Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamka
Lima tahun berlalu dan kini putra dari Haris sudah lahir, dia bernama Hamka Haris Stuart karena Haris memilih untuk menggunakan nama keluarga ayah kandungnya setelah dia menemukan kenyataan kalau ternyata ayah kandungnya marah karena mengira Haris bukanlah putranya setelah melihat perselingkuhan Jessy dan Maulana.
Haris terkejut mendengar kenyataan itu langsung dari Zack yang di percaya Patrick ayah kandung Haris setelah puluhan tahun menyembunyikan itu atas permintaan Patrick, tapi setelah tes DNA di lakukan dan Patrick tahu Haris adalah putranya, dia mewariskan seluruh hartanya pada Haris tanpa dia tahu kalau Haris sudah di ketahui orang orang meninggal.
"Hamka, ini adalah warisan papa, di dalamnya ada banyak harta papa yang tersimpan untuk kamu, kamu sudah kaya sejak dalam perut mommy kamu" ungkap Haris yang sedang memangku Hamka di pangkuannya.
Dia membawa anaknya itu ke sebuah rumah besar di mana semua harta Haris tersimpan di sana, itu adalah rumah lama Patrick yang meninggal tiga tahun setelah dia tahu kalau Haris adalah putranya.
"Brankas ini besar sekali pa, apa tidak apa apa di tinggal di sini tidak ada yang jaga?" tanya Hamka mengusap brankas besar itu.
"Ada Om Zack, dia adik angkat papa sekarang karena dia adalah abangnya Tante Lusy, dia tidak tahu kalau papa sekarang berupa arwah tapi dia tahu kamu adalah putranya papa, tetap bersama Opa Brandon saat kamu bertemu Zack ya, Opa Brandon yang papa beri kuasa untuk mengawasi kamu sampai nanti kamu berusia tujuh belas tahun dan siap mengurus perusahaan Opa Patrick" ungkap Haris
"Iya, Hamka akan jaga papa dan harta papa" jawab Hamka membuat Haris tertawa karena putranya itu sudah di berikan keunikan sejak dia lahir.
Hamka lahir tanpa ekspresi bahkan buta warna, tapi Adrian mengatakan kalau Hamka sebenarnya tidak buta warna, dia hanya butuh waktu untuk bisa melihat warna dalam hidupnya. Dan warna pertama yang di lihat Hamka adalah warna hijau dari mata Esmeralda putri Vandra dan Chelsea yang lahir bahkan lebih dulu dari Hamka.
Hamka selalu melihat mata Esmeralda setiap kali berkunjung ke rumah Hendra, dan dia mengatakan warna mata Esmeralda bagus, dari sanalah dia tahu kalau itu adalah warna hijau dan memanggil Esmeralda dengan panggilan emerald bahkan mengklaim Esmeralda sebagai adiknya meskipun usia Esmeralda lebih tua beberapa bulan darinya.
"Kamu tidak malu punya papa arwah hidup seperti papa?" tanya Haris
"Tidak"
"Andai kamu bisa tersenyum nak, kamu pasti akan terlihat semakin tampan, wajah mu bahkan seratus persen mirip papa, tapi mommy kamu bilang kamu mirip Daddy kamu yang jelek itu" ungkap Haris mendekap tubuh Hamka.
"Daddy tampan tapi menurut mommy saja, papa paling tampan karena Hamka juga tampan mirip papa" ucap Hamka menghibur Haris tapi dengan wajah yang sama sekali tidak ada ekspresi.
"Ya, kamu tampan mirip papa" jawab Haris
"Ayo pulang papa, Hamka mau lihat adik bayi Tante Aurora, katanya sudah lahir" ajak Hamka
"Tapi kamu harus melawan Kalingga, kalau Kalingga memukul kamu harus kamu lawan jangan diam saja" ucap Haris yang sering kesal kalau Hamka di pukuli Kalingga, putri dari Zhafran dan Delisha yang punya saudara kembar bernama Zaheer.
