Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Haryo mukanya merah padam karena merasa dilecehkan. "Bocah brengsek! Kamu benar-benar mencari mati!"
"Papa... ada apa?"
Suara mungil Amel terdengar dari pintu depan.
Amel berjalan keluar sambil mengucek matanya yang masih sembap, mengenakan baju sederhana yang sudah agak kusam.
Begitu melihat Siska, mata Amel membelalak ketakutan. Ia langsung berlari dan bersembunyi di belakang kaki Mahardika, menggenggam erat celana ayahnya.
"T-Tante Siska..." bisik Amel gemetar.
Siska melirik Amel dengan tatapan dingin dan jijik. "Cepat bawa anak pembawa sial itu pergi, Mahardika! Melihat mukanya saja membuatku mual!"
Mahardika berjongkok, mengusap kepala Amel lembut dan membisikkan kata-kata menenangkan. "Jangan takut, Sayang. Ada Papa di sini."
Setelah memenangkan hati putrinya, Mahardika kembali berdiri tegak menatap kedua orang di depannya dengan tatapan tajam.
"Siska, Haryo... dengarkan ucapan saya baik-baik. Hari ini kalian boleh pergi. Tapi ingatkan suami baru kakakmu dan siapa pun yang berdiri di belakang kalian... tanah ini milik Amel. Jika kalian berani membawa alat berat ke sini nanti sore, aku pastikan kalian sendiri yang akan terkubur di bawah reruntuhannya!" kata Mahardika dengan nada tenang namun dengan ancaman mutlak.
"K-kita lihat saja nanti sore, Bocah! Kamu bakal berlutut memohon di kakiku!" kata Haryo sedikit gemetar melihat aura aneh di sekitar Mahardika, tapi tetap berusaha terlihat sombong.
"Ayo pergi, Mas Haryo! Orang gila ini tidak bisa diajak bicara!" ajak Siska, menarik lengan Haryo masuk kembali ke dalam sedan mewah mereka.
Sedan hitam itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah dengan terburu-buru.
Mahardika menatap kepergian mobil itu dengan mata tajam.
Suasana pekarangan rumah itu perlahan kembali tenang setelah mobil sedan mewah milik Siska dan Haryo berlalu pergi.
Mahardika menunduk, menatap putri kecilnya yang masih memeluk kakinya dengan erat.
Dengan penuh kelembutan, Mahardika menggendong Amel.
"Sayang, kamu lapar? Kita sarapan sama-sama ya," kata Mahardika sambil tersenyum manis.
"Baik, Papa," jawab Amel sambil mengangguk pelan.
Mahardika membawa Amel masuk ke dapur kecil mereka yang sudah dibersihkan.
Ia menyalakan kompor tua dan menyiapkan sebutir telur ayam kampung yang sempat ia beli dari warung Pak RT tadi pagi.
Hari ini lauk mereka sangat sederhana, yaitu telur ayam kampung yang digoreng mata sapi dengan sedikit taburan garam.
Mahardika meletakkan piring berisi nasi hangat dan telur goreng itu di atas meja kayu.
Meskipun sederhana, mereka makan dengan sangat khidmat.
"Enak, Sayang?" tanya Mahardika menatap Amel yang makan dengan lahap.
"Enak banget, Pa! Apalagi makan sama Papa," sahut Amel ceria dengan mulut yang sedikit penuh nasi.
Mahardika tertawa pelan, hatinya tersentuh. "Makan yang pelan-pelan ya, Nak."
Namun, saat mereka sedang menyantap makanan, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara jeritan dan tangisan histeris seorang wanita.
"Papa... siapa itu yang menangis?" tanya Amel berhenti dari makannya.
"Entahlah, Amel cepat makan sayang, Papa tungguin," kata Mahardika menenangkan putrinya seraya mengusap lembut kepala Amel.
Amel mengangguk dan melanjutkan makan nasi dan telurnya hingga habis.
Setelah mereka selesai makan dan Mahardika merapikan piring, suara tangisan di luar justru semakin menjadi-jadi dan terdengar makin kencang.
Warga desa tampak berlarian melintasi depan rumah mereka menuju ke arah rumah di ujung lorong.
Karena penasaran, Mahardika mencari sumber suara tersebut sambil menggendong Amel.
Mereka berhenti depan sebuah rumah bertembok bata yang cukup besar. Halaman rumah itu sudah dipenuhi oleh warga desa yang berbisik-bisik dengan raut wajah duka.
"Tidak! Anakku belum mati! Dia belum mati!" pekik Ibu Darti, tetangga lama Mahardika.
Wanita paruh baya itu menangis histeris di teras rumahnya sambil memangku tubuh seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang terbaring kaku dan pucat pasi.
Ibu Darti adalah orang yang sama yang dulu sangat ingin mengusir Mahardika dari desa.
Dulu, saat Mahardika terbaring sakit-sakitan, Ibu Darti selalu menghasut warga dan menyebut penyakit Mahardika adalah kutukan yang membawa petaka bagi desa mereka.
Beberapa warga mencoba menenangkan wanita itu. "Bu Darti, ikhlas Bu... Napas dan detak jantung Rendy sudah tidak ada sejak tadi..."
"Nggak mungkin! Anakku cuma pingsan! Rendy, bangun Nak! Jangan tinggalkan Ibu!" jerit Bu Darti makin histeris, memeluk erat tubuh anaknya yang sudah tidak bergerak.
Mahardika melangkah mendekat ke kerumunan warga.
Mengabaikan pandangan heran dari beberapa tetangga yang kaget melihatnya masih hidup dan sehat, Mahardika mengaktifkan mata keemasannya.
Dalam pandangan tembus pandangnya, Mahardika bisa melihat dengan jelas struktur dalam tubuh anak Bu Darti.
Jantung anak itu memang tampak berhenti, namun di dalam meridian utamanya, masih ada sisa aliran kehidupan yang sangat tipis.
Ada gumpalan dahak dan racun makanan yang menyumbat jalur pernapasan di bagian dadanya, membuat napasnya tertahan total.
"Anak ini belum meninggal. Jalur napasnya tersumbat total hingga terlihat seperti mati suri. Tapi jika dibiarkan lima menit lagi tanpa pertolongan, dia benar-benar akan mati." batin Mahardika.
Mahardika maju satu langkah melintasi kerumunan warga. "Dia belum mati. Biarkan saya memeriksanya."