NovelToon NovelToon
Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan

Status: tamat
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Abil Rahma

Alisha pura-pura menerima perjodohan dari ke dua orang tuanya. Padahal ia menjadikan saudara sepupunya sebagai umpan untuk menggantikan dirinya menemui seseorang yang akan di jodohkan dengan Alisha.

Ayesha yang tak lain adalah sepupu Alisha pun menerima tawaran sepupunya, karena alasan tertentu.


Siapa sangka ternyata, seseorang yang di jodohkan dengan Alisha pun memiliki ide yang sama gilanya dengan Alisha.

Angkasa Alfarisi meminta saudaranya Adnan untuk menemui wanita yang akan di jodohkan dengannya, dan meminta Adnan supaya membuat wanita itu jatuh cinta dengannya, karena Angkasa mempunyai wanita idaman meskipun belum memilikinya.


Akan seperti apa nantinya ketika sandiwara mereka terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Cantik

Seorang gadis duduk sendirian di sebuah pesta pernikahan, dia menggerutu kesal, karena sedari tadi kedua orang tuanya sibuk menyapa para rekan bisnis mereka bahkan melupakan anak gadisnya.

"Tau gini tadi mending di rumah, baca novel terbaru Mama Nadia," gumamnya sambil meletakan gelas yang isinya baru saja dia habiskan. Menghembuskan nafas kasar, mencoba menghilangkan kebosanan yang melanda.

"Boleh gabung?" tiba-tiba suara seseorang mengalihkan atensinya.

"Kak Rangga, silahkan Kak," jawabnya sabil tersenyum.

Rangga adalah kakak tingkat Alisha di fakultas kedokteran, mereka saling mengenal karena masuk dalam satu organisasi yang sama.

"Kok sendiri?" tanya pemuda itu, pemuda bermata sipit, sepertinya dia keturunan Tionghoa, tapi entah Yesha tidak tahu dan tidak mau tahu.

"Enggak kok, sama Papi, Mami Kak, Kakak sendirian?" tanyanya.

"Enggak juga, tu mereka asik ngobrol, sampe lupa sama anak sendiri," Rangga tersenyum, dia menunjuk kedua orang tuanya yang sama sibuk seperti kedua orang tua Yesha.

"Biasa Kak, mereka ketemu sama rekan bisnis, ya yang di bahas bisnis dan aku enggak ngerti sama sekali dan sepertinya kita satu server," Yesha tersenyum, mereka berdua memang sama, kedua orang tuanya pembisnis tapi mereka justru memilih jalan lain yang berbeda dari kedua orang tua mereka.

"Kamu tidak tertarik dengan bisnis?" tanya Rangga, karena dirinya pun sama.

Yesha menggeleng, "Pusing Kak, liat Papi bekerja aja aku pusing sendiri, banyak tumpukan kertas yang harus di baca dan di pelajari," jawabnya. Yesha tidak tahu saja, jadi dokter pun sama pusingnya, apalagi mereka berhubungan langsung dengan nyawa.

Rangga tersenyum, baru saja dia akan menimpali ucapan Yesha, tiba-tiba deheman seseorang mengalihkan atensinya.

"Ehem,"

Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.

"Kak,"

"Pak,"

Mereka berdua berucap bersamaan, Rangga mengernyitkan dahi saat mendengar panggilan Yesha pada orang yang ada di hadapannya ini.

"Kakak di sini juga?" tanya Yesha.

Sedangkan pemuda itu hanaya melempar senyum, lalu duduk diantara mereka tanpa permisi. Pemuda itu adalah Adnan, dirinya juga menghadiri acara pernikahan anak dari rekan bisnis Ayahnya itu.

Rangga merasa tidak nyaman duduk bersama orang yang dia hormati di kampusnya. "Maaf Pak, Yesha, kalau gitu aku duluan ya," pamitnya. Rangga tahu betul siapa Adnan, dosen yang muda tampan dan banyak di perbincangkan oleh mahasiswi itu, apalagi pesona seorang Adnan yang ramah pada semua mahasiswa, membuat dia famous bahkan di luar fakultas dia mengajar.

