NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Bayangan Masa Lalu yang Kembali Menghantui

Raka masih berdiri tegak di depan lemari arsip yang tertutup rapat itu. Jemarinya baru saja menyentuh gagang kotak kayu kecil berwarna cokelat tua, namun ia segera menariknya kembali seolah tersengat aliran listrik. Kata-kata kakeknya yang diucapkan puluhan kali selama ini berputar jelas di dalam kepalanya: “Kebenaran itu ibarat pedang bermata dua. Bisa melindungi kita, tapi juga bisa melukai diri sendiri jika diayunkan sebelum waktunya tepat dan tanpa bukti pendukung yang cukup.”

Dengan gerakan hati-hati dan penuh perhitungan, ia menutup kembali tutup kotak itu, mengikat tali rami yang sudah menguning persis seperti posisi semula, lalu menyelipkannya kembali ke sudut paling dalam lemari kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Ia memastikan tidak ada satu pun debu yang bergeser, tidak ada berkas yang tertukar, seolah tidak ada seorang pun yang pernah membuka tempat itu selama bertahun-tahun. Setelah mengunci pintu lemari dan menyimpan kuncinya di tempat yang aman, ia melangkah keluar dari ruangan yang berbau kertas tua dan kayu kering itu, lalu menutup pintu utama ruang arsip dengan bunyi gemeretak pelan yang memecah keheningan malam.

Di teras belakang kediaman utama, Dika masih duduk di kursi goyang kayu kesayangannya. Di tangannya tergenggam secangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin, sementara matanya menatap lurus ke arah halaman luas yang diterangi cahaya remang dari lampu taman. Mendengar langkah kaki Raka mendekat, ia menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis melihat ekspresi cucunya yang terlihat tenang namun menyimpan banyak pertanyaan di dalam hati.

“Kau melakukan hal yang paling bijak, Nak,” ujar Dika dengan suara lembut namun tegas, seolah sudah membaca pikiran Raka. “Mereka sedang menunggu kita terburu-buru. Mereka ingin melihat kita panik, membuka rahasia itu secara sembarangan, lalu mengambil potongan kalimat yang bisa diputarbalikkan untuk menjatuhkan kita. Selama kita tetap sabar dan tidak tergoda bertindak gegabah, merekalah yang perlahan akan kehabisan akal dan mulai membuat kesalahan sendiri.”

Raka duduk di kursi di samping kakeknya, menghela napas panjang seolah melepaskan beban yang membebani pikirannya sejak beberapa hari terakhir. “Saya mengerti nasihat Kakek, tapi rasanya berat juga melihat keadaan sekarang. Isu itu menyebar semakin cepat. Beberapa mitra usaha lama yang sudah bekerja sama selama lebih dari sepuluh tahun mulai mengirim pesan yang bernada ragu, bahkan ada yang secara diam-diam mulai mengurangi jumlah pesanan mereka. Kalau kita terus diam saja, jangan-jangan lama-kelamaan kepercayaan yang sudah kita bangun bertahun-tahun itu bisa hancur begitu saja.”

Dika meletakkan cangkir tehnya di meja kecil di sampingnya, lalu menoleh menatap wajah cucunya dengan pandangan yang penuh pengalaman dan ketenangan. “Diam bukan berarti kita tidak berbuat apa-apa, Raka. Ingat, pohon besar yang kokoh tidak akan roboh hanya karena diterpa angin kencang semalam. Ia akan tetap berdiri selama akarnya kuat tertanam di dalam tanah. Kepercayaan itu seperti pohon itu. Selama kita tetap menjalankan usaha dengan jujur, memenuhi setiap janji, memberikan kualitas terbaik, dan tidak melakukan kesalahan apa pun, maka angin isu dan tuduhan itu hanya akan lewat begitu saja tanpa bisa merusak apa pun. Kebohongan tidak memiliki akar yang kuat. Ia hanya bisa tumbuh sebentar saja, sebelum akhirnya layu dan runtuh dengan sendirinya.”

Sementara itu, di tempat yang jauh dan tersembunyi dari pandangan umum, suasana berjalan sangat berbeda. Di sebuah rumah tua yang dikelilingi semak belukar lebat di pinggiran kota, hanya diterangi oleh cahaya lampu minyak yang berkelap-kelip, pertemuan sedang berlangsung dengan suasana yang dingin dan penuh perhitungan. Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu tua, duduk sosok pria tua bernama Surya Wijaya — yang selama ini hanya disebut dengan panggilan “Tuan Besar”. Wajahnya penuh keriput, rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun matanya masih bersinar tajam menyimpan api kebencian yang sudah dipendam selama lebih dari tiga puluh tahun. Di sampingnya duduk Dharmawan, tangan kanannya yang setia, dan di sudut ruangan duduk Bima Surya — anaknya sendiri yang sengaja dimasukkan ke dalam perusahaan Wijaya Group sebagai mata-mata selama tiga tahun terakhir.

