Putri harus menjadi yatim piatu saat usianya baru 5 tahun. Sesuai amanat papanya, Putri dititipkan pada sahabatnya yang bernama Fadli. Ini disambut baik oleh Fadli dan Kirana yang memang sangat menginginkan anak perempuan. Mereka sendiri telah dikaruniai 2 orang anak laki-laki bernama Fahri dan Farhan.
Kasih sayang ayah, bunda serta kedua kakaknya membuat Putri tumbuh menjadi anak yang pintar dan ceria. Seiring berjalannya waktu perasaan lain mulai tumbuh di hati Putri pada salah satu kakaknya.
Banyak pria yang mengejar-ngejar Putri namun hanya ada satu nama di hatinya. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Putri? Apakah dia bisa mendapatkan cinta pertamanya?
Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bang Toyib
Sehabis makan malam, Putri langsung masuk ke kamarnya. Dia harus membuat surat permintaan maaf kepada pak Dayu. Berulang kali dia menyobek kertas di bukunya kemudian meremasnya dan membuang ke sembarang arah. Di kamarnya kini berserakan bulatan kertas hasil karyanya.
Setelah setengah jam lamanya mengulang-ngulang tulisannya, Putri mulai dapat menyusun surat permintaan maafnya dengan lancar. Ini adalah surat permintaan maaf kelima yang dibuatnya sejak duduk di kelas 11. Sebelum pak Dayu, sudah ada empat guru lain yang menjadi korban kenakalan Putri.
Farhan masuk ke dalam kamar Putri. Sesaat keningnya berkerut melihat remasan kertas di lantai. Satu per satu dia memunguti kertas tersebut kemudian memasukkannya ke dalam tempat sampah. Setelah itu merebahkan tubuhnya di kasur.
“Kamu lagi bikin apa?”
“Surat permintaan maaf buat pak Dayu.”
“Sekalian bikin surat cinta juga buat pak Dayu,” Farhan terkekeh.
Putri tak menghiraukan perkataan kakaknya. Pikirannya sedang berkonsentrasi menulis kalimat demi kalimat menyayat hati untuk menunjukkan penyesalannya. Akhirnya selesai juga surat permintaan maafnya. Setelah membubuhkan tanda tangan, dia melipat surat dan memasukkannya ke dalam amplop.
“Udah beres?”
Putri mengangguk. Farhan melambaikan tangannya meminta Putri mendekatinya. Setelah membereskan buku pelajaran untuk esok, Putri naik ke kasur lalu duduk bersila di samping kakaknya.
“Dek, kamu tuh sebenernya kenapa sih? Semenjak naik ke kelas 11 ada aja yang bikin kamu dipanggil guru BK. Kamu sengaja ya mau bikin kakak susah?”
“Ngga kak.”
“Jujur aja dek. Adek marah sama kak Han? Makanya selalu bikin ulah di sekolah?” Putri hanya menggeleng.
“Atau kamu marah sama ayah dan bunda karena mereka terlalu sibuk?”
“Ngga.”
“Adek marah sama kak Ri karena ngga pulang-pulang?”
Kali ini Putri hanya diam, tidak mengiyakan atau menyanggahnya. Tebakan Farhan benar, sumber masalahnya adalah Fahri.
Dasar kutu kupret, bikin susah orang aja nih bang Fahri.
“Kamu marahnya sama kak Ri, kenapa ngelampiasinnya ke kak Han? Denger ya dek, sekarang tuh kak Han dikasih tanggung jawab sama ayah untuk menjaga kamu dan semua penghuni di rumah ini. Kak Han juga banyak tugas di kampus.
Kamu tahu kan sekarang kak Han lagi nerusin S2. Pelajarannya tambah susah, tugasnya tambah banyak. Gimana kakak mau konsen kuliah kalau kelakuan kamu selalu bikin kak Han pusing. Kamu ngga kasihan sama kak Han? Atau jangan-jangan kamu ngga sayang ya sama kakak?” tutur Farhan sambil memasang wajah sendu.
“Ngga kok, Putri sayang sama kak Han. Maafin Putri ya kak, Putri janji ngga akan bikin kak Han pusing lagi. Putri bakal anteng di sekolah, ngga macem-macem lagi.”
“Janji?”
Farhan menyodorkan jari kelingkingnya. Putri mengangguk dengan cepat seraya menautkan jari kelingkingnya pada jari Farhan.
“Kak Han.”
“Hemm.”
“Kak Ri kapan pulang sih? Putri sebel sama kak Ri. Udah kaya bang Toyib aja tiga kali puasa, tiga kali lebaran ngga pulang-pulang.”
Farhan berusaha menahan tawanya. Dia harus tetap memasang wajah mellow untuk melunakkan hati adiknya.
“Kak Ri sengaja ngga pulang biar bisa cepet beresin kuliahnya di sana. Kamu sabar aja ya dek, ngga lama lagi kak Ri bakal pulang kok. Nanti kalau dia pulang, terserah deh adek mau ngapain dia, kak Han dukung seratus persen.”
“Bener kak?”
Mata Putri berbinar-binar. Bukan karena mendengar kepulangan Fahri yang sebentar lagi. Tapi lampu hijau yang diberikan Farhan untuknya membalaskan dendamnya pada kakak sulungnya itu. Sekilas Farhan melirik pada Putri. Terlukis senyum licik di wajah adiknya ini. Farhan bersorak dalam hati.
