Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Eliza memang lah wanita yang cantik dan memiliki body goal, tapi entah kenapa Devano merasa tak tertarik pada nya.
Eliza juga berasal dari keluarga kaya, dia adalah anak salah satu kolega bisnis nya. Mereka tak sengaja bertemu saat Devano pergi ke acara ulang tahun salah satu perusahaan kolega nya, Eliza saat itu terlihat begitu antusias saat mendekati nya.
Tapi Devano berusaha bersikap biasa saja, tapi sayang nya tidak dengan Eliza. Wanita itu nampak begitu agresif dalam mendekati Devano, bahkan Eliza sering datang ke kantor Devano untuk menemui nya atau hanya sekedar mengajak nya untuk makan bersama.
Bahkan Eliza sempat menangis karena tak pernah mendapat respon dari Devano, akhirnya Devano pun berkata jika dia akan mencoba membuka hati nya untuk Eliza.
"Kenapa Kakak tidak pernah mau melihat aku sama sekali? Apa aku terlalu buruk di mata Kak Devano? Atau, tubuhku kurang seksi?"
Seperti itulah pertanyaan yang diajukan oleh Eliza kala itu, Devano menghela napas berat mendengar pertanyaan dari wanita itu. Namun, karena merasa kasihan akhirnya Devano pun mulai berkata.
"Baiklah, aku akan mencoba membuka hatiku untuk kamu. Namun, jika suatu saat aku tidak bisa mencintai kamu, aku minta maaf karena perasaan itu tidak bisa dipaksakan."
"Aku akan berusaha untuk membuat Kakak jatuh cinta kepadaku," ujar Eliza dengan begitu antusias.
Eliza pun setuju dengan syarat yang diajukan oleh Devano, dia meminta waktu pada Devano agar bisa sering pergi atau hanya sekedar berduaan dengan nya.
Namun kesibukan yang di lalui Devano membuat nya tak pernah ada waktu untuk sekedar jalan bersama, perusahaan Devano memang sedang berada di atas.
Jadi sangat wajar jika dia tak memiliki banyak waktu untuk sekedar bersanatai, bahkan untuk sekedar makan pun dia sering telat.
Sore ini pekerjaan Devano sudah selesai, dia pun memutuskan untuk segera pulang. Karena harus bersiap untuk menjemput Eliza, dia berharap semoga ini adalah awal yang baik untuk nya dan Eliza.
Sampai di rumah, Devano langsung masuk ke kamar mandi. Dia ingin merendam tubuh lelah nya dengan air hangat, dan juga ingin merileksasikan tubuh nya.
"Enak kalau udah mandi kayak gini, badan yang lelah pun rasanya segar kembali."
Selsai mandi Devano langsung melakukan kewajiban nya terhadap Sang Khalik, selepas itu dia pun langsung bersiap.
"Sepertinya tak perlu berdandan ala ABG, karena usiaku tidak muda lagi." Devano menyisir rambutnya sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Setelah siap Devano pun langsung melajukan mobil nya ke apartemen milik Eliza, karena memang Eliza tak tinggal di rumah Ayah nya. Eliza beralasan, jika tinggal di apartemen lebih memudah kan nya karena dekat dengan kampus nya .
Eliza memang masih kuliah di universitas negeri ternama di ibu kota, dia sedang mengenyam pendidikan S2 nya.
Sampai di apartemen milik Eliza, Devano langsung memarkir kan mobil nya. Dia pun langsung naik kelantai tujuh tempat Eliza berada, baru saja Devano akan menekan bel, tapi pintu sudah terbuka dari dalam.
"Hai," sapa Devano ketika melihat wajah cantik Eliza di hadapannya.
Eliza yang mendapat sapaan dari Devano terlihat begitu bahagia sekali, raut wajahnya terlihat begitu ceria.
"Hai juga, aku sudah siap banget ini. Sudah cantik belum?"
Devano pun mengangguk, mau memakai baju apa pun Eliza memang selalu tampil cantik. Tapi yang Devano aneh kan, dia tak pernah merasa tertarik pada nya. Ini sangat aneh.