“Sudah terasa, bukan?” ujar Surya Wijaya dengan suara berat dan rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri namun terdengar jelas oleh kedua orang di depannya. “Berita itu sudah menyebar ke lingkaran pengusaha, ke pasar, bahkan sampai ke telinga masyarakat biasa. Rasa penasaran dan keraguan sudah mulai tumbuh di hati banyak orang. Tidak butuh waktu lama lagi, keluarga Wijaya akan merasa terdesak. Mereka akan berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membela nama baik mereka adalah dengan membuka dokumen rahasia itu secara terbuka. Begitu lembaran kertas itu terlihat oleh orang lain, maka kemenangan sudah ada di genggaman kita.”

Dharmawan mengangguk setuju, wajahnya terlihat penuh keyakinan. “Benar, Ayah. Bahkan jika mereka berusaha menutup-nutupinya, kita sudah menyiapkan rencana cadangan yang tidak kalah ampuh. Tim yang kita percayai sudah menyelesaikan pembuatan dokumen tiruan itu. Kertasnya sudah diproses agar terlihat menguning dan tua seperti yang dibuat puluhan tahun lalu, tinta yang dipakai juga sudah dipilih agar warnanya memudar persis seperti tulisan zaman dulu, bahkan gaya tulisan tangannya pun sudah ditiru sedemikian rupa hingga sulit dibedakan oleh mata biasa. Jika diperlukan, kita bisa menyebarkan versi ini kapan saja untuk mempercepat kehancuran mereka.”

Bima Surya yang selama ini hanya mendengarkan dengan kepala tertunduk, akhirnya memberanikan diri berbicara dengan suara pelan yang terdengar sedikit gugup. “Tapi Ayah… bukankah ini cara yang tidak adil? Keluarga Wijaya selama ini berjalan dengan baik, tidak pernah menyakiti orang lain, dan memperlakukan karyawan serta mitranya dengan jujur. Kalau kita menyebarkan dokumen palsu itu, berarti kita sedang berbohong kepada banyak orang, dan itu bisa merugikan banyak pihak yang tidak bersalah juga.”

Mendengar ucapan itu, Surya Wijaya menoleh menatap anaknya dengan tatapan tajam yang membuat tubuh Bima Surya meremang. “Tidak adil?” bentaknya pelan namun tegas. “Apakah yang mereka lakukan pada keluarga kita dulu itu adil? Mereka mengambil hak waris yang seharusnya menjadi milikku, mengusirku dari lingkaran keluarga, membuatku hidup dalam kesulitan selama puluhan tahun, sementara mereka menikmati kemewahan dan kehormatan. Sekarang giliran kita membalasnya. Tidak ada yang salah dengan memulihkan apa yang seharusnya menjadi milik kita. Dan untuk mencapai tujuan itu, segala cara adalah hal yang wajar.”

Kata-kata itu membuat Bima Surya terdiam kembali. Keraguan di hatinya semakin membesar, namun rasa hormat dan takut kepada ayahnya membuatnya menelan kembali semua pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Ia hanya bisa berharap bahwa rencana ini tidak akan berakhir dengan kehancuran yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat.

Keesokan harinya, seperti yang direncanakan, isu yang sebelumnya hanya samar-samar mulai disebarkan lebih luas dan lebih terstruktur. Di lingkaran pertemuan pengusaha, orang-orang mulai berbisik-bisik bahwa ada rahasia gelap yang tersembunyi di balik kesuksesan Wijaya Group. Di media sosial, mulai muncul akun-akun anonim yang menyebarkan tulisan-tulisan meragukan, tanpa menyertakan bukti apa pun namun cukup untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan kecurigaan. Beberapa mitra usaha mulai mengajukan pertanyaan secara tertulis, meminta penjelasan resmi dari manajemen perusahaan, sementara yang lain mulai menunda-nunda pembayaran atau mengurangi jumlah kontrak kerja sama.

Di kantor pusat Wijaya Group, suasana mulai terasa tidak seperti biasanya. Beberapa karyawan terlihat berbisik-bisik di sudut ruangan, ragu akan masa depan perusahaan tempat mereka bekerja selama bertahun-tahun. Namun Raka tetap berdiri teguh, tidak memperlihatkan rasa khawatir sedikit pun di depan bawahannya. Ia segera memanggil seluruh kepala divisi untuk mengadakan pertemuan singkat namun tegas.

“Saya mengerti banyak dari kalian mendengar kabar yang beredar di luar sana, dan mungkin merasa cemas atau ragu,” ujar Raka dengan suara lantang dan tenang, cukup terdengar oleh semua orang di ruangan itu. “Tapi saya tegaskan sekali lagi: semua tuduhan itu tidak memiliki dasar yang benar. Keluarga Wijaya membangun usaha ini dengan keringat, kejujuran, dan kerja keras selama lebih dari tiga generasi. Kita tidak perlu membuktikan kebenaran itu dengan kata-kata semata. Biarkan kinerja kita, kualitas produk kita, dan janji-janji yang kita tepati setiap hari menjadi jawaban terbaik bagi semua keraguan itu. Teruslah bekerja seperti biasa, tetap jaga kualitas, dan jangan biarkan kabar burung memecah semangat kerja kita.”

