NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Say I Love You

"Bara! Kita mau naik wahana apa dulu?"

Bara yang sejak tadi terlihat begitu antusias langsung menarik tangan Ara menuju wahana carousel bertema Madagascar. Wahana itu merupakan yang paling dekat dengan pintu masuk taman bermain.

Mereka memang akhirnya benar-benar pergi berdua setelah melewati drama panjang gara-gara kaki Bara yang masih terasa sakit. Ara sempat berkali-kali meminta Bara untuk membatalkan kencan mereka dan beristirahat di rumah sakit.

Namun, Bara tetap bersikeras. Karena tidak ingin merusak kebahagiaan Bara, Ara akhirnya mengalah. Mereka pun pergi menggunakan taksi online.

Sebenarnya, Yuvin sempat menawarkan diri untuk mengantar sekaligus menemani mereka berkencan. Namun, tawaran itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Ara. Ia tidak ingin merepotkan Yuvin.

Selain itu, Ara juga tidak ingin menjadikan Yuvin sebagai "obat nyamuk" di antara dirinya dan Bara. Padahal, Yuvin sendiri sama sekali tidak keberatan. Ia hanya merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena kondisi Bara memang terlihat sedikit memburuk.

"Kita naik wahananya urut aja, ya, sayang? Biar nggak pusing."

"Oke. Aku mau naik yang zebra. Kamu naik yang sebelahnya aja, yang jerapah."

Bara mengangguk, lalu duduk di sebelah Ara.

Sebelum carousel mulai bergerak, Bara mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera kepada mereka.

"Foto dulu."

Ara langsung tersenyum.

Klik.

Satu foto berhasil mengabadikan senyum bahagia mereka. Keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang anak kecil yang sedang bersenang-senang ketika carousel mulai berputar.

Setelah selesai menaiki carousel, mereka melanjutkan perjalanan menuju wahana berikutnya.

Hari itu, hampir semua wahana mereka coba. Mulai dari bianglala, kora-kora, arung jeram, kapal Viking, perahu luncur, kereta gantung, hingga cinema 4D. Mereka juga sempat melihat berbagai macam ikan di akuarium raksasa dan menyaksikan atraksi beberapa hewan.

Hampir semua wahana sudah mereka jajal. Kecuali roller coaster dan rumah hantu.

Alasannya sederhana. Ara takut jantungnya copot ketika menaiki roller coaster, sedangkan Bara memang benar-benar takut terhadap hantu dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal menyeramkan.

Setelah lelah menjajal berbagai wahana, mereka akhirnya berjalan santai sambil menikmati es krim.

Sampai akhirnya, langkah mereka berhenti di depan sebuah photo booth.

Tanpa banyak berpikir, keduanya langsung masuk. Mereka mengambil berbagai macam pose aneh. Ada yang tersenyum, menjulurkan lidah, membuat ekspresi konyol, hingga saling mengejek di depan kamera.

Namun, pada pose terakhir, Bara tiba-tiba mengecup pipi Ara. Ara langsung terkejut.

Klik.

Foto terakhir pun berhasil mengabadikan ekspresi kaget Ara dan senyum puas Bara.

Ketika hasil foto keluar, Ara langsung memandangi satu per satu lembar foto tersebut. Wajahnya semakin lama semakin kesal.

"Kenapa nggak ada satu pun foto aku yang bagus?!"

Ara mengomel sendiri.

"Ini rambut aku berantakan. Yang ini ekspresi aku kayak orang kesurupan. Yang ini malah kayak orang bego!"

Bara hanya tersenyum melihatnya. Ia kemudian merapikan beberapa helai rambut Ara yang menutupi matanya.

Aku sayang kamu, Ara. Sayang banget. Jangan pernah ninggalin aku, ya? Meskipun harapan hidupku kecil, aku masih ingin punya kamu di sisiku. Maaf kalau kali ini aku memilih untuk egois. Tapi aku butuh kamu untuk selalu ada di sisiku. Jangan pernah capek buat ngasih aku semangat, ya? Aku kuat juga karena kamu.

...---...

Setelah puas bermain dan mengabadikan berbagai kenangan lewat foto, mereka akhirnya singgah di sebuah kafe untuk memesan minuman sekaligus beristirahat.

