Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.
Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.
Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.
Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.
Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cha - 14 Kembali
Selain membuat kekuatan Chi Wei menjadi semakin mengerikan, jubah berwarna biru yang dipakainya pun membuat pendekar muda itu terlihat semakin gagah dan tampan.
Chi Wei sempat merasa kikuk saat mendapati Lung Huo menatapnya takjub tanpa berkedip untuk beberapa saat.
"ekhm...maaf Guru, apa kita sudah selesai?"
"eh.... Wei'er, maaf aku masih belum percaya memiliki murid seperti dirimu." Jawab Lung Huo dengan sedikit merasa malu.
"masih ada satu tempat lagi yang harus kita datangi sebelum kita kembali ke alam nyata."
"kita? maksud Guru?" ada ukiran pertanyaan di mimik muka Chi Wei.
"ya aku akan mendampingimu kembali ke alam nyata, tapi tenang saja, karena nantinya hanya dirimu saja yang bisa berkomunikasi denganku, tak akan ada orang lain yang mengetahui keberadaanku saat bersamamu."
Ctakkkkk....
Dalam satu jentikkan jari, Chi Wei dan Lung Huo kembali berpindah tempat.
Kini mereka berdua berada di sebuah tempat yang sangat luas. Di sana terdapat berbagai macam tumbuhan sumber daya energi yang sangat diperlukan oleh seorang pendekar. Selain itu, di sana juga terdapat buah-buahan yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kultivasi seorang pendekar.
"Wei'er, ribuan tahun aku menyiapkan semuanya demi menjalankan hukuman. Berharap hukumanku segera berakhir. Namun, perlahan-lahan seiring berjalannya waktu aku mulai menikmati hukuman yang aku jalani."
"kini, waktunyatelah tiba. Semuanya untukmu, dan memang dipersiapkan hanya untukmu. Entahlah, aku tak mengerti perasaanku saat ini. Yang pasti aku sangat merasa bahagia karena apa yang telah aku kumpulkan selama ini, dalam waktu dekat kemungkinan besar akan sangat bermanfaat untuk orang banyak."
Chi Wei hanya bisa mendengarkan apa yang tengah Lung Huo sampaikan. ia seakan tidak mau mengganggu suasana hati gurunya tersebut. Lung Huo begitu bersemangat bercerita tentang apa saja yang ia lakukan untuk mempersiapkan segalanya yang kelak akan dia berikan untuk membantu Chi Wei.
Jika dulu Lung Huo ingin segera menuntaskan tugasnya dengan cepat serta ingin segera mengakhiri hukumannya, namun kini setelah bertemu dengan Chi Wei dan menyaksikan apa yang telah terjadi di desa Teratai Putih, membuat dia teringat kembali kehidupannya di masa lalu. Rasa bersalah yang besar kini memenuhi setiap rongga hati dan pikirannya. Hingga akhirnya, dia pun memutuskan untuk mendampingi Chi Wei yang mendapat tanggung jawab besar untuk menjaga kedamaian di seluruh daratan benua bintang.
"Wei'er, semua tumbuhan yang ada di sini kelak akan sangat berguna untuk membantu orang-orang terdekatmu dalam meningkatkan kekuatan dan tenaga dalam mereka. Tentu ini hanya berlaku bagi mereka dari kalangan pendekar saja, kecuali tanaman obat, itu bisa kau gunakan kepada siapapun yang memerlukan pengobatan." Lung Huo menjelaskan semua tanaman yang ada di tempat tersebut.
"Namun, untuk memindahkan semua tanaman yang ada di sini kau perlu membuat satu ruang jiwa di dalam cincin dimensimu. Dimana, di dalam ruang jiwa tersebut kau bisa menjaga semua tanaman sumber daya ini agar tetap hidup."
"Baik, aku mengerti Guru." Jawab Chi Wei sambil membungkuk hormat kepada Lung Huo.
Hanya membutuhkan waktu beberapa saat saja Chi Wei sudah selesai membuat ruang jiwa yang sangat luas di dalam cincin dimensi miliknya. Lalu dia pun membuat sebuah portal dimensi sebagai pintu masuk menuju ruang jiwa tersebut. Setelah semuanya siap, ia pun segera memindahkan seluruh tanaman sumber daya tadi tanpa ada satu pun yang tersisa.
