiap harinya
Nina
next
ㅤㅤ
bener Nala melupakan awan 😌
ㅤㅤ
pantes yg di ambil nala nya aj,,,, ternyata mau d ajak jadi pasangan duet nya nico😪
ㅤㅤ
wkwkw 🤣🤣🤣 kayak udah kenal lama ya 🤭 cepet banget akrab nya ya kalian
ㅤㅤ
wkwkw dasar mayang,,, 🤣🤣🤣 awan di samain sama ayam potong 😂😂😂
ㅤㅤ
hmmm awan cemburu🤭
ㅤㅤ
hmmm sad ya,,, d saat penting Nala, awan gk ada😌
ㅤㅤ
waaah 😱 semoga nala gak melupakan awan 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!