NovelToon NovelToon
Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikahmuda
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka Kecil di Rumah Mertua

Jauh dari rumah petak Rena yang kini perlahan mulai dipenuhi tawa dan semangat kerja bersama Bu Siti serta Enka, suasana di rumah besar keluarga Gunawan justru berubah menjadi kekacauan total. Sudah beberapa bulan berlalu sejak Rena pergi meninggalkan rumah itu, dan selama itu pula tidak ada lagi hari yang tenang bagi Bu Darmi.

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya meninggi, tetapi suara banting-banting piring dan omelan melengking sudah memecah keheningan di dapur. Bu Darmi berdiri dengan pinggang berkacak, wajahnya merah padam menatap tumpukan piring kotor yang menggunung di bak cuci sejak kemarin malam. Lantai dapur tampak lengket oleh tumpahan minyak, sementara cucian kotor di keranjang sudah meluber hingga ke lantai kamar mandi karena tidak ada lagi yang mencuci.

"Mira! Bangun, Mira! Ini jam berapa, hah?!" teriak Bu Darmi penuh emosi sambil menggedor pintu kamar putrinya dengan keras. "Rumah ini sudah kayak kapal pecah! Kamu tidur atau pingsan semalaman?!"

Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. Mira kakak ipar Gunawan yang setiap hari bekerja sebagai buruh di pabrik keluar dengan wajah kusut, rambut acak-acakan, dan mata masih mengantuk berat. Gadis itu baru saja pulang lembur malam tadi, dan seluruh persendian tubuhnya terasa remuk redam. Mendengar teriakan sang ibu, emosi Mira langsung terpancing.

"Apaan sih, Ma! Pagi-pagi sudah teriak-teriak! Mira baru tidur jam dua malam, capek tahu kerja di pabrik!" jawab Mira dengan nada tinggi, menepis tangan ibunya yang menunjuk-nunjuk.

"Capek, capeklah! Kamu kira mama nggak capek?!" bentak Bu Darmi tak kalah keras, meluapkan kekesalannya.

"Dari subuh mama sudah berdiri nyapu, ngepel, dan sekarang lihat ini! Piring kotor numpuk, baju belum disetrika! Kalau kamu kira jadi ratu di rumah ini gampang, rasain sendiri sekarang! Dulu waktu ada Rena, semua beres tanpa mama harus teriak-teriak begini!"

Mendengar nama Rena disebut, darah Mira mendidih.

"Ya sudah kalau kangen sama si Rena, suruh dia balik ke sini! Kenapa malah mama ngomel ke aku? Aku ini capek kerja di pabrik, bukan pembantu rumah tangga!"

"Heh, berani ya kamu sama orang tua!" sebuah suara lain menyahut dari arah ruang keluarga. Elisa, anak bungsu Bu Darmi yang masih duduk di bangku SMA, keluar dari kamarnya sambil merapikan seragam sekolah. Wajahnya tampak masam melihat pertengkaran pagi itu.

"Udah, ih! Jangan teriak-teriak mulu, bikin pusing mau sekolah!"

"Kamu juga, Elisa! Pakaian sekolah belum disetrika kan? Belum lagi bikin sarapan!" seru Bu Darmi berbalik memarahi anak bungsunya.

Elisa mendengus kesal.

"Mana sempat, Ma! Aku kan harus berangkat pagi-pagi buat upacara! Kenapa sih rumah ini jadi ribet banget semenjak Kak Rena nggak ada? Dulu Kak Rena selalu siapin semuanya sebelum aku berangkat sekolah!"

Suasana di ruang makan mendadak semakin panas. Saling lempar tuduhan dan omelan pecah antaranak beranak itu. Tidak ada lagi kehangatan; yang ada hanyalah penyesalan mendalam dan rasa frustrasi akibat kebodohan mereka sendiri yang telah menyia-siakan Rena pembantu gratisan sekaligus penopang kedamaian rumah tangga mereka.

Di tengah kepenatan yang memuncak dan perut yang kelaparan karena tidak ada makanan siap saji di meja, Bu Darmi terduduk lemas di sofa ruang tamu. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah. Ia baru menyadari betapa mahalnya kehadiran Rena selama ini.

"Kita harus bawa mereka pulang..." ucap Bu Darmi dengan suara parau penuh ambisi, menatap tajam ke arah Mira dan Elisa.

"Rumah ini sudah nggak berbentuk lagi. Kamu, Mira, nanti sepulang kerja dari pabrik, temui si Gunawan dan Rena. Suruh mereka balik ke rumah ini sekarang juga!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!