Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Jejak Digital
Keira tidak menunggu Sherly bergerak lebih jauh.
Malam setelah Phoenix menangkap beberapa percakapan baru dari lingkaran sosial Sherly, Keira masuk ke ruang kerja kecil di sisi timur rumah Hartono. Ruangan itu baru disiapkan Om De sebagai tempatnya membaca dan memulihkan ingatan. Rak buku belum penuh, meja masih terlalu rapi, tetapi malam ini ruangan itu berubah menjadi pusat operasi.
Aqil berdiri di luar pintu.
"Tidak ada yang masuk kecuali saya panggil," kata Keira.
"Baik, Nona."
"Kalau Ko Kevin datang?"
Aqil diam satu detik. "Saya akan bilang Nona sedang istirahat."
Keira menoleh. "Dia tidak akan percaya."
"Saya akan tetap bilang begitu."
Untuk pertama kalinya malam itu, Keira tersenyum tipis. "Bagus."
Pintu tertutup.
Laptop menyala. Phoenix aktif dalam mode senyap. Di layar, burung api kecil muncul tanpa suara.
`Operasi Pulang siap.`
"Target pertama, sistem keamanan Kediaman Gondokusumo. Aku butuh arsip CCTV hari perceraian dan malam kecelakaan. Jangan tinggalkan jejak."
`Mengakses.`
Keira menyandarkan punggung, menahan nyeri kecil di rusuk. Tangannya tetap di keyboard. Ia tidak hanya memberi perintah pada Phoenix. Ia ikut masuk, membelah lapisan keamanan, membuka jalur lama yang dibuat vendor murahan lalu ditambal asal-asalan oleh staf IT keluarga Gondokusumo.
Terlalu mudah.
Tiga tahun ia hidup di rumah itu sebagai perempuan yang dianggap tidak punya nilai.
Mereka tidak pernah tahu perempuan yang mereka abaikan bisa masuk ke jantung sistem mereka hanya dalam beberapa menit.
`Akses berhasil.`
Rekaman muncul.
Ruang kerja Galang. Surat cerai di meja. Anisa duduk pucat. Galang berdiri dingin. Tidak ada suara karena sistem internal hanya merekam video, tetapi Keira tidak perlu suara untuk mengingat setiap kalimat.
Ia menonton tanpa berkedip saat dirinya yang dulu menandatangani kertas itu.
Saat darah jatuh ke foto pernikahan.
Saat ia menyeret koper melewati foyer.
Keira menekan tombol simpan.
"Arsipkan. Label: Surat Cerai."
`Selesai.`
"Cari akses tamu dan kamera koridor lantai dua pada jam yang sama."
Beberapa jendela video terbuka. Pelayan berlalu. Pintu kamar tamu terbuka. Sherly terlihat di balik tirai, memegang ponsel.
Keira mencondongkan tubuh.
Kamera terlalu jauh untuk menangkap suara, tetapi waktu panggilan tercatat. Phoenix menarik metadata jaringan dari router rumah Gondokusumo.
`Panggilan keluar ke nomor tidak terdaftar. Durasi: 38 detik.`
"Cocokkan dengan nomor yang menghubungi pelaku van."
`Kecocokan tidak langsung. Nomor menggunakan kartu sekali pakai. Namun pola lokasi BTS mengarah pada perangkat yang sama dengan komunikasi Sherly Permata dua minggu sebelumnya.`
Keira menatap data itu. "Simpan."
Layar berikutnya masuk ke ponsel Sherly.
Bukan ponsel fisik, tetapi cadangan awan yang ceroboh. Sherly menghapus pesan dari perangkat, tetapi tidak mematikan sinkronisasi di satu aplikasi lama. Kesalahan kecil. Mahal.
Phoenix menampilkan daftar pesan.
Ada percakapan dengan nomor tanpa nama.
`Target keluar. Sendiri. Jangan gagal.`
Ada bukti transfer bertahap ke rekening perantara.
Ada foto lokasi jalan kecil dekat Kediaman Gondokusumo.
Ada pesan lebih lama, setahun lalu, tentang minuman di pesta amal keluarga Permata.
Keira berhenti.
Tubuhnya mendadak dingin.
Ia membuka folder itu.
Pesan Sherly pada seseorang:
`Pastikan dia minum. Setelah itu bawa ke kamar yang sudah disiapkan. Galang harus melihatnya keluar dari sana.`
Keira menatap layar.
Malam hotel.
Malu yang membuatnya diperlakukan seperti perempuan kotor.
