"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukanmu
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
1 bulan pun berlalu....
Tidak terasa sudah satu bulan berlalu Safira menghilang, Demir semakin dilanda frustasi. Setiap hari Demir selalu mencari Safira, bahkan dia jarang pulang ke rumah.
Pernah suatu hari, Demir mencari Safira sampai pagi dan Demir ketiduran di dalam mobilnya sendiri. Sebegitu berartinya Safira untuk Demir, sehingga Demir tidak bisa sampai kehilangan Safira.
Seperti saat ini, sepulang sekolah Demir kembali menyusuri setiap jengkal jalan yang berada di Jakarta ini, berharap keajaiban untuk Demir.
"Fira, Mama mau beli buah-buahan di seberang jalan sana dulu, kamu tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana," seru Mama Ros.
"Iya Ma."
Mama Ros pun menuntun Safira untuk duduk di kursi yang ada di pinggir jalan itu, kemudian Mama Ros segera menyebrang jalan untuk membeli buah-buahan.
Di saat Mama Ros ingin menyebrang, dari kejauhan Demir melihatnya.
"Bukanya itu Mamanya Fira ya."
Demir pun segera melajukan mobilnya, Mama Ros sudah berada di tukang buah-buahan dan Demir celingukan, ternyata Safira sedang duduk.
Demir menyunggingkan senyumannya, Demir segera menepikan mobilnya dan dengan cepat keluar dari dalam mobilnya.
"Fira!"
Safira tersentak, Safira pun bangkit dari duduknya karena mendengar suara yang sangat dia kenal dan dia rindukan itu.
Demir tidak menunggu lagi, dia segera berlari dan memeluk Safira.
"Fira, kamu ke mana saja? Aku capek mencarimu ke mana-mana, aku sangat merindukanmu."
Perlahan Safira membalas pelukan Demir dan itu membuat Demir senang.
"Aku juga merindukanmu, Demir."
Mendengar jawaban Safira membuat Demir semakin mengeratkan pelukannya, sungguh Demir sangat merindukan Safira dan dia sadar kalau Safira begitu berarti untuknya.
Mama Ros yang sudah selesai membeli buah-buahan, merasa terkejut saat melihat Safira berpelukan bersama Demir. Mama Safira tersenyum, baru kali ini ada pemuda yang sangat peduli kepada anaknya.
Demir melepaskan pelukannya. "Kamu ke mana aja, Fira?"
"Maafkan aku Demir, waktu itu terlalu cepat kejadiannya."
"Terus, sekarang kamu tinggal di mana?"
"Aku tinggal di rumah majikan Mama, kebetulan majikan Mama baik banget."
"Syukurlah kalau begitu."
"Nak Demir."
"Tante."
Demir pun dengan cepat mencium punggung tangan Mama Ros.
"Fira, apa kamu masih mau ngobrol dengan Nak Demir? Biar Mama pulang duluan."
"Iya Tante, kalau boleh Demir ingin mengobrol sebentar dengan Fira nanti biar Demir yang antar Fira pulang."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Rumah majikan tante yang cat rumahnya putih no.53."
"Baik Tante."
Mama Ros pun memilih pulang duluan, kebetulan rumah majikannya tidak jauh dari sana. Demir mengajak Safira kembali duduk di sana.
"Bagaimana kabar kamu, Fira?"
"Aku baik-baik saja kok, Demir. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku hancur."
Safira tersentak mendengar jawaban dari Demir. "Maksud kamu apa, Mir?"
"Aku hancur saat mengetahui kamu menghilang, aku takut kehilangan kamu Fira."
Safira sangat terkejut dengan ucapan Demir, perlahan Demir menggenggam tangan Safira membuat Safira lagi-lagi kaget.
"Fira, mungkin ini terlalu cepat, tapi hati aku tidak bisa dibohongi lagi kalau aku sudah mencintai kamu."
"Mir, aku ini gadis buta, apa yang kamu harapkan dan banggakan dari gadis buta sepertiku? Kamu berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dariku."
"Aku tidak butuh kesempurnaan fisik, yang aku butuhkan hanya ketulusan hati. Aku juga tidak butuh harta benda, tapi yang aku butuhkan hanyalah seseorang yang mampu menyayangiku dengan tulus karena bagi aku, yang paling berharga bukanlah sebongkah berlian, melainkan cinta yang seutuhnya. Fisik kamu memang tidak sempurna, tapi kamu mampu memberikan cinta yang sempurna untukku."
Seketika airmata Safira menetes, membuat Demir terkejut.
"Kenapa kamu menangis."
"Baru kali ini ada laki-laki yang mengatakan cintanya kepadaku, dan itu kamu Demir.
Demir kembali memeluk Safira. "Aku janji, akan selalu ada untukmu. Jadi, kamu mau kan jadi bagian dari hidupku?"
Safira tersenyum dan menganggukan kepalanya, membuat Demir semakin bahagia. Safira melepaskan pelukan Demir dan menyentuh wajah Demir, lalu merabanya.
"Kamu tahu Demir, seandainya aku punya kekuatan untuk bisa mengabulkan segala permintaan yang kita inginkan, aku tidak mau apa-apa, cukup satu permintaanku."
"Apa?"
"Bisa melihat wajahmu, walau itu cuma satu jam saja."
Demir tersenyum. "Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi tidak sekarang karena saat ini, aku juga sedang berusaha mencari pendonor mata untukmu."
"Tidak Demir, donor mata itu sangat sulit bahkan mahal, jadi kamu tidak usah melakukan semua itu untukku."
Setelah berbincang-bincang, Demir pun mengantarkan Safira pulang. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Demir dan Demir berharap kalau mereka tidak akan terpisah lagi dan akan bahagia selamanya.