Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin Janji Mati 2
Aku, Yono, teman SMA Tami & Kuncoro. Kebetulan kami juga satu desa, memang sejak Tami meninggal, Kuncoro jarang berbaur, awalnya aku kira dia sibuk kerja, tapi beberapa tahun belakangan dia sering sekali nongkrong di kampung, tapi dengan perangai yang berbeda. Sekitar seminggu dia menjadi perbincangan di desa, karena kelakuan-kelakuan anehnya. Semua warga pun tahu kalo Kuncoro sepertinya stres.
Setiap malam minggu, dia selalu keluar dengan motornya dan berdandan rapi. Sehabis maghrib dia menyempatkan diri untuk mampir ke tempat biasanya anak-anak muda berkumpul dan setiap jam 7 dia selalu pamit ngapel dan menjemput Tami. Seperti itu selalu berulang setiap malam minggu. Semakin kesini, aku jadi penasaran, dan di suatu malam minggu, aku iseng mencoba untuk membuntuti Kuncoro.
"Dimana sih kalau dia jemput Tami?" batinku. Sedikit lucu tapi jujur saya sangat iba dengan dia.
Dengan motor pinjaman dari paman, aku mengikuti Kuncoro. Di perjalanan, aku bingung karena jalan itu menuju rumah Tami yang dulu, yang katanya sudah disita pihak Bank. Setelah melewati rumah itu bukannya berhenti tapi Kuncoro melewatinya dan menuju ujung desa. Aku pun tak lelah untuk mengikuti terus, sampai akhirnya dia berhenti di depan Gapura sebuah makam, yang mana itu adalah makam tempat dimana Tami dikuburkan. Di jarak kira-kira 20 meter, aku melihat Kuncoro seperti terlibat percakapan kecil, sebelum akhirnya dia berjalan lagi.
Seketika itu, bulu romaku meremang dan bergetar. Akupun langsung putar balik dan pulang meninggalkan Kuncoro. Ternyata sesampainya di kampung, kawan-kawan sudah menunggu jawaban dariku bagaimana Kuncoro dan dimana dia menjemput Tami. Akupun bercerita secara singkat dan kawanan terkaget mendengar ceritaku dan berpikir apakah Kuncoro terkena mental atau memang menjalin hubungan dengan Tami yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
...****************...
Jalan medis juga sempat di tempuh dan diagnosanya Kuncoro cuma delusi.. Tapi di lain sisi ada beberapa orang yang bersaksi melihat "Lelembut yg menyerupai Tami".
Kanehan Kuncoro sudah menjadi rahasia umum, tapi tak ada satu orangpun yg berani menggunjingnya, karena di desa Kuncoro adalah anak dari keluarga terpandang & disegani. Aku adalah salah satu orang yang bingung untuk menyimpulkan bahwa Kuncoro itu gila. Pasalnya dari luar dia masih seperti orang normal pada umumnya, dia bekerja mengikuti kerja bakti dan kegiatan kemasyarakatan di desa. Bukan sebuah kebetulan kalau rumahku dan dia bersebelahan. Disisi lain, aku bisa dibilang orang yang paling sering melihat atau mendengar keanehan dalam diri Kuncoro.
Flash Back~
Di jendela kamarku dan Kuncoro tepat bersebelahan, bahkan saling berhadapan, hanya tersekat jalan setapak diantara rumahku dan Kuncoro. Malam hari sekitar pukul 00.00, aku tidak dapat memejamkan mataku dan mendengar seperti sebuah percakapan dari kamar Kuncoro.
Awalnya aku mengira itu suara dari sebuah radio, tapi semakin aku amati dan teliti sepertinya itu bukan suara radio, melainkan suara 2 orang sedang mengobrol dan aku tidak begitu jelas isi percakapan itu. Karena suara itu sangat lirih dan suara lawan bicaranya seperti hanya berbisik, aku yang penasaran mencoba mengintip, membuka jendela sedikit demi sedikit... Dan ternyata benar, ada dua orang sedang berbincang dengan nada berbisik dan sesekali ada suara tawa yg ditahan, hihihi
Saat itu, aku langsung bergidik dan takut. Aku langsung menutup jendela dan mencoba untuk tidur, tapi suara itu masih ada. Kembali aku tidak dapat memejamkan mata hingga menjelang adzan subuh, lambat laun suara itupun hilang dengan perlahan. Kejadian itu terus berulang, walau tidak setiap hari, Aku pun sedikit terbiasa.
kriiiiiyeeetttt ...
