NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Boncengan

Setelah hari itu, setengah jam menjadi kebiasaan.

Setiap pulang sekolah, jika Keiko tidak harus langsung ke rumah sakit atau Bu Tuti tidak datang terlalu cepat, dia dan Kelvin akan tetap tinggal di kelas. Awalnya hanya satu konsep. Lalu dua soal. Lalu satu halaman latihan yang menurut Kelvin "diciptakan khusus untuk menyiksa manusia".

Keiko mulai mengenal cara Kelvin belajar.

Dia tidak bodoh.

Dia hanya terlalu lama tidak percaya bahwa mencoba punya gunanya.

Jika soal terlihat panjang, Kelvin akan langsung menutup diri. Jika Keiko memotongnya menjadi langkah kecil, dia bisa mengikuti. Jika salah, dia akan pura-pura tidak peduli. Jika benar, dia tidak tersenyum, tetapi jarinya akan mengetuk kertas sekali.

Satu ketukan kecil itu pelan-pelan menjadi hal yang Keiko tunggu.

Sore itu, hujan tidak turun, tetapi langit Bandung berwarna abu-abu muda. Kelas sudah kosong. Di papan, Keiko baru saja menulis ringkasan rumus, sementara Kelvin menyelesaikan soal terakhir dengan alis berkerut.

"Jangan lihat aku terus," katanya.

"Aku melihat soalnya."

"Soalnya di kertas, bukan di wajahku."

Keiko mengalihkan pandangan ke jendela. "Baik."

Kelvin menunduk lagi. Dua menit kemudian, dia menggeser kertas ke arahnya.

Jawabannya benar.

Keiko menahan senyum. "Bagus."

Kelvin mengetuk kertas sekali.

Di luar kelas, ponsel Keiko bergetar.

**Bu Tuti**: Nduk, maaf. Mobilnya harus ke bengkel sebentar. Bu Tuti agak lama.

Keiko membalas cepat.

**Keiko**: Tidak apa-apa. Aku tunggu di sekolah.

Pesan berikutnya masuk beberapa detik kemudian.

**Kak Sari**: Kei-kei, aku masih di Lembang. Jangan pulang sendiri. Kalau perlu aku minta ojek online buat kamu.

Keiko menatap dua pesan itu, lalu jam di layar ponsel. Hari sudah hampir gelap. Gerbang sekolah masih terbuka, tetapi murid-murid tinggal sedikit.

Kelvin memasukkan buku ke tas. "Dijemput telat?"

"Iya. Aku bisa tunggu."

"Sampai kapan?"

"Mungkin satu jam."

Kelvin menatapnya seperti kemarin saat dia ingin menerobos hujan. Tatapan yang sama. Tatapan yang membuat Keiko merasa rencana paling masuk akal di kepalanya terdengar bodoh di telinga orang lain.

"Rumahmu daerah Setiabudi, kan?"

Keiko berkedip. "Kamu tahu?"

"Bu Tuti pernah bilang waktu telepon di lobby. Suaranya keras."

"Oh."

Kelvin berdiri. "Aku antar."

Keiko langsung menggeleng. "Tidak usah. Jauh."

"Dua puluh menit naik motor."

"Aku tidak punya helm."

"Tunggu."

Sebelum Keiko sempat bertanya, Kelvin sudah keluar kelas.

Dia benar-benar pergi.

Keiko berdiri di dekat meja, bingung apakah harus mengejar atau tetap menunggu. Lima menit berlalu. Lalu sepuluh. Dia hampir menelepon Bu Tuti ketika suara motor terdengar dari halaman sekolah.

Kelvin kembali dengan motor hitamnya.

Di tangannya ada helm baru berwarna pink muda.

Keiko menatap benda itu.

"Kamu beli?"

"Masa nyolong?"

"Tapi..."

"Kalau kamu naik motor, harus pakai helm."

Keiko masih tidak bergerak.

Helm itu benar-benar baru. Plastik pelindung kacanya bahkan belum dilepas sempurna. Warnanya pink lembut, bukan pink mencolok. Di bagian samping ada stiker kecil berbentuk bintang putih.

"Kenapa pink?"

Kelvin melirik seragamnya, lalu tas Keiko yang gantungan kecilnya juga berwarna ungu muda. "Menurut abang toko, cewek biasanya suka pink."

"Menurut kamu?"

"Menurutku yang penting ukurannya pas."

Keiko menerima helm itu dengan kedua tangan. Beratnya tidak seberapa, tetapi dadanya terasa penuh.

"Aku akan ganti uangnya."

"Nggak usah."

"Kelvin."

"Anggap biaya les."

"Biaya les tidak berupa helm."

"Mulai sekarang iya."

