Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ratih menuduh Bintang menjadi penyebab Mentari menderita sakit keras karena selingkuh dengan Bulan.
Namun, Bintang tidak menjawab lagi, ia membuka lemari ambil jas. Hampir satu bulan ini tidak masuk ke kantor karena lebih penting menemani Mentari, tapi masih saja disalahkan. Andai saja mertuanya tahu bagaimana keadaan putrinya seminggu yang lalu, lebih parah dari sekarang, bahkan sampai koma.
"Sayang... aku berangkat ya," Bintang mencium pipi istrinya.
"Tapi sarapan dulu, Mas," pesan Mentari.
"Iya sayang... " Bintang mengatakan sudah pesan kepada Entin untuk menjaga Mentari, jika ada yang mengkhawatirkan agar telepon dirinya. Bintang sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya, tapi sekali-sekali juga harus memantau perkembangan usahanya.
"Jangan khawatirkan aku, Mas..." ucap Mentari memandangi suaminya yang tampak ragu untuk meninggalkan dirinya.
Bintang mengangguk, lalu keluar dari kamar tanpa basa basi lagi kepada mertua.
"Lihat tuh! Suami kamu itu sombong sekali!" ujar Ratih pelan tapi mengeratkan gigi atas dan bawah seolah ingin melumat menantu.
"Mama... sudah..." Mentari menggeleng lemas, matanya mengembun, selama tiga tahun tidak pernah datang untuknya, seharusnya kangen tidak ribut seperti ini.
Mentari memang tidak dekat dengan orang tuanya karena sejak kecil dibesarkan oleh neneknya yang kini telah tiada.
"Kak Mentari..." ucap Sherly lalu duduk di pinggir ranjang, ia hendak memegang tangan kakaknya tapi karena tinggal tulang dan kulit itu tidak ada keberanian.
Mentari hanya mengangguk pelan ke arah Sherly, lalu mengalihkan pandangan ketika tiba-tiba mama membungkuk memeluk tubuhnya. Setetes air hangat menetes di punggung tangan Mentari, rupanya sang mama bisa menangis untuknya.
"Mama..." ucap Mentari, tangan ringkih yang tidak bisa memegang apapun itu seketika memegang jemari Ratih.
"Kamu kenapa tidak pernah bilang kalau ada benalu di rumah ini sayang... Pasti wanita itu yang membuat penyakitmu semakin parah," Ratih mengulangi kata-kata pedas sembari membersihkan air matanya.
"Benalu?" Tanya Mentari lirih dan bingung.
"Maksud Mama wanita yang bernama Bulan itu loh kak..." Sherly menjelaskan.
"Oh, tidak Mama.... Dokter Mentari itu sahabat aku..." Mentari menjelaskan walau kata-katanya patah-patah. Bulan yang membangkitkan semangatnya untuk hidup. Jika bukan karena dia mungkin saat ini ia tinggal nama.
Ratih tidak membantah maupun mengiyakan, menurutnya Bulan itu sumber penderitaan putrinya.
Sementara itu Bintang mencari Bulan ke kamar Lita, tapi hanya menemukan seonggok koper dan tas besar. Ia balik ke luar menuju garasi seketika tersenyum menatap kendaraan berwarna merah masih parkir di sebelah kendaraan miliknya, menandakan bahwa Bulan masih di rumah.
"Bi, Dokter Rembulan kemana ya?" Tanya Bintang kepada bibi yang sedang membuka garasi.
"Dokter Rembulan sudah berangkat Tuan..." bibi menghentikan kegiatannya.
"Berangkat? Naik apa Bi?" Bintang bingung kenapa Bulan berangkat tidak membawa kendaraan.
"Taksi Tuan..." bibi mengatakan jika ban mobil dokter Rembulan tiba-tiba kempes kemudian memesan taksi.
Tidak ada kata-kata lagi dari Bintang, pria itupun minta bibi untuk membuka pagar. Namun, ketika hendak starter pintu mobil di sebelahnya terbuka. Bintang menoleh Sherly yang sudah duduk di sebelahnya dengan percaya diri.
"Mau apa kamu Sher?!" Tandas Bintang seolah malas ditumpangi adik iparnya itu.
"Aku mau nebeng ke Mal Kak," jawab Sherly, ia yakin kakak iparnya tidak akan menolak.
"Mana ada Mal pagi-pagi gini buka? Kamu jangan aneh-aneh Sherly. Turun! Saya terburu-buru ini," usir Bintang dengan tegas.
