Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Uang bulanan, kan?" Vivienne melirik, dalam hatinya mengumpat orang-orang tak tahu diri dari keluarga suaminya.
Dominic mengangguk. "Iya. Kamu lupa transfer?"
Vivienne menggeleng pelan.
"Lalu, kenapa belum dikirim?"
Vivienne meraih tangan Dominic, kemudian meletakkannya kembali di atas perutnya. "Dominic, sekarang yang paling penting dalam hidupku adalah bayi kita."
Sorot mata Vivienne tampak begitu tulus."Dokter bilang kebutuhannya akan semakin banyak."
Wanita itu menghitung dengan jemarinya. "Vitamin. Suplemen. Makanan organik. Pemeriksaan kandungan. Tes kesehatan. Belum lagi nanti perlengkapan bayi lainnya yang pasti membutuhkan uang yang sangat banyak."
Vivienne tersenyum lembut. "Aku ingin memberikan semua yang terbaik untuknya. Aku ingin dia lahir sehat. Cerdas. Dan tumbuh dengan sempurna sejak masih berada di dalam kandunganku."
Dominic terdiam. Tak ada satu pun ucapan Vivienne yang bisa ia bantah. Semuanya masuk akal. Sebagai calon ayah, ia pun menginginkan hal yang sama.
Vivienne kembali menatap suaminya. "Karena itu aku mulai mengurangi pengeluaran yang menurutku belum terlalu penting."
Dominic mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
Vivienne tersenyum manis. "Terima kasih."
Dominic membelai perut istrinya dengan penuh kasih. "Lakukanlah semua yang terbaik untuknya. Asal anak kita sehat, aku rela melakukan apa saja."
Mendengar kalimat itu, senyum di bibir Vivienne tetap bertahan. Namun, sorot matanya perlahan berubah dingin. Ia segera menundukkan wajah agar Dominic tidak melihat perubahan itu.
"Anak kita? Jelas-jelas kamu tahu bayi ini bukan berasal dari sel telurkuku," batin Vivienne pedih. "Jika bayi ini berasal dari sel telurku, apakah kamu masih akan mengatakan kalimat yang sama?"
Vivienne merasa dada sesak kembali. Meski begitu, wajahnya tetap tenang. Tak sedikit pun ia memperlihatkan bahwa dirinya sudah mengetahui semua kebohongan suaminya.
Keesokan harinya, Dominic akhirnya mentransfer sejumlah uang ke rekening Victoria dan Grace menggunakan rekening pribadinya. Namun, nominalnya jauh lebih kecil dibandingkan uang yang selama ini rutin dikirim Vivienne.
Tak sampai lima menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Nama Victoria muncul di layar. Dominic langsung menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Ya, Mom?"
"Dominic!" seru Victoria dengan nada tidak puas. "Kenapa uang yang kamu kirim sedikit sekali?"
Dominic memijat pelipisnya. "Untuk sementara pakai dulu itu."
"Tapi uang itu bahkan tidak cukup untuk kebutuhan bulan ini," ucap Victoria menahan kesal.
"Aku juga sedang banyak pengeluaran, Mom," balas Dominic.
"Dominic, dengarkan dulu—"
Belum sempat Victoria menyelesaikan ucapannya, Dominic lebih dulu mengakhiri panggilan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mengembuskan napas panjang.
"Kapan mereka berhenti bergantung pada uang orang lain?" gumamnya kesal.
Di sisi lain, Vivienne duduk sendirian di ruang kerjanya di lantai dua ruamhnya. Di hadapannya, layar laptop menampilkan laporan keuangan perusahaan keluarga Laurent.
Wanita itu membacanya dengan teliti sebelum mengambil ponselnya. Satu per satu nomor mulai dihubungi. Mereka adalah orang-orang yang telah bekerja bersama mendiang ayahnya selama puluhan tahun. Orang-orang yang paling setia menjaga perusahaan keluarga Laurent.
Begitu panggilan tersambung, Vivienne tersenyum tipis. "Selamat malam. Aku butuh bantuan kalian." Suaranya terdengar tenang.
