NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Dikenali

Arinta hanya melambai tanpa membalikkan badan. Ia sudah muak duluan mendengar suara itu.

Waktu sudah bergulir ke bel pulang. Arinta bersiap pulang dan memakai jaketnya, karena sudah gerimis tipis. Tanpa disangka, seseorang yang sudah membuat Arinta ingin muntah muncul dan duduk di bangku tak jauh darinya.

"Arinta Prameswari?"

Arinta hanya membeku sesaat, setelah itu ia kembali bergegas memakai jaket. "Ngapain lagi sih?"

"Kayaknya aku percaya kalau kamu bukan Arinta yang aku kenal. Bukan tanpa alasan. Kamu itu bener-bener beda, Ta. Aku nggak tahu apa yang bisa bikin kamu kayak gini, sampai aku nggak bisa ngenalin kamu lagi sejak kamu kecelakaan," jelas Deri.

"Bagus kalau udah sadar. Sekarang biarin aku ngejalanin hidupku sendiri ya? Jangan usik aku lagi!" pinta Arinta.

"Tapi kamu belum cerita. Kamu nggak bisa mutusin gitu aja dong."

"Apalagi yang perlu diceritain?" tanya Arinta, yang sudah selesai dengan jaket kebesarannya, lalu kembali duduk di kursinya.

"Kamu serius kan? Kamu beneran nggak ngarang?" tanya Deri, yang sepertinya masih diselimuti keraguan.

"Ya emang nggak masuk akal sih, tapi gimana ya.. Kamu nanti jadi gila kalau aku ngasih bukti-bukti kalau aku dari 2024," ucap Arinta.

"Apa? Emangnya apa?" tanya Deri, penasaran.

"Asal kamu bisa jaga rahasia, aku mau cerita. Tapi nggak deh, kayaknya kamu nggak bisa jaga rahasia," ucap Arinta sambil melihat-lihat kukunya, mengalihkan pandangan.

"Aku bisa jaga rahasia. Kalau pun yang kamu omongin bener, di tahun mendatang nanti, di tempat kamu lahir, aku bakal pura-pura nggak kenal kamu."

Arinta jadi berpikir ulang. Benar juga. Kalau orang di tahun ini ada yang mengetahui asal-usulnya, nanti bagaimana? Masa iya nanti ia jadi temenan sama bapak-bapak modelan Deri, ya walaupun mungkin nanti Deri masih berusia sekitar 37 tahun.

"Ngga jadi deh. Aku jadi iseng ngebayangin nanti kita ketemu lagi di masa depan," Arinta bergidik ngeri.

Deri tidak memaksa lagi. Dia hanya menunggu sampai Arinta kembali bersuara.

"Kamu cukup tahu sampai di sini. Cukup tahu kalau aku bukan Arinta yang kamu kenal. Dan maaf, seandainya tadi siang aku nggak keceplosan, kamu nggak bakal tahu sampai sejauh ini."

Deri memandang punggung Arinta yang mulai menjauh dan hilang dibalik dinding. Ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

***

Arinta benar-benar nekat. Ia ingin pergi dari sana, mumpung masih sore dan hujan sudah mulai reda. Ditambah Miza belum pulang.

Bermodalkan uang jajan yang ia kumpulkan, sekitar Rp.50.000. Karena sehari sang kakak memberinya sekitar Rp.10.000. Nominal yang sangat besar pada saat itu.

Arinta pamit ke Bi Asih untuk ke warung. Bi Asih pun hanya mengiakan, tidak curiga sedikit pun. Karena memang Arinta hanya mengenakan jaket kebesaran, dengan kaus lengan pendek di dalamnya, serta celana bahan panjang.

Ia memutuskan jalan kaki, sebab ia tidak mau menggunakan apapun dari rumah itu, kecuali yang sedang ia pakai dan juga uang hasil jerih payah Miza yang sudah jadi haknya.

Arinta sempat ikut mengantarkan si kembar ke panti asuhan. Huh, dua anak bangkotan itu harusnya dieksploitasi saja, bukan malah dikirim ke tempat seperti itu, batin Arinta.

Dengan dua tangan dimasukkan ke jaket, serta wajah yang ditutup masker—hasil nyolong dari kamar Miza, dan juga kepala yang tertutup tudung jaket, ia berjalan ala-ala wibu tahun 2020an.

Untung letak panti asuhan itu tidak jauh, jadi Arinta bisa mencapainya tanpa harus berusaha lebih.