Sampai di suatu malam, ada suara krenyitan jendela yang terbuka. Tetapi bukan jendela kamarku melainkan jendela kamar Kuncoro. Tercium bau busuk yang menyengat masuk dan menembus dari luar. Saking baunya, aku beranjak dari tempat tidur, mencari-cari dari mana sumber bau itu. Akupun membuka jendela kamar dengan sedikit jengkel.
"ugh ... bau apa sih ini? Darimana datangnya ini bau?" ucapku.
Aku buka lebar-lebar jendela kamarku dan di depan jendela Kuncoro yang terbuka lebar, aku melihat sosok wanita yang tanpa benang pun dengan penampakan kepala yang botak, wajah yang tak begitu jelas, memiliki mata yang hitam dan melirik ke arahku sambil tersenyum lirih ...
hihihi ....
Aku yang melihat penampakan itu tercekat tak bergerak, sambil melongo sampai sosok itu perlahan berlalu begitu saja tanpa menutup jendela. Dan seketika aku tersadar, langsung berlari ke kamar ibuku. Keesokan harinya, aku langsung jatuh sakit. Demam tak kunjung turun dan harus dibawa ke rumah sakit yang ada di desaku.
Setelah 3 hari berlalu, aku pun pulang dari rumah sakit. Seperti biasa, di perkampungan selalu para tetangga berkumpul dan berbondong-bondong untuk menjenguk tetangga yang sakit, kebetulan itu terjadi padaku. Tetangga pun silih berganti, keluar masuk dari rumahku melihat keadaanku yang sebenarnya sudah baikan. Tak lupa juga, Kuncoro pun menjenguk saat tetangga-tetangga izin pamit untuk pulang terlebih dahulu. Kuncoro pun datang dengan membawa buah tangan, tanpa basa-basi ia langsung masuk ke dalam kamarku dan duduk di sampingku.
"Eh, Kuncoro ..." sapaku.
Kuncoro pun tersenyum dan langsung berkata, "Ojo ngomong sopo-sopo Yo," (jangan bilang siapa-siapa ya).
Aku menangkap gelagat aneh dan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kuncoro, bahwa kemarin malam "Tami" datang ke rumah Kuncoro dan masuk lewat jendela kamarnya.
Aku pun mengangguk seraya tersenyum. Tak berapa lama, Kuncoro izin pamit pulang yang kebetulan berpapasan dengan Ibuku.
"Kok keseso to Mas Kuncoro. Niki Lo unjukane," (Kok buru-buru sekali sih, Mas Kuncoro, minumnya ini loh) ucap ibuku.
Dengan sigap Kuncoro menjawab, "Sampun, Bu. Mboten usah repot-repot. Kulo selak ajeng blonjo niki, kagem keperluan nikahne kulo," (Sudah, Bu. gak usah repot-repot. Saya sudah keburu mau belanja keperluan nikahan saya) sambil berjalan pergi menuju pintu keluar.
Ibuku yang mendengar jawabannya pun hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan Kuncoro pamit pulang.
...****************...
Beberapa hari kemudian, kuncoro semakin parah, dia mulai ngomong ke orang-orang, kalo besok dia mau nikah dengan Tami, dengan nada geram, ia bilang ke orang-orang kalo dia akan kawin lari, apabila orangtuanya tidak setuju (ya iyalah, nikah sama lelembut, orang tua mana yang setuju🙊).
"Rek, tanggal 24 aku nikahan. Ojo lali, Yo ..." ucapnya.
Sampai mengumumkan tanggal pernikahan, kalo tidak salah tanggal 24 november di antara tahun 78/79,
Orang-orang tentu saja tidak mempedulikan omongan itu,
Kuncoro juga terlihat berbelanja, seperti beras, mie, dan lain sebagainya, untuk keperluan pesta pernikahannya nanti, tanggal 24, walau tidak ada yg peduli tapi tak bosan Kuncoro selalu mengingatkan teman dan tetangganya kalau tanggal 24 november dia akan menikah. Tapi yang mengagetkan adalah pada tanggal 24 november yang mana itu "katanya" adalah hari pernikahannya, Kuncoro "bunuh diri" di kamarnya dengan menggantung dirinya dengan kain sarung. Sungguh tragis.
...****************...
Pernikahan Janji Mati
End~
Terima kasih untuk narasumber Fattah dkk.