Keiko ingin membantah lagi, tetapi Kelvin sudah mengambil helm itu dari tangannya dan mengatur tali pengikat. Gerakannya agak kaku, seperti tidak terbiasa membantu orang memakai helm, tetapi dia melakukannya dengan hati-hati.

"Kencang?"

"Sedikit."

Dia melonggarkan setengah ruas. "Sekarang?"

"Pas."

Kelvin mundur setengah langkah, menatap hasilnya.

Untuk beberapa detik, wajahnya kosong.

Keiko menyentuh sisi helm. "Aneh?"

"Nggak."

"Kamu diam."

"Karena cocok."

Keiko menunduk, pura-pura membetulkan tali tas.

Motor Kelvin tidak terlalu besar, tetapi bagi Keiko yang hampir selalu naik mobil atau Grab, benda itu terasa seperti pintu menuju dunia lain. Jok belakangnya lebih sempit dari yang dia bayangkan. Ketika dia naik, dia tidak tahu harus memegang apa.

"Pegang jaketku," kata Kelvin.

Keiko meletakkan ujung jari di sisi jaketnya.

Kelvin menoleh. "Itu bukan pegangan. Itu sopan santun."

"Aku belum pernah boncengan."

"Makanya pegangan."

Keiko menggenggam ujung jaketnya sedikit lebih kuat.

Motor mulai bergerak.

Awalnya pelan. Mereka keluar dari gerbang sekolah, melewati pos satpam, lalu bergabung dengan lalu lintas sore Bandung. Angin langsung menyentuh sisi wajah Keiko yang tidak tertutup helm. Dingin, segar, membawa aroma aspal, gorengan dari gerobak pinggir jalan, dan hujan yang mungkin turun jauh di utara.

Keiko duduk tegak, terlalu tegang.

Kelvin menyadarinya.

"Takut?"

"Nggak."

"Bohong lagi?"

"Kali ini benar."

Motor melewati jalan yang sedikit menurun. Angin bertambah kencang. Rambut kecil di belakang leher Keiko bergerak. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa berat di perutnya tidak menjadi pusat perhatian. Ada sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit, lebih cepat dari pikiran-pikiran buruk.

Jalan.

Angin.

Punggung Kelvin di depan.

Kota yang bergerak.

Keiko tanpa sadar menggenggam jaket Kelvin lebih erat.

"Kalau sakit, bilang," kata Kelvin.

"Aku tidak sakit."

"Biasanya kamu bilang begitu saat sakit."

Keiko menatap punggungnya.

Dia tidak tahu sejak kapan Kelvin mulai hafal kebiasaannya.

Di lampu merah, motor berhenti. Kelvin menoleh sedikit. "Beneran nggak pusing?"

Keiko menggeleng. "Aku suka."

"Apa?"

"Naik motor."

Kelvin tampak tidak percaya. "Baru lima menit."

"Tapi rasanya seperti... cepat."

"Itu memang konsep motor."

Keiko tersenyum di balik helm. "Maksudku, rasanya seperti aku bisa pergi ke mana saja."

Kelvin tidak langsung menjawab.

Lampu berubah hijau.

Motor melaju lagi. Kali ini, Kelvin sedikit menambah kecepatan saat jalan mulai lengang menuju Setiabudi. Tidak berbahaya, tidak ugal-ugalan, hanya cukup untuk membuat angin lebih kuat memukul jaket dan membuat napas Keiko tertahan karena senang.

Dia lupa bahwa tubuhnya mudah lelah.

Lupa bahwa Bu Tuti akan panik jika tahu dia naik motor.

Lupa bahwa hidupnya selama ini dipenuhi kata jangan, hati-hati, tunggu, istirahat.

Untuk beberapa menit, Keiko hanya menjadi seorang gadis enam belas tahun yang duduk di belakang motor cowok teman sebangkunya, memakai helm pink baru, dan merasa dunia ternyata masih bisa bergerak secepat ini.

"Kelvin," panggilnya.

"Aku di sini."

Jawaban itu membuat dadanya bergetar pelan.

Keiko menatap jalan di depan dari sisi bahu Kelvin. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, memanjang seperti garis kuning di kaca helmnya. Angin membuat matanya sedikit berair, tetapi dia tidak ingin menutupnya. Jika menutup mata, dia takut kebebasan singkat ini hilang terlalu cepat.

"Bisa lebih kencang?"

Kelvin tertawa.

Bukan senyum tipis. Bukan suara pendek tanpa bunyi. Tawa sungguhan, rendah dan lepas, terbawa angin sampai Keiko hampir tidak percaya itu berasal darinya.

"Pegangan yang erat, Nona Guru."

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!