Terkadang dia ingin memeriksakan kondisi kesehatannya kepada dokter, takut-takutnya karena terlalu kelelahan bekerja menyebabkan alat reproduksinya tidak bekerja.
Namun, rasanya tidak mungkin juga kalau dia tidak normal. Karena sampai saat ini dia masih menyukai wanita, dia mengagumi kecantikan wanita dan keindahan tubuhnya.
Hanya saja rasa cinta belum tumbuh di hatinya untuk seorang wanita pun, dia merasa mungkin kalau dia hanya perlu waktu saja.
"Kok cuma manggut manggut? Aku cantik apa cantik banget?"
"Cantik banget," jawab Devano cepat karena tidak ingin membuat wanita itu merasa kecewa terhadap dirinya.
Eliza pun langsung tersenyum, Dia pun langsung menggandeng tangan Devano dengan mesra dan menyenderkan kepala nya di pundak Devano. Mereka pun langsung turun ke bawah, setelah sampai di parkiran, mereka pun langsung pergi ke sebuah restoran mewah yang ada di pusat kota.
Selama perjalanan, Eliza selalu saja bersikap agresif. Tangan nya terus saja mengelus paha Devano, dan sesekali dia memperlihatkan tatapan menggoda dan senyum nya yang nakal.
Devano pun hanya membiarkan nya, tapi Devano terkadang merasa aneh sendiri. Kenapa tidak pernah ada getaran sama sekali saat Eliza memeluk nya? Kenapa Devano selalu merasa biasa saja saat berada di dekat Eliza?
Padahal Eliza termasuk wanita sempurna, body goal, wajah cantik dan bahkan bamper depan belakang nya pun sangat memanjakan mata.
"Aku sangat senang karena ternyata akhirnya Kakak punya waktu untuk aku," ujar Eliza.
"Ya," jawab Devano sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Sampai di restoran, mereka pun langsung memilih tempat ternyaman. Eliza pun dengan elegan memesan makanan favorit nya, dia bahkan memesan kan makanan untuk Devano tanpa bertanya pada nya.
Devano tampak menghela napas berat, ini lah yang tak dia suka dari Eliza, selalu bertindak semau nya sendiri. Padahal, Devano juga ingin dihargai.
"Aku yakin kalau Kakak pasti suka dengan makanan yang aku pesankan," ujar Eliza.
"Ya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Devano, karena dia tidak ingin berdebat dengan Eliza. Wanita yang terlalu memaksakan kehendaknya.
Tak lama makanan pun datang, Eliza pun makan dengan elegan. Dia juga sesekali menyuapi Devano, Devano hanya membiarkan. Karena dia sudah bertekad dalam hati, jika dia akan mencoba membuka hati nya untuk Eliza.
Saat sedang asik makan, Devano merasa mendengar suara Adam. Devano pun langsung memalingkan wajah nya ke samping kanan, tampak lah Adam dan Laila yang sedang makan bersama seorang pria.
Devano pun mengernyit heran, setau nya Laila tak pernah dekat seorang pria. Atau,,, memang Devano yang belum mengenal Laila.
"Ehm!"
Eliza pun berdehem, dia merasa heran karena Devano tidak terlihat fokus. Pikiran Devano seperti sedang melenceng ke mana-mana, Eliza tidak mau kalau sampai waktu untuk berduaan mereka tersita dengan kelakuan dari Devano.
"Kenapa?" tanya Devano karena Eliza kembali berdehem beberapa kali.
"Aku yang seharus nya bertanya sama Kakak, kenapa dari tadi Kakak tak makan? Kanapa kakak malah memperhatikan keluarga itu? Atau Kakak sudah tak sabar ya mau punya anak juga? Aku siap Kak, siap lahir batin."
Eliza berucap dengan percaya diri, sedangkan Devano hanya mendelik sebal. Eliza malah mengait-ngaitkan masalah anak dengan hubungan mereka yang belum jelas itu.
"Aku tidak apa apa, cepat habiskan makanannya."
"Kita baru sampai kak, jangan meminta untuk segera pulang. Aku tak mau," tolak Eliza.
Baru kali ini Devano menyempatkan diri untuk pergi bersama dirinya, rasanya Eliza tidak mau kalau waktu ini cepat berla.
