NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengujian

"Wah, ternyata ada halaman belakang," gumam Rangga terkesima. Malam ini Arumi mengantarkannya untuk melihat-lihat seisi rumah. Dan dari tadi Rangga memang penasaran darimana aroma bunga melati yang memenuhi seisi rumah. Ternyata di halaman belakang ditanam pohon melati yang kini sudah berbunga.

"Halaman belakang ini tadinya terbuka total," Arumi menyentuh tiang penyangga atap kaca tersebut. "Saat saya datang ke rumah ini untuk merawat Mbak Rani, istri pertama Mas Ary, kami sering mengobrol di halaman ini. Saya sering merasa kalau dia kepanasan saat berjemur di halaman belakang selama beliau berjuang melawan kankernya. Akhirnya saya minta halaman ini diberi atap saja. Mas Ary langsung menyetujuinya, memesan kaca khusus dengan lensa agak gelap agar bu Rani tetap bisa menikmati udara segar tanpa harus merasa pusing."

Rangga tertegun. Ia menatap atap kaca itu dengan rasa hormat yang mendalam. Di rumah ini, kebaikan mengalir dari setiap sudutnya. Arumi bukan hanya mengurus anak-anak Ary, tapi dia bahkan memikirkan kenyamanan mendiang istri pertama suaminya. Pria bernama Ary Prambudi itu benar-benar berhasil membangun surga kecil di dunia.

"Kamar anak-anak ada di lantai atas," Arumi melanjutkan, memecah keheningan. "Kamar saya dan Mas Ary di lantai bawah. Di lantai atas juga ada gudang dan ruang olahraga kecil tempat anak-anak sering main."

Rangga mengikuti langkah mereka naik ke lantai dua. Langkah kaki mereka mengetuk tangga kayu dengan ritme yang khidmat. Begitu sampai di ruang tengah lantai atas, mata Rangga tertuju pada sebuah gitar elektrik berwarna hitam yang tergeletak begitu saja di atas karpet, bersandar pada sebuah amplifier kecil.

Rangga di masa remajanya sempat menjadi anak sekolahan yang populer dan gemar bermusik. Tentu saja ia melakukannya sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang tuanya demi menghindari hukuman. Itulah sebabnya ia bilang suka bersekolah. Ia tidak harus diamati 24 jam dengan aturan ketat, karena bermusik termasuk bagian dari pembelajaran.

"Boleh saya pinjam sebentar?" tanya Rangga pada Rian.

Rian hanya mengedikkan bahu, gengsi untuk melarang.

Rangga duduk di tepi sofa kecil, memangku gitar tersebut. Jarinya yang panjang dan biasa memegang pulpen mewah kini menyentuh senar-senar baja. Tanpa mencolokkan kabel ke listrik, Rangga memetik beberapa baris kord akustik dengan teknik yang sangat rapi. Bunyi senar garing tanpa distorsi menggema di ruangan sepi itu.

Baru tiga baris petikan melodi intro yang meliuk-liuk, Rian langsung menoleh dengan mata sedikit melebar.

"Dear God... Avenged Sevenfold," gumam Rian spontan.

Rangga menghentikan petikannya, mendongak dan tersenyum tipis ke arah si sulung. "Selera musikmu bagus, Rian. Mas Ary yang mengajari?"

"Bukan. Ayah mah seleranya lagu-lagu Ebiet G. Ade," sahut Rian, membuat Aryo di sampingnya ikut menahan tawa. "Aku belajar sendiri dari YouTube."

Interaksi singkat lewat musik itu entah bagaimana menurunkan tensi ketegangan di antara para lelaki di ruangan itu. Rangga meletakkan kembali gitar tersebut dengan hati-hati, lalu berdiri menghadapi Arumi dan kedua putranya.

“Besok kalian akan menerima Draft Perjajian. Baca pelan-pelan, simak semuanya jangan sampai ada kata yang terlewat. Saya kasih gambaran sekarang, isinya kurang lebihnya klausul pemisahan harta dan hak asuh anak-anak, juga persyaratan yang kemarin saya diskusikan dengan mama kalian.”

