NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

014

014

Pendekatan 2

"Jangan dilepas."

.....

Aksa mengendarai matornya dengan kencang. Cowok itu mencengkram stir motor dengan begitu erat. Dadanya terhimpit sesak mengetahui Aleta tidak bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi. Cewek itu terlalu cepat mengambil keputusan tanpa tahu jika sebenarnya dia lah yang menjadi pembahasan antara dirinya dan juga Elvan.

Aksa justru disalahkan, padahal dirinya hanya mencoba membela cewek itu. Elvan memang pantas mendapat tonjokan pada sisi wajahnya. Dia jelas tidak terima Aleta dijadikan bahan taruhan. Siapa sih yang akan rela orang yang ia sayang dijadikan bahan taruhan oleh orang lain? Dan dia terlalu sayang kepada Aleta. Salahkan jika dirinya ingin melindungi Aleta?

Aksa menepikan motornya tak jauh dari rumah Aleta. Dilihatnya jam yang bertengger manis pada tangan kirinya. Pukul 10 malam, kemungkinan Aleta akan pulang jam 11 malam dan cowok itu akan menunggunya.

Sembari menunggu Aksa lebih memilih untuk memainkan game online pada ponselnya. Daripada bosan lebih baik mencari kesibukan, bukan?

Baru 5 menit cowok itu memainkan game nya, namun ponsel cowok itu penuh dengan notifikasi dan juga pesan yang memberitahukan bahwa SMA Angkasa Raya memenangkan pertandingan voli dengan SMA Cempaka Raya.

Aksa mendengus kesal, andai saja pertandingan itu tidak mempertaruhkan sahabatnya, dia pasti akan ikut senang dalam kemenangan timnya.

Tak terasa hampir satu jam sudah Aksa menunggu Aleta pulang, namun cewek itu tak segera memerlihatkan batang hidungnya. Aksa hanya mampu mendesah pelan.

"Kenapa belum pulang sih, Ta?" tanya cemas, namun enggan untuk menanyakan keadaan cewek itu melalui pesan.

Terlihat dari kejauhan sorotan lampu motor yang semakin dekat. Motor itu motor Elvan. Dan Aleta berada di belakang boncengan Elvan? Bagaimana bisa?

Aksa kembali mencengkram stir motornya erat. Dibukanya pengait helm cowok itu dengan sedikit sulit karena hanya satu tangan yang bekerja. Dilihatnya Aleta menyodorkan helm kepada Elvan.

"Kenapa harus pulang bareng Elvan, Ta? Lo cuma dijadiin bahan taruhan!" ucapnya geram, tetapi ia tak berani mendekat.

Aksa merasa dadanya mulai sesak kembali. Jantungnya berdenyut nyeri dengan perut yang menjadi mulas. Wajahnya tampak masam dengan telinga yang mulai sedikit panas. Ia cemburu atau khawatir dengan keadaan Aleta? Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu. Yang jelas hatinya menjadi ngilu.

Setelah dilihatnya Elvan meninggalkan rumah Aleta dan cewek itu memasuki rumahnya, Aksa memilih pulang. Malam ini ia tak mendapatkan senyum tulus Aleta seperti biasanya. Ini semua karena Elvan.

..........

Pagi ini Elvan terpaksa berangkat begitu pagi. Cowok itu merutuki kebodohan mulutnya yang berkata akan menjemput Aleta. Bagaimana mungkin ia berkata tanpa berpikir?

Cowok itu memarkirkan motornya di depan sebuah rumah berwarna coklat kayu. Di depan rumah tersebut terdapat kolam ikan kecil dengan taman bunga aster yang cukup cantik. Ia baru menyadari jika rumah Aleta seindah ini. Semalam ia tak sempat melihat sekitar karena balapan akan segera dimulai.

Setelah 10 menit Elvan menunggu, ia memilih turun dari motornya dan mengetuk pintu rumah Aleta dengan pelan. Pada ketukan keempat pintu terbuka menampilkan seorang wanita berumur 40 tahunan. Nampaknya wanita itu ibu Aleta.