Yess, penderitaan gue bakal berakhir. Siap-siap aja lo bang dikerjain Putri hahahaha..
“Bener sayang. Ya udah sekarang tidur, kakak temenin,” Farhan menepuk kasur di sampingnya. Dengan cepat Putri merebahkan diri di samping kakaknya.
“Kak Han.”
“Hem.”
“Makasih ya kak Han ngga ikutan kuliah di London kaya kak Ri. Putri ngga kesepian karena ada kak Han di sini.”
Farhan menolehkan wajahnya pada Putri, kemudian merubah posisi tidurnya miring menghadap adiknya sambil menyangga kepala dengan tangannya.
“Kak Han sengaja ngelanjutin kuliah di sini, di kampus yang sama. Kamu tahu kan kampus kak Han itu salah satu kampus terbaik di Asia Tenggara. Jadi buat apa kak Han jauh-jauh ke London kalau bisa menimba ilmu dengan baik di sini. Lagi pula mana tega kak Han ninggalin Putri sendirian. Makanya Putri jangan bikin susah kak Han ya,” terangnya panjang lebar.
“Iya kak. Maafin Putri ya.”
Farhan mengangguk. Senyum terbit di wajah adiknya. Putri senang Farhan masih ada di sisinya saat Fahri dan kedua orang tuanya tak bersamanya. Dia mulai memejamkan matanya. Farhan mengusap punggung dan kepala Putri untuk membuatnya cepat tertidur.
🌹🌹🌹
Putri sedang asik menikmati pancake kentang buatan bi Juju ketika Farhan bergabung di meja makan. Dia bingung melihat Putri yang belum bersiap ke sekolah padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.
“Kamu kok belum siap-siap?”
“Sekolah libur kak.”
“Libur apaan? Sekarang kan bukan tanggal merah.”
“Hari ini ada try out buat anak kelas 12, makanya sekolah diliburin.”
“Ooh..” Farhan hanya ber’oh’ ria.
Farhan mengambil beberapa potong pancake kentang, menyiramnya dengan mapple sirup lalu menyuapkannya dengan cepat.
“Kakak hari mau ke kampus nyerahin tugas, kamu mau ikut ngga?” tawar Farhan.
“Emang boleh kak?”
“Boleh, asal kamu ngga bikin huru hara aja di sana.”
“Ish,” Putri menyebikkan bibirnya.
“Kira-kira di kampus kak Han banyak cowo gantengnya ngga? Ya kaya kak No, kak Ren atau kak Agam gitu.”
“Kalau soal itu kayanya susah dek. Secara cuma kak Han cowo terganteng di kampus itu huahaha.”
“Ih pede gila kak Han.”
“Kalo ngga percaya ikut aja ke kampus. Buktikan dengan mata kepala sendiri kalau cuma kak Han satu-satunya cowo ganteng di sana.”
“Ok Putri ikut, awas aja kalo bohong. Putri siap-siap dulu ya.”
Putri bergegas meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Saat baru menaiki tangga terdengar suara Farhan.
“Jangan cantik-cantik dandannya dek! Di sana cowonya buas-buas!”
Putri tak menghiraukan perkataan kakaknya. Dengan cepat dia masuk ke kamar, memilih-milih baju sebentar. Akhirnya pilihannya jatuh pada celana jeans hitam dan T-Shirt longgar berlengan pendek warna hijau tosca. Putri memoles wajahnya dengan bedak tipis, mengoleskan lipgloss warna pink kemudian menguncir rambutnya. Tak lupa dia menyemprotkan parfum. Putri mengambil tas selempangnya lalu melenggang keluar kamar menuju ruang tamu menunggu Farhan selesai bersiap-siap.
Tak lama Farhan turun mengenakan blue jeans dan kaos polo berwarna abu. Dia menyanggakan tas ranselnya di lengan sebelah kanan. Sejenak dia melihat penampilan adiknya. Walaupun hanya dipoles bedak dan lipgloss kecantikan Putri tetap terpancar. Farhan berjalan mendekati Putri lalu menarik ikat rambutnya hingga rambutnya yang panjang sebahu tergerai indah.
“Ih kenapa dilepas iketannya,” protes Putri.
“Kakak ngga suka rambut kamu diiket kaya gitu. Itu leher kamu kelihatan kemana-mana. Kan kakak udah bilang cowo di kampus kakak buas-buas, ngga bisa lihat cewe cantik dikit langsung disosor. Lagian kamu kapan mau pake hijab? Masa cuma ke sekolah doang pakenya. Istiqomah dong dek, pake seterusnya di mana aja.”
“Putri kan belum siap kak. Yang penting baju yang Putri pake kan tetep sopan.”
“Terserah kamu lah dek.”
Farhan melenggang meninggalkan Putri. Dengan cepat gadis itu menyusul lalu naik ke atas Pajero silver milik kakaknya. Tak lama roda kendaraan melaju meninggalkan kediaman mereka.
🌹🌹🌹
**Kira-kira kampus mana ya yang cowoknya buas-buas dan berwajah standar🤔😂
Jangan pernah bosen ya buat ninggalin jejak kalian😘**