Aryo melirik Mamanya, lalu ikut menimpali dengan suara remajanya yang tegas. "Syarat dari Mamah... yang kalau Om sampai ketahuan KDRT atau selingkuh, setengah aset pribadi dan saham Om di Red-Desmont beralih ke tangan Mama. Om berani tanda tangan?"

“Saya yang mengusulkan.” Sahut Rangga.

“Woow.” Gumam Aryo dan Rian.

Rian maju satu langkah, menatap Rangga dengan rahang mengeras, memasang harga diri lelakinya yang setinggi langit. "Satu hal yang harus Om tahu. Kami tidak akan pernah memanggil Om Rangga dengan sebutan ‘Ayah'. Sampai kiamat pun, Ayah saya cuma satu. Ary Prambudi. Kami menerima pernikahan ini karena ini permohonan Mamah, apa pun alasan beliau."

Rangga tidak terkejut, pun tidak tersinggung. Ia justru menatap Rian dengan tatapan yang sangat lempeng dan penuh komitmen. "Saya setuju, Rian. Saya bukan ayahmu, dan saya tidak punya niat sedikit pun untuk menggantikan Mas Ary di hatimu. Ayahmu adalah sosok yang luar biasa, terbukti dari bagaimana beliau mendidik kalian di rumah sehangat ini. Tugas saya di sini murni menjalankan janji saya pada almarhum. Yaitu memastikan masa depan kalian tidak kekurangan sepeser pun. Bukan hanya dari segi materi, tapi dari segi kenyamanan."

Arumi menarik napas panjang, menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan. Rencana taktisnya untuk menggunakan Rangga sebagai batu loncatan demi kuliah Rian dan sekolah robotika Aryo di SMA Pradita Dirgantara kini resmi berjalan. Namun di dalam hatinya, melihat bagaimana Rangga begitu takzim menghormati memori Mas Ary di rumah ini, membuat hatinya jadi terharu begitu cepat.

Masih ada orang yang menyayangi suaminya dengan segitu besarnya. Padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

Apakah memang pertemuan ini harus dibayar dengan nyawa? Jadi sepenting apa jalinan yang akan mereka jalani setelah ini?

Apakah keputusannya untuk menjadikan Rangga sebagai batu loncatan adalah salah besar?

Ah, masih terlalu dini menyimpulkannya. Saat ini, nikmati dulu berkah yang datang. Begitu akhirnya Arumi memutuskan.

“Kamar saya dimana?” tanya Rangga selanjutnya.

Rian dan Aryo menunduk menahan tawa.

Arumi sengaja memberikan kamar di lantai dua—bekas gudang—yang sempit dan hanya berisi perabot tua, berharap Rangga akan merasa sesak dan segera menyerah.

Namun, Arumi salah besar.

Rangga justru nampak takzim saat melangkah masuk. Ia tidak mengeluh soal AC tua yang berisik atau ukuran kamar yang hanya seperempat dari kamar mandi di apartemennya. Baginya, setiap sudut rumah ini adalah ensiklopedia tentang pria yang ingin ia pelajari: Ary Prambudi.

**

Malam itu, saat Arumi sedang menyiapkan buku sekolah Aryo di ruang tengah, Rangga turun dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tidak nampak stres, ia justru terlihat sangat antusias, memegang selembar ijazah tua yang sudah agak menguning.

"Mbak! Mbak Arumi!" panggil Rangga. Suaranya tidak sedingin biasanya.

Arumi mendongak, mengerutkan kening. "Ada apa? Kamu ketemu rayap di lemari?"

"Bukan!" Rangga meletakkan ijazah itu di depan Arumi. "Mas Ary... dia lulusan SMA Kanisius, Mbak?”

