NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8: Skandal Foto yang Hampir Menghancurkan Semuanya

Tiga hari berlalu sejak percakapan itu, dan suasana di antara kami bertiga menjadi sedikit lebih canggung namun tetap sopan. Ethan dan Mark berusaha sebaik mungkin untuk tidak berselisih di depanku, meskipun aku sering melihat mereka saling bertukar tatapan penuh persaingan saat berpamitan di gerbang sekolah. Aku berusaha menyibukkan diri dengan belajar dan menolong teman-teman, berharap dengan berbuat baik kepada semua orang, aku bisa menciptakan lingkungan yang damai dan menghindari konflik yang lebih besar. Namun takdir sepertinya punya rencana lain—dan kali ini, bahayanya datang lebih cepat dari yang kubayangkan.

Pagi itu, begitu aku melangkah masuk ke gerbang sekolah, suasana terasa berbeda. Semua orang menatapku bukan dengan rasa kagum atau hormat, melainkan dengan tatapan kebencian, kekecewaan, dan penghakiman. Mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahku, wajah mereka penuh kemarahan dan rasa jijik. Hatiku berdebar kencang, merasa ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Saat aku sampai di koridor kelas, aku melihat banyak siswa berkumpul di sekitar papan pengumuman, menatap foto-foto yang ditempel di sana dengan wajah-wajah marah.

Aku mendekat dengan langkah gemetar, dan saat melihat foto-foto itu, rasanya dunia seakan runtuh di bawah kakiku. Foto-foto itu adalah aku—tapi bukan aku yang sekarang. Foto itu menunjukkan sosok yang terlihat seperti aku, sedang berteriak, melempar barang, dan mendorong seseorang hingga jatuh. Foto itu diambil dari sudut yang membuatku terlihat sangat kejam dan jahat. Dan di bawah foto itu, tertulis tulisan besar dengan huruf-huruf kasar: LILY TETAPLAH LILY. SEMUA KEBaikannya HANYA AKAL-ALAKAN.

Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Ini bukan aku. Ini pasti rekayasa Grace! Foto itu pasti diedit, atau diambil dari kejadian lama yang sengaja disebarkan kembali dengan cara yang salah. Namun tidak ada yang percaya. Semua orang sudah melihatnya, dan semua orang sudah memutuskan bahwa aku penipu yang jahat.

"Kau sudah berubah katanya? Palsu!"

"Berpura-pura baik hati hanya untuk menipu kita semua!"

"Pergi dari sekolah ini! Kami tidak butuh orang sepertimu!"

Teriakan-teriakan itu terdengar di sekelilingku, menusuk hatiku seperti jarum tajam. Aku berdiri di sana, gemetar hebat, tanpa bisa berkata apa-apa. Kata-kata tertahan di tenggorokan karena terlalu banyak rasa sakit dan kekecewaan. Di saat itu, aku merasa sendirian—sangat sendirian, seolah semua orang di dunia ini telah berbalik menentangku.

Namun tepat saat aku mulai kehilangan harapan, dua orang berdiri di depanku, melindungiku dari tatapan dan teriakan orang-orang di sekeliling. Itu Ethan dan Mark, keduanya berdiri tegak, wajah mereka penuh kemarahan namun tetap tenang.

"Diam semua!" suara Ethan terdengar lantang dan berwibawa, seketika membuat seluruh koridor menjadi hening. "Kalian semua melihat foto dan langsung menghakiminya tanpa tahu kebenarannya? Foto ini jelas diedit dan disusun sedemikian rupa untuk menjatuhkannya. Kalian terlalu mudah ditipu!"

"Benar," tambah Mark dengan suara tegas, matanya menatap satu per satu orang yang berkumpul. "Kalian semua sudah melihat perubahannya selama berminggu-minggu. Kalian melihatnya menolong Luna, menolong Elena, dan berbuat baik kepada siapa pun tanpa pamrih. Apakah semua itu bisa dibuat-buat hanya dengan beberapa foto palsu? Pikirkan dengan akal sehat kalian!"

Suasana menjadi hening. Orang-orang saling bertukar pandang, mulai ragu dengan apa yang mereka yakini beberapa menit yang lalu. Namun sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, Grace muncul dari kerumunan dengan wajah penuh kemenangan.

"Kalau begitu, bagaimana dengan bukti lain?" serunya sambil mengangkat kertas yang berisi catatan tangan yang mirip dengan tulisanku. "Ini ancaman yang dikirim Lily kepadaku! Dia mengancam akan menyakitiku kalau aku berani membongkar sifat aslinya!"

Aku gemetar lebih hebat lagi. Itu bukan tulisanku! Dia memalsukan tulisanku! Tapi bagaimana aku bisa membuktikannya? Semua orang mulai kembali berbisik-bisik, dan aku merasa semakin terjebak.

Namun di saat itu, tangan Ethan meraih tanganku, memberiku kekuatan untuk berdiri tegak. Dia menatapku dengan tatapan penuh keyakinan. "Lily, katakan pada mereka. Katakan yang sebenarnya. Kami percaya padamu."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menatap semua orang di hadapanku dengan mata yang jujur dan berani. "Itu bukan aku. Foto itu diedit, tulisan itu dipalsukan. Aku tidak pernah menyakiti siapa pun, dan aku tidak pernah mengancam siapa pun. Kalian boleh tidak percaya padaku, tapi tolong jangan percaya begitu saja pada bukti yang begitu mudah direkayasa. Aku tidak sempurna, dan aku pernah berbuat salah di masa lalu. Tapi aku berusaha berubah. Dan kalau kalian tidak memberiku kesempatan untuk membuktikannya, maka kalian yang sebenarnya tidak adil."

Suasana hening sejenak. Lalu Elena berjalan maju dari kerumunan, berdiri di sampingku. "Aku percaya padanya. Dia yang menolongku saat Grace mendorongku. Dia tidak pernah menyakitiku sejak itu."

Lalu Luna juga maju. "Aku juga percaya. Dia membantuku belajar saat aku hampir putus asa. Orang jahat tidak akan melakukan hal seperti itu."

Satu per satu orang yang pernah kubantu mulai maju ke depan, membela aku. Perlahan, keraguan di wajah orang-orang berubah menjadi keyakinan. Dan saat itu, guru wali kelas datang membawa bukti—rekaman CCTV yang menunjukkan Grace yang menempelkan foto-foto itu di papan pengumuman pagi-pagi sekali, dan dia yang menulis surat ancaman itu di sudut ruangan kosong.

Grace tertangkap basah. Wajahnya pucat pasi, dan ia tidak bisa lagi menyangkal semuanya. Dengan kepala tertunduk malu, ia ditarik pergi oleh guru untuk menerima hukuman yang pantas.

Setelah kerumunan bubar, aku akhirnya bisa melepaskan air mata yang tertahan sejak tadi. Air mata itu bukan karena sedih, tapi karena lega dan bahagia—bahwa aku tidak sendirian, bahwa ada orang-orang yang percaya padaku, dan bahwa kebaikan yang kuberi ternyata kembali kepadaku di saat yang paling aku butuhkan. Ethan dan Mark berdiri di sampingku, keduanya tersenyum lembut dan penuh bangga.

"Kau hebat, Lily," bisik Ethan pelan. "Kau berdiri tegak meski semua orang menentangmu. Itu menunjukkan betapa kuatnya hatimu."

Aku tersenyum di antara air mataku, merasa bersyukur sekali. Hari itu aku belajar satu hal penting: kebenaran memang kadang terlambat, tapi tidak akan pernah hilang. Dan selama aku tetap jujur pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah benar-benar sendirian.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!