NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Biar Aku yang Urus

Formulir lomba sudah diisi, tetapi Darman belum mengirimkannya.

"Kesempatan terakhir mundur," katanya sore itu.

Aku sedang mengaduk bubur telur untuk Sena. "Kalau Bapak mau mengganti partner, bilang terus terang."

"Saya cuma memastikan kamu tahu kita akan ditertawakan. Tim lain bawa koki laki-laki yang biasa angkat wajan besar."

"Wajan dinilai beratnya atau isinya?"

Darman tertawa dan menandatangani formulir.

Sena duduk di kursi bayi dekat meja. Usianya mendekati setahun. Ia sudah bisa berdiri sambil berpegangan dan protes keras jika sendok terlambat. Buburnya berisi nasi lembut, kuning telur matang, dan labu, teksturnya lebih kasar daripada beberapa bulan lalu.

Kami memperkenalkan tekstur bertahap sesuai arahan klinik. Tidak ada gula tambahan, garam sangat sedikit dari bahan alami, dan setiap bahan baru dicoba pada siang hari. Catatan alergi tetap kosong.

Sena paling suka labu dan telur. Ia akan memuntahkan wortel jika potongannya terlalu besar, lalu menatapku seolah kesalahan berada di seluruh dunia kecuali mulutnya.

"Hari ini belajar mengunyah," kataku sambil menunjukkan sendok. "Bukan menelan seperti anak bebek."

Ia membuka mulut lebar-lebar. Darman yang lewat membawa panci berhenti untuk tertawa.

"Muridmu paling galak."

"Kalau dia bisa memegang pisau, Bapak sudah dipecat."

Aku meniup satu sendok dan memberikannya. Ia menelan, lalu memukul meja meminta lagi.

"Pelan, Le. Mulutmu cuma satu."

"Ma!"

"Iya, Mama dengar."

Bram masuk membawa wadah kosong. "Jadwal makan?"

"Lima menit lalu. Bapak mau periksa catatan atau ikut antre?"

Ia duduk di bangku pendek. "Rasanya apa?"

Aku menyodorkan ujung sendok baru. Bram mencicipi sedikit bubur.

"Hambar."

"Memang untuk bayi. Ginjalnya belum butuh ambisi dapur Bapak."

Darman terbatuk menahan tawa.

Bram mengabaikannya. "Nala bagaimana?"

"Suhu normal dua hari. Beratnya masih dipantau. Mbah bilang dia mulai mau bubur lagi."

"Kapan kamu mau membawanya ke sini?"

Sendokku berhenti.

"Mau, tentu. Tapi kamar kecil, saya bekerja, Sena masih butuh saya, dan izin tinggal Nala belum ada."

"Kamu sekarang staf tetap dapur, bukan sekadar ibu susuan. Anak pegawai dan anak prajurit gugur bisa diajukan tinggal bersama ibunya."

"Tetap perlu tempat dan orang yang membantu."

"Biar aku yang urus."

Kalimat itu diucapkan begitu biasa, seolah memindahkan seluruh gunung hanya tugas setelah makan siang.

"Bram, saya nggak mau semua beban jatuh ke Bapak."

"Bukan semua. Saya urus prosedur dan ruang. Kamu putuskan kapan Nala siap."

Bram membuka buku kecil dan menjelaskan langkah yang sudah ia cari. Pertama, surat rekomendasi tempat tinggal dari atasan kerjaku. Kedua, bukti Nala adalah anak kandung dan anak prajurit gugur. Ketiga, penilaian kamar serta rencana pengasuhan saat aku bekerja. Izin awal tiga bulan bisa keluar cepat, lalu dievaluasi sebelum status jangka panjang.

"Kamar ini cuma cukup satu ranjang dan ranjang bayi," kataku.

"Gudang logistik punya ranjang lipat. Ada kamar sebelah yang kosong setelah petugas pindah. Hendra cek apakah sekat bisa dibuka sesuai aturan bangunan."

"Bapak sudah sejauh itu?"

"Saya baru mencari pilihan. Belum ada perubahan tanpa persetujuanmu."

Ia bahkan memikirkan batas antara membantu dan mengambil alih. Hal itu membuat tawarannya lebih sulit kutolak.

Ia tidak mengambil keputusan dariku. Ia hanya menawarkan membuka jalan.

"Mbah belum sehat," kataku. "Kalau Nala dibawa, dia sendirian."