"Lho kenapa Kak?" tanya Yesha yang tidak mengerti.

"Mama sama Papa mau pulang katanya, baru aja ngirim pesan," kilahnya. Padahal dia merasa tak enak hati, apalagi saat melihat tatapan Adnan yang seakan menyuruhnya untuk pergi, dia bahkan bisa membaca sedekat apa Adnan dengan Yesha.

Yesha mengangguk lalu membiarkan Rangga berlalu.

"Siapa?" tanya Adnan setelah Rangga pergi.

"Kakak tingkat," jawab Yesha, "Kakak kok di sini juga?" tanyanya.

Adnan mengangguk, "Yang punya hajat rekan bisnis Ayah, karena Ayah sama Bunda tidak bisa hadir, jadi aku gantiin," jawabnya.

"Kamu cantik malam ini, terlihat lebih dewasa," celetuk Adnan, memandangi wajah Yesha sambil tersenyum.

Yesha tersenyum malu-malu, "Kalau bukan karena paksaan dari Mamiku, aku enggak mau di dandani kaya gini Kak," memang sebelum berangkat, Mami mendandani Yesha penuh semangat, padahal gadis itu sudah menolaknya, karena Yesha jarang sekali berdandan.

"Tapi lebih cantik tanpa make up," ucap Adnan, masih mengomentari riasan di wajah Yesha.

"Kakak bisa aja," Yesha tersenyum canggung.

"Udah makan?" tanyanya karena dia melihat di atas meja hanya ada gelas kosong.

Yesha menggeleng, dia memang belum bernafsu untuk mengambil makanan, bahkan tidak berniat mengambil makanan.

"Tunggu, biar aku ambil, mau apa?" Adnan memberi tawaran. Dia berdiri dari duduknya.

"Kita ambil bareng aja," Yesha ikut berdiri berjalan bersisian dengan Adnan.

Setelah merasa cukup, mereka pun kembali ke tempat tadi, menikmati makanan tersebut sambil sesekali mengobrol ringan.

"Kakak ternyata dosen ya, aku baru tahu," ucap Yesha di sela-sela menikmati makanan.

"Waktu itu aku percaya gitu aja kalau Kakak masih kuliah, betapa bodohnya aku," Yesha tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Adnan tersenyum, gadis ini benar-benar berbeda dengan yang lain. Di saat mahasiswi kebanyakan mengagumi dirinya bahkan tak segan untuk mendekatinya, justru Yesha tak sedikitpun mengenalinya. Kekagumannya terhadap gadis dihadapannya itu makin bertambah.

"Sudah berapa lama Kakak jadi dosen di sana?" tanya Yesha karena Adnan hanya diam tidak menimpali ucapannya.

Adnan menelan sisa makanan di mulutnya, "Baru dua tahun ini, itu pun karena permintaan Dekan yang ternyata mengenal baik Ayah. Sebenarnya aku lebih suka jadi pembisnis," jawabnya panjang lebar. "Tapi semenjak ada kamu di kampus, jadi lebih semangat," tambahnya.

Wajah Yesha terlihat bersemu, dia pun memalingkan wajahnya, takut jika Adnan menyadari rona merah di wajahnya.

"Kenapa kamu tidak masuk fakultas bisnis aja, biar kita sering ketemu?" sepertinya Adnan tidak menyadari perubahan di wajah Yesha.

Yesha tersenyum canggung, "Aku enggak suka bisnis Kak, ribet," jawabnya.

"Belum di coba udah bilang ribet. Bukannya kalau jadi dokter lebih ribet ya, pendidikan enggak cukup empat tahun di kampus, dan masih harus koas di rumah sakit," Adnan memaparkan unek-uneknya.

"Tapi aku suka Kak, apalagi bertemu banyak orang , menyapa, menyemangati para pasien dan masih banyak lagi, sepertinya lebih seru dari pada pembisnis," Yesha tak mau kalah, ia juga mengeluarkan pendapatnya.

Adnan mengangguk, "Kenapa tidak kuliah di luar negeri aja?" Adnan mengalihkan topik pembicaraan.

