Alzena Jasmin Syakayla seorang ibu tunggal yang gagal membangun rumah tangganya dua tahun lalu, namun ia kembali memilih menikah dengan seorang pengusaha sekaligus politikus namun sayangnya ia hanya menjadi istri kedua sang pengusaha.
"Saya menikahi mu hanya demi istri saya, jadi jangan berharap kita bisa jadi layaknya suami istri beneran"
Bagas fernando Alkatiri, seorang pengusaha kaya raya sekaligus pejabat pemerintahan. Istrinya mengidap kanker stadium akhir yang waktu hidupnya sudah di vonis oleh dokter.
Vileni Barren Alkatiri, istri yang begitu mencintai suaminya hingga di waktu yang tersisa sedikit ia meminta sang suami agar menikahi Jasmin.
Namun itu hanya topeng, Vileni bukanlah seorang istri yang mencintai suaminya melainkan malaikat maut yang telah membunuh Bagas tanpa di sadari nya.
"Aku akan membalas semua perbuatan yang kamu lakukan terhadap ku dan orang tuaku...."
Bagaimana kelanjutan polemik konflik diantara mereka, yuk ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-30
Sedangkan di gedung merah putih, tepatnya di rutan KPK, di sebuah ruangan khusus penjengukan, Bagas duduk berhadapan dengan pak Jamok.
Suasana di ruangan terasa mencekam, yang berasal dari aura dingin yang terpancar dari Bagas, tatapannya tajam seolah siap menerkam lawan bicara di hadapannya.
"Bagaimana rasanya tinggal di sini? Apakah nyaman?" tanya Bagas dingin seraya menatap tajam pak Jamok yang tengah duduk di depannya dengan posisi nyaman seraya memainkan kuku kuku di jarinya.
"Ada keperluan apa anda kemari? Bukankah aneh jika anda datang karena merindukan saya?" tanya balik pak Jamok dengan wajah dinginnya.
"Ekhemmm.... Tentu saja, saya rindu melihat anda tinggal di dalam rutan, bukankah melihat anda seperti ini adalah kerinduan saya yang selalu gagal sedari kemarin?" jawab Bagas seraya menyimpan tangan nya di atas meja seraya menautkan jemarinya.
"I know, dan kenyataan nya menteri keuangan kita yang terhebat, bisa kecolongan juga..." ujarnya meledek.
"Tetap saja, pada akhirnya kamu tidak bisa lepas dari kesalahan yang telah kamu perbuat.." ucap Bagas.
"Dilihat dari cara yang tidak ada satupun orang yang datang membantumu sepertinya kamu terbuang dari hm.corp...." ujar Bagas mencoba memprovokasi.
"Heh, cih.... Hm.corp, apa masalah nya?" tanya pak Jamok seraya berdecih pelan.
"Tidak usah pura pura, bukankah hm.corp perusahaan cangkang tempat kalian mencuci uang korup?" tanya Bagas dengan alis yang menukik tajam.
"Tolong jaga hati hati omongan nya pak, karena setiap ucapan pasti ada akibatnya..." jawab Jamok menatap tajam saat Bagas mengungkit tentang hm.corp.
"Hahahaha... Padahal saya mencoba sedikit menggertak, ternyata sudah terprovokasi saja..." ucap Bagas seraya tertawa meledek.
"Tidak perlu di jawab, karena dengan kamu masuk penjara saya jadi tahu tentang keberadaan nya hm.corp.." ujar Bagas seraya beranjak duduk dari kursinya.
"Oh ya satu hal yang harus anda ketahui dengan pertanyaan yang terus bergelut di pikiran anda..."
"Mengapa ajudan setia mu tak kunjung datang untuk mengunjungi mu? Jawaban nya adalah yah, dia terjerat pasal atas tuduhan penghancuran barang bukti, dan kaki tangan seorang penyadap..."
"Dan pasal jeratan untuk anda adalah, kasus korupsi dan kasus penyadapan ilegal..." jelas Bagas panjang lebar yang nyaris membuat mata pak Jamok membulat sempurna.
"Apa maksudmu penyadapan ilegal sialan?!" bentak pak Jamok seraya menarik kerah baju Bagas.
"Ternyata kamu sama saja Bagas, seperti pejabat yang lain, pintar merekayasa bukti..." ujar pak Jamok lagi yang semakin mengeratkan cengkeraman nya.
"Merekayasa bukti, apakah menteri PUPR kita yang terhormat mencoba untuk pura pura amnesia?" tanya Bagas seraya melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan pak Jamok dengan sedikit kasar hingga tubuh pak Jamok yang sudah lemas dapat dengan muda sedikit terhuyung ke belakang.
"Biar saya coba ingatkan lagi, jika saya berhasil mengungkap penyadapan ilegal yang kalian lakukan di belakang saya, dan gilanya saya berhasil terjebak ke dalam jebakan halus kalian..." ujar Bagas seraya mengeluarkan foto foto di tangannya.
