Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Di Antara Dokter dan Pasien
Sore harinya, Aira baru saja keluar dari ruang perawatan VIP kamar 401 setelah selesai beradu urat leher dengan Teddy yang mendadak manja minta disuapi bubur rumah sakit. Kepala Aira rasanya mau pecah menghadapi kombinasi orang tua Teddy dan anaknya.
Baru saja ia melangkah tiga meter dari pintu kamar VIP itu, sosok Dokter Weri sudah berdiri di depannya sembari melempar senyum manis. Akan tetapi, di mata Aira malah terlihat bagai senyum sales panci keliling.
"Suster Aira," sapa Weri lembut, dengan sengaja merendahkan suaranya. "Baru selesai mengurus pasien?"
Aira refleks mundur satu langkah, memeluk papan rekam medisnya dengan kuat. 'Aduh, satu singa lapar belum kelar, sekarang datang lagi buaya darat,' batin Aira merana.
"Eh, Dokter Weri. Iya, Dok. Baru selesai mengantar menu makanan sore pasien ruang ini," jawab Aira datar.
Weri melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. "Kamu kelihatan lelah sekali, Aira. Saya dengar, semenjak pagi kemarin kamu belum beristirahat. Tenagamu pasti sangat terkuras. Bagaimana kalau nanti malam setelah sifmu selesai, kita makan malam bersama? Kebetulan ada restoran Jepang baru buka dekat sini."
Aira mengerjap-ngerjap. Otaknya seakan mengeluarkan alarm waspada. Selama ini Weri memang sering cari muka, tapi baru kali ini dokter residen itu mendadak seagresif ini sampai mengajaknya makan malam segala.
"Waduh, Dok. Terima kasih banyak atas tawarannya," tolak Aira cepat.
"Tapi mohon maaf sebesar-besarnya, lambung saya ini lambung lokal asli Indonesia. Kalau dikasih makan sushi mentah malam-malam, takutnya cacing di perut saya langsung demo masak. Lagian saya mau langsung pulang, mau hibernasi setelah dua hari tak pulang."
Senyum di wajah Weri sempat berkedut mendengar penolakan absurd Aira, namun ia dengan cepat menguasai ekspresinya kembali.
"Kalau tidak suka sushi, kita bisa makan bakso atau sate aja, Ra. Saya yang traktir. Anggap saja ini apresiasi karena kamu perawat paling telaten di sini."
Tepat saat Weri hendak menyentuh ujung siku Aira untuk meyakinkannya, pintu kamar 401 di belakang mereka mendadak terbuka dengan sentakan pelan.
Teddy tiba-tiba muncul. Entah mendapat kekuatan dari mana hingga ia sanggup turun dari ranjang sambil menyeret tiang infusnya sendiri, dan kini berdiri di ambang pintu.
Perban di kepalanya masih terpasang, tetapi tatapan tajamnya menembus lurus ke tangan Weri dengan sorot dingin.
"Suster Aira." Teddy, memanggilnya dengan suara serak dan berat.
"Sepertinya, infus saya macet. Dan saya tidak suka mendengar orang mengobrol di depan kamar saya."
Aira dan Dokter Weri serentak menoleh.
Dokter Weri refleks menurunkan tangannya yang menggantung di udara, lalu membalikkan badan menghadapi sang pasien VIP ini.
Sebagai seorang dokter, tentu ia tahu betul siapa orang yang menjadi pasiennya ini. Namun, ego sebagai seorang pria, kini mendadak terusik merasakan keposesifan pria berpiyama rumah sakit itu.
"Selamat sore, Pak," sapa Dokter Weri dengan profesional.
"Saya Dokter Weri yang akan memantau perkembangan Anda hari ini. Mohon maaf, jika suara kami mengganggu istirahat Anda." Lalu matanya menatap Teddy, di kepalanya masih melekat perban.
"Sebenarnya, fisik Anda kan baru saja melewati masa kritis akibat kecelakaan. Sangat tidak disarankan untuk turun dari ranjang tanpa bantuan, apalagi sampai menyeret tiang infus sendiri seperti ini."
Teddy sama sekali tidak menggubris penjelasan medis dari Weri. Sepasang manik yang tajam masih mengunci Aira yang berdiri kaku di antara mereka berdua.
"Saya tidak peduli dengan saran Anda, Dokter," sahut Teddy dingin, memotong wibawa Weri yang seorang ahli medis di rumah sakit ini.
"Saya hanya tidak suka jika ada yang mendekati Suster Aira," ucapnya tanpa menoleh.
"Dan kamu, Suster Aira, cepat masuk! Infus ini benar-benar macet."
Aira memutar bola matanya jengah. Macet dari Hongkong! Perasaan tadi alirannya lancar jaya mirip jalan tol pas lebaran, batin Aira dengan dongkol.
Namun, melihat situasi koridor ini, membuat Aira terpaksa melangkah mendekati Teddy. Menghadapi pasien rewel ini, terlihat lebih aman daripada meladeni buaya darat berseragam jas putih di depannya.
"Iya, Pak, iya. Tolong jangan banyak tingkah dulu. Kalau perban di kepala Bapak copot, saya tak mau lagi memasangnya," omel Aira, langsung meraih tiang infus dari cengkeraman tangan Teddy yang kokoh.
Melihat Aira yang begitu menurut pada Teddy, raut wajah Dokter Weri berubah agak masam. Ia berdehem pelan, berusaha mengembalikan atensi.
"Suster Aira, jadi bagaimana soal tawaran makan malam kita nanti? Saya tunggu di lobi setelah sifmu selesai, ya?"
Mendengar kata 'makan malam', rahang Teddy mendadak mengeras. Aliran darah di pelipisnya yang diperban seolah berdenyut lebih kencang. Pria itu langsung menggeser tubuhnya sengaja menghalangi pandangan Weri pada Aira.
"Suster Aira tidak boleh pergi!"
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