Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurahkan isi hati.
Zalina yang tidak punya tujuan, akhirnya berhenti di kafe milik Diandra, tempatnya bekerja. Ia lalu turun dari taksi, setelah membayar ongkosnya.
"Hem? kenapa kau datang ke sini?" tanya Diandra ketika melihat sahabatnya itu tiba-tiba datang ke kafe, di saat ia sedang cuti.
"Ayahku menyuruhku untuk pergi jalan-jalan hari ini. Tapi, aku tidak tahu harus pergi ke mana dan bersama siapa." jelasnya santai.
Diandra tampak mengernyit seketika. "Kenapa kau tidak pergi bersama Kiara atau Lusi saja. Ku rasa mereka pasti mau di ajak jalan-jalan." ucap Diandra, memberi saran padanya.
Mengingat jika kedua gadis itu juga dekat dengan Zalina sewaktu mereka kuliah dulu.
Zalina tampak lesu. "Entahlah. Aku tidak yakin mereka mau ku ajak pergi. Apalagi setelah kondisi ku yang seperti ini."
Diandra tampak menghela napas sejenak. "Jangan berkecil hati. Coba saja hubungi mereka." bujuknya.
"Baiklah."
Zalina lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan mencoba menghubungi Kiara.
Namun...
"Tidak tersambung." ucapnya setelah menelpon beberapa kali pada Diandra.
"Benarkah." sahut Diandra ragu. "Kalau begitu coba hubungi Lusi. Kemarin dia datang ke kafe, dan sempat bertanya tentangmu juga."
"Oh, ya. Aku akan menelponnya." Zalina tampak tersenyum lebar, seolah merasa lega mendengarnya.
Ia lalu menghubungi nomor Lusi. Panggilan itu tersambung, namun tidak dijawab.
"Mungkin dia sedang ada pekerjaan. Coba hubungi lagi." pinta Diandra.
Zalina lalu mencoba menghubunginya sekali lagi. Panggilan itu tersambung kembali.
"Halo... siapa ini?" tanya seseorang di seberang begitu menjawab panggilannya.
"Lusi... ini aku Zalina. Apa-"
Tut...Tut...Tut...
Panggilan itu terputus begitu saja.
"Terputus."gumam Zalina lirih.
Ia seketika tampak lesu. Kepalanya tertunduk, menatap layar ponselnya yang perlahan menggelap, memantulkan wajahnya sendiri yang kini terlihat begitu rapuh.
Apa kondisinya sekarang benar-benar menyedihkan? Hingga semua teman yang dulu akrab dengannya, kini malah melangkah menjauh meninggalkannya satu per satu.
Diandra yang sejak tadi melihat, akhirnya melangkah mendekat. Tatapannya melembut, meski ada sedikit keraguan ketika ia membuka mulutnya.
"Sudah, mungkin Lusi juga sedang sibuk." ia tampak menepuk bahunya pelan, berusaha untuk menenangkannya. "Hmm... bagaimana kalau ku traktir kopi untukmu?"
Zalina menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. Untungnya masih ada seorang sahabat yang tetap berdiri di sampingnya dengan sepenuh hati.
"Boleh..." jawabnya lirih.
Diandra menuntunnya ke sebuah sofa di sudut ruangan, lalu mempersilahkan Zalina untuk duduk.
"Duduklah di sini dan bersantai. Hari ini kau adalah tamu istimewa di kafe ini. Jadi, nikmati saja waktumu." ucapnya dengan senyum manis.
Zalina terkekeh kecil melihatnya. "Kau ini... ada-ada saja."
Diandra mengangkat bahu santai. "Sedikit usaha untuk membuatmu tersenyum tidak ada salahnya, kan?"
Zalina hanya menggeleng pelan, namun senyumnya kali ini terlihat tulus.
"Oke, tunggu sebentar di sini. Satu capucino dingin akan segera datang." ucapnya Diandra ramah, seolah tahu apa yang diinginkannya.
Ia lalu berbalik, dan pergi untuk menyiapkannya.
Tak lama Diandra kembali ke meja dengan membawa satu cup capucino dingin lengkap dengan satu potong cheesecake dengan selai strawberry diatasnya.
"Ada kue juga?"
"Iya, biar suasana hatimu kembali ceria." sahut Diandra santai.
"Baiknya sahabatku ini..." puji Zalina tulus.
"Sudah, jangan banyak bicara. Minum saja." ucap gadis berambut sebahu itu.
Ia duduk di hadapan Zalina.
"Bagaimana keadaan ayahmu?" tanyanya kemudian.
"Keadaan sudah jauh lebih baik. Ayah tidak lagi menggunakan kursi roda. Dia sudah bisa berjalan dengan tongkat. Dan sepertinya aku sudah mulai masuk kerja Senin depan." jelas Zalina setelah menyeruput kopinya.