"Dia kembarannya Zaheer, dia juga perempuan dan Hamka tidak boleh pukul perempuan" jawab Hamka
"Kenapa kamu harus mirip papa, mungkin karena kamu lahir saat hati papa sudah mati makanya kamu seperti ini, maafkan papa, ayo kita pulang"
Haris menggendong Hamka di punggungnya, mereka akan pulang karena harus sudah mulai sore tapi saat sampai di perumahan ternyata Aurora belum pulang jadi Haris memilih untuk membawa Hamka pulang ke rumah Lucas kembali.
"Nak, kenapa kamu baru pulang?" tanya Ivanka khawatir
"Main dengan Liam dan Lintang" jawab Hamka memeluk Ivanka dan mengecup kening dua adik kembarnya Lana dan Lucia.
"Kamu tidak nakal kan?" tanya Ivanka
"Tidak mom"
"Sekarang kamu mandi dulu karena sebentar lagi Daddy kamu pulang"
"Iya mom"
Hamka naik ke lantai dua rumah Lucas, tangannya selalu menggenggam tangan Haris karena sejak bayi Haris selalu menjaganya dengan baik bahkan yang mengajarkan Hamka berjalan juga adalah Haris karena Lucas selalu di minta Haris untuk tidak mengganggu dia saat bersama Hamka.
"Papa, besok Hamka mau melihat adik bayi Tante Aurora"
"Iya, papa akan antar kamu ke sana"
"Mau lamar juga"
"Hahaha.. Memangnya kamu tahu apa itu melamar?"
"Tidak"
"Kalau begitu nanti saja, anaknya juga belum kita lihat"
"Dia cantik pa, mirip Om Langit"
"Kamu melihatnya dalam mimpi kamu?" tanya Haris dan Hamka mengangguk.
"Langit itu tampan"
"Tapi kan adik bayinya perempuan"
"Bahkan kamu sudah tahu jenis kelaminnya, Liam dan Lintang pasti akan melindungi adik mereka itu" ungkap Haris
"Hamka kan teman mereka, mereka juga baik"
"Bagi seorang kakak, menjaga adik perempuan adalah hal yang sangat berat, sama seperti kamu yang selalu menjaga Esmeralda dari Zaki" jawab Haris
"Om Zaki sudah dewasa tapi mengatakan kalau Emerald adalah calon istrinya karena mimpi kalau Emerald itu jodohnya katanya"
"Iya, Zaki selalu kalah dalam hal cinta sampai dia bermimpi kalau jodohnya ada di dalam perut Chelsea lima tahun lalu, dan setelah Esmeralda lahir, Zaki selalu memastikan Esmeralda terpenuhi kebutuhannya tanpa memaksa kak Vandra, dia tetap akan memberikan kebebasan untuk Esmeralda setelah dia dewasa" jawab Haris
"Papa, ceritakan tentang papa dulu, Hamka ingin dengar lagi" ucap Hamka
"Kemarin papa cerita saat papa sekolah SMA kan? Hari ini papa akan cerita saat papa kuliah" jawab Haris
"Apa sama seperti saat papa sekolah? Itu membosankan" ledek Hamka tapi tidak tertawa ataupun terkekeh sama sekali.
"Kamu bilang hidup papa membosankan?" tanya Haris terkejut.
"Iya, Hamka lebih baik dari papa"
"Kamu memang harus lebih baik dari papa, hidupmu, masa depanmu bahkan kisah cintamu nanti, kamu harus lebih baik dari papa" ungkap Haris menitikkan air matanya.
"Kenapa menangis? Jangan menangis karena Hamka tidak suka papa ataupun orang orang yang Hamka sayangi menangis"
Hamka menghapus air mata Haris dengan tangan kecilnya, dia bahkan bisa mengungkapkan perasaannya saat dengan Haris, berbeda dengan Ivanka yang selalu dia jaga perasaannya karena baginya Ivanka harus dia jaga sedangkan Haris harus selalu dia ajak bicara agar Haris tidak merasa kesepian.
"Kamu sayang papa?"
"Iya, sayang sekali sama dengan sayang Hamka pada Daddy dan mommy, pada Emerald, Lana dan Lucia, bahkan sama dengan rasa sayang Hamka pada adik bayi Tante Aurora" jawab Hamka
"Papa senang karena kamu banyak bicara saat dengan papa"
"Tapi Hamka cape"
"Hahaha... Tidurlah ini sudah malam"