Ara kembali sibuk melihat-lihat hasil foto mereka setelah selesai memesan minuman. Tiba-tiba, ia mendapatkan sebuah ide.

"Aku mau unggah foto kita berdua di Instagram, Bara. Boleh, ya?"

Ara menunjukkan beberapa foto kepada Bara.

"Aku mau pamer ke yang lain kalau aku punya pacar yang gantengnya tiada tara."

Bara terkekeh pelan.

"Ya udah. Unggah aja."

Ia bahkan ikut membantu Ara memilih foto terbaik. Setelah menemukan foto yang dianggap paling bagus, Ara langsung mengunggahnya ke akun Instagram pribadinya. Tidak sampai satu menit, Bara sudah menekan tombol suka.

"Aku bakal selalu jadi orang pertama yang mencet tombol suka di postingan kamu, Ra."

Ara tertawa kecil. Sesuai dengan perkataannya, nama Bara memang menjadi akun pertama yang menyukai unggahan tersebut.

Ara kemudian menarik kursinya agar lebih dekat dengan Bara. Ia menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu sambil tersenyum puas. Seandainya waktu bisa berhenti, Ara ingin momen seperti ini berlangsung selamanya.

Instagram

aramoana_:

Kencan dulu sama pacarku tercinta yang paling ganteng sejagat raya @barasamudera ❤️❤️❤️😘😘😘

Comments:

yohan.dewa:

Lagi dimabuk cinta banget ya kalian😒

yuvindipt:

Kalo butuh apa-apa, telepon gue ya, Ra? Kalo butuh sopir buat jemput kalian juga gue bersedia 🤗

sorazura_:

So sweet bangettttt sih kaliaaannnnn!!! 😍😭

barasamudera:

❤️❤️❤️😘😘😘

vanonym:

Hai, Ara?

biru_namaku:

Buset, dah! Kerasukan setan apaan sampai adek gue jadi bucin totalitas begini? 😒

...---...

"Bara, mau lanjut jalan lagi nggak? Atau mau langsung jalan ke pintu keluar aja?"

Ara mengusap kedua matanya yang mulai terasa berat.

"Sebenarnya aku juga udah capek, sih."

"Ya udah, kita keluar aja."

Ara langsung menggandeng lengan Bara. Mereka berjalan perlahan menuju pintu keluar.

Ara sengaja memperlambat langkah karena sejak tadi ia memperhatikan cara berjalan Bara yang tidak lagi normal. Kaki laki-laki itu masih terlihat pincang, tetapi Bara terus memaksakan diri untuk berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Baru beberapa menit berjalan, Bara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tangannya bergerak memegangi dada.

"Sayang..."

Ara langsung menoleh.

"Kamu kenapa?"

"Aku pengin muntah."

"Hah?"

Ara langsung panik.

"Sebentar, kita cari toilet dulu. Kamu masih kuat jalan, kan?"

Bara hanya mengangguk sambil menahan rasa mual yang semakin kuat. Ara segera menghampiri seorang petugas yang kebetulan sedang berjaga di sekitar mereka.

"Pak, permisi. Toilet di mana, ya?"

Petugas tersebut langsung menunjukkan arah toilet.

"Terima kasih, Pak."

Ara kembali menghampiri Bara dan segera membawanya menuju toilet. Begitu sampai, Bara langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Namun, tidak ada makanan yang keluar. Hanya cairan.

Ara langsung panik. Ia berdiri di samping Bara sambil menepuk-nepuk dan mengusap punggungnya perlahan.

"Bara..."

Setelah beberapa saat, Bara akhirnya berhenti muntah. Ara masih terlihat cemas.

"Masih pengin muntah?"

Bara menggeleng pelan sambil menarik kembali maskernya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ara menggigit bibirnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghubungi Yuvin. Ia tidak ingin memaksakan Bara berjalan lagi.

"Vin, bisa jemput kita?"

Ara memberikan lokasi mereka. Yuvin langsung menyanggupi.

"Kita duduk di sini dulu, ya? Sambil nunggu Yuvin jemput kita."

Bara mengangguk.

"Sayang, maaf."

