mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.Mantan kampret
Sila menatap pantulan dirinya di cermin toilet kantor dengan napas memburu. Tangannya mengepal kuat di sisi rok Span kerjanya. Baru tiga puluh menit menginjakkan kaki di gedung pencakar langit ini, tensinya sudah naik ke ubun-ubun. Kalau bukan karena tagihan kosan yang menumpuk dan tagihan paylater nya, Sila bersumpah lebih baik rebahan di kosan nya sambil menulis novel sepanjang hari daripada harus berdiri di sini.
Menjadi asisten pribadi adalah pekerjaan terakhir yang paling tidak diinginkan Sila di dunia ini. Sifat aslinya yang malas, tidak suka diatur-atur, ditambah sumbu pendeknya yang gampang meledak adalah kombinasi bencana untuk pekerjaan ini. Sialnya lagi, bos barunya-CEO di perusahaan ini-adalah Sagara. Mantan kekasihnya dari zaman SMA yang putusnya diwarnai acara siram jus strawberry ke muka.
Tok! Tok! Tok!
"Sila? Kamu pingsan di dalam? Atau lagi merenungi nasib karena harus setiap hari melihat ketampanan saya?"
Suara meledek nan tengil itu terdengar dari balik pintu toilet luar. Sila memejamkan mata, menahan diri agar tidak menonjok pintu atau bahkan mendobrak pintu toilet itu. Ia membuka pintu kamar mandi dengan sentakan kasar,saat pintu toilet itu terbuka ia langsung berhadapan dengan sagara yang sedang bersandar di dinding sambil memainkan pena kerja nya. Wajah cowok itu dipasang se-rese mungkin dengan senyum miring yang sangat ingin sekali Sila cakar.
"Saya baru di toilet lima menit, pak sagara yang terhormat," desis Sila, menekankan kata 'Pak' dengan penuh penekanan.
"Oh, ya? Rasanya lama banget. Maklum, semenjak jadi CEO, waktu saya sangat berharga," sahut sagara santai sambil berbalik badan, berjalan menuju ruangannya yang super luas. "Ayo cepat, asisten baru. Tugas pertama kamu sudah menanti."
Sila menghentakkan kakinya kesal, mengekor di belakang sagara. Begitu masuk ke ruangan, sagara menunjuk ke arah meja kerja kecil di sudut ruangan yang dipenuhi oleh tiga tumpuk map tebal.
"Tolong rangkum semua laporan keuangan dari divisi pemasaran tiga tahun terakhir. Ketik ulang, bikin poin-poin yang rapi, lalu taruh di meja saya sebelum jam makan siang tiba," ucap sagara sambil mendudukkan diri di kursi kebesarannya yang empuk.
Mata Sila membelalak. "Tiga tahun terakhir? Diketik ulang? Ini kan sudah ada print out-nya! Kenapa gak disuruh divisi pemasaran aja yang rangkum? Gak efisien banget sih kerjaan kamu!" Sila langsung protes, melupakan formalitas kerja. Sifat gak mau disuruh-suruh dan emosinya langsung keluar.
Bukan nya merasa bersalah atau marah sagara malah tertawa kecil, menyandangkan punggungnya dengan santai. "Hei, Sila sayang... eh, maksudnya Sekretaris Sila. Yang jadi CEO di sini siapa? Saya, kan? Tugas kamu itu ngerjain apa yang saya suruh, bukan balik nanya atau protes."
"Mau saya suruh kamu potong rumput ke,nanjak ke itu terserah saya."
"Tapi ini nyari kerjaan namanya! Males banget!" ketus Sila tanpa sadar meluapkan emosinya.
"Kalau malas, silakan angkat kaki. Tapi ingat ya, surat penalti kontrak kerja kamu ada di tangan saya. Kamu harus bayar tiga kali lipat gaji kalau resign di bulan pertama," Aris mengedipkan sebelah matanya dengan tampang paling menyebalkan sedunia.
"Oh, satu lagi. Saya haus. Tolong buatkan kopi hitam, gulanya setengah sendok teh, airnya jangan terlalu panas, dan aduk nya harus berlawanan arah jarum jam sebanyak 18 belas kali. Gak boleh lebih, gak boleh kurang."
Sila mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang sudah memuncak. Rasanya ia ingin melempar map tebal di depannya ini tepat ke hidung bangir Sagara.
"Ada yang mau didebatkan lagi, Asisten Sila?" tanya sagara dengan nada memprovokasi.
"Gak ada, Pak sagara yang terhormat," jawab Sila lewat celah giginya yang merapat. Ia berbalik dengan kasar, menghentakkan kaki menuju pantry dengan bayangan di kepalanya:
memasukkan sesuatu yang ajaib ke dalam kopi mantan tengil nya itu.
"Sila jangan harap kamu bisa memasukan sesuatu yang aneh aneh ke kopi saya,cctv ada dimana mana sila"Suara entah dari mana asalnya itu membuat sial emosi.
Ia menumpahkan kopi itu kemudian membuat kopi baru untuk bos nya yang kaya babi itu.
Hari pertama baru dimulai, dan Sila sudah tahu, ini akan jadi perang dunia di dalam kantor.
Kedepan nya ia akan setiap hari melihat wajah
Curut sialan itu .