NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

"Dari mana aja sih lu, Gin?"

​Begitu Regina menggeser pintu kayu kelas 12 IPA 1 yang berderit—Kreeek—Shinta langsung berdiri di samping mejanya. 

Tangannya memegang satu bungkus plastik teh kotak dingin yang mengembun.

​Regina melangkah masuk, menarik kursi kayunya tanpa menimbulkan suara berisik. 

"Dari toilet."

​"Toilet mana?" Shinta melipat tangannya di dada, matanya memicing menatap seragam Regina dari atas ke bawah. 

"Tadi gue balik dari ruang OSIS mau nyamperin lu ke kelas, lu gak ada. Gue cari ke toilet lantai dua juga sepi banget. Jangan bilang lu jalan-jalan ke lorong IPS lagi?"

Regina menarik napas pendek, duduk tenang di kursinya. Tangannya bergerak merapikan letak kotak pensilnya yang miring dua milimeter.

​"Gue tadi ke toilet lantai dasar," sahut Regina pelan. 

"Seragam gue agak kusut di bagian belakang, jadi gue rapihin sebentar di cermin."

​Shinta menatap wajah Regina, mencoba mencari celah keraguan. "Beneran cuma merapikan baju?"

​"Iya, Shin." Regina membuka buku catatan Biologinya, pura-pura memeriksa lembar tugas yang belum diselesaikan.

​Shinta menghela napas panjang, lalu duduk di kursi sebelah Regina dengan bunyi puk pelan saat bokongnya mendarat di busa tipis. 

"Gue pikir lu disamperin Fanya lagi. Soalnya tadi pas gue lewat depan tangga bawah, gue ngeliat anak-anak IPS rame banget di sekitar gazebo belakang. Ada si Varen, Andreas, sama Helga juga."

Regina menatap ujung pulpen gelnya yang tertutup bening. 

​"Gue gak ada urusan sama mereka," jawab Regina datar, jemarinya memutar-mutar tutup pulpen.

"Bagus deh kalau gitu," balas Shinta. Ia menusuk plastik teh kotaknya memakai sedotan hingga berbunyi Plesst!, lalu meminumnya satu tegukan besar. 

"Gue panik aja. Tahu sendiri kan anak IPS kalau bikin masalah tuh suka bawa-bawa orang lain. Apalagi Helga tuh, gayanya emang kelihatan anteng, tapi temen-temennya gesrek semua."

​Regina tidak membalas. Ia tetap menatap barisan angka di lembar kertas bukunya.

Udara kelas siang itu mulai mengenyangkan oleh aroma minyak kayu putih dan sisa bekal makan siang siswa. 

​Shinta menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke meja Regina. Ia merogoh saku rok abu-abunya, mengeluarkan ponsel berstiker kaktus dan menggeser layarnya cepat.

​"Eh, Gin, daripada bahas anak IPS, mending liat ini deh," kata Shinta, nadanya mendadak naik satu oktav dipenuhi antusiasme. 

Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Regina. "Ada kafe baru buka di dekat jalan raya, gak jauh dari gang rel kereta."

Regina berkedip sekali. Matanya melirik gambar foto interior kafe bernuansa lampu kuning hangat dengan meja-meja kayu kecil di layar ponsel Shinta.

​"Kafe apa?" tanya Regina.

​"Namanya Kopi Bawah Lampu," jawab Shinta cepat, jarinya mengusap layar untuk memperlihatkan foto menu pastry dan es kopi susu. 

"Tempatnya lucu banget, Gin! Ada area outdoor yang pakaikan lampu gantung kecil-kecil gitu. Katanya kalau malam suasananya enak banget buat santai atau ngerjain tugas. Gak berisik kayak tempat nongkrong biasa."

​"Rame gak?"

​"Baru soft opening minggu ini, jadi belum banyak anak sekolah yang tahu," Shinta mengedipkan matanya usil, menyenggol bahu Regina pelan. 

"Mumpung nanti malam hujan diprediksi reda, gimana kalau kita ke sana jam tujuhan? Lu pasti bosen kan di rumah mulu ngerjain soal?"

Regina menatap foto meja kayu di layar ponsel Shinta. Jemari tangan kanannya yang berada di bawah meja mendadak memilin ujung lipatan rok abu-abunya.

​Gue ada janji sama Helga jam pulang sekolah di perpustakaan, batin Regina tertahan.

​"Kenapa malam?" tanya Regina pelan, mencoba mengalihkan fokus obrolan. "Kenapa gak pas pulang sekolah aja?"

​"Yee, kalau pulang sekolah kan seragam kita masih bau matahari!" gerutu Shinta sambil memutarkan bola matanya. 

"Lagian kafe kayak gini tuh enaknya dinikmati pas malam, Gin. Pas lampunya udah nyala semua, terus adem. Kita ganti baju santai dulu di rumah, terus janjian di sana jam tujuh malam. Lu bisa ditemenin Mama lu kan keluar sebentar?"

