Deskripsi ~S1~(Alan & Ulan) , ~S2~(Elang & Mentari)
Ulan Diandra Maera. Gadis berusia 25 tahun harus mengalami masa pahit karena masa lalunya yang membuat sang tunangannya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hingga dirinya di benci oleh keluarga sang tunangan dan keluarga kandungnya sendiri, hingga datang kembaran dari sang tunangan bernama Alan yang juga ia pernah cintai di masa lalu dan ternyata adalah CEO di perusahaan tempat Ulan bekerja. Alan ternyata bisa membuat hidup Ulan lebih berwarna setelah kebencian yang ia terima dari keluarganya dengan alasan yang sama sekali tidak di ketahui oleh gadis itu.
Alan Mahendra, lelaki 32 tahun yang diam-diam mencintai Ulan sejak dulu, hanya karena egonya membuat Ulan berpaling pada Althaf Mahendra, kembarannya. Alan akan membuat Ulan mencintainya dengan cara lembut maupun kasar.
Akankah Alan bisa membuat Ulan mencintainya seperti dulu?
warning : kisah ini murni dari pemikiran author. Jika ada kesamaan tokoh dan yang lainnya itu hanya sebuah kebetulan yang tidak disengaja. saling mendukung dengan memberikan like, vote, komentar dan tips. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
...Happy Reading...
****
Alan menatap Ulan yang berada di pelukannya sekarang, mereka sudah di apartemen setelah 2 jam menunggu kedatangan tukang bengkel yang terhambat hujan deras di jalan hingga mereka melakukan hal yang di luar dugaan keduanya. Sampai mereka bisa tertidur di satu kasur yang sama seperti ini, jujur Alan merasakan jantungnya berdetak sangat keras ketika bisa melihat Ulan dalam jarak sedekat ini, wajah damai yang sedang tidur di pelukannya bisa membuat jantung Alan menggila lebih dari sebelumnya.
Alan mengelus pipi Ulan dengan sangat lembut, ia meneguk air ludahnya dengan susah payah ketika melihat bibi pink yang selalu menggodanya hingga Alan berani mencium Ulan dengan ganas di mobil tadi, tetapi mereka tidak melakukan sesuatu sampai jauh, Alan hanya mencium Ulan dan memegang tubuh sensitif Ulan ketika Alan menginginkan yang lebih petir kembali datang dan membuat keduanya tersadar hingga rasa canggung menyapa keduanya sampai di apartemen setelah mobil Alan bisa hidup kembali karena sudah di perbaiki oleh tukang bengkel yang sudah di telepon Alan sebelumnya.
Alan memberanikan diri untuk mencium bibir Ulan kembali, rasa yang ada pada Ulan membuat Alan benar-benar kecanduan, benar kata Althaf, Ulan adalah gadis yang bisa membuat lelaki yang melihatnya jatuh cinta hingga Althaf takut kehilangan Ulan dan Althaf dengan cepat meminang Ulan walau Ulan waktu itu masih berumur 20 tahun dan Althaf berumur 27 tahun mereka hanya berbeda 7 tahun tetapi cinta keduanya sangat besar hingga Alan merasa iri dengan kembarannya tersebut.
Alan menatap Ulan dengan tak berkedip dan bibir yang masih menempel satu sama lain, jantung Alan berdetak kembali saat mata Ulan terbuka secara perlahan. Mereka memandang satu sama lain dengan sangat dalam hingga Alan berani menggerakkan bibirnya kembali mencecap rasa yang ada di bibir Ulan. Ulan terbuai tetapi dengan cepat ia sadar dan mendorong dada Alan.
"Apa yang kau lakukan Pak?" ucap Ulan dengan tajam mengelap bibirnya dengan kasar karena sudah 2 kali ia merasa kecolongan seperti ini. Ada apa dengan hatinya? Seperti ada yang memerintahkan untuk membalas ciuman Alan kepadanya.
"Hanya menciummu,"ucap Alan dengan santai dan merebahkan kembali tubuhnya di samping Ulan. Ulan beringsut sedikit menjauh dari Alan tetapi dengan cepat Alan memeluk dan menarik Ulan mendekat ke arahnya.