"Kunjungan kesehatan tetap jalan. Kita cari keluarga atau tetangga yang bisa mendampingi. Jangan pertahankan keadaan berbahaya hanya karena takut perubahan."

Aku menatap bubur di mangkuk. Dua anak, dua tempat, satu tubuh. Untuk pertama kalinya ada kemungkinan masalah itu tidak harus kuselesaikan dengan membelah diri.

"Ajukan dulu," kataku. "Saya bicara dengan Mbah."

Bram mengangguk. Ia mengambil formulir lomba dari meja.

"Peserta utama Larasati, pendamping Serma Darman."

"Ada masalah?"

"Tidak."

"Kalau begitu jangan pakai wajah pemeriksaan."

"Saya sedang berpikir."

"Tentang lomba?"

Tatapannya singgah padaku. "Tentang banyak hal."

Jantungku salah satu ketukan.

Ia berdiri dan membawa wadah bubur Sena untuk diperiksa porsinya oleh klinik. Sebelum keluar, ia menoleh.

"Latihan boleh keras. Makan dan tidur tetap."

"Siap, Komandan."

Setelah Bram pergi, Darman bersiul pelan.

"Apa?"

"Nggak ada. Saya cuma baru tahu urusan tempat tinggal anak masuk tugas Danyon."

Aku melempar kain lap. Ia menghindar sambil tertawa.

Kami mengirim formulir lomba sore itu. Nama Larasati tercetak sebagai peserta utama dengan jabatan pelatih teknis dapur. Bukan janda. Bukan ibu susuan. Pekerjaan.

Darman menyerahkan salinan. "Sekarang nggak bisa lari."

"Saya nggak mau lari."

Latihan dimulai dengan undian buatan. Darman memasukkan nama bahan ke dalam mangkuk: ikan, ayam, singkong, labu, daun pepaya. Aku mengambil satu kertas dan mendapat ikan air tawar.

Ikan latihan dibeli dari jatah pelatihan dan ditimbang. Aku punya waktu lima menit untuk menuliskan rencana, lalu tak boleh mengganti hidangan kecuali alasan keselamatan.

"Kalau dapat ikan bau lumpur?" tanya Darman.

"Insang dan daging diperiksa. Kalau masih aman, rendam singkat dengan jeruk dan garam, jangan terlalu lama sampai tekstur rusak. Gunakan jahe, kunyit, dan asam untuk kuah."

"Kalau tulangnya banyak?"

"Fillet tipis, tulang jadi kaldu. Duri halus diperiksa dengan jari dan pinset."

Ia sengaja menyela pertanyaan saat aku bekerja, meniru tekanan juri. Pada menit kedua puluh, ia mematikan satu kompor tanpa peringatan.

"Kompor rusak," katanya.

Aku memindahkan panci sup ke tungku utama dan mengubah urutan menggoreng. Kompetisi bukan tempat berharap semua alat sempurna.

"Sembilan puluh menit," katanya. "Tiga hidangan. Mulai."

Aku memeriksa ikan, memisahkan daging dan tulang, lalu menyusun urutan kerja. Sup dimulai dulu karena perlu waktu. Fillet dibagi untuk hidangan utama. Sisa daging dikerok untuk perkedel kecil.

Pada menit kelima belas, Sari muncul di pintu dapur.

"Laras, nanti setelah latihan temui aku di bawah pohon dekat lapangan. Ada yang perlu dibicarakan."

"Tentang apa?"

"Tentang kamu, anak-anak, dan cara perempuan di kompleks ini memilih teman."

Ia pergi sebelum aku bertanya lagi.

Darman mengetuk pengatur waktu. "Jangan melamun. Tujuh puluh empat menit."

Aku kembali pada ikan, tetapi bayangan Sari duduk menunggu di bawah pohon tidak hilang dari kepala.

Saat waktu habis, tiga hidangan memang selesai, tetapi fillet terlalu kering dan sup kurang panas. Darman menulis kedua kegagalan tanpa menghibur.

"Besok ulang."

"Iya."

"Kamu nggak marah?"

"Lebih baik salah di sini daripada di depan juri."

Aku membersihkan meja, menyerahkan Sena yang baru kembali dari klinik kepada Tuti, lalu berjalan menuju pohon di tepi lapangan. Sari sudah duduk sendirian di atas batu rendah, menepuk tempat kosong di sampingnya sambil menatapku dengan wajah yang sangat serius.

Percakapan itu jelas bukan sekadar basa-basi biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!