"Aagghhh... Kak Bintang pelit amat sih!" Sungut Sherly sambil melompat dari kendaraan, lalu berdiri di samping mobil. Ia menatap kendaraan Bintang yang sudah melesak pergi
"Awas kamu Kak Bintang, jangan panggil aku Sherly jika dalam waktu dekat tidak bisa menggantikan posisi Kak Mentari," gumam Sherly, lalu kembali ke dalam. Ia tidak tahu jika bibi mendengar.
"Wong wedok kok lenjeh, duh Gusti... suami Kakaknya sendiri mau direbut," Bibi geleng-geleng kepala.
**********
Waktu sudah sore dengan hati lelah, Rembulan keluar dari ruangan melewati lorong-lorong. Bukan karena pasien banyak, sebab hal semacam itu baginya sudah biasa. Namun, dua wanita yang berada di rumah Bintang pagi tadi masih membuat dadanya sesak.
Entah mau kemana kaki ini melangkah? Rasanya malas untuk kembali ke rumah itu jika bukan karena Mentari dan Talita, pulang ke rumah mami jelas akan menjadi pertanyaan.
"Rembulan..." panggil seorang pria dari arah belakang. Bulan menghentikan langkahnya lalu menunggu.
"Selamat sore Pak," ucapnya ramah kepada sang direktur putra pemilik rumah sakit.
"Sore..." Jawab Kenan, walau kecewa ia tidak menunjukkan kepada Bulan.
Bos dan anak buah itupun jalan bersama-sama karena satu tujuan yakni pulang. Dalam langkah mereka diselingi obrolan. Lebih tepatnya Kenan yang tanya ini itu.
"Kamu tadi pagi kenapa Bulan?" Kenan melirik Bulan.
"Memangnya saya kenapa, Pak?" Bulan balik bertanya.
"Tadi pagi kamu menangis bukan?" Kenan melanjutkan pertanyaan.
Bulan menatap pria itu kaget, tidak menyangka jika pak direktur memperhatikan dirinya yang sedang menangis padahal ia tidak merasa bertemu.
"Oh... Gara-gara baca novel online jadi menangis, Pak. Hehehe..." Bulan memberi alasan seperti Talita pagi tadi.
"Saya bukan anak kecil Bulan..." bantah Kenan. Dia yakin Bulan sedang ada masalah dengan keluarga barunya.
"Saya tidak apa-apa kok, Pak."
"Hidup dimadu itu sungguh tidak mudah Bulan," Sindir Kenan, bukan mau ikut campur tapi Bulan yang dulu selalu ceria tidak pernah ia temukan setelah menikah hingga saat ini.
"Dimadu?" Bulan seketika menghentikan langkahnya, tapi tidak bingung jika Kenan tahu karena pernikahan waktu itu dilakukan di rumah sakit.
"Kamu menjadi istri Bintang bukan?"
Bulan hanya menunduk dalam, tidak mungkin ia menjawab pertanyaan atasan di luar pekerjaan. Suasana menjadi sepi hanya terdengar langkah kaki mereka berdua.
"Kamu kan tidak membawa kendaraan, bagaimana kalau pulang bareng?" Tanya Kenan serius
"Tidak perlu repot Pak Kenan. Saya bisa pulang sendiri," ucapnya lembut tapi tegas.
Kenan tersenyum, tidak terpengaruh penolakan Bulan. "Kebetulan kita searah kalau mau bareng."
Belum sempat Rembulan menjawab, suara mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit, diikuti bunyi klakson pendek tapi cukup nyaring untuk didengar oleh mereka yang hanya berjarak beberapa meter.
Seorang pria turun dari kendaraan lalu berjalan cepat menuju pintu masuk, pandangan matanya langsung tertuju ke arah Rembulan.
"Bulan, saya duluan ya..." ucap Kenan tidak mau mengganggu suami istri itu.
"Baik Pak."
"Siapa pria itu Bulan?" Tanya Bintang lalu menoleh ke arah Kenan.
"Beliau atasan saya, putra pemilik rumah sakit," jawab Bulan dingin, lalu melangkah pergi.
"Eh, tunggu Bulan. Aku datang ke sini sengaja menjemputmu."
"Tidak usah!" Ketus Rembulan menatap Bintang tanpa ekspresi, tidak ada senyum ramah seperti biasanya saat belum menikah.
"Saya mau naik taksi saja," Bulan pun mempercepat langkahnya. Sementara Bintang terus mengejar.
"Jangan gitu dong Bulan..." ucap Bintang, tiba di pinggir mobilnya, Bintang mengunci tubuh Bulan dengan kedua tangan hingga mepet di body kendaraan.
"
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