Ternyata bukan kekacauan tanpa wajah. Bukan kesalahpahaman. Bukan takdir buruk.
Ada tangan Sherly di sana.
Jari Keira berhenti di atas keyboard. Napasnya terlalu tenang, sampai terasa tidak manusiawi.
Phoenix memunculkan peringatan kecil.
`Detak jantung meningkat.`
"Lanjutkan."
`Disarankan jeda.`
"Phoenix."
`Perintah diterima.`
Data berikutnya lebih buruk. Pembelian obat tidur melalui perantara. Bukti kamar hotel dipesan dengan nama palsu. Rekaman pintu koridor hotel yang sudah hampir terhapus dari server lama, tetapi masih bisa dipulihkan sebagian. Seorang pria tidak terlihat jelas. Staf hotel menerima amplop. Lalu Anisa, tubuhnya lemah, dibawa masuk.
Keira menutup mata sebentar.
Ia tidak menangis.
Air mata terasa terlalu kecil untuk penghinaan sebesar itu.
"Buat tiga paket bukti," katanya. "Satu untuk kecelakaan. Satu untuk kejadian hotel. Satu untuk transaksi pribadi Sherly yang memakai akses Galang."
`Membuat paket bukti.`
"Jangan lengkapkan semuanya. Sisakan versi publik, versi hukum, dan versi pribadi."
`Tujuan?`
"Aku belum akan menjatuhkannya di kantor polisi."
Phoenix tidak bertanya lagi.
Keira membuka file transaksi Sherly. Banyak hal kecil yang selama ini mungkin diabaikan Galang. Pemakaian kartu perusahaan untuk barang pribadi. Transfer ke akun luar. Pembayaran pada akun gosip. Tidak semuanya kriminal besar, tetapi cukup untuk menunjukkan pola.
Sherly tidak hanya mencuri suami orang.
Ia mencuri ruang, uang, reputasi, dan nyawa.
Di luar ruangan, terdengar suara langkah. Aqil berbicara rendah dengan seseorang. Kevin.
"Nona sedang istirahat," kata Aqil.
"Di ruang kerja?"
"Istirahat pikiran."
Ada jeda panjang.
Keira hampir tertawa, tetapi wajahnya tetap dingin.
Kevin tidak masuk.
Langkahnya menjauh setelah beberapa detik.
Keira kembali pada layar.
`Paket bukti selesai.`
Tiga folder terkunci muncul di desktop terenkripsi.
Phoenix kembali memunculkan notifikasi baru.
`Komunikasi aktif Sherly Permata terdeteksi.`
Keira membuka jendela kecil di sisi layar. Ada percakapan grup pribadi yang baru saja dibuat. Sherly tidak menulis namanya sebagai pengirim utama, tetapi gaya kalimatnya mudah dikenali. Ia meminta seseorang menyebarkan pertanyaan halus tentang perempuan misterius di malam amal: dari mana asalnya, apakah benar keluarga Liem, kenapa berani mengeluarkan sepuluh miliar, dan apakah uang itu benar-benar bersih.
Tidak ada tuduhan langsung.
Justru itu yang berbahaya.
Rumor di kalangan atas jarang dimulai dengan teriakan. Ia dimulai dengan pertanyaan yang tampak polos, lalu dibiarkan membusuk di meja makan, salon, dan grup arisan.
Keira membaca sampai akhir. Sherly bahkan menyiapkan satu kalimat untuk disebar: `Wanita baik-baik tidak muncul tiba-tiba tanpa latar belakang jelas.`
Keira menyimpan tangkapan layar itu ke folder keempat.
"Label: Fitnah."
`Selesai.`
Keira menatap nama Sherly Permata di salah satu dokumen. Untuk sesaat, ia membayangkan membawa semua itu ke depan Galang malam ini juga. Membiarkan pria itu melihat wajah perempuan yang ia lindungi. Membiarkan Sherly diseret saat masih merasa menang.
Namun, itu terlalu cepat.
Sherly akan menangis. Galang akan terkejut. Orang-orang akan menyebutnya skandal. Lalu semuanya selesai hanya sebagai berita kecil.
Tidak.
Keira ingin Sherly hancur di tempat yang paling ia cintai.
Di depan semua orang yang ingin ia tipu.
"Belum cukup," ucap Keira pelan.
Phoenix menunggu.
Keira menutup folder satu per satu, lalu menyandarkan tubuh pada kursi. Matanya dingin, tetapi bibirnya membentuk senyum nyaris tak terlihat.
"Aku mau dia hancur di depan semua orang."