NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Taksi..." panggil Bulan, tangannya melambai ke arah taksi yang kebetulan melintas. Niatnya untuk memesan taksi online pun urung lalu memasukkan handphone ke dalam tas.

Pintu taksi baru saja ditutup rapat oleh Bulan yang sudah duduk di kursi belakang sopir. Sopir itu mengarahkan kendaraan ke alamat yang Bulan katakan. Kemudian keluar dari area depan restoran, tanpa Bulan sadari, sebuah mobil yang ia tunggu masuk dan berhenti di depan restoran.

Dia adalah Bintang segera melompat turun dari kendaraan, lalu terburu-buru masuk ke dalam restoran. Namun, wajahnya seketika panik saat pandangannya tertuju ke arah meja pojok tempat mereka duduk tadi, bangku tersebut sudah kosong bahkan sudah dibersihkan hingga tidak ada apapun di atas sana.

"Permisi Mbak..." ucap Bintang mendekati karyawan yang sedang mengelap meja.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan wanita itu ramah.

"Maaf, tadi ada wanita yang makan di sini? Kira-kira kemana ya?" tanyanya, berharap Bulan masih di sekitar sini.

"Saya tidak tahu kemana perginya Tuan..." Pelayan itu, menjawab bahwa tamu di meja itu sudah pergi setelah adzan magrib.

Dengan langkah lebar Bintang menuju kasir, tapi yang membuatnya syok, tagihan makan sore pun sudah Bulan bayar.

"Mati gue!' gumam Bintang, perasaan malu tersirat di wajahnya padahal tidak ada yang bersangkutan di tempat itu.

"Ada apa Tuan?" Tanya kasir bingung rupanya gumaman Bintang terdengar olehnya.

"Tidak," hanya itu jawaban Bintang. Dengan perasaan campur aduk, ia kembali keluar, pandangannya menyapu ke segala arah, karena tidak ada tanda-tanda keberadaan Bulan di tempat itu, Bintang pun memutuskan untuk pulang.

**********

Sementara Bulan, sudah sampai di rumah langsung disambut pelukan oleh Talita, rasa lelah seketika hilang. Tidak ada siapapun di ruang tamu selain Lita, mungkin Entin sedang membantu bibi menyiapkan makan malam.

"Talita lagi nonton apa?" Tanya Bulan tapi seketika menemukan jawaban saat menatap ke layar televisi.

"Nonton film kartun, Mah."

"Eemmm... bagaimana keadaan Bunda sayang..." Bulan khawatir, Bintang meninggalkan dirinya karena Mentari kambuh.

"Bunda bobo-an Mah, tadi Lita ngobrol sama Bunda," jawab Talita. Bulan mengangguk-angguk berarti alasan Bulan meninggalkan dirinya bukan karena Mentari.

"Oh... terus Papa kamu sudah pulang?"

"Belum?" Talita menggeleng.

"Kalau gitu Mama mandi dulu ya..." pamit Bulan tidak mengizinkan Talita lama-lama dekat dengannya sebelum ia mandi dan ganti pakaian.

Ketika Bulan hendak ke kamar Lita ambil baju ganti, ia berpapasan dengan Sherly. Bulan mencoba untuk tersenyum melupakan kejadian pagi tadi. Jika Sherly mau bersahabat, Bulan akan menyambutnya dengan baik. Namun, tidak ada balasan senyum dari Sherly, wanita itu justru menatap Bulan dari atas sampai bawah.

Merasa tidak di respon oleh Sherly, Bulan melanjutkan perjalanan menuju kamar Lita. Ia membuka pintu perlahan-lahan, tatapannya tertuju ke arah di mana pagi tadi koper disimpan tapi sudah tidak ada.

"Dokter... barang-barang Anda sudah dipindahkan ke lantai dua," Bibi memberi tahu.

"Lantai dua?" Bulan kaget, karena di lantai dua hanya ada dua kamar, yang satu ruang kerja Bintang dan satu lagi untuk gudang. Pikiran buruk segera menyelinap masuk, bagaimana jika mertua Bintang yang melakukan itu..

"Mari Dok, saya antar."

Bulan menaiki tangga mengikuti bibi, lalu membuka pintu kamar yang ditunjuk. Dia kaget lalu berhenti sejenak. Ruangan yang jauh lebih luas dari kamar utama itulah ruang kerja Bintang.

"Bibi yakin barang-barang saya disimpan di dalam ruangan ini Bi?"

"Makanya masuk dulu, Dok..." titah bibi sopan.