"Permisi.." Arinta mengetuk pintu pelan.

Terlihat ada beberapa anak yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang terlihat habis main hujan-hujanan—padahal hujannya saja tidak deras, ada juga yang sedang bermain di dalam, serta ada juga beberapa anak yang menatapnya curiga seperti takut diculik.

"Cari siapa, mbak?" tanya seseorang yang sepertinya pengasuh di sana.

"Eee.." belum sempat Arinta menjawab, dua anak bangkotan itu muncul dari arah dalam. "Cari mereka," tunjuk Arinta.

"Oh. Silakan, mbak," ia langsung menyingkir untuk memberi waktu untuk ketiganya.

"Ngapain lu kesini, Ta? Diusir?" tanya Tami.

"Duduk dulu!" ajak Arinta, duduk di antara anak-anak yang masih sibuk dengan dunianya.

"Udah kayak wibu lu begitu," nah kan, dikomentari.

"Bacot lu, Mi!" cerca Arinta. "Udah ah. Ada yang lebih penting."

"Apa? Lu udah tahu di mana orangtua lu?" tanya Tama.

"Belum. Gue baru mau mulai nyari," jawab Arinta santai.

"Anjir kata gue teh... Udah beberapa hari di sini, baru mau mulai," protes Tami.

Arinta berdecak. "Gue juga punya masalah lain di sini."

"Udah kelar?" tanya Tama.

"Belum, orang gue kabur," jawab Arinta tanpa dosa.

"Woi, astaga!" Tama memperlihatkan ekspresi lelahnya. "Lu lagi numpang di identitas seseorang, lu nggak bisa kabur gitu aja!"

"Tau lu, Ta. Kabur nggak bakal nyelesain masalah. Yang ada nanti pas kita balik, pemilik raga yang lu pinjem kebingungan karena jauh dari rumah," tambah Tami.

"Gue nggak minjem raga dia ya anjir! Ini raga gue sendiri!" protes Arinta.

"Tapi kan mereka ngeliat lu sebagai Arinta yang mereka kenal, lu nggak bisa seenaknya gitu loh," bantah Tama.

"Ya terus? Gue harus apa? Gue udah eneg banget jadi si Arinta oon ini. Gue harus nyelesain permasalahan yang nggak pernah gue buat sebelumnya. Masa dia yang bikin masalah, gue yang nanggung, sialan banget tuh anak," omel Arinta.

"Ya tapi lu nggak boleh kabur gitu aja dong," ucap Tami.

"Kasih solusi atuh! Jangan cuma nyalahin aja. Gue dateng ke sini juga buat minta bantuan, bukan buat diceramahin," rengek Arinta.

"Ya udah. Sekarang lu pulang dulu, kita juga perlu waktu buat nyari tahu," ucap Tama.

"Sampe kapan? Gue harus nunggu sampai kapan?! Ini udah Oktober loh," ucap Arinta.

"Ya sampai ada petunjuk! Lu jangan gegabah gini lah, Ta!" bujuk Tami.

"Mbak emang mau ngapain?" suara bocah perempuan berkisar usia enam tahun itu menginterupsi ketiganya.

Astaga! Mereka tidak sadar kalau ada makhluk kecil lain yang juga memiliki telinga dan pemahaman yang sudah bisa dibilang cerdas. Kini ada sekitar tiga bocah yang menatap Arinta intens, satu bocah laki-laki yang sepertinya masih berumur empat—yang ini aman, masih bisa ditipu, dan satu lagi bocah perempuan yang sepertinya seumuran dengan yang pertama, hanya fisiknya saja yang kecil.

Arinta rasa ketiganya dari tadi menyimak.

"Aida, Rafa, sama Alda. Nama mereka," Tama memperkenalkan tanpa diminta.

Arinta mengangguk bingung. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan bocah ini, apakah dia mengerti apa yang barusan dibicarakan.

Aida kembali bertanya. "Mbak cari orangtua? Aida juga nggak punya, tapi Aida nggak kabur," ucapnya polos.

Arinta mengerjap, ternyata benar, bocah itu menyimak. Namun sepertinya Aida salah tangkap maksud pembicaraan tadi.

"Tuh, Ta. Anak kecil aja tahu," ucap Tama.

"Ngga kok, mbak cuma lagi pengen nyari orangtua mbak aja, nanti juga pulang," jawab Arinta akhirnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!