NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Ucapan Pedas Mertua

Pagi yang cukup memberi kesan mengesalkan bagi Nasya. Melepas sepatu yang haknya tidak terlalu tinggi demi kenyamanan. Melangkahkan kaki dengan penuh keterpaksaan. Memandangi sekitar yang tidak ada tanda-tanda orang yang katanya akan mengantarnya pulang.

“Kesel pake banget. Bisa-bisanya aku malah disuruh pulang sendiri setelah apa yang aku lakuin ke Bapak pemarah itu. Aku udah mau bermusuhan sama mantannya terus dipamerin ke karyawan juga rekam kerjanya tadi. Eh, balasannya aku jalan kaki. Mana katanya ada yang anter pulang. Hampir satu jam nunggu, nih,” cerutu Nasya dengan wajah kesal yang terpampang nyata.

Nasya mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah saking panasnya. Tak lupa menguncir rambutnya yang tadinya terurai. Dia pun duduk asal saja di kursi dekat jalan. Tanpa disadari ada mobil yang ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya.

Helaan napas lega rasanya ketika harapannya muncul karena memang tidak diizinkan Elgan ikut siapapun kecuali orang yang ditugaskannya. Meski tidak tahu siapa, Nasya hanya yakin jika membawa mobil pasti orang suruhan Elgan. Namun, Nasya tertegun saat seorang wanita mengenakan kacamata hitam yang turun dari mobil tersebut.

“Hah? Mamanya Pak Elgan?” liriknya yang sangat terkejut.

Plak!

Suara yang terdengar nyaring dan berdengung di telinga Nasya. Pipinya terasa panas, tak menyangka dia akan menerima perlakuan seperti ini. Lebih parahnya di pinggir jalan yang menjadi perhatian beberapa orang yang berlalu lalang.

“Penampilan macam apa ini?! Cih, sangat memalukan sekali. Kamu berpenampilan seperti ini ke kantornya Elgan? Gembel macam apa yang Elgan nikahi! Kamu tidak bisa menjaga martabat keluarga Parameswara. Inilah alasan kenapa saya tidak mengizinkan pernikahan kalian. Aura miskin itu benar-benar melakar di wanita ini.” Tunjuk Alina pada Nasya dengan tatapan merendahkan dan ucapannya sangat ketus.

“Ma, saya nggak bermaksud mempermalukan. Saya hanya ti …,” ucapan Nasya selalu saja tak bisa diselesaikan karena mertuanya mendahuluinya, tak memberi kesempatan untuk Nasya berbicara.

“Terserah, saya tidak mau mendengar alasan murahan. Daripada saya terus-terusan emosi, lebih baik berangkat segera untuk melihat Reina. Oh, sebentar … atau jangan-jangan kamu diusir dari kantor. Apa ini berita baik kalau Elgan sadar bahwa wanita yang dinikahinya tidak layak? Baguslah,” sahut Alina cepat.

Lagi-lagi Nasya tak bisa berkata-kata dengan ungkapan-ungkapan pedas dari mertuanya. Rasanya ingin menjawab, tapi entah kenapa bibirnya enggan membuka suara. Keberaniannya seakan runtuh lantaran serangan yang tiada henti dari Alina.

“Ingat selalu meski penampilanmu diubah dengan macam-macam cara dan memakai barang mahal sekalipun tidak akan merubah nilainya. Tempatmu hanya di tempat terendah.” Jemari itu mengusap pipi Alina, bukan untuk bersimpati. Akan tetapi, untuk menegaskan tempatnya dan diikuti kesini dan tatapan Alina.

Tanpa sadar air mata itu turun tanpa aba-aba. Tepat sekali membuat sakit bertubi-tubi. Cengkeraman tangannya mengerat di pakaian yang dikenakannya. Nasya menahan amarah dan hinaan yang berputar berulang di kepalanya. Melemparkan alas kaki yang sejak tadi di genggamnya ke asal arah.

Di tempat lain, Alina diselimuti kebahagiaan sesaat karena beranggapan bahwa Nasya memang tidak disambut dengan baik dan tentunya diusir dari kantor. Langkah mantap dan senyuman yang gak mengecewakan. Semua menatapnya hormat kalau Alina memasuki gedung besar tersebut.

“Aku sudah tidak sabar,” batinnya.

Bertepatan dengannya yang hendak membuka pintu ruangan Elgan. Putranya itu keluar tepat di hadapannya. Bukannya fokus pada Elgan, Alina menerobos masuk seakan mencari seseorang. Elgan ikut masuk lagi dan memastikan apa yang sedang mamanya lakukan.