Bulan pun melangkah masuk ke dalam kamar yang luas nya sama dengan kamar utama. Sudah tidak ada lagi tumpukan dokumen, buku-buku dan foto keluarga yang di tempel di dinding. Tergantikan tempat tidur, lemari pakaian dan fasilitas lain.

 Saat Bulan membuka lemari pakaian yang besar dan mewah di sudut ruangan, semua pakaian miliknya sudah tertata, digantung berurutan, dilipat dengan rapi di rak, bahkan barang-barang pribadinya pun sudah diletakkan di laci yang tepat.

Pandangan Bulan beralih ke arah kaca dan meja rias baru sudah tersedia.

"Kapan kamar ini dirapikan, Bi? Lalu dipindahkan kemana barang-barang Pak Bintang?"

"Tuan Bintang yang menyuruh orang, Dok," jawab bibi menceritakan saat pagi tadi Bintang mengirimkan dua anak buahnya untuk membuang barang-barang di gudang, bibi dan Entin yang bagian bersih-bersih dan membantu memindahkan ruang kerja Bintang ke bekas gudang.

"Oh... terima kasih Bi," Bulan sedikit lega lalu masuk ke kamar mandi segera bersih-bersih, setelah ganti pakaian santai ia ke kamar Mentari.

Bulan membuka pintu perlahan-lahan, menatap Mentari yang tengah duduk bersandar di tumpukan bantal. Begitu tahu sahabatnya tidak tidur ia mengucap salam dan tanya kabar hari ini.

"Aku merasa tubuhku semakin ringan Bulan..." lirih Mentari.

"Alhamdulillah..." Bulan tersenyum sambil mengukur tekanan darah sahabatnya.

"Masih agak rendah, makanya jangan lupa dihabiskan dan vitamin juga jangan lupa diminum," ucapnya sambil bergerak ke arah meja kecil meletakkan alat ukur tensi di sana, beberapa detik kemudian kembali.

Bulan berdiri di samping tempat tidur, tangannya menyentuh dahi Mentari yang tidak lagi berkeringat dingin seperti saat serangan sakitnya datang. Ia menyetel stetoskop mendengarkan detak jantung dan suara napas sahabatnya, lalu mencatat angka hasil pemeriksaan terakhir.

"Alhamdulilah... apa aku bilang, keajaiban itu akan selalu ada," ucap Bulan. Senyum penuh haru merekah di wajahnya, meski Mentari masih harus berjuang melawan kanker stadium empat yang dideritanya, tapi semakin hari kondisinya terlihat jauh lebih stabil dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.

"Ini semua berkat kamu Bulan... terima kasih..." ucap Mentari berkaca-kaca.

"Yang penting kamu harus semangat Tari, karena semangat yang tinggi cara paling ampuh untuk membantu pemulihan di samping obat," papar Bulan, matanya berbinar bahagia menatap Mentari.

"Benar Bulan, nyeri di perutku mulai berkurang, nafsu makan aku juga mulai kembali dan tubuhku pun terasa lebih kuat," Mentari pun sudah bisa bertutur kata lebih panjang dari sebelumnya yang hanya sekata dua kata.

Hati Bulan terasa lega. Di tengah beratnya perjalanan pengobatan yang masih panjang, sedikit kemajuan ini adalah secercah harapan dan bukti bahwa Mentari masih berjuang sekuat tenaga untuk hidup lebih lama.

Bulan ingin Mentari segera sembuh dan mengembalikan Bintang kepadanya. Mereka hidup bahagia bersama Lita, tanpa harus ada dirinya yang tidak akan sanggup berlama-lama menjalani peran di panggung sandiwara seperti sekarang.

Saat sedang membahas tentang bagaimana kondisi Mentari, pintu kamar ada yang membuka. Dia adalah Bintang berjalan mendekat menatap Mentari lalu beralih kepada Bulan.

"Nanti kalau Entin mengantar makan malam kesini harus dihabiskan ya, supaya tekanan darahmu stabil," pesan Bulan, sebelum akhirnya keluar meninggalkan tempat itu sama sekali tidak menyapa Bintang.

Bulan kembali ke kamar meletakkan peralatan periksa lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur.

Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka, Bintang masuk sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Tanpa ragu ia duduk di tempat tidur.

"Aku tadi kembali ke restoran ternyata kamu sudah pulang?" Bintang menatap Bulan, tapi yang ditatap memunggungi, seolah tidak peduli.

"Hai... kamu marah ya..." Bintang merangkak di atas kasur hingga kepalanya berhenti tepat di atas wajah Bulan. Namun, Bulan justru memejamkan mata sama sekali tidak merespons.