"Ada beberapa hal yang harus mulai kita benahi."
Tak ada penjelasan panjang. Tak ada pembicaraan yang bertele-tele. Namun, orang-orang di seberang sana langsung memahami maksudnya.
Satu per satu mulai bergerak dalam diam. Tak banyak orang mengetahui rencana yang sedang disusun. Bahkan Dominic, yang setiap hari duduk di kursi pimpinan perusahaan, sama sekali tidak menyadari bahwa perlahan-lahan tanah yang dipijaknya mulai bergeser.
Sedikit demi sedikit Vivienne mulai merebut kembali apa yang memang sejak awal menjadi milik keluarganya. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
***
Pintu kamar terbuka perlahan. Vivienne yang sedang duduk di depan meja rias langsung menoleh. Tangannya yang semula menyisir rambut berhenti ketika melihat Dominic masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Belum tidur?" tanya Dominic sambil tersenyum.
"Belum," jawab Vivienne singkat.
Dominic berjalan mendekat dan meletakkan kotak kecil itu di atas meja rias. "Aku punya sesuatu untukmu," ucapnya.
Vivienne menatap kotak tersebut, kemudian beralih menatap wajah suaminya. "Untukku?" tanyanya.
"Iya," jawab Dominic sambil mengangguk.
Vivienne tidak langsung membuka kotak itu. Ia justru memperhatikan senyum di wajah Dominic melalui pantulan cermin. Senyum yang sama.
Senyum yang selama bertahun-tahun membuat Vivienne percaya bahwa dirinya dicintai. Dulu, senyum itu selalu membuat hatinya hangat. Sekarang, setelah mengetahui semuanya, senyum tersebut justru terasa seperti topeng.
Vivienne menarik napas pelan.
"Ayo, buka," bujuk Dominic.
Vivienne akhirnya membuka kotak itu. Sebuah gelang berlian terbaring di atas bantalan beludru hitam. Cahaya lampu kamar memantul pada batu-batu kecil yang menghiasi gelang tersebut.
Mata Vivienne membesar. "Indah sekali," pujinya pelan.
Dominic tersenyum puas. Dia sedang merayu istrinya agar mood-nya kembali senang.
"Aku melihatnya beberapa hari lalu," kata Dominic. "Aku langsung teringat padamu."
Vivienne menyentuh gelang itu dengan ujung jarinya. "Berapa harganya?" tanya Vivienne.
Dominic terkekeh. "Kenapa malah menanyakan harga?" tanyanya.
"Karena aku tahu kamu sedang banyak pengeluaran," jawab Vivienne tenang.
Senyum Dominic sedikit kaku. "Jangan pikirkan soal uang," kata Dominic. "Aku bisa mengatasinya."
"Termasuk uang untuk Mommy dan Grace?" tanya Vivienne tersenyum palsu.
Dominic terdiam sesaat.
Walau hanya sepersekian detik, namun Vivienne melihat perubahan kecil itu.
"Kenapa tiba-tiba membicarakan mereka?" tanya Dominic.
Vivienne tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," jawabnya. Ia mengangkat gelang tersebut.
"Aku hanya takut kamu kesulitan," ujar Vivienne lembut.
Dominic segera menggeleng. "Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Benarkah?" tanya Vivienne.
"Tentu," jawab Dominic.
Vivienne mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku tenang," ucapnya.
Dominic mengambil gelang tersebut dari tangan istrinya. "Berikan tanganmu," kata Dominic.
Vivienne menurut. Ia mengulurkan tangan kirinya.
Dominic memasangkan gelang tersebut dengan hati-hati. "Cantik," puji Dominic.
Vivienne menatap gelang di pergelangan tangannya. Kemudian ia menatap suaminya. "Dominic," panggilnya.
"Hm, ya?" sahut Dominic.
"Terima kasih," ucap Vivienne.
Dominic tersenyum karena tujuannya tercapai. Biasanya saat mood Vivienne bagus, apapun yang dia minta akan dikabulkan.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