Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Yang Sama ( Revisi)
Kais mengangkat tubuh Anisa keatas meja tanpa melepaskan tautan bib*r mereka. Tampak mata Kais berbinar saat melihat benda yang menjadi favoritnya terekspos didepan matanya.
Dengan rakus Kais menikmati moment itu. Tangan besar Kais mulai menari-nari di rumah baru jagoannya. Bahkan Anisa dibuat kelabakan dengan aksi Kais.
" KAI..!!" Anisa memekik saat tubuhnya semakin merasa terbakar ga*rah.
"Ya sayang, sebut namaku, Sa!" Kais yang mendengar nyanyian merdu dari bibir Anisa membuat dia semakin bersemangat. Bahkan Anisa sudah beberapa kali terlihat memekik.
Jemari tangan besar Kais yang basah membuat Kais tersenyum smirk dengan penuh arti. "Lihatlah sayang, indah bukan?" Kais memperlihatkan Jari-jari nya yang basah.
Wajah Anisa memerah dan merutuki dirinya yang tidak bisa menolak jika Kais sudah menjebaknya dalam kenik*atan.
"Sekarang giliran ku sayang. Dia butuh kamu !" Dengan mengusap jagoan nya yang sudah siap bertarung. Kais tersenyum nakal pada Anisa yang kini sudah turun dari atas meja.
Wajah Kais terlihat frustasi saat Anisa memanjakan jagoan suaminya. Sedangkan Kais yang sudah tak bisa lagi menahan rasa rindunya menarik tubuh Anisa kedalam pangkuannya.
Dengan cepat Kias beraksi menunjukkan performa sang jagoan kesayangannya. Saat keduanya menyatu hanya ada rasa nik*at menyelimuti hati dan tubuh mereka.
Nyanyian kerinduan terdengar di dalam ruangan pantry itu. Sementara di luar sana hujan semakin deras membuat kedua orang yang sedang menikmati indahnya cinta itu semakin menggila.
Kais tak cukup satu kali meminta jagoannya bermain di rumah barunya. Bahkan satu jam berlalu Kais baru melepaskan Anisa saat melihat tubuh Anisa yang sudah terkulai kemas diatas meja pantry. Dengan telaten Kais membersihkan sisa-sisa hasil karya mereka keduanya di tubuh Anisa.
Kais merasa selalu di buat lupa diri saat bersama Anisa. Perlahan Anisa turun dari meja merapihkan penampilannya kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Marsya yang merasa kacau karena ucapan ibu mertuanya kini sudah berada di sebuah club malam. Hujan diluar bahkan masih begitu deras.
"Marsya..!" panggilan seseorang membuat pandangan Marsya teralihkan.
"Bagas, akhirnya kamu datang." ya, sebelum ke club tadi Marsya menghubungi Bagas.
Dia mengatakan jika dia ingin hiburan. Bagas yang saat itu sedang istirahat setelah selesai dengan kegiatan nya langsung mengusul Marsya ke club langganan perempuan itu.
"Ada apa, ada masalah sama Kais?" Bagas menatap wajah sedih Marsya yang terlihat seperti habis menangis.
Bagas mengusap lembut pipi Marsya yang terlihat jejak bekas air mata di pipi perempuan itu. Mendapat perlakuan manis itu, Marsya pun akhirnya tak mampu lagi untuk menyembunyikan perasaan nya. Akhirnya pecah sudah pertahanan Marsya.
Marsya pun mengalirkan cerita tentang apa yang menjadi masalahnya dengan Kais juga keluarganya. Bagas prihatin dengan perempuan yang ada di depannya saat ini.
Bagas kembali mengusap jejak air mata di pipi Marsya. Sampai saat dimana jam menunjukkan pukul 3 dini hari, Bagas membawa Marsya ke dalam mobilnya. Sedangkan di luar sana masih hujan deras.
Malam ini hujan rasanya tidak akan berhenti. Marsya menatap ke arah Bagas yang ada di belakang kemudi. Rasa iri menyelusup kedalam hati Marsya. Dia kenal Bagas yang begitu perhatian pada Anisa. Lelaki itu selalu menjaga Anisa dengan begitu baik.
"Aku lelah Gas. Rasanya berat harus aku teruskan." Bagas yang mendengar penuturan Marsya menatap ke arah perempuan itu. " Aku cuma ingin ada yang memeluk ku. Melindungi ku, apa itu salah?"