Devan terlihat kesal, sesekali dia melirik ke arah Adam yang nampak akrab dengan lelaki tersebut. Hal itu membuat Devano bertanya tanya dalam hati nya, kalau saja dia tak sedang bersama dengan Eliza, sudah pasti dia sudah menghampiri Laila.
Devano pun dengan cepat menghabiskan makanan nya, setelah itu dia mengajak Eliza untuk pulang. Awal nya Eliza menolak, tapi saat melihat wajah Devano yang tak enak di lihat Eliza pun setuju.
"Baiklah baik, kita pulang. Tapi kakak harus mampir dulu ke apartemen ku," pinta Eliza.
"Terserah," ucap Devano ketus karena dia rasanya tidak sanggup lagi berada di resto tersebut.
Dia cemburu melihat kebersamaan Adam dan juga Laila dengan pria lain, karena biasanya dia yang selalu dekat dengan Adam.
Akhirnya setelah melakukan pembayaran, mereka pun langsung pergi. Saat melewati Laila, Devano sempat memberikan tatapan tak suka, tapi Laila malah membalas nya dengan senyum manis nya.
Adam tak menyadari keberadaan Devano, pasal nya dia tengah asik berbicara dengan lelaki yang berada di dekat nya.
'Cih! Masih aja bisa menampilkan senyum manis, tidak tahu apa kalau aku sedang kesal!' rutuk Devano dalam hati.
Sampai di apartemen Eliza, Devano langsung menghempaskan tubuh nya di sofa depan tv. Sedang kan Eliza langsung membuatkan minuman untuk dia dan Devano.
Tak lama Eliza pun sudah kembali dengan dua orang juice di tangan nya, Devano sempat melirik sebentar setelah itu pandangan nya kembali pada televisi di hadapan nya.
"Minum Kak," ucap Eliza seraya menyimpan minuman yang dia bawa di atas meja.
"Hem," ucap Devano hanya dengan deheman saja. Karena dia sedang malas untuk berbicara.
Eliza segera duduk dan memeluk Devano dengan erat, sesekali tangan lentik nya begitu nakal mengelus dada Devano dan memainkan kancing kemeja Devano.
"Kakak kenapa sih? Aku perhatiin kakak terlihat Bt saat dari resto tadi," ucap Eliza mengawali pembicaraan karena Devano hanya diam saja.
Devano tentu saja tidak ingin menceritakan apa yang dia rasakan saat ini, terlebih lagi kepada Eliza yang notabene menyukai dirinya.
"Tidak apa apa, aku hanya cape."
Eliza menganggukkan kepalanya tanda mengerti, wanita itu benar-benar berpikir kalau sikap Devano yang seperti itu memang karena kecapean.
"Kak," panggil Eliza .
Devano hanya diam karena fokus dengan pikiran nya, sedangkan Eliza sudah mulai bertingkah nakal. Tangan nya mengusap lembut rahang tegas Devano, dan wajah nya pun sudah begitu dekat dengan Devano.
Devano merasa kaget saat bibir Eliza sudah mulai menempel di bibir nya, Devano pun langsung mendorong pelan kening Eliza, sedangkan Eliza terlihat kesal dan langsung mengerucutkan bibir nya.
"Kakak jahat, apa salah nya sih Kak mencoba. Siapa tahu Kakak akan mencintai ku kalau kita sering berciuman," kesal Eliza.
Sulit sekali rasanya mendapatkan cinta dari pria itu, bahkan untuk bertindak seperti seorang kekasih saja begitu sulit. Hanya untuk melakukan kegiatan seorang kekasih saja begitu tidak digubris oleh Devano.
"Maaf kan aku Eliza, tapi untuk ku mempunyai pasangan itu bukan melulu soal ciuman atau hubungan seksualitas semata. Aku harap kamu mengerti," ucap Devano seraya pergi meninggal kan Eliza.
Eliza terlihat sangat menyesal, dia pikir kalau dia menyerahkan tubuh nya Devano akan langsung luluh. Tapi ternyata, Eliza salah besar.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu ternyata begitu menjaga kesucian pasangan sebelum menikah." Eliza tertunduk lesu sambil melihat kepergian Devano.