"Kalau tidak mau menjawab aku cium ini," Bintang menurunkan kepala hingga dadanya nempel di pangkal lengan Bulan, bahkan wajahnya sedikit lagi nempel di pipi istrinya itu.

...~Bersambung~...

1
Teh Yen
aduh kenapa tuh rmhnya bintang ?
Teh Yen
langit ketemu siapa tuh ?
Eka ELissa
di rampok atau kebakaran....Biii...
aduhhh entahlah hy emak yg tau
Eka ELissa
waduhh siapa tuh
tiara
siapa tuh yang datang,jadi penasaran nih
Teh Yen
siapa yah yg tega bikin papa mentari ky gt apakah Bu Ratih ? terlalu kl.bener mereka yg lakuin yah ..... kok aku Jadi takut yah mentari kenapa kenapa itu beneran d bawa mau d obatin atau ada niat lain yah ibu Ratih sama mentari
Eka ELissa
waduh...knpa tu papa nya mentari truss 🌞🌞🌞🌞 kmana wah dsr ni ya duo keong racun kmna tu orang 😡😡😡😡atau jgn 2🌞🌞🌞mntari bukan ank bp yng kmu tolong....bin 🌟🌟🌟 entahlah hy emak yg tau
Teh Yen
nah loh alamatnya palsu atau mereka sudah pindah rumah yah ,, aku engg ngerti deh sama jalan pikiran nya mentari itu huuuh
Perempuan
kamu itu pembawa sial utk org yg kamu anggap sahabat. jangan krn sakit seenaknya saja memaksakan kehendak
falea sezi
🤣🤣 bulan bodoh minta cerai ngapain berbagi batangan satu doank iihh
Rohmi Yatun: naahh betul ituuu.. gak punya harga diri aja.. selamanya bakal menyandang pelakor.. jdi bikin emosi tu si Bulan👎
total 2 replies
Eka ELissa
nah loh..... kmana tu mertua gila mu bawa mentari 🌞🌞🌞🌞🤦🤦🤦gaje bgt kn Mreka
Eka ELissa
aneh bgt cih kmu...🌞🌞🌞kmu yg minta bulan 🌙🌙🌙 Msuk kini stelah bulan.... cobain brtahn...kmu mlhn mundur....knpa kmu GK metong sklian cih.....klau cumn buat bulan istri pengganti mu buat 🌟🌟🌟 bintang 😡😡😡😡🤦 ikutan emosi aku.....
Buna Seta: yang nulis juga emosi 🤣
total 1 replies
Eka ELissa
hey.... mertua GK tau diri justru ank mu yg bikin bulan masuk ke kluarga mu yg penuh drama mu itu...🌞🌞🌞yg paksa bulan ada di antara dia dan bintang 🌟🌟🌟 knpa bulan 🌙🌙🌙 di sphin....aneh bgt 😡🤦
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
ngk pernah espek sma siapapun yg jdi orng ketiga walupun bkn maunya (terpaksa),atau apapun yg dilakukan dlm keadaan sadar ttp aja pelakor, mau itu di suruh, terpaksa keadaan,atau alasan si pasanganx cuek, sibuk atau apapun itu trus dgn dalih memberi perhatian lo mau jdi madu fiks GOBLOK,harga diri diatas segalanya, hidup itu pilihan Tuhan ngasih kita cobaan itu ada pilihannya bkn asal iya aja
Eka ELissa
aduh brasa ikutan lari 2 kjer duo keong racun itu....kira 2 ke kejar GK ya... entahlah hy emak yg tau...
Buna Seta: Kejarrr daku kau kutangkap 🤣
total 1 replies
Rohmi Yatun
Bulan.. rasain sendiri akibat kebodohan kamu sendiri.. kamu itu hanya dijadikan alat.. iihh sebel banget bodoh kok dipelihara... malah sekarang mulai jatuh cinta ma Bintang.. hadeehhhh👎👎
Rohmi Yatun: iyaaa.. banget🤣
total 4 replies
sri susanti
pasti kalau mentari sudah sembuh,, di suruh nikah sama org lain oleh ibunya
falea sezi
males deh nanti mentari jd jahat biasa uda. sakit aja gk tau diri maksa bulan nikah ma bintang apalagi nanti sembuhh makin menjadi
Perempuan: iya betul. Sakit aja egoisnya selangit apalagi dah sehat /Panic//Panic/
total 1 replies
Agunk Setyawan
malas juga lama" skip dulu
Valen Angelina
pasti nnti si mentari ud sembuh.. pulang bikin rusuh ketika bintang dan bulan uda bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!