"Pagi tante," sapa Elvan sambil menyalami tangan wanita di depannya.

"Pagi, cari Aleta ya nak?" tanya Masya mama Aleta.

"Iya tante, saya ke sini sengaja mau jemput Aleta."

"Sebentar ya tante panggilkan," ucap Masya yang diangguki Elvan.

Selama menunggu Elvan memilih memperhatikan lingkungan sekitar. Ternyata ada sebuah ayunan kecil di bawah pohon mangga yang berada di sisi kanan rumah Aleta. Rasanya ia ingin berlama-lama di sini.

"Ngapain kesini?" tanya Aleta galak membuat Elvan segera menatap cewek itu dengan bingung.

"Bukannya gue udah bilang semalam?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Gue gak mau! Makanya kalau ngomong tunggu jawaban dulu."

"Gue udah capek-capek ke sini loh. Udah relain bangun pagi. Masa lo gak mau ikut gue?" kata Elvan membuat Aleta mendengus.

"Siapa suruh ke sini?"

Elvan hampir saja mengeluarkan kata kasar karena cewek di depannya terlalu keras kepala. Namun, ia segera sadar ini misinya. Harus mendekati Aleta.

Dengan gerakan cepat Elvan menarik tangan Aleta menuju motornya. Ia tak akan melepas cewek itu. Dia sudah capek-capek dan merelakan bangun pagi demi menjemputnya.

"Elvan lepas, please!" pintanya dengan sedikit memelas. Tapi Elvan sama sekali tak merespon, cowok itu tetap menarik Aleta sampai di depan motornya.

Elvan mengambil helm yang ia letakkan dibagian belakang motor. Memakaikannya cepat pada kepala Aleta tanpa persetujuan si pemilik kepala, karena ia yakin cewek itu akan menolak.

"Naik!" titahnya singkat sambil menaiki motornya.

Aleta tetap berdiri tak menuruti perintah Elvan. Sementara Elvan memakai helmnya, cewek itu memilih membuang muka kearah jalan dengan tangan dilipat di depan dadanya. Merajuk.

"Cepet naik! Atau nanti gue bilang ke mama lo kalau lo semalam keluar sampai ma-"

"Okey! Gue naik!" jawabnya cepat.

Elvan hanya tersenyum tipis melihat tingkah Aleta. Padahal ia hanya sembarangan berbicara. Toh dia sebenarnya tidak tahu jika apa yang diucapkannya memang benar.

"Pegangan."

Dengan sedikit malas Aleta memegang bahu Elvan erat.

"Lo pikir gue tukang ojek?" tanya Elvan kepada Aleta. Cowok itu bisa melihat raut bingung Aleta dari spionnya.

Cowok itu memegang tangan Aleta di pundaknya lalu menuntun pelan agar kedua tangan cewek itu melingkar di perutnya. Aleta hanya memekik kaget, sesegera mungkin cewek itu menarik kedua tangannya. Namun, Elvan segera mencegahnya.

"Jangan dilepas," katanya lalu ia segera melakukan motornya menuju sekolah.

......

Elvan memasuki kelas dengan senyum tipis tercetak jelas pada wajahnya yang sedikit lebam akibat tonjokan dari Aksa. Senyum tipis yang nampak tulus itu mampu membuat siswi kelas 11 IPS 3 berteriak senang karena pemandangan yang jarang mereka lihat.

"Pagi-pagi udah senyum gitu kenapa, Van?" tanya Gavin yang kini berdiri di sebelah Elvan entah kapan datangnya.

"Jadi cowok kok kepo!" sahut Alam yang sedang duduk di pojok kelas sambil memainkan gamenya.

"Yee sirik! Elvan aja gak apa-apa. Iya kan?"

"Hem." Elvan hanya bergumam malas.

Alam tertawa keras dan Gavin memberengut kecewa.

"Jahat!" kata Gavin manja lalu menghampiri Kavin yang sedang asik dengan ponselnya.