"Kau sangat cepat belajar Wei'er, aku turut bangga atas pencapaianmu sampai sejauh ini. Semoga Kau tidak pernah merasa puas dan terus berlatih."
Ctakkk.....
Pasangan guru dan murid itu kini telah berada di ruangan pertama kali Chi Wei tersadar dari pingsannya.
"Wei'er, waktunya telah tiba. Kita akan segera kembali ke alam nyata. Namun, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, mulai saat ini aku akan selalu mendampingi dan mengikutimu kemana pun kau pergi."
Wush...
Tubuh Lung Huo berubah menjadi cahaya berwarna hijau, dan beberapa saat kemudian cahaya itu meliuk-liuk seperti seekor ular dan bergerak menuju kearah tubuh Chi Wei. Setelah beberapa kali berputar-putar, cahaya tersebut perlahan mengecil dan melilit melingkar di pergelangan tangan kanan Chi Wei.
Cling....
Cahaya tersebut berubah jadi sebuah gelang giok berwarna hijau keemasan.
"Wei'er, apa kau sudah siap?" suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.
"Guru, apa yang terjadi dengan guru?" Chi Wei merasa sedikit cemas.
"hahahahahaha...aku bisa merasakan kecemasanmu muridku. Wei'er, kau tidak perlu khawatir, selama gelang giok itu melingkar di tanganmu, kita akan selalu bersama. Kau tidak perlu berteriak memanggilku. Karena mulai saat ini, aku bahkan bisa mendengar apa yang kau bisikan dalam pikiranmu."
"hmmmm...." Gumam Chi Wei sambil menggaruk kepala.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang Guru?"
"kenapa kau masih menanyakannya, bukankah kau ingin kembali ke desa Teratai Putih secepatnya?"
"Iya guru, tentu saja aku ingin kembali ke desa Teratai Putih secepatnya."
"kalau begitu, ayo kita pergi!"
"Tapi Guru, bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke alam nyata?"
"hmmm... sepertinya kau melupakan kitab pusaka teratai putih? Tapi baiklah, untuk saat ini aku akan memberi tahu caranya agar kita bisa pergi ke alam nyata."
"maafkan aku guru."
"sudah...sudah...tidak perlu minta maaf. sekarang pejamkan matamu, lalu tempelkan berlian biru yang ada di cincin dimensi tepat di keningmu. Lalu sebutkan nama tempat yang hendak kau datangi."
"Baik Guru."
Chi Wei pun segera melakukan apa yang dikatakan oleh gurunya tersebut. Perlahan-lahan tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna biru keemasan, lalu cahaya tersebut membentuk sebuah portal dimensi tepat di hadapan Chi Wei.
Beberapa saat kemudian, tubuh Chi Wei berubah menjadi butiran-butiran kristal yang sangat lembut. Dan wushhhhh....Butiran-butiran kristal itu terhisap masuk ke dalam portal dimensi tersebut.
Duarrrr....
Sesaat setelah tubuh Chi Wei menghilang, tempat di mana roh Lung Huo disegel pun hancur berkeping-keping.
Cling.....
Hanya dalam waktu beberapa detik saja, kini Chi Wei telah berada di pinggir sungai sebelah air terjun tempat di mana dulu ia menghilang.
Tak ada yang berubah dari tempat tersebut, kecuali di sana terdapat sebuah gubuk kayu sederhana dan di depan gubuk tersebut terdapat tumpukkan abu dari sisa-sisa pembakaran.
"Guru, tempat ini.....?" Chi Wei membatin.
"ya, kau benar Wei'er, di tempat inilah pertama kali kita bertemu dulu.hehehe." Lung Huo terkekeh.
"lebih tepatnya saat itu Guru menculikku." gerutu Chi Wei dengan nada pura-pura kesal.
"iya deh iya, terserah kau saja lah."
"sudah, jangan dibahas lagi. sebaiknya sekarang kau bersiap, karena sebentar lagi dua sahabatmu akan datang ke tempat ini." lanjut Lung Huo membuyarkan lamunan Chi Wei.
"Tao Ming..... Yan San.... Hmmmmmm.... kalian memang sahabat terbaikku." Chi Wei bergumam sambil tersenyum tipis membayangkan pertemuannya dengan kedua sahabatnya tersebut.
di barengi warga nya yag ramah..
udah bab 60 lebih masih muter2 di sekte aja cerita nya