"Lepas Pak! Jangan begini!" ucap Ulan dengan kesal mencoba melepaskan pelukan Alan dari tubuhnya tetapi Ulan tidak mampu melepaskannya karena tenaga Alan sangat besar di bandingkan dirinya.
"Diam! Biarkan begini cuaca saat ini sangat dingin sekali," ucap Alan dengan tegas membuat Ulan menatap Alan dengan sinis.
"Modus!" ucap Ulan dengan sinis membuat Alan terkekeh. Akhirnya Alan melepaskan pelukannya dan terbaring telentang menatap langit-langit kamar.
"Kamu bahagia dengan Althaf?" tanya Alan dengan tiba-tiba membuat Ulan dengan refleks menatap ke arah Alan yang sedang berbicara kepadanya.
"Kenapa bicara seperti itu semua orang tahu jawabannya," ucap Ulan dengan datar.
"Hmmm... Ingin tanya saja. Saat aku, Althaf dan kamu sering kumpul bersama dulu aku tahu kamu sering curi-curi pandang terhadapku, dan aku tahu kamu menyukaiku. Namun, karena sifat ku yang seperti ini kamu mulai nyaman dengan Althaf hingga rasa suka atau cinta untuk ku sudah hilamg tak tersisa sampai sekarang."
Perkataan Alan membuat Ulan tercengang menatap Alan dengan pandangan yang sulit di artikan. "Aku tidak ingin membahasnya semua itu hanya masa lalu yang tidak perlu di bahas karena kamu tahu cintaku begitu besar untuk Althaf," ucap Ulan tanpa memanggil Alan dengan sebutan 'Pak' karena menurutnya mereka sedang tidak bekerja.
Alan menghela nafasnya. "Hmmm." ia memejamkan matanya untuk menghalau rasa sesak yang menghimpit dadanya. Jika waktu boleh di putar ulang Alan ingin mengatakan cinta kepada Ulan saat gadis itu terang-terangan menyukainya tetapi Alan yang dasarnya cuek dan dingin hanya mengabaikan Ulan hingga cinta Ulan berbalik mencintai kembarannya yang sangat perhatian kepada Ulan.
"Jika mungkin saat ini kami sudah menikah dan memiliki anak-anak yang sangat lucu," ucap Ulan dengan mengenap semua kebersamaannya dengan Althaf yang semakin membuat dada Alan sesak.
"Ya." balas Alan dengan singkat dan suara seraknnya.
"Tidurlah!" ucap Alan memunggungi Ulan begitu saja.
"Aku mau pulang!"
"Baik," ucap Alan bangkit untuk mengantarkan Ulan pulang untuk apa ia menahan Ulan saat ini jika membuat hatinya sakit.
Ulan menatap Alan dengan sendu. Semudah itu Alan meng-iya-kan permintaanya. Bukan seperti Alan yang selalu menahannya yang membuat Ulan sangat kesal. Ada apa dengan Alan?
"Ayo!"
"Hmmm di sini saja tidak usah pulang," ucap Ulan dengan lirih yang membuat Alan menghela nafasnya. Tanpa kata Alan merebahkan dirinya kembali.
"Kok diam sih?" tanya Ulan yang sudah tidak tahan dengan kebiusan yang melanda mereka berdua.
"Ngantuk!" jawab Alan dengan datar membuat Ulan kesal. Ia tidak suka Alan mengabaikan dirinya seperti ini.
Ulan menggulikan badannya ke kanan dan ke kiri, ia sama sekali tidak bisa tertidur. Alan yang memunggunginya tersenyum karena Alan tahu Ulan tidak suka di abaikan dirinya. Entah itu perasaan cinta atau bukan tapi yang pasti sudah membuat hati Alan bahagia. Alan membalikkan badannya hingga keduanya saling menatap satu sama lain.
"Ayo tidur," ucap Alan memeluk Ulan hingga gadis itu diam tak berkutik. Ada rasa nyaman yang Ulan rasakan ketika Alan memeluknya dengan erat. pelukan Althaf dan Alan berbeda tetapi sama-sama membuat Ulan merasakan kehangatan yang luar biasa.
"Ayo tidur atau mau aku cium kembali!" ucap Alan dengan dingin ketika melihat Ulan masih setia membuka matanya. Mereka tidur dalam kasur yang sama, benar-benar tertidur tanpa melakukan apapun.