Arumi terdiam, menatap dokumen itu. "Iya, seingat saya Mas Ary memang pernah bilang sekolah di Menteng. Tapi saya tidak pernah terlalu memperhatikan ijazah SMA-nya. Kenapa?"

Rangga menarik kursi di depan Arumi, matanya berbinar. "Mbak tahu tidak? Saya juga lulusan sana. Kami satu almamater! Dan lihat ini..." Rangga menunjuk kolom nilai Fisika. "Mas Ary dapat A minus. Ini gila, Mbak! Ini prestasi tingkat dewa!"

Arumi mengernyit heran. "Hanya A minus, Rangga. Mas Ary kan memang pintar."

"Mbak nggak paham," potong Rangga dengan tawa kecil yang tulus. "Di zaman itu, guru Fisikanya pasti Ibu Meilani, atau yang kami juluki 'The Mask'. Dia ibu-ibu paling jutek dan galak seantero Jakarta. Sudah bekerja sebagai guru Fisika di Kanisius selama 20 tahun! Standar nilainya tidak masuk akal. Saya saja yang juara olimpiade cuma mentok di nilai B. Itu pun saya harus push up seratus kali di lapangan karena ketahuan mengejek pakaiannya yang selalu warna ngejreng senada dari kerudung sampai sepatu."

Arumi terpaku. Ini pertama kalinya ia melihat Rangga berbicara seperti manusia biasa, bukan seperti mesin pencetak uang.

"Mas Ary bisa dapat A minus dari 'The Mask'..." Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kagum. "Sekarang saya tahu kenapa dia bisa jadi dosen hebat. Mentalnya sudah ditempa di kawah yang sama dengan saya, tapi dia jauh lebih tangguh."

Rangga menatap Arumi dengan binar yang berbeda. "Terima kasih sudah membiarkan saya tinggal di sini, Mbak. Rasanya saya bukan sedang menumpang, tapi sedang belajar dari kakak kelas."

Arumi terdiam seribu bahasa. Rencana awalnya untuk membuat Rangga merasa terasing justru membuat Rangga merasa "pulang". Alih-alih tertekan karena bayang-bayang Ary, Rangga justru menjadikan Ary sebagai pahlawan barunya.

Arumi menarik nafas pendek dan mendengus kesal. Gagal, batinnya.

**

Ujian Rangga tidak berhenti sampai di sana.

Setelah makan malam, order go food karena rekening Arumi ‘penuh’, Rian melirik Aryo, memberi kode rahasia lewat kedipan mata.

"Oke, Om. Kalau memang mau tinggal di sini, mending anterin saya ke minimarket. Saya ada shift malam. Temenin saya jaga malam ya, berani kan?"

Arumi melotot tajam. "Bang Rian! Jangan aneh-aneh, Om Rangga itu—"

"Nggak apa-apa, Mbak Arumi. Saya antar," potong Rangga cepat. Ia justru nampak tertantang.

Rian tersenyum miring. Rencananya simpel, Rangga akan ia kunci di gudang belakang minimarket yang terkenal angker. Gudang itu gelap, pengap, dan konon ada penunggunya yang suka narik-narik baju. Ia ingin melihat CEO sombong itu menangis minta tolong.

Begitu sampai di minimarket, Rian langsung menggiring Rangga ke belakang dengan alasan membantu mengecek stok. Cklek! Pintu gudang ia kunci dari luar, lampu utama ia matikan.

Terdengar gedoran dari dalam.

“Yaaan? Rian?!” seru Rangga.

“Om! Pintunya kekunci otomatis Om, saya nggak bisa buka dari luar! Harusnya tadi diganjel tapi nggak keburu!”

“Kamu panggil tukang kunci atau minta bantuan siapa gitu?” Seru Rangga dari dalam.

“iya ini saya panggil dulu orang yang biasa nolongin. Sabar ya Om, bentar!” sahut Rian.

Tapi tentu saja Rian tidak panggil.

Dia bekerja seperti biasa, sambil menunggu rengekan Rangga dari dalam Gudang.

