5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Perlindungan
Azzura menatap Xander dengan ragu sejenak, namun melihat lencana Dewan Senior yang ia patahkan, Azzura menurunkan tangannya. "Dua jam? Itu terlalu singkat," bisik Azzura panik.
"Kotak ini tidak bisa dipindahkan secara fisik tanpa memutus aliran energinya," sela Olivia sambil memeriksa pilar cahaya tersebut. "Jika kita membawanya keluar dari menara ini sekarang, sinkronisasinya akan gagal dan Kunci Mageia akan hancur."
Vera melihat ke sekeliling ruangan yang sempit itu. "Kita tidak bisa memindahkannya, tapi kita bisa menyembunyikannya tepat di depan mata mereka."
Strategi Penyamaran Sihir
Dengan bantuan informasi dari Xander yang berjaga di pintu, kelima sahabat itu mulai bekerja cepat.
Vera menggunakan kekuatan Tanah-nya untuk memanipulasi tekstur kotak batu tersebut, mengubah permukaannya menjadi kasar dan kusam, terlihat seperti tumpukan batu bata tua yang tak berharga.
Olivia menumbuhkan lumut-lumut tebal dan tanaman merambat yang terlihat kering dan mati di sekeliling pilar cahaya. Hal ini dilakukan untuk menyamarkan pancaran energi yang keluar dari kotak tersebut.
Luna menciptakan kabut tipis yang sangat dingin di sekeliling langit-langit menara. Kabut ini berfungsi untuk membelokkan cahaya (refraksi) sehingga jika ada yang melihat ke arah kotak, yang terlihat hanyalah sudut ruangan yang kosong dan gelap.
Rachel menggunakan kekuatan Udara untuk menciptakan lapisan kedap suara dan kedap bau. Tujuannya agar dengungan energi dari Kunci Mageia tidak terdengar oleh indra tajam para pengawal Dewan Senior.
Azzura menutup seluruh lapisan tersebut dengan Cahaya yang ia redupkan hingga mencapai frekuensi netral. Ia menyamarkan tanda sihir mereka berlima agar tidak terlacak oleh alat pendeteksi sihir dewan.
"Selesai," bisik Azzura tepat saat suara gaduh langkah sepatu bot terdengar di lantai bawah asrama. "Xander, kau harus pergi. Jangan sampai kau terlihat bersama kami."
Xander mengangguk tegas. "Aku akan berusaha mengalihkan perhatian mereka ke gedung latihan. Tetaplah di kamar kalian dan bersikaplah seolah kalian baru saja bangun tidur."
Satu jam kemudian, pintu asrama mereka digedor dengan keras. Para pengawal berbaju zirah hitam—orang-orang kepercayaan dewan—masuk dan menggeledah setiap sudut ruangan.
Azzura, Rachel, Luna, Olivia, dan Vera duduk di tempat tidur mereka masing-masing, berpura-pura mengantuk dan bingung.
"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sekali sudah berisik?" tanya Rachel dengan akting yang sangat meyakinkan, sambil mengucek matanya.
Seorang kapten pengawal dengan mata dingin menatap mereka satu per satu. "Perintah Dewan Senior. Ada penyusupan di Perpustakaan Tua semalam. Kami sedang mencari barang-barang terlarang."
Pengawal itu naik ke menara jam. Jantung Azzura berdegup kencang hingga rasanya ingin copot. Dari celah pintu, mereka melihat pengawal itu masuk ke ruangan tempat Kunci Aether berada.
Pengawal tersebut menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Karena ilusi yang dibuat mereka berlima, pengawal itu hanya melihat tumpukan batu bata tua yang berlumut di sudut ruangan yang gelap dan dingin. Ia menyentuh dindingnya, namun karena kekuatan Tanah Vera dan Cahaya Azzura, ia tidak merasakan getaran energi apa pun.
"Lantai atas bersih! Hanya tumpukan sampah tua!" teriak pengawal itu kepada anak buahnya di bawah.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, para pengawal itu akhirnya pergi meninggalkan asrama.
"Berhasil..." bisik Luna sambil merosot ke lantai setelah para pengawal benar-benar jauh.
"Tapi ini baru hari pertama," Azzura mengingatkan. "Kita harus melakukan ini selama dua malam lagi. Dewan akan semakin curiga karena Profesor Elian menghilang. Kita harus ekstra hati-hati saat menyalurkan energi nanti malam."