“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 13.
"Kenapa kamu mencium pipiku lagi?"
Dewangga langsung nyengir dengan wajah tanpa dosa. "Karena Liora baik sama Dewangga, jadi Dewangga kasih hadiah."
Liora menghela napas panjang, logika pria itu memang selalu berjalan di jalur yang tidak bisa dipahami orang normal. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Dewangga tiba-tiba mengangkat tangannya sendiri lalu mulai berhitung menggunakan jari.
"Satu, dua, tiga, empat, lima..."
Liora mengernyit bingung. "Kamu ngapain berhitung?"
Dewangga menatapnya dengan wajah serius seolah sedang menyelesaikan perhitungan yang sangat penting. "Hari ini Liora baik sama Dewangga lima kali, jadi Dewangga harus kasih hadiah lima kali juga."
Liora mulai mempunyai firasat buruk, dan firasat itu terbukti benar saat Dewangga tersenyum puas lalu berkata. "Berarti Dewangga harus cium Liora lima kali!"
Setelah mengucapkannya, pria itu bahkan langsung mencondongkan tubuh ke depan dengan bibir yang sudah dimajukan tanpa rasa malu sedikit pun. Beberapa orang yang sedang minum langsung tersedak, ada juga yang buru-buru menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawanya.
Sementara Keivan hanya menipiskan bibirnya. Dari pengamatannya, ayahnya sepertinya sudah mulai kecanduan mencium Liora.
Namun sebelum Dewangga berhasil melancarkan aksi berikutnya, Liora dengan sigap mengangkat tangannya dan menutupi mulut pria itu menggunakan telapak tangannya sendiri.
"Dewangga, jangan di sini," lirihnya cepat.
Dewangga berkedip beberapa kali. Karena mulutnya tertutup, suara yang keluar terdengar tidak jelas. "Ke... na... pa?"
Liora langsung merasakan puluhan pasang mata tertuju kepada mereka. Beberapa orang bahkan terang-terangan menghentikan kegiatan makannya hanya untuk menonton.
"Karena sekarang banyak orang," jawabnya pelan sambil melirik sekeliling meja makan.
Dewangga mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan ekspresi serius seperti anak kecil yang sedang berusaha memahami sesuatu yang rumit.
"Lalu kapan?"
Karena mulut pria itu masih tertutup telapak tangannya, Liora akhirnya menghela napas lalu melepaskan tangannya perlahan. Begitu bebas, Dewangga langsung mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.
"Liora... kapan?" Sorot mata Dewangga yang polos dan penuh harap, hati Liora melunak. Dewangga tidak sedang menggoda atau mempermainkannya. Dalam pemikiran sederhana pria itu, kecupan tadi hanyalah hadiah untuk seseorang yang telah membelanya.
Akhirnya Liora menyerah. "Di rumah saja, ya? Sekarang makan dulu yang baik."
"Di rumah?"
"Iya."
"Rumah kita?"
Pertanyaan pria itu membuat Liora terdiam sesaat. Meski pernikahan mereka bahkan belum benar-benar terlaksana, Dewangga sudah menganggap tempat tinggal mereka sebagai rumah bersama.
Pada akhirnya ia mengangguk pelan. "Iya, rumah kita."
Senyum di wajah Dewangga langsung melebar, pria itu tampak begitu senang sampai-sampai matanya ikut menyipit. "Berarti nanti kalau sudah pulang, Dewangga boleh kasih hadiah lagi buat Liora? Di rumah, Dewangga boleh cium banyak-banyak?"
Liora langsung merasakan beberapa orang kembali tersedak di meja makan, sementara Keivan menutup wajahnya dengan satu tangan seolah tidak sanggup lagi mendengar percakapan kedua orang itu.
Liora merasa wajahnya semakin panas. Namun karena tidak ingin membuat Dewangga merasa ditolak, ia tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
"Boleh, tapi sekarang kamu harus nurut dulu ya. Makan yang baik, duduk yang manis, dan jangan cium aku lagi di depan banyak orang."
Dewangga mempertimbangkan syarat itu dengan sangat serius, seolah sedang menegosiasikan kontrak bisnis bernilai miliaran. Beberapa saat kemudian, ia akhirnya mengangguk mantap. "Oke! Dewangga bakal nurut."
"Kalau nggak nurut, Dewangga nggak dapat hadiah."
Dewangga langsung duduk tegak di kursinya dengan ekspresi patuh seperti murid teladan. Setelah itu, pria tersebut benar-benar kembali fokus pada makanannya. Ia mengambil sendok, menyuap makanan ke mulutnya, lalu mengunyah dengan tenang seolah tidak pernah membuat seluruh meja makan hampir mengalami serangan jantung beberapa kali dalam satu malam.