​Regina terdiam dua detik. Ia mengingat Mamanya—Ratna—yang biasanya pukul tujuh malam sudah mulai menyiapkan makan malam di meja makan rumah mereka.

​"Bisa," kata Regina akhirnya, suaranya tenang tanpa nada ragu. "Tapi jangan kemalaman. Jam sembilan gue harus udah sampai rumah lagi."

​"Siap, Kanjeng Ratu!" seru Shinta kegirangan, menepuk tangannya sekali—Plak! 

"Gue ketik daftarnya ya. Kita pesen waffle sama es kopi kreasinya. Lu mau kan?"

​"Gue teh chamomile aja kalau ada," sahut Regina pendek.

​"Selalu teh," tawa Shinta pelan. "Ya udah, sepakat ya! Nanti malam jam tujuh pas kita ketemu di depan kafenya. Awas kalau lu batalin tiba-tiba!"

Teeet! Teeet! Teeet!

​Bel panjang penanda jam pelajaran terakhir selesai berbunyi tepat pukul empat sore. Suara ketukan meja, geseran kursi, dan risleting tas yang ditutup bersahut-sahutan di seluruh penjuru kelas.

​"Gin, gue duluan ya!" pamit Shinta buru-buru sambil menyampirkan tas punggungnya yang berat. 

"Gue mau dijemput abang gue di depan gerbang. Jangan lupa nanti malam jam tujuh!"

​"Iya, hati-hati," balas Regina pendek.

​Regina berdiri dari kursinya dengan gerakan lambat. 

Ia memasukkan buku catatan Biologi dan tempat pensilnya ke dalam ransel abu-abunya. 

Kelas perlahan mulai kosong, meninggalkan beberapa siswa yang mendapat jadwal piket kebersihan menyapu lantai bawah meja.

​Srek... Srek...

​Suara sapu lidi yang menggeser debu koridor terdengar makin jelas dari luar.

​Regina menyampirkan ranselnya di bahu kanan. Tangannya merogoh saku seragam, memastikan ponselnya masih ada di sana.

Regina menyusuri koridor lantai dua yang sudah mulai sepi. 

Alih-alih berjalan menuju tangga keluar arah gerbang depan, ia membelokkan langkahnya menuju lorong tengah gedung—arah menuju gedung perpustakaan sekolah yang berada di lantai dasar dekat ruang komputer.

​Suara sepatu ketsnya beradu pelan dengan lantai ubin yang dingin—Tuk, tuk, tuk.

​Ketika Regina sampai di depan pintu kaca tebal perpustakaan, suasana di dalamnya terlihat remang-remang. 

Lampu utama perpustakaan sudah dimatikan oleh petugas, hanya menyisakan lampu meja baca di pojok kanan dekat rak buku sejarah.

Regina mendorong pintu kaca tersebut.

​Kring...

​Bunyi bel kecil di atas pintu kaca berdenting halus.

​Di sudut meja baca yang agak gelap, Helga duduk bersandar di kursi kayu. 

Tas punggung kusamnya ditaruh di atas meja, sementara tangannya sibuk memutar-mutar korek api gas warna hijau—tanpa menyalakannya. 

Jaket jeans belelnya dilipat rapi di pangkuannya.

​Helga mendongak saat mendengar bel pintu berbunyi. Tatapan matanya yang dalam langsung terkunci pada Regina yang berdiri di ambang pintu.

Regina melangkah mendekat, berhenti tepat di seberang meja Helga. "Gue udah datang."

​Helga meletakkan korek api hijau itu ke atas meja kayu dengan bunyi ctak pelan. Ia menatap Regina lurus-lurus tanpa berkedip.

​"Gua gak pernah minta taruhan sama Varen," kata Helga, suaranya berat dan rendah di dalam ruangan perpustakaan yang sunyi.

​"Tapi lu tau uang itu ada," balas Regina, menatap Helga tanpa ekspresi. "Dan lu diem aja pas dia bahas itu."

Helga berdiri dari kursinya perlahan, menciptakan jarak yang makin dekat di antara mereka. 

Ia meraih tasnya, lalu merogoh saku depan tas kusamnya tersebut.

​Dari dalam tasnya, Helga mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah dompet kain warna hitam yang kusam—dan meletakkannya di tengah meja tepat di hadapan Regina.

​"Uang seratus ribu dari Varen ada di dalam sini," ucap Helga pelan, suaranya mantap. "Gua ambil dari saku dia pas di parkiran tadi. Dan gua mau lu yang megang uang ini."

​Regina menaikkan alisnya, menatap dompet kusam itu. "Kenapa gue harus megang uang ini?"

​"Karena nanti malam," Helga memiringkan kepalanya sedikit, menatap mata Regina lurus, "lu bakal ikut gua buat balikin uang ini langsung ke tempat nongkrong kita."

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!