Bara menundukkan kepala.

"Aku malah jadi ngerepotin kamu."

"Gak apa-apa, Bara."

Ara duduk di sampingnya.

"Aku malah suka kalau kamu bikin aku repot terus."

Bara tersenyum tipis.

"Udahlah, nggak perlu minta maaf."

Ara kemudian memperhatikan kaki Bara.

"Lagian dari tadi aku perhatiin, jalanmu masih pincang."

Ara menatapnya tajam.

"Jangan-jangan dari tadi kamu nahan sakit juga? Iya?"

Bara terdiam.

"Iya."

Ia akhirnya mengaku.

"Maaf. Jangan marah, ya, sayang."

Bara terkekeh pelan sebelum menyandarkan kepalanya di pundak Ara.

Ara tidak menjawab. Ia hanya menggigiti bibirnya karena takut Bara tiba-tiba kehilangan kesadaran.

Kenapa kesehatannya malah menurun seperti ini? Perasaan aku kembali ke masa dua minggu yang lalu. Artinya, waktu Bara masih ada. Tapi kenapa sekarang kondisinya malah seperti ini? Jangan-jangan-Nggak! Nggak!!!

Ara menggeleng cepat.

Aku yakin Bara bakal baik-baik aja. Bara juga bakal tetap hidup waktu aku kembali ke masa depan. Aku nggak boleh berpikiran yang aneh-aneh.

"Araaa!!!"

Suara Yuvin terdengar dari kejauhan. Ara langsung menoleh. Yuvin melambaikan tangan sambil berlari menghampiri mereka. Ara akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Yuvin sudah datang.

Ara yang sejak tadi merangkul Bara segera membantunya berdiri. Namun, baru beberapa langkah, Yuvin langsung mengambil alih.

"Udah, gue gendong lo aja."

Yuvin meraih tubuh Bara.

"Kelamaan kalau jalan begini. Gue nggak tega lihat lo jalan sambil nyeret kaki kayak gini."

Bara tidak membantah. Ia membiarkan Yuvin menggendongnya.

Ara berusaha menenangkan pikirannya sendiri sambil menggigiti bibir agar air matanya tidak jatuh.

Ia membantu menaikkan posisi Bara di punggung Yuvin, lalu ikut berlari mengikuti langkah Yuvin menuju mobil.

Namun, semakin jauh mereka berlari, semakin sulit pula Ara menahan tangisnya.

Air mata akhirnya jatuh juga. Melihat Bara yang begitu lemah membuat dadanya terasa sakit.

Ia menyesal. Seharusnya ia membatalkan kencan mereka hari ini. Seharusnya ia membiarkan Bara tetap berada di rumah sakit dan menjalani pengobatannya. Seharusnya ia tidak memaksakan hari ini menjadi hari yang penuh kenangan.

Namun, semua sudah terjadi. Dan sekarang, Ara hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri sambil menangis.

Yuvin segera membaringkan Bara di kursi belakang. Ara langsung ikut masuk dan duduk di sampingnya. Ia memeluk Bara yang kesadarannya mulai menurun.

"Bara..."

Ara mengusap pipinya.

"Bara, aku tahu kamu kuat."

Suaranya bergetar.

"Tahan sebentar, ya? Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."

Yuvin melajukan mobil dengan cepat. Sesekali ia melirik kaca spion untuk memastikan keadaan Bara.

"Ra, jangan nangis, ah."

Yuvin berusaha menenangkan Ara.

"Nanti kalau Bara tahu lo nangis, gimana? Gue yakin Bara bakal baik-baik aja."

Ara masih menangis.

"Lo nggak boleh ikut lemah kayak gini."

Yuvin menggenggam kemudi lebih erat.

"Karena sekarang cuma lo yang bisa nguatin Bara."

Ara mengangguk. Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu menarik napas panjang. Sesekali, tangannya masih mengusap-usap tubuh Bara yang sudah tidak sadarkan diri di dalam pelukannya.

"Bertahan, ya, Bara..."

Ara menundukkan wajahnya.

Mobil terus melaju menuju rumah sakit. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Ara mulai merasa takut bahwa mungkin waktu yang ia miliki bersama Bara tidak akan sebanyak yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!