"Maunya sih gitu, tapi orang tuaku tidak mengijinkan, apalagi aku perempuan, hidup jauh dari orang tua pasti sangat rawan," jawabnya.

"Bener juga sih, kalau kamu di luar negeri kita juga tidak akan saling mengenal, dan aku tidak mau itu terjadi,"

Yesha mengerutkan dahi, dia tidak faham dengan ucapan Adnan, tapi belum juga bertanya ponselnya lebih dulu berdering.

"Aku angkat dulu ya Kak," ucapnya, lalu menerima panggilan itu.

"Iya Mi, tunggu di sana aja, aku ke sana sekarang," ucapnya dengan orang di seberang sana, lalu ia mematikan panggilan itu, menaruh ponselnya kembali ke dalam tas.

"Maaf Kak, aku harus pulang, kedua orang tuaku udah nunggu di lobby," ucapnya lalu berpamitan pada Adnan.

"Ayo bareng aja, aku juga mau pulang," Adnan berdiri, lalu ke duanya keluar ballroom hotel yang menjadi tepat acara pernikahan itu.

"Sha," Adnan memanggil Yesha karena sejak tadi mereka hanya diam. Ya, Adnan memanggil Yesha dengan sebutan berbeda dari orang lain, entah kenapa Yesha tidak menolak akan panggilan itu.

Yesha menoleh, "Iya Kak, kenapa?" tanyanya.

"Apa kamu nantinya mau menikah disaat masih kuliah? Em, maksudku karena perjodohan ini," tanya Adnan, dia bertanya seperti itu mengingat Yesha kuliah di bidang kedokteran yang membutuhkan banyak waktu untuk belajar dan praktek.

Deg

Mendadak Yesha menghentikan langkah.

_________

Maaf ya readers semua, aku sepertinya hanya bisa up satu episode aja, nulisnya aja nabung kak, karena kalo malem udah langsung tepar dan gak sempet nulis🤧.

1
Febby fadila
alisha ini terlalu kekanakan lebay nggak bisa dewasa dikit, suka merajuk dengan hal2 yg nggak benar
Febby fadila
lebay pikirannya kek anak kecil nggak ada dewasa² nya
Febby fadila
salah paham lagi
Febby fadila
jangan kasih kendor bang 🤣🤣🤣
Febby fadila
ketagihan apa nafsu tu bang astaga 🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
akhirnya belah duren juga tp kurang panas dan hot 🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
sosweetnya 🥰🥰🥰
Febby fadila
giliran suami yg bohong kamu ngamuk tp klw kamu yg bohong harus adnan mengalah dan minta maaf,
Febby fadila
lagian si alisha udah nikah tp masih saja temanan sama para geng nya klw perempuan si nggak masalah tp kan banyak yg cowok juga, kebiasaan buruk nggak pernah berubah,
Febby fadila
lanjut
Febby fadila
aku si nggak suka sama si alisha ini, terlalu lebay dan egois
Febby fadila
ciiihhhh sok jadi korban kamu alisha makax klw nggak mau sakit hati tu jangan kekanakan, temuin aja sendiri, ingat situ yg maksa yesha buat gantiin kamu, lebay banget,,, egois maunya menang sendiri
Febby fadila
alisha kamu itu nggak bisa apa dewasa dikit seperti mama kamu dulu padahal papa kamu jauh lbih buruk dari Adnan tp mama Icha justru nggak pernah peduli dan sellu sabar, dengan pikirannya yg dewasa
Febby fadila
sesabar dan seikhlas itu kamu t
yesha, semoga kamu bakalan dapat ganti yg lebih baik dari Adnan ya
Febby fadila
mulai posesif ini bang Adnan 🤣
Febby fadila
lanjut semoga dengan adanya hukuman ini alisha bisa sadar
Febby fadila
aku si berharap klau alisha waktu balap langsung kecelakaan biar dia sadar diri, makin hari makin kek anak kecil, durhaka sama suami
Febby fadila
nggak suka sama sikap alisha egois menerutku
Febby fadila
jangan egois sha dosa loh kalau kamu nolak keinginan suami
Febby fadila
alisha ini kayak anak yg nggak pernah diajarin agama sama ortunya, kelakuannya durhaka sama suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!