Dengan penuh pertanyaan tangan pak Jamok mengambil beberapa lembar foto yang tergelak di atas meja, satu persatu ia mencoba memperhatikan setiap foto yang berada di sana.
"Apa hubungan nya dengan foto foto ini?" tanya pak Jamok yang semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Bagas.
"Tidak usah pura pura pak Jamok, di negara kita yang segalanya terlindungi hukum bisa dengan mudah mengakses siapa saja yang membeli perangkat lunak seperti ini... Contohnya anda yang membeli perangkat penyadap suara dan memasangnya di balpoin favorit saya..." ucap Bagas seraya menyerahkan balpoin yang terhubung dengan alat penyadap suara.
"Bukankah iblis wanita ini yang kamu masukkan ke dalam hidup saya? Tenang saja saat ini dia masih hidup dan masih di luar rutan, karena saya belum berniat menyerahkan nya ke kepolisian, masih ada beberapa yang belum saya selesaikan dengannya...." jelas Bagas lagi.
"Apa maksudnya sialan!! Sejak kapan saya membeli alat seperti ini hah?!!!!" tanya pak Jamok frustasi dengan suara yang lantang.
"Dan sejak kapan saya mengenali wanita semuda ini hah?!!!" tanya pak Jamok lagi seraya menunjuk nunjuk foto Jasmin yang terpotret di dalam nya.
"Semuanya sudah jelas di struk pembelian atas nama pak Jamok, dan sebuah komputer tempat menyadap saya berada di rumah milik Jasmin wanita ini yang bapak kirimkan yang letak tinggal nya hanya terhalang beberapa gedung dari gedung Kemenkeu...." jawab Bagas dengan wajah yang mulai memerah dan dada yang bergemuruh menahan amarah.
"Kapan saya membeli perangkat seperti ini hah?! Tidak pernah!!!" tanya pak Jamok lagi dengan gemuruh amarah yang semakin memuncak.
"Dan sejak kapan saya mengenali wanita yang bernama Jasmin ini?"
"Silahkan liat potret pembeliannya perangkat yang tersusun rapi bersama berkas berkas anda yang lain..." jawab Bagas seraya memperlihatkan layar ponselnya.
Pikiran pak Jamok berputar kembali ke hari di mana Bu Leni datang secara pribadi ke rumah nya untuk mengantar kan beberapa berkas yang butuh di tanda tangani oleh nya, padahal biasanya tentang berkas bagi hasil yang di hasilkan pencucian uang mereka akan di antarkan oleh pegawai kantor perusahaan pak Barren.
'Siallll! Ini jebakan!!!!"
"Bagaimana jika kamu salah menangkap orang? Dan bagaimana jika kamu salah dalam menuduh orang, hanya karena kamu pintar bukan berarti semua dugaan kamu benar!!"
"Saya ingatkan untuk berhati hati dengan anggota keluarga di sekeliling anda...." ucap pak Jamok dengan penuh penekanan.
"Ya, akan saya lakukan..." jawab Bagas seraya berjalan keluar dari pintu ruang penjengukan.
Setelah kepergian Bagas pak Jamok segera meminta salah satu orang yang menjaganya untuk menghubungi pak Barren, karena ia tahu salah satu orang yang berdiri menjaganya adalah orang kiriman pak Barren.
"Cepat kabari pak Barren, sepertinya rencana kita tercampuri masalah asmara putrinya.." bisik pak Bagas pada salah satu orang di sana yang langsung di jawab anggukan kepala oleh sang penjaga.
Tak lama, salah seorang office boy mengantar kan makanan yang di pesan nya sedari tadi, sebuah Iga bakar beserta setumpuk nasi.
"Ah sial!!! meskipun ini iga bakar rasanya berbeda jika tidak langsung di makan di tempat..." umpat pak Jamok, namun tetap memakan makanan nya meskipun sangat sulit ia telan.
Baru saja makan beberapa suapan, secara tiba tiba dadanya berdebar cepat, jantung nya berpacu seolah tengah berlari kencang.
Ia kesakitan hingga memegangi dadanya, wajahnya memerah menahan sakit yang di rasanya.
Prangggh
Piring tempat makan nya tadi terlempar ke bawah seiring tubuhnya yang ambruk, tak ada satupun penjaga yang mendengar permintaan tolong nya karena ia memang tak sanggup untuk berteriak.
Hingga akhirnya ia meregang nyawa sendirian di dalam ruangan tempatnya ia di tahan.
"Sudah saya lakukan dengan baik..." lapor seseorang kepada wanita paruh baya di depannya.
"Bersihkan semuanya, cari kambing hitam jika perlu..." titahnya seraya memberikan sebuah amplop coklat yang sangat tebal.
"Sial!!! Harusnya tidak perlu sampai bertindak begini, terlalu merepotkan....." umpat nya seraya berjalan pergi meninggalkan gedung yang ia singgahi.
saya siap membacanya kembali