Kata-kata Raka berhasil menenangkan suasana. Semua kepala divisi kembali bekerja seperti biasa, bahkan dengan semangat yang lebih tinggi untuk membuktikan bahwa perusahaan mereka tetap kuat dan terpercaya. Sementara itu, tim pengawas khusus yang dibentuk Raka bekerja secara diam-diam mengumpulkan setiap jejak yang ditinggalkan oleh pihak lawan.

Dalam waktu tiga hari, mereka berhasil mendapatkan informasi penting. Melalui pemantauan komunikasi dan pengawasan pergerakan Dharmawan, tim itu berhasil merekam percakapan telepon yang sangat jelas. Di dalamnya terungkap bahwa Dharmawan sedang berhubungan dengan seorang mantan pegawai percetakan yang ahli dalam membuat dokumen tiruan, dan sedang membahas biaya serta waktu penyelesaian dokumen palsu yang akan disebarkan nanti. Tidak hanya itu, mereka juga berhasil melacak alamat rumah tempat dokumen itu dibuat, serta mendapatkan foto-foto pertemuan antara Dharmawan dengan orang yang bersangkutan.

Malam itu, laporan lengkap diserahkan kepada Raka, yang kemudian langsung membawanya menemui Arga dan Dika di kediaman utama. Saat melihat bukti-bukti yang sudah terkumpul, wajah Dika justru terlihat semakin tenang dan bahkan sedikit tersenyum.

“Ini adalah kabar yang baik, Nak,” ujar Dika sambil meneliti lembaran kertas laporan itu. “Artinya, mereka sudah mulai terdesak. Karena tidak bisa menemukan dokumen asli yang mereka cari, mereka terpaksa beralih membuat kebohongan. Itu berarti kekuatan utama mereka sebenarnya sudah habis. Mereka hanya bisa mengandalkan tipu daya dan kebohongan untuk mencapai tujuan. Dan ingat, setiap kebohongan pasti meninggalkan jejak yang bisa dilacak.”

“Lalu apa langkah kita selanjutnya, Ayah?” tanya Arga yang juga mulai merasa lega melihat bukti yang ada. “Apakah kita segera melaporkan ini ke pihak berwajib atau mengumumkannya ke publik?”

Dika menggeleng perlahan. “Belum saatnya. Kalau kita bertindak sekarang, kita hanya bisa menjerat Dharmawan dan beberapa orang kecil saja. Sementara otak utama di balik semua ini, Surya Wijaya, akan tetap bebas dan bisa menyusun rencana baru yang lebih berbahaya. Kita harus menunggu sampai mereka melancarkan serangan terakhirnya — saat mereka berani menyebarkan dokumen palsu itu ke publik, saat mereka menunjukkan bukti yang mereka anggap sempurna, di saat itulah kita mengeluarkan semua bukti yang sudah kita kumpulkan, sekaligus memperlihatkan dokumen asli beserta penjelasan lengkapnya. Saat itu terjadi, semua kebohongan mereka akan runtuh seketika, nama baik kita akan kembali pulih bahkan lebih kuat dari sebelumnya, dan mereka akan terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri.”

Raka mengangguk setuju, merasakan ketenangan yang kembali mengisi hatinya. Ia sadar bahwa perjalanan ini masih sangat panjang, dan setiap langkah harus diambil dengan penuh perhitungan. Pertarungan ini bukan hanya soal mempertahankan harta atau nama baik, tapi juga soal membongkar seluruh kebenaran yang tersembunyi selama puluhan tahun — sebuah kebenaran yang baru akan terungkap secara utuh, jelas, dan tuntas saat mereka telah melewati semua rintangan dan tantangan hingga mendekati babak keseratus nanti.

Sementara itu, di rumah tua yang sepi itu, Surya Wijaya merasa semakin yakin dengan rencananya. Ia tidak menyadari bahwa setiap gerak langkahnya telah tercatat, setiap percakapannya telah terdengar, dan setiap kebohongan yang ia siapkan justru menjadi bukti yang akan menjatuhkannya nanti. Ia terus merencanakan langkah demi langkah, yakin bahwa dalam waktu dekat ia akan melihat kehancuran keluarga Wijaya dan mendapatkan kembali apa yang selama ini ia anggap sebagai haknya.

Malam semakin larut, dan ketegangan di kedua sisi terus meningkat. Di satu sisi, keluarga Wijaya bersabar dan mengumpulkan kekuatan serta bukti, sementara di sisi lain, musuh mereka terus menyusun strategi dan menyiapkan serangan terakhirnya. Semua pihak tahu bahwa ini baru awal dari pertarungan yang sesungguhnya, dan jawaban dari semua rahasia masa lalu masih tersimpan rapat, menanti saat yang tepat untuk terungkap sepenuhnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!