Bagas menatap iba sahabat kekasihnya itu. Bagas perlahan memeluk tubuh Marsya. Pelukan Bagas begitu nyaman dan membuat Marsya nyaman. Saat Bagas tersadar, dia mencoba untuk melepaskan pelukannya itu namun hal yang tak pernah disangka terjadi.
Marsya tiba-tiba saja menempelkan bibirnya di bibir Bagas. Sementara Bagas sebagai pria dewasa pun akhirnya terpancing.
Bagas membalas ci*man Marsya dan bahkan dengan berani Marsya duduk di pangkuan Bagas memperdalam pagut*n mereka.
Bagas yang pernah merasakan indahnya surga bersama Marsya di buat semakin berani.
Ya, saat Marsya berpacaran dengan Kais dan Anisa berpacaran dengan Bagas. Marsya dan Bagas pernah melakukan penyatuan tanpa sepengetahuan Anisa dan Kais. Disana lah Marsya kehilangan harta yang paling berharga nya bersama Bagas.
Kejadian yang terjadi saat Marsya mengadakan pesta lajang di sebuah club sebelum keesokan harinya dia menikah dengan Kais. Saat itu Anisa tak bisa datang karena ada keperluan. Saat itu Bagas yang sedang koas pun kebetulan sedang bersama teman-teman nya di club yang sama. Melihat Marsya yang sudah teler, Bagas yang mengenal Marsya berinisiatif untuk mengantarkan Marsya pulang. Tapi saat itu Bagas tidak membawanya ke rumah Marsya tapi dia membawa Marsya ke apartemennya. Niatnya sampai apartemen ingin menghubungi Anisa. Namun peristiwa malam itu pun terjadi dan tidak mungkin Marsya membatalkan pernikahan itu. Walaupun memang Kais kecewa saat tahu keadaan Marsya yang sudah tak virgin lagi.
"Syaaa.." Bagas memanggil nama Marsya dengan mengerang dan tangannya menangkup dua benda kesukaannya.
"Aku kangen kamu.." Tatapan mata Bagas yang mulai diliputi kabut gairah langsung mengangkat tubuh Marsya ke kursi penumpang.
"Kita ke apartemen ku." Dengan cepat pria itu melajukan mobilnya ke arah apartemen miliknya.
Sampai diparkiran apartemen, Bagas menarik tangan Marsya untuk cepat-cepat masuk ke dalam lift. Setelah menekan tombol lantai tempat unit apartemen nya berada, Bagas mendekati Marsya dan langsung menyambar bibir Marsya.
Marsya pun mengalungkan tangannya ke leher Bagas. Dengan Gerakan pasti, tubuh Marsya sudah beralih di gendongan Bagas dengan kedua kakinya melingkar di pinggang laki-laki itu.
Saat Lift terbuka, Bagas membawa tubuh Marsya keluar dari lift dan segera masuk ke dalam apartemen milik nya. Dengan tak sabaran, Bagas membaringkan tubuh Marsya diatas sofa dan mulai mencum*unya.
Malam itu menjadi malam panas mereka suara-suara merdu bergema di dalam apartemen milik Bagas. Rasanya seperti menemukan sebuah mata air yang ada di gurun pasir. Bagas begitu rakus menikmati keindahan yang pernah dia rasakan bersama Marsya.
Bahkan Bagas melakukan tanpa jeda bersama Marsya untuk memenuhi has*at mereka. Sampai akhirnya mereka lelah dan tertidur di sofa bed tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.
Sampai pagi menjelang, Marsya terbangun dan melihat ke arah Bagas yang terlihat berantakan.
"Pakailah pakaian kamu. Aku akan__
"Aku pulang sendiri. Setelah ini kita tidak perlu lagi bahas soal apa yang terjadi semalam." dengan merapihkan penampilan nya Marsya sembari berbicara.
"Kamu tenang saja, tidak ada yang akan tahu soal apa yang terjadi semalam." Marsya mencoba untuk yakin dengan perkataan Bagas. Tapi, kenapa tak sepenuhnya dia percaya dengan kata-kata laki-laki itu. Karena bagaimanapun, dia tahu suaminya. Jika dia ingin mengetahui apapun tentang dirinya, akan begitu mudah Kais mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi semalam.
Bersambung
"