Satu jam kemudian jamuan makan malam akhirnya selesai. Namun sebelum mereka pulang, seorang pelayan datang menghampiri.
"Tuan Besar meminta Tuan muda Keivan, Tuan Dewangga, dan Nona Liora ke ruang kerja beliau."
Liora mengangkat alis. "Kenapa aku harus ikut?"
"Itu perintah Tuan Besar." Pelayan itu tersenyum sopan.
Tak lama kemudian, mereka memasuki ruang kerja besar di lantai dua. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah lebih serius.
Tuan Besar duduk di belakang meja kerjanya, tatapannya langsung tertuju pada Liora. "Kau berbeda dari yang aku bayangkan."
Liora malah lansung duduk dengan santai. "Itu pujian? Anda tidak akan menarik kembali ucapan Anda seperti kemarin, bukan?"
"Terserah bagaimana kau menafsirkannya." Pria tua itu menggeleng kecil, sudah lama sekali tidak ada orang yang berani berbicara padanya seperti itu. "Bagaimana pendapatmu tentang keluarga ini?"
"Jujur, saya tidak menyukai orang-orang yang merasa dirinya hebat karena merendahkan orang lain." Jawaban Liora begitu blak-blakan.
"Satu hal lagi." Tatapan pria tua itu berubah serius. "Kau benar-benar bersedia melindungi Dewangga? Apa dia tidak akan jadi masalah untukmu?"
Liora melirik pria dengan tubuh besar yang sedang duduk di sofa sambil memainkan gantungan kunci berbentuk beruang, Dewangga sama sekali tidak memperhatikan pembicaraan mereka.
"Bagiku, dia bukan masalah. Masalahnya... justru orang-orang di sekitarnya."
Tuan Besar membuka sebuah map hitam di hadapannya, lalu menatap Liora dengan serius. "Ada satu hal yang harus kau ketahui sebelum pernikahan ini benar-benar dilaksanakan."
"Apa lagi?" Liora langsung memiliki firasat buruk.
"Buka halaman terakhir dari dokumen ini."
Liora mengambil map tersebut lalu membukanya. Semakin lama membaca, semakin sulit ia menyembunyikan keterkejutannya.
"Tunggu dulu..." Liora mengangkat kepalanya. "Ini bukan kontrak pernikahan biasa."
"Tentu saja bukan."
Liora kembali membaca beberapa bagian penting. Jika pernikahan itu resmi dilangsungkan, ia akan memperoleh seluruh hak hukum sebagai istri Dewangga. Ia berhak mewakili Dewangga dalam berbagai urusan keluarga, menghadiri rapat internal tertentu, serta memiliki kewenangan untuk menandatangani dokumen yang berkaitan dengan kepentingan pribadi suaminya.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, tatapannya berhenti pada beberapa pasal berikutnya. "Kenapa nama saya tercantum sebagai wali pengawas saham?"
"Karena saham milik Dewangga tidak pernah hilang. Sebagian besar orang mengira setelah kecelakaan, seluruh kendali berpindah tangan. Kenyataannya... tidak." Jari Tuan Besar mengetuk meja perlahan. "Putra sulungku masih menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Grup Salendra."
"Seberapa besar?" tanya Liora.
"Cukup besar untuk mengubah hasil pemungutan suara dalam rapat pemegang saham." Keivan menimpali dengan santai, "Dan cukup besar untuk membuat beberapa orang tidak bisa tidur nyenyak."
Liora kembali menatap dokumen itu. "Kalau begitu, kenapa tidak diserahkan kepada Keivan?"
"Kami sudah mencoba." Keivan kembali menjawab. "Aku memang bisa membaca laporan keuangan, menganalisis proyek, bahkan memahami strategi bisnis. Tapi secara hukum... aku tetap anak berusia enam tahun. Banyak keputusan perusahaan yang tidak bisa kuambil sendiri."
Liora tampak mengerti, karena itu memang terdengar masuk akal. Se-jenius apa pun Keivan, hukum tetap menganggapnya anak kecil.
"Karena itulah aku membutuhkan seseorang yang bisa menjadi pelindung kepentingan Dewangga dan Keivan sekaligus." Tuan Besar melanjutkan.
"Dan orang itu saya?"
"Untuk sementara, ya." Jawab Tuan besar tanpa keraguan.
"Jadi... selain menjadi perawat Tuan Dewangga, saya juga harus menghadapi keluarga Anda yang gila, menghadiri urusan perusahaan, mengawasi saham, dan menjadi wali serta melindungi Keivan?" ucapannya sangat blak-blakan.
Tuan Besar menyipitkan mata, tidak banyak orang yang berani menyebut keluarga Salendra gila tepat di depan wajahnya.
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala