"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian di Kamar Menara
*Grrr...*
Suara geraman dari tenggorokan serigala perak Yudha terdengar seperti gemuruh guntur yang tertahan. Aura dominasi yang dipancarkannya begitu pekat, menekan atmosfer di dalam kamar hingga membuat *Rogue* kedua yang masih bertahan di sana nyaris tidak bisa bernapas. Saraf-saraf insting serigala liar itu meneriakkan satu kata
*mati*.
Melihat kawannya sudah terkapar tak bernyawa dengan bahu hancur di sudut ruangan, *Rogue* kedua itu nekat mengambil langkah bunuh diri. Dia melompat mundur ke arah pintu, mencoba melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya.
Namun, Yudha tidak memberikan ampunan sedikit pun malam ini.
Dengan kecepatan yang menyerupai kilat keperakan, serigala raksasa itu menerjang. Sebelum sang *Rogue* berhasil menginjakkan kaki di ambang pintu, cakar perak Yudha yang setajam silet sudah melayang di udara, merobek punggung makhluk itu hingga darah segar menyembur ke dinding batu alam kastil.
*Auuugh!*
Pekikan kesakitan itu terputus seketika saat Yudha membalikkan tubuh monster itu dengan satu entakan kaki depannya yang kokoh, lalu mengatupkan rahang raksasanya tepat di tenggorokan sang musuh.
*Krak!*
Suara patahan tulang yang mengerikan menyudahi perlawanan kaum *Rogue* di dalam kamar itu. Tubuh besar penyusup tersebut ambruk ke lantai, menyusul rekannya ke alam kematian. Darah hitam pekat mengalir di antara sela-sela lantai batu, mengeluarkan bau anyir yang menyengat.
Suasana kamar mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas berat dari serigala perak Yudha. Tubuh raksasanya perlahan berbalik menatap Luna. Mata emasnya yang semula menyala penuh kegilaan dan haus darah, perlahan-lahan melembut saat pandangannya terkunci pada sosok gadis manusia yang masih berdiri kaku di dekat tiang ranjang.
Dalam hitungan detik, cahaya keperakan kembali menyelimuti tubuh raksasa itu. Wujud serigala Yudha menyusut, berganti kembali menjadi sosok manusianya yang tegap. Kemeja hitamnya kini telah hancur sepenuhnya, mengekspos dada bidangnya yang naik-turun memburu, dipenuhi oleh sisa-sisa cipratan darah musuh.
Yudha melangkah mendekat dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang telanjang meninggalkan jejak merah di atas lantai.
"Luna..." panggilnya, suaranya parau, sarat akan kecemasan yang luar biasa besar.
Luna menatap pria di depannya. Alih-alih merasa jijik atau ketakutan dengan pemandangan brutal yang baru saja terjadi, dia justru langsung berlari menerobos pecahan kaca di lantai, tidak peduli pada bahaya yang mengintai telapak kakinya. Dia menghambur, memeluk erat pinggang telanjang Yudha.
"Yudha... kamu datang... kamu benar-benar datang," bisik Luna dengan isak tangis yang pecah di dada bidang pria itu. Tubuh manusianya bergetar hebat akibat syok yang terlambat datang.
Yudha tertegun sejenak, lalu kedua lengan kekarnya langsung mendekap punggung Luna dengan kekuatan penuh, seolah ingin meleburkan tubuh rapuh gadis itu ke dalam dirinya sendiri. Satu tangannya yang besar menekan kepala Luna ke dadanya, menyembunyikan wajah manis itu dari pemandangan mengerikan dua mayat *Rogue* di lantai.
"Maafkan aku... aku lalai menjagamu, belahan jiwaku," bisik Yudha lembut, bibirnya mengecup pucuk kepala Luna berkali-kali dengan penuh rasa bersalah yang mendalam.
"Aku bersumpah demi darahku, siapa pun yang membukakan pintu untuk anjing-anjing liar ini, aku akan mencabik mereka hingga tak tersisa."
Tepat saat itu, belasan prajurit *Silver Moon* bersama Maya berlari masuk ke dalam kamar dengan senjata terhunus, wajah mereka pucat pasi melihat kekacauan yang terjadi. Namun, yang paling mengejutkan adalah kehadiran Tetua Malik di barisan belakang yang berpura-pura terkejut, padahal matanya berkilat kecewa melihat kedua *Rogue* itu gagal menjalankan tugasnya.
Yudha mendongak, matanya kembali berkilat emas tajam menatap ke arah para prajurit dan khususnya pada barisan para tetua yang baru tiba. Aura membunuhnya kembali bangkit, siap meledak kapan saja.
---