"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lumpuhkanlah Ingatanku
Selamat membaca!
Saat waktu telah menunjukkan pukul 09.00, Revan yang terlambat datang baru saja tiba di perusahannya. Kini pria itu terlihat tergesa-gesa memasuki lobi dengan raut wajah yang tegang. Ia bahkan tak sempat menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Pandangannya tetap fokus dan ingin segera sampai ke ruangan tempat dimana Melani berada.
Setibanya di lantai tujuh dengan menggunakan lift khususnya, Revan terus melangkah menuju ruangan Melani untuk menanyakan kepada sekretarisnya itu tentang semua yang telah terjadi dengan dirinya semalam.
Setelah tiba di depan pintu ruangan Melani, entah kenapa timbul perasaan gugup sekaligus takut dalam dirinya. Situasi yang membuat tangannya terlihat ragu saat hendak menarik handle pintu tersebut.
"Ah, aku tidak boleh terlihat begini di hadapan Melani. Sebisa mungkin aku harus tetap tenang!" batin Revan memutuskan.
Pria itu pun menghela napasnya yang terasa berat untuk sekadar membuang rasa gugupnya yang sedang menguasai dirinya. Kini pria itu sudah merasa lebih baik dan mulai menarik handle pintu untuk membukanya. Namun, saat pintu telah terbuka, Revan terkesiap saat kedua matanya tak mendapati keberadaan Melani di ruangannya.
"Dimana Melani? Kenapa dia tidak ada di ruangannya? Sungguh, ini tidak seperti biasanya!" batin Revan yang bertanya-tanya dalam hati.
Pria itu pun kembali menutup pintu ruangan kerja Melani dan mengeluarkan ponsel dari saku jas yang ia kenakan. Revan mulai mencari nama Melani yang berada dalam daftar kontaknya dan segera menghubungi nomor sekretarisnya itu.
Setelah mencoba berkali-kali menghubungi Melani, Revan terlihat kesal karena usahanya lagi dan lagi harus berakhir dengan kegagalan.
"Damn! Nomornya masih tidak aktif. Kenapa dia seperti sengaja tidak mengaktifkan nomor ponselnya? Dasar merepotkan! Berani sekali dia tidak masuk bekerja tanpa izin, aku tak bisa membiarkannya kurang ajar seperti ini! Aku harus menemuinya sekarang." Revan pun mulai menghubungi asistennya yang bernama Beni untuk memberitahu dimana alamat Melani tinggal.
🍂🍂🍂
Rumah yang asri dengan cat berwarna hijau, membuat suasana rumah pagi itu kian hangat dengan matahari yang terlihat gagah menyinari semesta.
Kala itu Diana baru saja keluar dari kamar Melani setelah selesai menyuapi semangkuk bubur untuk mengisi perut putrinya yang terasa sakit. Wanita paruh baya itu kini dapat bernapas dengan lega karena Melani yang ditunggunya dari semalam, akhirnya telah tiba di rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Ya, Melani pulang dengan menutupi semua yang telah menimpanya semalam. Rasa trauma yang membekas dengan kesakitan yang teramat dalam di hatinya. Pagi tadi Melani beralasan pada Diana bahwa ia terpaksa pulang pagi tadi karena dirinya harus menghadiri meeting penting bersama atasannya di Kota Bandung. Bukan hanya itu, Melani juga mengatakan bahwa dirinya disediakan kamar untuk menginap di sebuah hotel sambil menunggu meeting tersebut yang memang baru akan dilaksanakan pada malam hari.
Setelah berhasil mengatakan semua itu, Diana pun tak menaruh curiga, jika saat ini dirinya tengah menutupi apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Bukan hal yang mudah bagi Melani untuk menutupi raut penuh kehancuran di hadapan sang ibu. Namun, karena Melani tak ingin membuat Diana cemas, ia pun berusaha keras untuk menampilkan raut wajahnya yang terlihat wajar seolah tak ada hal apapun yang menimpanya. Walau sebenarnya ia ingin menangis dengan sekeras-kerasnya sambil memeluk tubuh Diana untuk meluapkan segala luka dan rasa sakit yang saat ini bergejolak dalam hatinya.
Kini Diana mulai melangkah menuju dapur untuk meletakkan mangkuk dan gelas yang kotor di sana. Wanita paruh baya itu juga hendak memasak menu makan siang dan makan malam untuk Melani selagi putrinya itu berada di rumah.
"Aku harus masak sayur-sayuran yang bergizi buat menambah tenaga Melani. Kasihan dia terlihat sangat lemas sekali setelah menghadiri meeting di Bandung, mungkin kalau Melani tidak mencemaskan keadaanku di rumah, pasti dia bisa beristirahat dengan cukup selama di Bandung. Ah, anak itu ternyata begitu mencintai Mamanya." Diana begitu bangganya memiliki anak seperti Melani, yang selama ini selalu menuruti perkataannya.
Diana pun bergegas mulai mengolah bahan-bahan untuk dimasak, ia melakukannya dengan penuh cinta untuk memasak makanan kesukaan putrinya yang hari ini tidak masuk bekerja.
Sementara itu sepeninggal Diana dari kamarnya. Melani kembali mengingat tentang keputusannya untuk pulang sebelum Revan terjaga. Walau saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 03.00. Namun, tak menyurutkan keinginan wanita itu untuk pergi meninggalkan unit apartemen yang terasa seperti neraka untuknya.
Perasaan Melani masih sangat trauma dan ketakutan bila kembali mengingat kejadian itu. Bahkan wanita itu memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, walau dirinya tahu bahwa hal yang dilakukannya akan memancing kemarahan Revan.
"Sekarang aku sudah tak peduli dengan kontrak itu! Aku akan melaporkan Revan kepada pihak berwajib atas apa yang telah dilakukannya, tapi walau begitu aku tetap tidak akan memberitahukan hal ini kepada Mama." Dengan air mata yang kembali berlinang dari kedua sudut matanya, Melani mengatakan semua itu dengan isak tangisnya yang terdengar begitu perih.
"Mah, maafin Melani ya karena harus berbohong sama Mama, tapi jujur Mah, aku sebenarnya berat dan tertekan karena harus menyimpan masalah ini seorang diri, tapi di sisi lain aku juga tidak mungkin menceritakan kejadian semalam pada Mama karena aku tidak mau, kalau Mama sampai kenapa-napa setelah mengetahui kejadian yang menimpaku semalam, jadi biarkan Melani menyimpan masalah ini rapat-rapat dari Mama," batin Melani dengan raut wajah yang terlihat pucat dan begitu memprihatinkan.
Sudah empat jam lamanya Melani berdiam diri di dalam kamar, tapi kedua matanya tidak mau terpejam karena bayangan semalam masih terus menari-nari dalam pikirannya. Bahkan bayangan itu membuat Melani semakin ketakutan dan mengusik ketenangannya saat ini.
"Ya Tuhan, rasanya aku lelah bila harus mengingat kejadian semalam. Tolong bantu aku untuk dapat melupakan semuanya, Tuhan. Aku tidak ingin terkurung dalam rasa takut ini. Bahkan kalau boleh aku ingin lumpuhkan saja ingatanku ini Tuhan, agar aku tidak perlu mengingat tentang Revan dan kejadian semalam itu," batin Melani penuh luka di dalam hatinya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak ya.
Baca juga : Suamiku Calon Mertuaku