Sepuluh menit. Satu jam.

Rian menempelkan telinganya ke pintu, menunggu suara teriakan atau gedoran panik.

Sunyi.

“Om Rangga masih di dalam? Nggak pingsan kan? Orangnya lagi ada masalah, kemungkinan datang agak terlambat.” Seru Rian dari luar.

“Iya, i’m okey. Santai aja bro.” Sahut Rangga dari dalam gudang.

Lah... kok dia bilang santai?

Rian menaikkan bahunya sekilas, lalu kembali bekerja.

Lima jam.

Tetap sunyi.

Subuh menjelang, Rian membuka pintu gudang dengan perasaan sedikit cemas. Takut kalau Rangga benar-benar pingsan. Namun, pemandangan yang ia lihat justru di luar nalar.

Rangga sedang duduk bersila di lantai gudang yang berdebu, bersandar pada rak kaleng susu. Di tangannya, sebuah Samsung Galaxy Z Fold terbuka lebar, memancarkan cahaya terang di tengah kegelapan. Jari-jarinya menari lincah di atas layar lipat itu.

“Om Rangga?” panggil Rian ragu.

“Hm?” terdengar gumaman Rangga.

“Om... lagi ngapain?” pertanyaan pancingan dari Rian, karena ia tak mau mengaku kalau ia yang sengaja mengunci Rangga di dalam gudang stok.

“Kerja.”

“Hah?! Kerja?!”

“Iya, kerja.” Rangga mengangkat ponsel lipatnya dan menunjukkan beberapa grafik.

"Loh? Om nggak takut?" tanya Rian melongo.

Rangga mendongak, matanya nampak segar meski ada kantong mata tipis. "Takut apa?"

“Takut... kekunci? Di sini katanya juga ada... gitu.” Rian tak mampu menyelesaikan kalimatnya saking spechlessnya.

Rangga berdiri, merapikan celana kainnya yang kotor. "Terkunci di sini saya jadi banyak berpikir. Saya baru saja bikin draft rencana. Saya mau buka franchise minimarket begini khusus di gedung kantor saya. Karyawan bisa ambil barang pakai barcode yang langsung potong gaji bulan depan. Ada subsidi kantor 50% buat yang kinerjanya bagus, jadi harga barang buat mereka lebih murah dari pasar. Tapi pemilik franchise harus jual ke saya lebih murah karena okupansi saya dalam 24 jam bisa lebih dari 60%. Banyak karyawan saya yang kerja shift malam juga. Win-win solution, kan?"

Rian mematung. "Om... Om semalaman kerja bikin draft rencana? Di gudang segelap ini?"

"Iya, tenang saja. Cahaya dari ponsel saya cukup," jawab Rangga santai. Ia lalu menunjuk ke arah pojok atas rak tinggi yang dipenuhi debu. "Oya, Rian. Kasih tahu pemilik tokomu, itu ada 'buhul' di rak atas. Sepertinya pemilik toko ini banyak dibenci orang. Makanya hawanya nggak enak."

Rian merinding seketika. "Om... Om nggak diganggu?"

Rangga terkekeh, memasukkan ponsel lipatnya ke saku. "Setannya nggak berani lewat. Kata orang tua saya dulu, saya punya khodam pelindung dari Raja Amangkurat II. Entah benar atau tidak, tapi yang jelas mereka nggak bakal ganggu orang yang lebih sibuk dari mereka. Makanya, suruh pemilikmu rajin sholat."

Rian dan teman kerja lainnya yang ikut menguping langsung kicep. Mereka saling pandang dengan wajah pias. Niatnya mau ngerjain si bos muda, malah mereka yang ketakutan setengah mati.

Rangga melangkah keluar gudang dengan gagah, menepuk bahu Rian. "Ayo pulang. Mbak Arumi pasti sudah masak sarapan. Saya lapar habis menghitung proyeksi laba semalaman."

**

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!