"Bang Kav lagi apa?" tanyanya penasaran.

"Nonton video tutorial," kata Kavin singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

Elvan hanya menggelengkan kepala bosan lalu memilih duduk pada kursinya. Bisa dipastikan setelah ini Gavin akan membuat kepalanya pusing.

"Tutorial buat apa?" tanya Gavin antusias. Kini cowok itu sudah mulai menggeser duduknya mepet dengan Kavin, membuat Kavin ikut bergeser.

"Loh kok ikutan geser? Gue gak keliatan dong!"

"Dari situ keliatan. Makanya kalau mau gabung bilang. Jangan kek cewek deh!" kata Kavin kemudian meletakkan ponselnya bersender pada botol minum di atas meja. Ngomong-ngomong, botol itu diambil Kavin dari meja lain tanpa izin pemiliknya.

"Ih apaan tuh masa tutorial cuma ada orang main game? Mana ceweknya gak pake baju lengkap!" teriak Gavin membuat semua penghuni kelas yang sudah berangkat menatapnya heran.

"Bodoh!" tegur Kavin menoyor kepala Gavin. "ini tutorial cara main game kalau pakai hero terbaru. Yang ngasih tutorial emang cewek, dia orang luar!" omel Kavin gemas. Jika menonton sesuatu dengan Gavin itu hanya akan membuat orang lain berpikiran negatif kepada dirinya.

Elvan hanya menggeleng malas. Benar-benar si Gavin paling jago bikin pusing.

"Vin, mending lo duduk di tempat lo anteng terus belajar deh," kata Rio yang baru saja datang. Cowok itu sudah hafal jika Kavin dan Gavin duduk bersama dengan satu handphone pasti akan ribut.

"Ih gak. Orang gak ada ulangan," tolaknya memilih meletakkan dagunya di atas lipat tangannya fokus menonton tutorial, ah bukan-bukan. Dia fokus kepada ceweknya karena jujur saja dia tidak tahu arti dari apa yang cewek itu bicarakan.

Alam dan Elvan mulai penasaran. Kenapa Gavin diam saja? Biasanya anak itu banyak protes saat melihat sesuatu, mirip seperti cewek.

"Weh tutorial luar cuy!" kata Alam heboh lalu bergabung duduk di sebelah Kavin, sedangkan Elvan berdiri di sebelah Gavin sambil memerhatikan videonya.

Alam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa bodoh karena tak mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Cowok itu menoleh melihat Gavin yang fokus tak terganggu.

"Vin?" panggil Alam berhasil membuat Gavin menoleh kearahnya seolah ia bertanya 'kenapa?'

"Kok lo bisa fokus gitu? Udah bisa bahasa inggris ya?" tanyanya yang kini mendapat antusias dari Kavin, Elvan, dan juga Rio. Semuanya mengangguk membenarkan ucapan Alam.

Gavin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cowok itu menaikkan kedua alisnya disertai dengan cengiran khasnya.

"Gue sebenernya juga gak ngerti dia ngomong apa. Gue cuma liat tu cewek cantik matanya biru," jawabnya polos. Para pendengar kecewa dan hanya bersorak gemas. Bahkan kini Kavin sudah berhasil menjepit leher Gavin di antara ketiaknya.

"Astagah ampun! Gue salah apa lagi sih?" teriak Gavin sedikit teredam karena mulutnya sedikit tertekan di dekat ketiak Kavin.

"Salah elo gue gak tau. Yang jelas gue suka buat lo sengsara," jawab Kavin dengan tawa yang mengiringinya.

"Kasihan Gavin bau ketiak. Lepas deh, Kav. Bisa mati kehabisan nafas dia," kata Elvan yang kini memilih untuk kembali ketempat duduknya. Nampaknya cowok itu mulai tenggelam dalam lamunnya.

"Apa yang harus gue lakuin buat dapetin Aleta? Gue gak mungkin putusin pacar gue kan? Atau gue harus pura-pura?"

......

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!