Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Tetangga di Lantai Atas
Di mata Rayhan, gerakan kecil itu terlihat seperti pengakuan.
Keira membutuhkan beberapa detik untuk memahami maksud tatapannya. Ketika akhirnya sadar Rayhan sedang menatap noda merah di lehernya dengan wajah seperti suami menangkap istri selingkuh, rasa marah yang tadi belum turun langsung naik lagi.
"Ini bekas karet masker," katanya dingin. "Saya pakai masker terlalu lama di rumah sakit."
Rayhan tidak menjawab.
"Kalau Bapak ingin menuduh sesuatu, sebutkan jelas. Jangan membuat wajah seperti hakim tapi lupa bawa pasal."
Driver kantor menunduk kaku di samping mobil, jelas ingin berubah menjadi tiang parkir.
Rayhan menahan napas. "Pulang."
"Selamat malam, Pak Direktur."
Keira berbalik tanpa menunggu jawaban. Kali ini, ia tidak peduli apakah langkahnya terlihat kasar. Malam itu ia pulang dengan taksi online, duduk di kursi belakang sambil memegang sisi lehernya. Noda merah itu memang ada, kecil dan panas. Mungkin gesekan tali masker, mungkin karena ia sempat menggaruk saat gugup. Apa pun itu, yang membuatnya muak bukan nodanya, melainkan hak yang Rayhan kira ia punya untuk bertanya.
Besoknya, Rayhan tidak memanggilnya ke ruang kerja sampai siang.
Itu lebih menakutkan daripada dimarahi.
Ci Lien menyerahkan map dengan suara pelan. "Kamu dan Pak Direktur bertengkar?"
"Tidak, Ci. Kami hanya menemukan batas wilayah masing-masing."
"Bahasamu makin lama makin seperti pengacara."
"Efek terlalu sering dekat Kevin."
Di ruang Rayhan, udara terasa lebih dingin. Rayhan menerima laporan tanpa komentar. Tidak ada pertanyaan soal leher. Tidak ada sindiran tentang Arya. Namun setiap kali Keira menjelaskan jadwal, ia bisa merasakan tatapan Rayhan menempel seperti tanda baca yang belum selesai.
"Malam ini kamu ada waktu?" tanya Rayhan tiba-tiba.
Keira menutup tablet. "Untuk pekerjaan?"
"Untuk makan."
"Tidak, Pak."
"Belum dengar tempatnya."
"Saya tidak perlu tahu tempat untuk menolak undangan yang bukan pekerjaan."
Rayhan menatapnya. "Karena Arya?"
"Karena saya lelah."
Keira keluar sebelum percakapan berubah menjadi perang kecil lain.
Saat sampai apartemen malam itu, perang yang lebih nyata menunggu di depan lift. Arya duduk di lantai koridor dengan tiga kardus, satu koper, dan tangan kanan memakai penyangga.
"Mas Arya, kenapa duduk di sini?"
"Kunci unitku tertinggal di mobil pindahan. Sopirnya baru balik setengah jam lagi."
"Petugas apartemen?"
"Sudah kutelepon. Mereka juga menunggu pemilik lama menyerahkan kartu cadangan."
Keira menatap kardus-kardus itu. Di salah satu kardus tertulis buku, di kardus lain tertulis alat dapur. Arya Pradipta benar-benar pindah ke atas kepalanya.
"Kamu bisa menunggu di lobi."
"Aku bisa. Tapi di sini lebih dekat denganmu."
"Mas Arya."
"Aku tahu, jangan terlalu manis. Nanti kamu kabur." Arya mengangkat tangan kirinya menyerah. "Aku cuma bercanda."
Keira ingin menutup pintu apartemennya dan pura-pura tidak melihat. Namun wajah Arya masih pucat, pergelangan tangannya dibalut, dan kardus berat di sampingnya tampak seperti jebakan rasa bersalah.
Lima menit kemudian, Arya duduk di meja makan kecil Keira, minum teh hangat dari mug bertuliskan gratisan toko elektronik.
"Jangan sentuh apa-apa dengan tangan kanan," kata Keira sambil membuka kantong nasi uduk yang ia beli di jalan.
"Aku merasa seperti pasien."