“Reina mana? Kamu akan bercerai dengan wanita itu, kan?” tanyanya mengejutkan Elgan.

“Apa yang sedang Mama bicarakan? Reina? Cerai? Ma, apa yang mau diharapakan lagi dengan Reina? Dia istri orang. Masalah cerai pun tidak ada yang ingin melakukan ini? Baik Elgan maupun Nasya,” jawab Elgan mengerutkan dahinya.

Alina mondar-mandir pelan. “Nggak-nggak ini bukan keinginan kamu dari awal, Elgan. Keluarga memang menginginkan pernikahan untuk kamu, tapi bukan seperti ini. Reina wanita yang pas. Buka mata kamu?!” ujar Alina menegaskan.

Elgan mengangguk paham. “Aku punya keinginan, tapi kalau Reina tidak bagaimana, Ma? Aku tidak ingin merendahkan diri hanya untuk memohon. Dia juga sudah menikah. Tenangkan diri Mama sekarang, Elgan masih ada pekerjaan. Tolong, hargai keputusan Elgan,” jawab Elgan menjelaskan.

***

Nasya menggeliat dari tempat tidurnya. Berusaha meraih ponsel di atas meja dekat tempat tidurnya. Nasya langsung membuka kamera untuk memeriksa wajahnya. Matanya masih sembab karena tangisannya cukup panjang sampai dirinya tertidur. Melirik jam dinding di sampingnya yang menunjukkan waktu bahwa matahari sebentar lagi berganti bulan.

“Pusingnya kepalaku.” Nasya membangun kepalanya yang kemudian mengacak rambut pelan.

Tanpa ada isyarat mendadak pintu kamarnya terbuka. Nasya mengubah posisinya menjadi duduk dengan degupan yang tak beraturan lantaran terkejut. Namun, lebih mengejutkannya lagi ketika melihat Elgan menghampiri dengan langkah lebar seolah-olah sedang mengejar sesuatu.

“Ada apa?” tanya Nasya yang tak ingin memandangnya.

“Mama bilang tadi kamu jalan dengan penampilan acak-acakan? Benar?” sahut Elgan.

Nasya meliriknya sinis. Tersirat kebencian yang dapat Elgan rasakan. “Bukankah itu bagian dari rencana? Pulang hampir jalan kaki karena jemputan lambat dan anda yang menginginkan saya dihina di jalanan agar disaksikan banyak orang,” jawab Nasya menatap ke lain arah asal tidak ke arah Elgan.

“Apa maksud kamu?” tanyanya tak mengerti.

“Lucu, ya. Anda yang merencanakan, tapi anda berlagak seolah tidak tahu.” Nasya baru berani menatap Elgan tak berkedip.

“Saya tidak mau tau. Lain kali, jaga sikap dan perlakuanmu. Saya tidak ingin hanya karena alasan ini rencana saya jadi terhambat. Sebelum bertindak pikirkan dulu jangan sampai merugikan saya! Apalagi nama keluarga.” Elgan tak mau lagi mendengar balasan Nasya. Langkahnya begitu cepat dan menghilang.

Nasya tak berkutik dan mematung. Sebanyak apapun ucapannya tak akan ada artinya. Takdir baik rasanya tidak ingin mendekat. Helaan napas panjang dan berat berkali-kali dikeluarkan agar mengurangi sesaknya jalan hidupnya.

Kesedihan, tangisan, dan luka yang harus ditanggungnya sendiri. Nasya memandangi layar ponselnya. Ingin sekali membagi keluh kesahnya, tapi di dunia ini sudah tidak ada yang bisa dipercaya. Bahkan, pesan dan panggilan tak terhitung dari Revan tak pernah dihiraukannya.

“Revan, seharusnya kamu gak pernah melakukan itu sama Cika. Kenapa harus Cika? Padahal, masih banyak cewek lain. Sekarang aku udah gak bisa cerita ke siapa-siapa lagi,” ucap Nasya pelan.

Saat dirinya meratapi nasib pahitnya. Ponsel Nasya berdering, tapi bukan dari Revan. Kali ini, panggilan dari ibunya. Tersirat senyuman yang tak bisa disembunyikan. Waktunya sangat pas sekali untuk Nasya bercerita tanpa harus menghubungi Ibu lebih dulu. Apakah langkahnya ini benar atau salah?

“Nasya, Ibu butuh uang. Raya hari ini gak sekolah, demamnya tinggi. Bisa kirim nggak? Atau kamu pulang dulu. Anterin adikmu periksa,” ujar Ibu Nasya langsung saat Nasya menjawab panggilannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!