"Tidak usah terburu-buru. Kafe juga tidak terlalu ramai akhir-akhir ini. Jadi aku juga masih bisa membantu sesekali." jelas Diandra tampak mengerti dengan kondisinya saat ini.
"Tapi, aku jadi merasa tidak enak padamu, juga pegawai yang lain. Aku tidak ingin mereka menganggapku diistimewakan olehmu." ucap gadis itu sungkan.
"Sudah, tidak perlu pikirkan itu. Aku juga sudah memberi mereka pengertian." sahut Diandra yakin.
Zalina seketika berubah murung.
"Kenapa? Kau masih merasa sungkan padaku?" tanya Diandra penasaran.
"Tidak. Sebenarnya ada satu masalah lagi yang belum ku ceritakan padamu." Zalina lalu diam. Wajahnya tampak ragu.
"Ada apa?"
Zalina menatap Diandra yang tampak menunggu dengan perasaan campur aduk.
"Aku dijodohkan dengan seorang pria."
Diandra mengernyit heran. "Lalu... apa kau tidak suka dengan pria itu?"
Zalina menggeleng pelan.
"Apa kau dipaksa untuk menikah dengannya?"
Zalina kembali menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa masalahnya?"
Zalina menghela napas panjang, lalu kembali menyeruput kopinya. "Ayahku dan kedua orang tua pria itu sepertinya sangat mengharapkan agar pernikahan ini terjadi. Dan... pria itu juga setuju untuk menikah denganku." ia menghela napas lagi, kali ini lebih berat.
"Aku jadi bingung, mau menerimanya atu tidak. Masalahnya aku sama sekali tidak mencintai pria itu. Menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang?" lanjutnya lirih.
Diandra terdiam sejenak, memandang sahabatnya itu dengan ragu. "Aku juga bingung, Zal. Ini bukan keputusan kecil. Ini soal masa depanmu."
Zalina menunduk, jemarinya memainkan sedotan di dalam gelas. "Aku hanya takut menyesal nantinya."
"Kalau kau menolak, apa yang kau rasakan?" tanya Diandra hati-hati.
Zalina terdiam. Ia mencoba membayangkan kemungkinan itu, namun dadanya justru terasa sesak. "Aku... takut mengecewakan ayahku dan juga kedua orang tua pria itu. Mereka sangat baik padaku."
"Lalu kalau kau menerimanya?"
Kali ini jedanya lebih lama. Zalina menatap permukaan gelas kopi yang mengembun, seolah mencari jawaban di sana. "Aku takut menjalani pernikahan tanpa cinta."
Diandra mengangguk pelan. "Berarti masalahnya bukan sekedar menerima atau menolak. Tapi, apa kau siap menjalani konsekuensinya."
Zalina menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu harus pilih yang mana."
Diandra meraih tangan sahabatnya, lalu menggenggamnya lembut. "Zal, pernikahan itu bukan cuma soal memenuhi harapan orang lain. Kau yang akan menjalaninya, bukan mereka."
Zalina mengangkat wajahnya, matanya tampak berkaca-kaca. " Tapi kalau aku egois, bagaimana dengan ayahku?"
"Memikirkan kebahagiaanmu sendiri bukan berarti egois." balas Diandra tegas namun lembut. "Justru kau harus jujur pada dirimu sendiri dulu. Kalau sejak awal kau sudah ragu, pernikahan itu bisa jadi lebih menyakitkan nantinya."
Zalina terdiam. Kata-kata Diandra seperti mengetuk sesuatu dalam hatinya.
Zalina menghela napas pelan, kali ini terasa lebih ringan. "Kadang aku berharap... semuanya bisa sederhana."
Diandra tersenyum tipis. "Kalau hidup sederhana, mungkin kita tidak akan duduk di sini sambil overthinking seperti ini."
Zalina terkekeh kecil, untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai.
"Terima kasih, Di." ucapnya pelan.
Diandra mengangkat bahu. "Aku tidak memberikan solusi apa-apa. Aku cuma menemanimu berpikir."
"Dan itu sudah lebih dari cukup." balas Zalina.
Namun, jauh dalam hati Zalina... cepat atau lambat ia harus segera mengambil keputusan. Dan apa pun keputusannya nanti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
🥀🥀🥀
Absen dulu yuk. Mampir dan tinggalkan jejak ya. Bantu dukung novel ini, biar kalian bisa tetap baca kelanjutan ceritanya. Boleh juga kasih vote kalian ke novel ini..😁
Terima kasih untuk pembaca yang masih setia memberi dukungannya ya. 🫰
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...