"Memang."
"Pasien boleh minta telur tambahan?"
"Pasien bayar sendiri."
Arya tertawa. Suara itu memenuhi apartemen kecil Keira dengan cara yang berbahaya. Terlalu mudah. Terlalu akrab. Seolah tujuh tahun tidak pernah ada.
Keira menyodorkan piring. "Makan. Setelah itu pulang ke unitmu kalau kuncimu sudah datang."
"Kalau belum?"
"Lobi."
"Keira, kejam sekali."
"Aku belajar dari hidup."
Mereka makan berhadapan. Arya memakai tangan kiri dengan canggung, nasi jatuh beberapa kali. Keira akhirnya mengambil sendok, mencampur lauknya, lalu mendorong piring lebih dekat.
"Pakai cara ini. Tidak usah gaya."
Arya menatap piring itu, lalu Keira. "Kamu masih ingat aku tidak suka bawang goreng terlalu banyak."
Keira berhenti.
Ia memang menyisihkan bawang goreng tanpa sadar.
"Kebiasaan lama," katanya.
"Kebiasaan bisa kembali."
"Tidak semua kebiasaan baik untuk diulang."
Arya menunduk, menerima teguran itu. Tidak membantah. Tidak memaksa. Justru sikapnya yang pelan membuat Keira lebih sulit menjaga jarak.
Ketika sopir pindahan akhirnya menelepon, Keira membantu Arya membawa satu kardus kecil ke lift. Ia menolak membawa yang berat, memanggil petugas apartemen untuk sisanya. Arya berdiri di pintu lift dengan koper di sampingnya.
"Terima kasih untuk makan malam."
"Besok pesan makanan sendiri."
"Kalau aku tidak bisa buka tutup botol obat?"
"Minta petugas."
"Kalau aku lupa minum obat?"
"Set alarm."
Arya tersenyum. "Kalau aku rindu?"
Keira menatapnya lama. Lift berbunyi pelan di antara mereka.
"Itu bukan penyakit yang harus aku obati."
Pintu lift tertutup sebelum Arya bisa menjawab.
Keira kembali ke apartemennya, menutup pintu, lalu bersandar di sana. Di meja makan, masih ada dua piring kotor dan aroma nasi uduk. Rumah kecilnya yang biasanya aman mendadak terasa berubah bentuk.
Ponsel berdering sebelum ia sempat mencuci piring. Mama Lina melakukan panggilan video.
"Sudah makan?" tanya Mama begitu wajahnya muncul.
"Sudah, Ma."
Mata Mama Lina bergerak ke belakang Keira. "Itu piring dua?"
Keira menoleh terlalu cepat. Salah sendiri ia meletakkan ponsel dengan kamera menghadap meja.
"Mas Arya tadi kuncinya tertinggal. Tangannya masih sakit. Aku kasih makan sebentar."
Mama Lina tidak langsung bicara. Di layar, wajahnya tetap lembut, tetapi matanya menjadi lebih hati-hati.
"Keira, menolong orang terluka itu baik."
"Aku tahu."
"Tapi jangan menjadikan rumahmu tempat singgah untuk hati laki-laki yang sedang bingung."
Kalimat itu mengenai Keira lebih tepat daripada teguran panjang.
Mama Lina melanjutkan, "Kalau Arya sungguh-sungguh, dia harus datang dengan jelas. Bukan pelan-pelan masuk lewat rasa bersalahmu."
Keira duduk di kursi makan. "Mama tidak suka Mas Arya?"
"Mama sayang Arya. Tapi Mama lebih sayang kamu."
Di luar, langkah dari lantai atas terdengar lagi, pelan seperti ketukan dari masa lalu. Keira memandang plafon, lalu dua piring di meja.
"Aku hati-hati, Ma."
"Hati-hati bukan berarti hatimu ditaruh di depan pintu."
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arya muncul.
Besok pagi aku belikan bubur. Sebagai pembayaran telur tambahan.
Keira menatap pesan itu lama sekali.
Di lantai atas, suara langkah terdengar samar di plafon.
Untuk pertama kalinya, masa lalu tidak lagi tinggal di ingatan. Ia tinggal tepat di atas kepalanya.